Palu Arit bersama yang Imyut dan yang Lutyu…
DUNIA SIMBOL MEMANG BISA PELIK — DAN PEKA.
Sedianya barang bergambar Che Guevara ini akan saya sumbangkan untuk hadiah koran2an — blog festival desain cengengesan yang belum jelas apa dan bagaimananya itu. Tapi, uh, setelah label harga dilepas, muncullah gambar palu arit dibingkai bintang pada plastik yang mewadahi album mini 40 mm x 54 mm ini.
Ahad malam itu, karena gamang, saya meng-SMS sobat yang terbiasa cengengesan tapi di saat serius bisa bijaksana. Baru kemarin pagi dia menjawab: palu arit masih sensitif.
Bahaya dan cengengesan
Sebagian dari kita masih menganggap simbol itu sangat mengganggu bahkan mengancam. Penampilan lambang itu sama saja penghidupan kembali sesuatu yang oleh banyak pihak diyakini “laten“.
Sebagian lagi cuma menanggapnya simbol basi nan eksotis, buat gegayaan sekaligus lucu-lucuan. Sama seperti tahun 90-an, saat orang-orang memburu arloji made in USSR di Pasar Ular, Jakarta Utara, untuk koleksi. Wimar Witoelar pernah menulis soal jam ngaret itu, yang didapat di Moskwa bukan Plumpang, saat abangnya, Kang Rachmat, jadi dubes di sana.
Jika kita mencoba berjarak, inilah penyederhanaan petanya: situasi kontrer, saling berlawanan seperti dua kutub.
Mereka yang menganggapnya negatif punya alasan berdasarkan pengalaman maupun persepsinya. Setiap kemunculan atribut komunis, atau ngomunis, dalam cuaca apa pun adalah awal bahaya besar. Coba baca berita ini.
Di sisi lain ada sekelompok orang yang menganggap komunisme cuma masa lalu yang bangkrut dan tak bergigi sehingga lambang itu boleh saja dipakai untuk fun. Padahal untuk diatur oleh komunis pun mereka takkan sudi. Cuma humor kok diseriusi, begitu kira-kira (Aboe dan Abe bisa bercerita). Tapi bagi petinggi militer, ini bukan soal dagelan.
Hitler, bokep, salib…
Jika menyangkut lambang, maka masalahnya bukan semata aspek visual (juga musikal jika menyangkut lagu, dan semantik jika menyangkut istilah), tapi lebih luas: keyakinan, pandangan tentang kehidupan, perumusan sejarah, dan harapan akan masa kelak yang lebih baik.
Meskipun begitu ada lho bentuk lain yang lebih “lunak” dari penghidupan kembali simbol, dan tak dianggap membahayakan. Misalnya badge atau pin yang mirip Nazi (atau Neo-Nazi), yang tersedia di beberapa distro dan lapak kaki lima.
Sebagian pemakai atribut Nazi itu memperlakukannya sebatas untuk fashion tanpa belitan ideologis. Pernah terlihat anak-anak punk di Pondokgede, pinggiran Jakarta, mengenakannya. Tapi ketika di Inggris anak Pangeran Charles mengenakannya dalam pesta, urusannya jadi (agak) serius. Bedanya, kalau punkers Jatirahayu, ya di Pondokgede itu, jadi imigran di Jerman pada awal 90-an mungkin (kalau sial) bisa diserang Neo-Nazi yang rasis.
Tentu, tak berarti palu arit itu secara ideologis sama dengan swastika ala Hitler. Lagi pula, menurut asal-usul, swastika tak ada urusannya dengan fasisme maupun rasisme.

Bagaimana dengan simbol lain? Sebut saja salib. Umum diketahui, dalam perkembangan zaman simbol palang itu identik dengan Nasrani. Tapi hari ini, aktris dan model porno Jepang, yang masyarakatnya tak berlatar budaya Kristen, pun mengenakannya semata sebagai aksesoris.
Apakah aksi mereka di depan kamera itu berarti sebuah praktik “kristenisasi”? Masa iya ada evangelisasi sengawur itu.
Mao, Che, Billboard, dan JPS
Tentang simbol, memang bisa rumit, bisa sederhana. Hal yang mengerikan bagi pihak tertentu bisa direduksi menjadi sekadar eksotisisme.
Kafe bertema Mao (mungkin Lusi bisa bercerita), yang jelas kapitalis, hanya meminjam ikon Pak Ketua untuk tema visual. Dagangan bergambar Che tak sedikit yang cuma mengejar uang dengan menjual citra keren, heroik, dan sejenisnya. Untung foto itu tak dipakai untuk promo air api — suatu hal yang tak ditoleransi oleh Alberto Korda, si pemotret Che. Tapi Andy Warhol dapat duit dari potret Che. :)
Urusan pemakai atribut kadang memang tak harus nyambung dengan si empunya atau penguasa lambang. Pada 1984, beberapa anak SMA di Tepus Wetan dan Kemadu, dua desa di Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah, mencoreti baju sekolahnya dengan logotype “Billboard” tanpa tahu Billboard sebagai nama majalah asing mapun merek kaset “bajakan resmi”. Pokoke nggemenu (belagu, istilah Kutoarjo).
Hal serupa berlaku pada sopir-sopir Colt Ambarawa – Banyubiru – Salatiga tahun 70-an yang memasang stiker logo “JPS” tanpa pernah sekalipun mengisap rokok John Player’s Special. Sing penting nggaya.
Kagak nyambung
Mungkin saja bakal muncul sanggahan, “Beda dong lambang palu arit dengan merek dagang — apalagi salib! Orang buta huruf pun tahu palu arit itu kuminis… Padahal kuminis itu bla blabla…”
Ya, ya, ya. Saya juga ogah diperintah kuminis. Ndak enak. Emoh. Pahit. Buehh! Ndak bebas.
Lantas nemu di mana ini barang? Lha barang yang tinggal satu ini terjajakan di rak yang sama dengan pernik lain untuk cewek — dari sisir, kantong ponsel, penjepit rambut, sampai kotak pensil yang serba-fancy – pokoknya jenis barang yang akan mengundang konsumennya bilang, “Ih lutyuuuuuuuuuuuuuuu… Mau dong!”
Bener-bener kagak nyambung. Tapi akan jadi masalah ketika “yang lutyuuuu” dan “wah… serius nih!” dihubung-hubungkan.
Apa boleh bikin, kita memang hidup di tengah perlintasan lambang, dan masing-masing dari kita pun punya tafsir sendiri terhadap setiap lambang. Setiap lambang pada mulanya memang dibuat atau disepakati untuk keperluan tafsir tunggal. Termasuk tafsir untuk atau ketika sedang bersengketa.
NB:
Seusai menulis ini saya baru sadar satu hal. Kalau kertas label dibuang maka urusan selesai. Sudah kadung nulis, je. Gombal magombal-gombal!
37 Responses to Palu Arit bersama yang Imyut dan yang Lutyu…
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012Ada saja cara membangun suasana spasial kedai agar tetamu mendapatkan kesan mendalam. Misalnya ala modiste, dengan mesin jahit dan baju baru terpajang. Lho, bukannya kalau kita bertandang dan makan di tempat tetangga atau saudara yang pe... […]postyorous menerous »»»
- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012
Cicitcuit!- @memethmeong banyak hal nggak terduga kok tentang pakdhe @mbilung | @imanbr @ndorokakung @pamantyo May 23, 2012 mbakdos (Agatha N. Ardhiati)
- @mbakdos pakde pake jaket kulit? @mbilung @imanbr @ndorokakung @pamantyo May 23, 2012 memethmeong (medina wulandari)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Salon untuk Bekas Pengantar
August 31, 2006 by AntyoKIAT BISNIS: JANGAN ABAIKAN YANG MUDA (TERMASUK PRIA).
Tampaknya sudah tak ada lagi cap “salon buat emak-emak” dan “salon untuk cewek”. Keindahan harus dikejar dan dipertahankan tanpa kenal usia. Penyedianya bisa bernama salon, klinik, pusat kecantikan, pusat perawatan tubuh — pokoknya bukan puskesmastik (pusat kesehatan masyarakat cantik), karena ini istilah ndesit, kurang kosmopolit.
Layanan [...]
Recent Comments
Eka» Jadi inget waktu masih kecil.. =( Sekarang udah jarang banget perahu othok2 ini.. hiks hiks.. =(
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





[...] hiasan atau gaya hidup (dan klangenan) karena mungkin eksotis lagi keren — dari simbol Nazi, salib, Che Guevara, sampai Mao Zedong. Istilah gagahnya: peduli amat dengan ideologi karena yang [...]
sapa bilang baju cuma fasion doang gw pake baju naji gw punya paham rasis
kabarnya emang begitu Paman..
kalo salah gambar, kualitas ponten 100 pun bisa jadi 0 besar dengan warna merah menyala…plus kadang surat cinta
Sayangku
cintaku
ini aku lagi test email.
gw mau minta vidio porno yang paling bagus utuk sendiri kalau ada minta yang asli porno dari jepang ok
selain simbol palu -arit yang dibahas ni. Gw msi bingung kenapa islam itu mempergunakan lambang/simbol, yang biasa kita kenal bulan sabit dan bintang. Gw sedikit kontra dengan ini karena menurut gw islam itu kan gak terkait dengan simbol.memangnya ada hadis Rasul atau ayat di Al Quran yang mebahas tentang bulan sabit dan bintang sebagai simbol dari agama Islam? Balik lagi ke palu arit, kayanya mang identik tuh ma komunis tapi kalo sekrang masih ada yang make simbol itu ya sah2 aja. Kalo orang suka make simbol itu yah sok aja atuh bang, asal jangan nimbulin komunis aja di indonesia. Rusuh Hhe
habis w pil malu na rif na
ya tau deh bwt
fandi galang ramadhan yang ada di lamongan
jawatimur
dasmu ora karuan hai hai
Hmmm… jadi ingat lagi ikut-ikutan sakit hati gara-gara lambang manji (swastika jepang) di punggung Portgas D Ace akhirnya terpaksa diganti salib tulang belulang sejak awal tahun ini (episode 440an?). Karena katanya cukup kontroversial terutama di kawasan Eropa. Demi mendunia, jadi deh menyerah kepada keinginan pasar internasional. Padahal keren tuh tatonya…. Yah padahal-padahal, itu masalah yang ga penting untuk dipikirkan, tapi tetap saja aku sakit hati.
[usul] Kalung kamera
Sorry baru baca.
Sebenernya sih memajang gambar “Palu & Arit” ya sah-sah aja PakDe. Traumatis masa lalu dan Parno-nya (baca=Paranoid)Polisi doank sehingga orang yg berpakaian atau berpernak-pernik “Palu Arit” langsung diperiksa.
Tapi kalau mau jeli tidak ada UU yg mengatur hal ini Pak De, palingan banter UU makar, dan menurut aku itu sih masih jauh.
PakDe, perhatikan juga komentar IMW diblog Abe ;)
di bogor ada spanduk “awas, bahaya laten orde baru. tahu kan, yg suka gaya militer”
:)
Saya tinggal di Shanghai saat ini, dan sama sekali gak bisa ngerti “what’s so communist about China?”….
Saya kadang capek juga ngeliat suasana sehari-hari disini, dan amat sangat merindukan suasana amerika latin (mexico) dimana saya tinggal sebelumnya, ya lebih sosial dan nggak terlalu kapitalistik…. *membayangkan pulang ke mexico suatu hari nanti, sigh…*.
- Putu Alberto Lee