INILAH KEKONYOLAN TEKNOLOGI: CATU DAYA.

Petang tadi saya ndeprok di teras Roxy Square, menunggu hujan reda sambil berharap kemacetan akan terurai. Toko-toko sudah tutup. Satpam membiarkan saya seperti gelandangan, yang bersila lalu selonjor sambil nyender ke kaca toko. Pakai melepas sepatu berlumpur pula, untuk berbagi aroma natural.
Sakndilalah, lokasi saya ndeprok itu dekat stop kontak. Pucuk dicinta ulam dibrakot. Ponsel pun saya charge sambil ber-SMS dengan Rudy Badil, kawan lama dan mantan bos saya yang lucu itu.

Sayang tak semua bangunan publik menyediakan colokan listrik gratis untuk semua orang. Padahal masalah utama peranti genggam bukan lagi pada penyusutan ukuran dan pembengkakan kemampuan, melainkan baterai.
Rasa-rasanya kok belum ada revolusi untuk baterai setrum ulang bagi produk kelas konsumen biasa. Baterai yang mungil, bertenaga raksasa, awet, murah, dan ramah lingkungan, belum diterapkan untuk barang pasaran. Padahal kita butuh baterai yang betah melek dua tahun.
Maka kenanglah setiap kali Anda mudik dan reuni keluarga saat hari raya. Anak dan cucu tuan/nyonya rumah berebut stop kontak untuk mengisi daya baterai ponsel, kamera, laptop, dan alat lain.
Waktu banjir tempo hari, teman saya harus berenang sambil berharap mendapatkan tumpangan perahu karet agar bisa mencapai sebuah pertokoan untuk menyetrum ponselnya. Maklumlah listrik di rumahnya padam.
Energi memang persoalan bersama. Karena energi pula antarnegara berperang.
Di luar soal perang, Indonesia tetap memberikan solusi yang sepintas indah dan praktis. Lihatlah, di beberapa kota itu petromaks pedagang bergerobak dan warung tenda mulai berkurang. Mereka mulai berlistrik, dengan mengatur kabel yang berprinsip sambung-menyembung menjadi satu…
Dari mana sumber listrik? Sama seperti halnya air bersih untuk warung, di beberapa tempat itu, misalnya kawasan bisnis, listriknya didapat melalui persekongkolan. Satpam dan insinyur eh engineer eh teknisi gedung kadang membocorkan listriknya untuk pedagang kaki lima. Ada juga sih pedagang yang mendapatkan pasokan listrik dari pemilik rumah tertentu secara gratis, minimal dengan ongkos ringan.
Bagaimana dengan toko elektronik kecil yang sering membiarkan belasan pesawat televisinya menyala? Memangnya kapasitas setrum di toko itu berlimpah?
Ah, itu cerita yang lain lagi. Pokoknya pstt… pstt… khas Indonesia. Kayak nggak tahu aja. :D





danie | 15 06 2007 @ 16:53:30
ndilalah kok sempet sempetnya bawa charger… apa ndak repot tho? charger itu ndak didesain untuk mobile lho pakdhe…
dhany | 15 05 2007 @ 10:38:34
masjid di tempat kerja saya stop contact-nya sering memberi manfaat bagi para musafir yang kehabisan daya
mungkin perlu “SPBU” untuk charge HP ya..??
Tresno | 13 05 2007 @ 2:48:05
rahasia umum yach paman! hehehe
itu Simpati masuk jadi iklan,
Tukang Koran | 12 05 2007 @ 23:33:55
Di Giant Pondok Kopi disediakan charger berbagai HP, gratis. Sayang gak bisa ditinggal. Hanya bermanfaat untuk para sopir yang nunggu majikannya belanja.
oon | 12 05 2007 @ 20:12:06
sepatunya nunggu giliran nge-cas to pak de? :p
sluman slumun slamet | 12 05 2007 @ 13:07:16
pakdhe pasti gak minta ijin ma yang punya setrum. hayoooooooooooooo…..
UPS sepatunya bau!
walahwalah | 11 05 2007 @ 21:25:09
Om… sampeyan juga bisa di kategorikan maling setrum lho ngati-ati ……!
nila | 11 05 2007 @ 21:14:41
masih mimpi ada website yg khusus bisa login utk charging…..ya leptop ya HP pake USB….heuheuheu…..
gratis pulak….ato langganan lah kayak kartu isi ulang….
ndahmaldiniwati | 11 05 2007 @ 17:41:48
iya nih..coba ada batre yg tahan luamaa bgt pasti ga’ refot2 rebutan daya. btw itu hp pasti bau deh, lah deket2an ma sepatu gitu je;))
sam | 11 05 2007 @ 14:27:11
setrum gratisan ya om :)
b@drquest | 11 05 2007 @ 13:08:46
apakah mas Rudy Badil ini yang pernah ikutan Warkop versi radio-na prambors dulu ??? mohon pencerahan
mpokb | 11 05 2007 @ 12:27:59
lho, yg tabib ke mana?
adi | 11 05 2007 @ 9:29:31
sakndilalah ? halah bahasanya ‘old school’ bangeeet :D
pipit | 11 05 2007 @ 9:19:29
Peluang usaha refill baterai?
b0wo | 11 05 2007 @ 7:50:02
ada gak ya charger yang wireless??
evi | 11 05 2007 @ 7:44:09
pernah saya memperhatikan, pas lagi ada acara yg dihadiri oleh orang2 penting di pabrik tmpt saya kerja, banyak pengejar berita yg memburu sumber berita duduk plesetan berkerumun di luar pintu menuju lobby, oalah….ternyata lagi ngantri nyolokin HP ke stop kontak yg ada disitu.
ex pramuniaga | 11 05 2007 @ 7:16:33
saya download foto ini lalu saya pelajari ternyata ada gambar sepatu clarks, tapi merek/model hp kayaknya nggak lumrah soalnya bukan nokia, sony ericcson dan lainnya…
Mbilung | 11 05 2007 @ 7:15:11
“sambil ber-SMS dengan Rudy Badil”
tukar-tukar cerita sesama pensiunan paman?
KaiToU | 11 05 2007 @ 5:04:59
2 sumberdaya untuk HP:
- Baterai
- Pulsa
:)
Anang | 10 05 2007 @ 23:59:25
saya juga sering nyolok gitu…
Hedi | 10 05 2007 @ 23:55:37
Akhirnya Kere Kemplu masih hidup ya, Paman dan berkat teknologi :D
triesti | 10 05 2007 @ 23:48:38
ih.. tumben di Ind. ada colokan di bawah.. biasanya diatas… ngga takut banjir ya?
Deny Sri Supriyono | 10 05 2007 @ 23:44:57
lah, bener juga ya..
kok toko elektronik bisa nyalain 20 TV-nya (agak hiperbola) berbarengan ya?
emang tau caranya gimana tuh biar bisa gitu, om?
kalo iya, saya mau dong kalo ada resepsi di rumah :D
mina | 10 05 2007 @ 23:19:23
Rudy Badil? Rudy Badil yang ITU?