Blog dan Rahasia Dapur Kumpeni
DI MANA SIH (TIDAK) BAGUSNYA DAN (TIDAK) BOLEHNYA?

Inilah yang kurang disukai sebagian (besar) bos: urusan internal kantor diumbar di blog oleh anak buahnya. Minimal muncul gerutu, “Kalo lu ada masalah, ngomong dong ke gue. Kalo lu udah muak sama ini perusahaan, kenapa nggak cabut aja?”
Bagi si anak buah yang dituduh bocor mulut — dan obral ketikan — itu, masalahnya adalah keluhannya selama ini tak didengar. Kalau harus mengundurkan diri gara-gara sebal, enak benar orang yang — menurutnya — jadi sumber masalah. Padahal keluar dari pekerjaan berarti ketidakstabilan sumber nafkah.
Tambah rumit jika persoalan jadi melebar lantaran penyerangan terhadap pribadi tertentu juga digencarkan. Mana soal dinas, mana kekesalan personal, menjadi adonan panas nan pedas.
Orang yang mencoba berjarak mungkin bisa mengingatkan, “Kalo sampeyan punya pembantu, lantas pembantu njelek-jelekin juragannya di blog, apa sampeyan juga rela?”
Yang ditanya tak kalah sigap: “Lha ya beda to Pakdhe. Kalo kita jadi bawahan ya mikir sebagai bawahan, jangan mencoba berempati kalo jadi bos gimana; itu namanya kemaki dan ndak tahu diri.”
Yang sama-sama tak merepotkan adalah jika isi blog tentang kantor serba bagus. Juragan bisa bangga bilang, “Ya begitulah kami, seperti yang dibilang blognya si Anuituentah.” Blog menjadi saluran public relations yang menyenangkan (baca: menguntungkan).
Aturan main
Masalahnya bukan semata pada blog sebagai media personal yang berdomain khalayak. Selain blog, milis internal sebuah kantor toh kadang juga dengan enteng terteruskan ke milis luar, lengkap dengan header.
Masalahnya adalah bagaimana aturan main sebuah organisasi dijalankan.
Seorang blogger, yang punya jabatan struktural di sebuah media, pernah bilang selintas bahwa kantornya, bersama dewan karyawan, akan menata etika ngeblog bagi karyawan. Saya belum tahu apakah sudah ada hasilnya.
Tanggapan saya waktu itu seolah bijak tapi sesungguhnya naif. Kurang lebih saya bilang, “Yah, mestinya kalau sudah dewasa, setiap karyawan kan tahu apa yang layak dan tidak layak untuk dituangkan ke dalam blog…”
Si blogger menukas (bukan kutipan persis), “Masalahnya kedewasaan setiap orang itu berbeda. Apa yang layak dan nggak layak juga berbeda untuk masing-masing orang. Kalau nggak jelas mana yang boleh dan nggak boleh, gimana kita ngasih sanksi?”
Waktu itu saya berpengandaian bahwa soal “rahasia perusahaan”, sesumir apapun, sudah diatur dalam setiap peraturan perusahaan dan bahkan perjanjian kerja. Karena saya awam hukum, maka saya menyimpulkan soal blog merujuk ke sana.
Kalau bos doyan kasih kerjaan yang berat, apakah layak masuk blog, lengkap dengan nama lengkapnya, padahal “about me” sudah menyatakan si blogger kerja di mana?
Begitu juga dengan sejawat yang menurut anggapan si blogger adalah malas, tidak cergas, dan kurang produktif. Haruskah mereka dipermalukan sampai ternista di blog?
Bagaimana dengan klien yang maunya bayar murah tapi dapat banyak, bahkan suka menjiplak konsep dalam pitching dan proposal? Begitu pula pemasok dan kontraktor yang selalu melanggar tenggat, haruskah kita umumkan?
Kalau bos sering marah sambil menghamburkan kamus kebun binatang dan terminologi reproduksi manusia, sehingga si karyawan yang blogger itu merasa terlecehkan dan terhina, bagaimana? Adukan ke bosnya bos. Kalau mentok boleh sih langsung cari pengacara atau mengadu ke lembaga advokasi dan sekalian masuk ke blog. :D
Urusan ranjang pesohor
Bagi orang luar, blog pembuka aib sebuah kumpeni bisa menarik, bisa tidak. Prinsip dagangan media — name makes news (prominensi) — turut berperan.
Kalau menyangkut UD atau CV ecek-ecek yang berkantor di ruko kumuh, dengan urusan sepele, tentu tak layak baca. Tapi jika menyangkut kumpeni ternama, mana mengusung slogan mulia, kayaknya juicy deh.
Yah, serupa dengan ketergodaan kita (sesaat) pada kasus perceraian artis, berikut bumbu cerita gono-gini dan perilaku seksual mereka. Itu urusan dalam negeri yang tak memengaruhi kehidupan kita tapi merangsang rasa ingin tahu.
Bumbu pergaulan bernama pergunjingan memang mengasyikkan. Terutama jika menyangkut pihak lain.
Peniup peluit
Soal etika memang sering rumit. Jika sebuah organisasi melakukan kesalahan, tak bolehkah dikoreksi dari dalam melalui cara yang diketahui oleh orang luar?
Jawaban sok pintar: tergantung kasusnya. Jika kesalahan itu mencakup kejahatan sesuai pengertian khalayak dan perundangan, dari penggelapan pajak sampai pembunuhan, maka boleh jadi bisa dibuka kepada publik — antara lain melalui blog.
Bagaimana dengan pengabaian manajemen pabrik dalam proses produksi yang ujung-ujungnya membahayakan keselamatan konsumen, padahal karyawan sudah mengingatkan?
Di sini masalahnya jadi layak debat. Jika keselamatan itu menyangkut nyawa, misalnya produk otomotif, maka si peniup peluit mungkin layak dikasih tabik.
Kalau masalahnya menyangkut produk komputer, dalam hal ini lubang pada software (juga bisa mengancam keamanan pemakai, misalnya rekeningnya jebol), dan manajemen mengabaikan peringatan internal maupun wanti-wanti dari hackers, bolehkah soal ini dibocorkan kepada khalayak untuk memperkuat kontrol?
Silakan berdiskusi. Pakdhe Nukman Luthfie dan Uda Budi Putra, misalnya, bisa memandu. Termasuk soal dalam batas apa seorang blogger boleh membuka borok bekas tempatnya mencari nafkah maupun bekas klien yang pernah membayarnya.
N.B.: Misalkan sejak dulu Inu Kencana Syafiie punya blog tetang IPDN, bakal menarik nggak ya?
© Ilustrasi: rsi-relief.com
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012Berita paling konyol pekan ini: pemasangan 177 kursi (@ Rp 24 juta) dalam ruang rapat senilai Rp 20 miliar milik Banggar DPR dilakuan menjelang pergantian hari hingga dini hari dengan pengamanan ekstra. Setiap kursi baru masuk, sehingga pintu harus dibuka, lampu ruang sudah padam. Artinya para politisi dan birokrat di DPR itu masih punya rasa […]antyo
- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012
Cicitcuit!- Five Roles of An Online Investigation Team » http://t.co/6VFaC7wO | cc: @hedi @PamanTyo @orsuy @ndorokakung February 4, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
- @leksa @pamantyo kebanyakan yg belanja org2 yg jualan makanan sekitar mega kuningan. asal tegal, purwokerto sama kuningan :D February 4, 2012 aralle (alle)
Recent Posts
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
- Nasib Koran dan Penjajanya
Archives
Random Posts
Menolak Jadi Tua
March 10, 2008 by AntyoMEMANG BEGITULAH SEJARAH, MBAH. :D
Gantungan kunci teman saya itu mengingatkan saya kepada beberapa orang. Ketika usia bertambah, dan angka empat menjadi pembuka, mereka pun mulai resah.
Ada yang gelisah karena selewat usia 40 kariernya belum berkembang. Catatan: karier diartikan pangkat dan jabatan — plus, tentu, gaji berlimpah.
Ada yang merasa gagal karena [...]
Recent Comments
Fauzi Enigma Web» waduh. miris. budaya “sebagian̶ 1; masyarakat yang serba instan. pengen ini pengen itu tapi tidak mau menanggung bebannya. Sedih melihat orang-orang seperti itu
Fauzi Enigma Web» Ampun. seumur-umur gue ga pernah milih. Dari gw mulai dapet KTP sampai nyaris kepala 3 ini. Dan kayaknya gak bakalan kalau para pemimpin kita masih sibuk mengurusi perut dan nafsunnya ketimbang memihak rakyat. mbuh
wafaa» kalau bingung gak usah milih :D
vhyan» kllo syya sii pillih yg adill dan jujur sajja.. hehe..
Alex» Rekam jejaknya juga selama ini bertabur-tabur, Paman. Bersama kawan-kawan kami pernah coba bikin blog mulut pejabat dengan iktikad merekam jejak mereka yang sedang menjabat, untuk arsip jika kelak mereka mau naik lagi. Tapi ya susah. Hehe. Yang terlibat sedikit masih. Sistemnya sederhana:...
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (86)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





[...] ada hubungan dengan akademis”, ya begitulah Menilik tulisan om tyo mengenai blog dan rahasia dapur kompeni : Inilah yang kurang disukai sebagian (besar) bos: urusan internal kantor diumbar di blog oleh anak [...]
[...] Tambahan pekerjaan membaca tanpa bonus: + Blog dan Rahasia Dapur Kumpeni [...]
[...] Karena gak fokus apa yang mau dibahas, banyak banget di blog ini, yang menyampah nggak keruan. Ya soal republik tercinta, termasuk kantor yang merupakan miniaturnya republik ini. Ini jadi kayak yang pernah digombalkan paman, gombalan yang tepat meletakkan cermin dimukaku, anak ayam yang menistakan kumpeni yang memberi makan termasuk dengan budak kumpeni yang menyebalkan jadi malu, efeknya ada satu posting yang sangat menistakan teman, karena nggak tahan untuk tidak menyampah, aku hapus, kasian juga tu anak… hehehe [...]
oleh karena itu dalam penulisan blog alangkah baiknya nama nama yang sensitif untuk ditulis, seperti nama juragan dan nama kolega yang tidur sama tetangga, dikode aja, misalnya diganti dengan nama nama buah… si melon hari ini centil banget deh ama si terong, or, tu labu dikirimin email gak pernah dibaca…
wah..wah.. ternyata kisah jongos yang ngeblog ternyata dimana2 sama yah!!??
Saran saya Paman, tetep aja tulis apa adanya sesuai keinginan hati kita, asal benar knapa? masalah rejeki dah ada yang nanggung kok. Tapi inget harus berani tanggung azab(dari juragan) he..he..
“Kerajinan” menulis di blog pun tergantung dari tempat bekerja
Kalo servernya lambat, jd males
Apalagi kalo gak ada akses…
apalagi kalo dah gak ngantor
jadi terbengkalai deh blognya :P
ngomongin saya bukan?
wah, asal jangan membuat pemerintah beride membuat Badan Sensor Blog
numpang lewat, paman… mau komentar udah pada diborong sama yang lain…
wah saya kena tuh
blog saya ttg skolah saya ktauan sama guru2 yg jadi bahan hinaan di blog
hahahaha
untung nilai uda dimasukin ke rapor
selamet deh.
hehhee.
ho ho ho ho ….
komen2 telah menjawab semuanya
:)
beruntung di kantor saya, hanya saya yang punya blog..( kebetulan saya juga bossnya he he )
Iyach, jawabannya cukup sederhana aja.
- Terima keadaan dan bekerja dengan sebaik mungkin, atau
- Pamit dengan sebaik mungkin juga.. :-D
soeda djelas, itoe inoe soeda terkenaal van dahoeloe, ataw mala di moenirkeun setjara seksama boeng kemploe…
ada hubungan sama perangnya kompasinside dan insidekompas ya pakdhe? *sori sebut nama terang2an… :D
blog, apalagi kalau cuman gombal, ya gak usah dipikirin. hehehehehehhehe
pis pakdhe!!!
Blog kan isinya uneg-uneg personal paman, jadi menurut saya sih gak masalah, kan lebih mencerminkan pemiliknya. Kalo menjelekkan orang yang baik sih biasanya kena batunya, kalo menjelekkan yang sudah jelek, sepertinya banyak pendukungnya, hehe. just my 2 cent.
whuhuhu….
*pernah menistakan teman…*
*pernah menistakan si bos…*
tapi ya itu cuma ngedumel… kalo mereka marah… ya tinggal takambilin cermin… biar ngaca (yg tak-omongin bener gituh)
he-ehlah… iyeu mah dipoyok dilebok… abisnya kumaha deui, ari abdi gawe didieu mah bakat sih… bakat ku butuh…
*curhat buruh pabrik*
:D