Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





Ujian Sekolah Diurusi Polisi

Selasa, 17 April 2007 @ 17:16 | Komedi Indonesia

UJIAN NASIONAL: SIAPA YANG MENGUJI SIAPA?

Inilah Indonesia. Penuh keajaiban! Ujian sekolah yang mestinya cuma acara periodik belaka, tiba-tiba menjadi urusan genting sampai ke atap kegawatan. Polisi dilibatkan. Tim independen disertakan. Semata-mata agar soal ujian tak bocor.

Itu terlihat mulai kemarin di ruang-ruang sekolah penyimpan soal. Tadi pagi pukul empat seorang guru panitia ujian SMA sudah harus bertolak dari rumah untuk mengambil berkas soal.

Tentu para guru dan birokrat pendidikan punya alasan. Kata kuncinya adalah “belajar dari pengalaman”. Memang ada yang bilang pengalaman adalah guru terbaik. Lantas ada yang meralat: guru terbaik dari IKIP (atau UNJ). Windede meralatnya: pengalaman adalah guru yang buruk, karena selalu datang terlambat.

Soal kebocoran dan contek-mencontek, di negeri lain juga ada — tapi cuma jadi berita sekelas Kilasan Kawat Dunia di Kompas. Sekadar berita aneh tapi nyata. Cuma ganjal dari kantor berita. Untuk pemancing tawa.

Di mana akar masalahnya? Pasal satu tentu contek-mencontek. Maka seorang dosen, saat menjabat ketua sebuah departemen di sebuah universitas Kristen, mengusulkan agar ujian di fakultas teologi dan fakultas ilmu keguruan tak perlu diawasi.

Alasannya, sebagian besar mahasiswa teologi adalah calon pendeta, sehingga tak mungkin mencontek. Hal sama berlaku untuk mahasiswa FKIP: sebagian besar adalah calon guru.

Pasal dua, selain contek-mencontek? Saya tak dapat merumuskannya, cuma mengurutkan serangkain dugaan ngaco bin ngawur. Dulu, ya dulu sekali, zaman para senior ketika ujian SD cuma berisi tiga mata pelajaran, ketidaklulusan bukanlah malapetaka.

Hal sama berlaku untuk SMP dan SMA. Ketidaklulusan hanyalah sisi lain dari sekeping mata uang bernama ujian. Ada yang lulus, ada yang tak lulus.

Tapi kemudian, tampaknya, tingkat kelulusan menyangkut prestasi sekolah. Ketidaklulusan (dalam ujian negara) jadi beban. Ketidaklulusan murid adalah potret ketidakbecusan guru. Apalagi untuk sekolah yang diongkosi oleh rakyat, yang gurunya digaji oleh pemerintah.

Saat itulah, ketika masih bocah, saya mulai mendengar kabar sumir yang tak terbuktikan tentang dongkrakan, katrolan, pembocoran nilai. Sama sumirnya dengan kabar kabur bahwa (dulu) dengan nilai yang sama, peluang lulusan SMA swasta ada di bawah lulusan SMA negeri untuk lolos seleksi PTN. Serupa sumirnya dengan kabar burung bahwa PTN tertentu (dulu) membatasi populasi mahasiswa keturunan Cina.

Itu tadi masih ditambah dengan tata istilah yang membingungkan awam. Dulunya ujian cuma berpadan dengan “eksamen”. Kemudian ada “evaluasi belajar”. Ada pula “tamat belajar” dan “lulus”.

Lantas di kemudian hari ada rumus kelulusan yang bisa digonta-ganti untuk menyelamatkan mayoritas siswa. Dan yang terbaru, lembaga penyelenggara bimbingan tes ikut tender, masuk ke sekolah. Itu melengkapi kabar lama (sumir sih) bahwa guru sekolah tertentu mendapatkan komisi dari penerbit buku.

Lantas apa hubungan itu semua dengan kebocoran, penjagaan oleh polisi, dan pengawasan oleh tim independen?

Saya tidak tahu. Barangkali memang tidak ada hubungannya. Maklum, saya bukan ahli maupun pengamat pendidikan. Lebih sial lagi saya memang kurang terdidik, sehingga jumlah ijazah saya terbatas.

Jadi, sebaiknya, karut-marut ini kita tanyakan kepada Pak Polisi. Minimal Pak Polisi penjaga ujian tertulis SIM. Kalau dia bingung, kita tanyai polisi tidur di depan rumah kita.

NB: Di sekolah anjing yang diurusi polisi, kabarnya tidak ada pembocoran maupun kebocoran mata ujian

Ada 45 komentar | trackback | Depan

#45

andre demak | 05 03 2008 @ 23:17:08

“diam bukan berarti melamun pemerintah perlu ingat itu”bijak adalah kunci keberhasilan,dan pemerintah harus bertindak bijak.!


#44

andre demak | 05 03 2008 @ 23:13:01

wess…….. toh ben mereka uji para muridnya,tau rasakan sekarang pemerintah malah pusing sendiri mikirin anak anaknya yang gak karuan banyaknya?kalau kami di buat uji coba para menteri yang sekarang ini sering gonta ganti peraturan.,naha ..,gimana kalo menteri itu duluan yang harus di coba mereka bisa gak? dan mereka harus bisa dulu baru menguji kami,walaupun dulu mereka sekolah tapi gak gitu donk !caranya!mau sewenag wenang ato rakyat yang bertindak?


#43

dani | 30 06 2007 @ 17:20:57

pendidikan sekarang kurikulumnya gonta ganti terus, setiap tahun ganti kurikulum mulu, saya sih menganjurakan agar dinas pendidikan konsisten dengan kurikilum pendidikan agar anak murid tidak latah dan bingung dengan kurikulumnya.


#42

deden | 16 05 2007 @ 13:58:46

lah jadi bikin kusut bro


#41

seBuD sAdJah BaoBeii | 15 05 2007 @ 15:44:30

no more unas la….


#40

sEBut sajA buNga^_^huhuhu | 11 05 2007 @ 11:02:08

UAN…
UAS…
huh,,siNGkatan pendek yang menyebaLkn,,Hweuekz…
ak mw titip pertanyaan bwt bapak2 pejabat terhormat..
Dulu nyontek gx?!!
Hwuakakak…
Pasti iia,,hayoo ngaku!!iia kan!!

udah kebukti tuh,,gunanya apa UAN UAS dkk,,
masa 9 tahun ibu megandung cuma di bayar sama 6 jam ayah bejalan?!!
halah

btw,,diriku hanya bisa command n command,,soalnya, klw ngasih seseuatu juga kgx bakal didengerin sama pejabat2 yang terhormat…

Sudahlah,serahkan seopenuhnya kepada 4JJI…

btw,,doain aku luluz yah…


#39

Intan_imoet | 03 05 2007 @ 15:39:20

kenapa sich sistem pendidikan indonesia semakin mimbingunkan aja…contohnya : CBSN, kurikulm 1994,KBK dan ada satu lagi nama kurikulum yang baru tapi aku lupa namanya…
Seharusnya kurikulu tuch disamain karena kalau nggak kasihan sekloah yang terbelakan alias ndeso. kenapa?
Karena akan selalu memakai kurikulum lama
apalagi ditambah ujian nasional yang rata2nya 5.00 tapi sbenarnya sich aq setuju banget karena akan mempengaruhi mutu pendidikan dan sdm di Indonesia tapi yo apike sistemnya dibenerkan dulu tho…wong masih korat-karit pakai 5.00 sandarx…
apa nggak kasihan ma pelajar2nya?


#38

bisot | 24 04 2007 @ 12:32:31

Weleh baru tahu kalo konon seperti itu… wah ribet degh… sekolahnya pada gaul aja sih… wkkk

parahhh


#37

via | 24 04 2007 @ 10:25:40

rumusan permasalahan soal soal ujian negara


#36

via | 24 04 2007 @ 10:25:00

sdyh

0

op


#35

koeniel | 23 04 2007 @ 0:08:21

polisinya anti bocor juga nggak? kalo nggak ya tetep bocor juga tuh soal ujian……


#34

windede | 21 04 2007 @ 21:39:49

sudah tepat kok diserahin ke polisi. kan pernah tuh, para peneliti bingung menyimpulkan umur sebuah mumi yang baru ditemukan. setelah dikirim ke kantor polsek di salah satu desa di indonesia, baru deh si mumi ngaku. yeah… daripada digebukin hehehe…..


#33

aan | 21 04 2007 @ 21:17:04

wah kok ya ada yang bela belain beli 5 juta buat soal, aku aja cuman nungguin setoran kunci jawaban, gak usah belajar, gak buang duid, nilai tetep 9 semuwa hahaha


#32

Rian | 21 04 2007 @ 20:57:09

Tetap aja bocor… dan selalu kembali ke Nyontek!!


#31

bedhez | 21 04 2007 @ 20:07:48

nembe mawon kula “ngeh”, Dhe …
beberapa siswa/i SMA ‘ngedrel’ minta dibeliken hp.
jebulnya…(ssstttt disuruh *u*u-nya). untuk apa???
he..he..he … tapeeee deh.


#30

martin chandra | 21 04 2007 @ 19:32:31

Saya agak heran dengan tipikal orang Indonesia. (Dulu) kualitas pendidikan yang inferior selalu dituding jadi kambing hitam. Sekarang, standar kelulusan dinaikkan, protes juga masih sama derasnya. Lucunya, jalan yang diambil selalu shortcut yang tak jelas juntrungannya: pembocoran soal lah, kriminal lah, penggunaan joki lah.


#29

macchiato | 21 04 2007 @ 14:56:47

unmacchiato.blogspot.com —senang balik lagi ke halaman gombal. ciao dari italia.


#28

kampret nyasar | 20 04 2007 @ 18:57:40

namanya juga negeri siluman… mungkin harus di jaga sama jin kali biar kalau udah bocor si kertas bocornannya nggak kentara :)


#27

sawung | 19 04 2007 @ 14:18:53

om. tetep bocor. Bocornya udah dari pusat, percuma dijagain bawahnya sama polisi. Kunci jawaban beredar dimana-mana pulak.


#26

dhany | 19 04 2007 @ 13:58:29

kalo gurunya sudah nggak bisa dipercaya,…
siapa yang diGUgu & ditiRU..???


#25

sluman slumun slamet | 19 04 2007 @ 13:23:11

yang penting sehabis sma gak nglanjutin ke ipdn kan pakdhe?


#24

-tikabanget- | 19 04 2007 @ 1:03:09

di kantor saya, kalo ujian malah boleh nyontek mbah gugel.. kalo nyontek temen keliatan banget bodonya soalnya.. wakakak..


#23

mbèk | 18 04 2007 @ 19:50:43

lha kalo ujian polisi diurusi sekolah trus gimana jadinya ya?


#22

Ellya | 18 04 2007 @ 18:24:14

ujian sekarang diurusi polisi? kurang kerjaan kali yaa… kya polisi dulu ga pernah nyontek aja waktu ujian *kaburr*


#21

Qky | 18 04 2007 @ 16:53:54

wah, pakde… sedikit ijazah aja, T.O.P banget, apalagi…


#20

manizzzzzzzzboys | 18 04 2007 @ 16:43:39

kenapa sich ujiannya terlalu ketat pengawasnya,bikin siswa stres aja,bisa nggak dirubah ngak pke tim independen,tim pengawasnya banyak banget tauuuuu!!!!!!!capeeeek deeeech


#19

ayex | 18 04 2007 @ 16:40:25

ngapain sich polisi ikutan jadi pengawas nggak ada kerjaan ya…bikin orang streeeeeeeesssssss goblok….emang mereka waktu sekolah nggak nyontek apa bullllsyit………


#18

black sweety girl | 18 04 2007 @ 16:37:24

bisa ngak sich metode ujian sekarang kembali seperti dulu, nggak usah dijaga pakai polisi segala….goooooooooooooooooobbbbbbbbbbbbbbbbllllllllllllllllllllllloooooooooooooooooooook……………………………..


#17

johnherf | 18 04 2007 @ 13:59:44

Serbaneka ujian sekolah sering nirlaba dan nonprofit, yang menjadi proyek lembaga pemerintahan. Serbaneka kegiatan di sekolah yang diprogram oleh pemerintah sering dijadikan proyek. Oleh karena itu, ada serbaneka konsep pendidikan di Indonesia mengacu pada proyek. Kalau nirproyek maka nir-aktivitas, kalau nirproyek maka nir-perubahan kurikulum. Artinya, ketika ada proyek serbaneka kegiatan berdenyut. Lha serbaneka proyek inilah antara lain penyebab absurditas dunia pendidikan di Indonesia. Alamak.


#16

ndahmaldiniwati | 18 04 2007 @ 13:53:10

mungkin indonesia masih butuh sistem ka’ gini biar mutu lulusannya lbh bisa dipercaya. tapi ya gitu dehh… sistem dah bagus tp tetep aja di akal2in biar hasilnya “keliatan” bagus;(


#15

Tompel | 18 04 2007 @ 13:10:47

dulu pas ebtanas sma th 93 temen2 dapet bocoran jawabannya .. gue kurang gaul jadi ketinggalan gak dapet :((

jaman dulu asal masuk sekolah gak pernah bolos aja udah dijamin lulus dapet ijazah :)


#14

Irwin | 18 04 2007 @ 12:54:19

We don’t need no educations… Teachers, leave a kids alone…Hey, theacher! leave a kids alone!!!


#13

BHQ | 18 04 2007 @ 12:48:02

jadi ingat waktu UAN, Ana ama teman ana beli soal, harganya 5jt. hasilnya niali b.inggris ana 9 , ekonomi 9 , bahasa Indonesia 9 .
Viva Indonesia


#12

hyuuga | 18 04 2007 @ 12:33:34

soal ujian bocor, mencontek, curang, boleh-boleh saja. asal jangan ketahuan :D


#11

mpokb | 18 04 2007 @ 11:27:17

lho, bang paman. bukankah itu yg namanya target oriented? yg penting lulus, entah gimana caranya. yg penting kaya, entah gimana caranya.. :P

sudah saatnya ujian SMA dihapuskan, tapi tes masuk perguruan tinggi tetap perlu, untuk menilai kesiapan calon mahasiswa. nggak semua anak harus kuliah dan pingin jadi presiden yg bertitel S1, to? jujur saja dah. kebanyakan calon mahasiswa lulus umptn (sekarang spmb?) berkat bimbingan tes kok, termasuk aye :P


#10

melly | 18 04 2007 @ 9:39:20

inget smp. soal bocor ampe jawaban2nya. gak perlu susah payah untuk cari soal. pagi pagi semua udah tersebar dengan santai.

btw, minggu lalu kayaknya ngeliat deh di kawasan cikini deh :p


#9

abi_ha_ha | 18 04 2007 @ 9:13:58

Inilah mengapa menurut saya sekolah di Endonesa itu membodohi.
Yang dituju nilainya bukan peserta didiknya.
Seharusnya ujian cuma benchmarking, sementara kualitas manusianya biar dunia yang menentukan. Seperti sistem pesantren atau perguruan silat :)
Toh hidup manusia adalah survival of the smartest.


#8

andriansah | 18 04 2007 @ 8:08:47

karena yang dikejar adalah hasil/nilai yang tinggi, bukan proses pembelanjarannnya


#7

agusset | 18 04 2007 @ 5:41:28

kenapa ujian diperintahkan untuk diawasi dan dijaga secara ketat? karena yang memberi perintah dan yang diberi perintah (termasuk gurunya) dulunya juga pernah nyontek dan pernah juga kasak-kusuk cari bocoran soal ujian waktu jadi anak sekolahan. dan itu sesuai dengan kata kuncinya: “belajar dari pengalaman”… hahaha…


#6

iman brotoseno | 17 04 2007 @ 22:58:12

jadi guru guru mesti dijadikan wajib ikatan dinas polisi ?


#5

topan | 17 04 2007 @ 18:46:55

contek-mencontek itu membantu orang tua boss, biar naek kelas.
piye jal…!


#4

kw | 17 04 2007 @ 18:32:04

he he he… ujian. kenapa harus diuji sihhh? toh hasilnya juga masih saja karut marut begini hehehehe :)


#3

kawula alit | 17 04 2007 @ 17:39:30

hehe yang ketahuan nyontek kena tilang ya paman?
susah to, bisa titip sidang nggak ya.. :D


#2

lantip | 17 04 2007 @ 17:39:10

Nah gitu dong! jadi kan ujian bisa pake jalur damai. hihi

*melenggang*


#1

arya | 17 04 2007 @ 17:39:02

karna banyak yg nempuh ujian pengennya instan…
cari soal, trus lulus deh
pendidikan kita, parah.

*eh pertamax loh :P