Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Hari Cuti Paksa Nasional

Jumat, 18 Mei 2007 @ 08:44 | Komedi Indonesia

SUDAH KADUNG, SUSAH DICABUT — KECUALI TERJADI PENGABAIAN SERENTAK.

harpitnas 2007

Tak semua kantor menetapkan hari ini sebagai cuti bersama. Salah satu penyebab, cuti paksa itu malah mengganggu proses produksi dan kenyamanan bekerja. Misalnya harus memajukan sejumlah tenggat pekerjaan.

Bagi saya itu bagus. Yang mau ambil cuti silakan. Yang mau bekerja ya jangan dicutikan. Yang mau membolos ya sumangga, asal siap menerima konsekuensi.

Legalisasi harpitnas — hari-hari kejepit nasional — dengan SKB tiga menteri itulah pangkal soalnya. Kesan saya terhadap SKB itu, ketika pertama kali diberlakukan beberapa tahun lalu, adalah pemanjangan hari libur resmi Lebaran dan tanggal-tanggal merah lainnya di kalangan aparatchik.

Karena produk hukum sebaiknya juga adaptif terhadap “dinamika daripada masyarakat”, maka pembolosan atas nama harpitnas pun dilegalkan. Hanya saja caranya ganjil: orang dipaksa cuti melalui peliburan. Cuti, sebagai hak, menjadi tak penting atas nama kepentingan nasional.

Pemerintah tak berani tegas. Sejak dulu setiap tahun hanya mengeluarkan ultimatum seputar libur hari raya. Pegawai yang memperpanjang liburannya akan dikenai sanksi.

Ultimatum tak mempan. Yang bertugas memberi dan terlebih lagi melaksanakan ultimatum juga dihinggapi masalah yang sama dengan yang terultimatum: repot mengatur waktu seputar hari raya.

Sebetulnya ada solusi sederhana. Tambahi saja hari libur resminya. Selebihnya ya ambil cuti. Di luar cuti dianggap membolos.

Buat saya sederhana, tapi buat pemerintah dan employers, ini soal pelik. Sudah ada rumus bahwa dalam setahun setiap pegawai harus bekerja berapa ratus hari. Menambah hari libur, tanpa mengurangi salah satu komponen upah, sama saja menambah masalah.

Akhirnya muncullah jalan tengah yang tak sepenuhnya di tengah. Orang dipaksa cuti. Yang tak merayakan Natal mengeluh, “Saya nggak ngerayain, dapet kuenya juga nggak, kok jatah cuti saya kepotong.”

Masih mendingan kalau kantornya saban tahun memberikan THR Lebaran dan THR Natal. Syukur kalau ditambah THR Imlek dan lainnya.

Bagaimana kalau SKB ini tak diperbarui tahun depan dan berikutnya? Saya menduga bakal banyak menuai protes (plus pertanyaan kesal: “Masalah elu ape?”) dan bisa-bisa membawa muatan isu sensitif.

Di luar isu sensitif tentu saja dalih yang superasyik: “Bukan salah kita dong kalo tanggal merah jatuh hari Minggu. Makanya Senen kudu prei.”

Ada 34 komentar | trackback | Depan

#34

Stevie | 25 05 2007 @ 19.09.14

Temen saya mel-ngomel, merasa belom pernah ambil jatah cutinya tapi udah kepotong. Giliran pengen liburan seminggu langsung abis.

Pemerintah yaa… gitudeh. Cuman mikirin udelnya sendiri. Menjajah kebebasan rakyat.


#33

dhany | 24 05 2007 @ 10.39.55

jangan bikin isa.. isue…
nanti bisa bikin rusu..h
yang ndak suka bisa nesu..
apalagi tanggal tua.. tambah lesu..


#32

~kopidangdut~ | 24 05 2007 @ 8.23.24

“~Kopidangdut~ berkata: Saya Cuti Maka Saya Ada..”. Sejatinya cuti adalah hak segenap pekerja. Bila ada pribadi yg tak menginginkan, pahamilah lebih banyak lg pribadi yang menginginkan cuti; seperti saya..
Oh yeaaah!


#31

thya | 22 05 2007 @ 8.54.34

aha !
comment #28 is cool !

coba dihitung produktivitas kita dengan adanya begitu banyak libur, belum lagi pemaksaan cuti.
padahal kondisi ekonomi sedang tidak begitu bagus saat ini, bukannya dipaksa makin giat, malah dipaksa santai - dengan alasan refreshing :-/


#30

R | 21 05 2007 @ 12.52.40

CHD (cuti hoream damel) sajah… cuti tahunan jadi teteup aman…
*para pria yang nggak punya CHD jangan ngiri yah…


#29

budiw | 20 05 2007 @ 20.42.50

hehehe, karena kebiasaan di kantor lama yang gak libur meskipun ada tulisan cuti bersama, akhirnya saya pun kecele dikantor yang baru ini, saya masuk, lainnya libur..

kapan ke sorbejeh paman..?


#28

imcw | 20 05 2007 @ 12.32.32

ada satu lagi julukan negeri ini sebagai negeri malas…;)


#27

qper | 20 05 2007 @ 0.45.40

kalo saya gampang oom, gak perlu tau email resmi dari hrd, pas hari kamis sms temen, “besok libur gak?”. temen bales sms, “mancing!”. ooo, berarti libur. trus kita bisa ketemuan deh. ya gak oom? :D btw, salah satu lagunya saga yg terkenal apa oom? mo coba “cari” di mp. hari sabtu sore ketemu sama budi be’el juragan catering komplek. ngaku juga dia akhirnya. :D


#26

sluman slumun slamet | 19 05 2007 @ 16.33.14

apalagi kalau ditambah libur musim…
musim kemarau
musim penghujan
musim banjir
musim duren
musim rambutan
musim layangan
musim demam berdarah
musim plu
musim rebonding
musim…


#25

Linda | 19 05 2007 @ 6.23.12

kantor saya ikut cuti bersama, jadi saya ‘terpaksa’ cuti :)


#24

Tresno | 19 05 2007 @ 4.41.16

buat saya every day is holiday…
belum ada jatah cuti


#23

Abi_ha_ha | 19 05 2007 @ 1.12.43

Mau harpitnas atau cuti atau longwik-en monggo, tapi mbok ide liburannya orang Jakarta sana jangan melulu Bandung, Bandung, dan Bandung lagi, lalu Bandung.
Macet tauk!


#22

agga ayu | 19 05 2007 @ 0.01.22

daripada dipaksa kerja saya pilih dipaksa libur aja:D


#21

iman brotoseno | 18 05 2007 @ 22.42.03

enaknya nggak jadi orang film memang yang liburan kayak gini,..kalau orang film yang ada nombok hari liburnya, wong malam takbiran saja masih syuting..


#20

mbakDos | 18 05 2007 @ 21.48.23

ndak usah nunggu sampe ada harpitnas, lha wong hari kerja biasa aja, ada yang baru memunculkan batang hidungnya di kantor pada jam 10. itu pun untuk mbikin kopi dan baca koran.

jadi apa bedanya ya kejepit sama ndak kejepit? :P


#19

Rian | 18 05 2007 @ 20.54.28

Harpitnas - Hari kejepit Nasional
Jepit apa nih… :D
Kalo saya malah dapat libur sehari, jadi ndak kejepit :)


#18

anakperi | 18 05 2007 @ 19.29.29

kantor pos nggak libur…


#17

3 monyet | 18 05 2007 @ 16.49.03

Ah, banyak libur juga ngga artinya kerjanya ngga effisien. Di Eropa libur bisa sebulan ya baik-baik saja. lebih produktif malah daripada di Indonesia. Katanya justru disaat libur itu orang punya ide baru.

mungkin harusnya dibuat libur pekerja lebih dari 2 minggu. terserah diambil kapan. kalau mau diambil pas harpitnas ya suka2 yg ambil. tapi ngga maksa yg mau kerja untuk cuti.

kenapa Indonesia senang maksa? bulan puasa yg nga puasa dipaksa ngga ke disko, krn diskonya ditutup. natalan, yg ngga natalan dipaksa libur.


#16

Freddy Hernawan | 18 05 2007 @ 15.58.38

walah .. begitu tho ceritanya. selama ini saya cuma nerima begitu saja. hehe.. sekarang baru tahu deh. makasih om artikelnya bagus.


#15

mufti | 18 05 2007 @ 15.33.44

Kapan mau maju kalo libur terus? :D


#14

biz | 18 05 2007 @ 15.09.18

wah, masuk 20 besar…hore!!!

mungkin kita emang bangsa yang lebih semangat untuk libur daripada kerja…


#13

atta | 18 05 2007 @ 14.57.48

hayah cuti bersama tak sampai kemari. lah buktinya ini sayah tetep ngantor. hehehehe


#12

neng | 18 05 2007 @ 14.36.19

hari ini cuma 2 orang aja yang ngantor.. termasuk sayah :(


#11

mpokb | 18 05 2007 @ 12.15.31

lebih enak masuk kantor pas jalanan jakarta sepi. macetnya sudah pindah ke tempat2 wisata..


#10

johnherf | 18 05 2007 @ 11.09.11

Lima kalender harian saya sobek berwarna merah, cuma ada juga yang berwarna biru atau hitam, seperti Bank Jasa Jakarta, Penerbit Grasindo, dan kalender mini. Jadi, pembuat kalender ada yang menetapkan hari libur, ada pula yang menetapkan Jumat ini tetap ngantor.

Di kalangan pekerja kantor misalnya Matahari Putra Prima, secara resmi meliburkan karyawan tanpa cuti, setali tiga uang Yayasan Sekolah di Penjernihan pun meliburkan aktivitas belajar mengajar. Ada yang libur, ada pula yang masuk. Akibatnya, naik angkutan umum dan kondisi jalan hari ini lengang, lancar, jauh dari kesan padat apalagi merayap. Oleh karena itu, pekerja harian jadi meratap lantaran penumpang sepi.


#9

blonty | 18 05 2007 @ 10.29.32

enak tenan jadi pegawai negeri ya, Paman? libur saja sampai disuruh-suruh pemerintahnya :p


#8

b0wo | 18 05 2007 @ 10.10.25

mari nikmati liburan ini pakdhe… aku ke jakarta,ketemuan yyuukkk hehehe


#7

tukang ketik | 18 05 2007 @ 10.06.45

hahaha… lucu judulnya.

pak, titip link :
jalan-jalan yuk


#6

anima | 18 05 2007 @ 9.54.54

ada banyak salah spelling di dokumen itu :D


#5

mina | 18 05 2007 @ 9.53.48

untung ada cuti. kalo kantor saya, gak ada cuti loh. kecuali cuti melahirkan. cuti sekolah. atau cuti untuk riset (kalo menurut UU yang baru sih).


#4

Hedi | 18 05 2007 @ 9.21.48

Sejumlah pedagang makanan di sekitar kantor saya komplain. Katanya libur kok panjang banget.


#3

devie | 18 05 2007 @ 9.10.46

eman jatah cuti kalo diambil. mending ngantor trus pulang siang. :D


#2

inay | 18 05 2007 @ 9.10.05

paman tyo, saya seneng deh baca2 tulisan bapak [manggilnya paman atau bapak ya?!hehe], baru nemu link blogombal ini tadi pagi, trus ketrusan baca2, baguuussss..
pengen blajar nulis kayak om.. [loh,jadi paman, bapak, atau om nih?!]


#1

adi | 18 05 2007 @ 8.52.17

masih mending cuti paksa pak, drpd hari masuk paksa (hari libur disuruh masuk) seperti di kantor saya :P