Buah Jatuh tak Jauh dari Pohon Tetangga
AKHIRNYA IMPOR DARI NEGERI TETANGGA.
Anak saya mulanya kurang begitu mengenal sawo. Kulit sawo yang kurang menarik membuat mereka tak menyangka bahwa isinya manis.
Perihal istilah “sawo matang”, itu mereka kenal sebelum melihat buahnya. Mereka juga pernah melihat kecik (biji sawo) untuk dhakon (congklak) tanpa tahu buahnya.
Dari mana datangnya sawo? Tentu dari membeli. Tak jauh, selepas keluar dari jalan tol menuju rumah saya, ada penjual buah. Itu kios ada sedia sawo (duh, kalimatnya jadul banget).
Tentang sawo, dan buah lokal lainnya, atau sebut saja buah kampung, saya punya kesan bebuahan itu kini bukan lagi tanaman kebun tetangga.
Ketika saya masih kecil, sawo — dan juga pisang, pepaya, kepel, sirsak, kedondong, duku, langsep, salak, rambutan, gowok — bisa didapat dari pemberian tetangga. Sebagian dari buah itu malah bisa dipetik dari halaman sendiri.
Hanya jeruk (terutama keprok) dan kesemek atawa keledung yang harus didapat dengan membeli. Begitu pula halnya durian dan mangga tertentu.
Saya tak tahu apakah di kota-kota kecil Pulau Jawa masih banyak rumah yang berhalaman dan berkebun luas dengan rindangan pepohonan buah.
Tampaknya halaman dan kebun di sana sudah terisi bangunan. Bisa bangunan baru dari pemilik lama. Bisa juga bangunan baru milik pembeli lahan.
Jangan tanya kebun di Jakarta, terutama di kompleks perumahan dan perkampungan padat. Sandal lepasan saja menghabiskan ruang, mana ada tempat untuk tanaman selain pot.
Anak-anak kota besar mungkin tak menandai rumah kawan seperti orangtuanya dulu: “O, si Anu yang punya pohon kedondong itu…” Lebih mudah mengidentifikasi rumah berdasarkan mobil dan anjing galak.
Di kota besar, buah jatuh dari pasar. Adapun dulu, membeli bebuahan itu sudah mengesankan pola konsumsi kelas menengah. Barangkali itulah yang mengilhami lagu “Papaya, mangga, pisang, jambu / dibeli dari Pasar Minggu…”
Pasar swalayan tertentu, dengan seleksi yang ketat, menyediakan aneka bebuahan lokal. Tapi pasar kotor dan bau, seperti Pasar Cikini, Jakarta Pusat, pun masih menyediakannya. Beberapa penjual tua punya pelanggan dari kalangan ibu-ibu sepuh bersanggul yang mereka sebut “nyonya gedongan”.
Makin banyak bebuahan lokal yang harus dipetik dari pasar. Halaman kita tak punya. Kebun tetangga juga tak sedia.
Entahlah apa jadinya kelak setelah kebun buah di pinggiran dan luar kota (Jawa) sudah menjadi perumahan.
Mungkin kita tak hanya akan mengimpornya dari Thailand dan Malaysia — setelah Jawa mendatangkannya dari luar pulau — tetapi (untuk buah tertentu) juga tlatah utara Australia.
25 Responses to Buah Jatuh tak Jauh dari Pohon Tetangga
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012Etalase ini memuat ketidaksopanan. Pokoknya bertentangan dengan ketimuran. Berseberangan dengan moral dan kebudayaan bangsa Indonesia. Tidak layak dipertontonkan kepada khalayak ramai maupun sepi. Misalnya seorang perempuan mencengkeram d... […]postyorous menerous »»»
- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012
Cicitcuit!- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 AmmaRahmawati (Rahmawati)
- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 alienized (Simply A to the L)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Kerja buat Ngongkosin Selingkuhan
January 17, 2007 by AntyoBEKERJA = KESENANGAN = BAYAR.
“Gue kerja supaya bisa membiayai selingkuhan. Malu dong kalo pake duit suami.”
Itu tadi bukan kutipan persis. Tapi begitulah kira-kira SMS yang dibacakan kemarin pagi di Kis FM Jakarta. Nakal, orisinal, menyentak. Sebuah gurauan wanita muda urban untuk topik alasan bekerja.
Jawaban lain, semisal bekerja supaya dapat [...]
Recent Comments
dihas» semuanya akan mempertanggungjawabk an di mata Tuhan… itu juga kalau Tuhan tdk sedang tidur dan mogok bicara….
danparjo» aku duda 38 tnpa anak…krj ngajar musik…. aku cri janda to serius nikah bkn main main….umur 33-45..suku bebas
Totot» Buat saya tidak sulit. Dalam sejarah peradaban manusia, radikalisme selalu ada di semua tempat dan di setiap zaman. Jika tersedia ruang, mereka juga selalu menjadi ofensif. Menurut saya ini bukan persoalan FPI. Jika Sodara rajin mengikuti Metro Malam, setiap hari sedikitnya ada lima...
Judhianto» Yang lebih sulit adalah memahami Polri dan Pak Beye. Lha sudah jelas melanggar hukum kok dibiarkan, malah kesannya malah merestui kelompok psikopat itu. Jangan-jangan si Rizieq bakal punya kantor sendiri di Mabes Polri untuk memudahkan koordinasi?
hedi» Tuhan memelihara perbedaan di muka bumi selama jutaan tahun. Jangan coba-coba menyatukan perbedaan itu. Akan sia-sia. Demikian kata seorang bijak suatu waktu :D
Recent Trackbacks
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Mau dong sawo madunya
kirimkan saya info dan gambar buah sawo tersebut please.
adi inget parikan
“kecik isi sawo
rambut brintik koyok gendruwo…”
*ra nyambung yo ben*
Sawo ??? pingin juga ngeliatnya, lama nggak makan, manis alami yo pastilaaaaaaahhh
ah..
aku juga pernah beli asem aja dari Thailand
DI PERUMAHAN GRAHA ADENA (BINTARO JAYA) RUMAH-RUMAH MEREKA MASING-MASING DI BERI SATU POHON: BOLEH MANGGA ATAU BUNI
di pabrik tempat saya nguli banyak pohon sawo kecik pakdhe….
dan saya baru tau pohon serta buahnya ya setelah nguli disana itu, jebul yo buahnya manis seperti sawo yg di foto sebelah.
dah lama ndak makan sawo.. :|
Sawo…., ada aja bahan postingan, :D, tapi tetep enak kalo yang bawain oom tyo, walaupun cuma sawo. heran…, rumusnya gimana ya?
tulisane pakdhe tyo bikin tambah kangen kampung aja. inget tetangga sebelah ada sawo yang kalo malem jumat gak ada yang berani lewat… bagi dong sawo-nya pakdhe, biasanya sore2 gini gak ada gorengan, tapi sawo pun sumonggo
sawo itu yang manis yang codotan (sisa codot). hihihi
paling enak tuh ngumpet di atas pu’un. anak2 juragan paman pada suka manjat pu’un tetangga? kalo belum bisa, sinih saya ajarin.. sekali panjat dijamin betah, malas turun, apalagi kalau sambil panen buah.. =’.'=
ga’ kebayang depan rumah ada pohon salaknya, hihiii rungseb tenan.
tapi kalo di kampung, depan rumah biasanya masih dihiasi mangga&rambutan dan blakang rumah masih ada pepaya, pisang. Kedodong&alpokat ogah ah, takut uletnya:-/
juwet, baleci/keres/talok….
ndesooooooooo!!!!
gimana kalo paman investasi membangun lahan perkebunan saja, supaya buah2an kita tidak jadi “langka”…
*dan jangan lupa kirim2 ke saya dooong..*
saya masih ada pohon sawo di ngawi. tapi ya itu, sudah tua sekali pohonnya, buahnya ndak sebanyak dulu dan ndak sebesar dulu.
dulu masih sempat njual segala, sekarang dimakan ma tetangga aja dah habis. :D
produktifitas pakdhe! produktifitas! tanah pulau jawa ini akan menghasilkan lebih banyak uang kalau ditanemi pabrik daripada ditanemi pohon sawo… lha wong negoro sik akeh utange kok arep ndhuwe ‘privilege’ pohon sawo nang ngarepan omah.. eling pakdhe eling hihihi
Nah makanya Om Tyo,gimana caranya saya sih tetep mau nanam pohon durian depan rumah, biarlah serumah pake helm kalo lagi di halaman, yang penting say aingin membudidayakan eh memberdayakan pohon di halamn sendiri. Om Tyo temennya Tendy K Somantri ya..hihihi dapat salam tuh dari kakak saya itu.
waaaa…buah favorit saya iniiiii….
kalau cucak rawa jawa sudah mendatangkan dari pulau-pulau tetangga dan negara sebelah.
Wong pohon sawo di kampung bukannya dipupuk malah dikasih sajen je’ pakdhe.
Isu yang berkembang mergo pohon sawo kegemaran berbiak bagi kuntilanak dan memedhen. Jadi disajeni mudah-mudahan memeberi petunjuk buntut.
Sekarang ndak ada buntut ya ndak ada sajen, memedhen ngamuk ya sawonya diembargo.
Buah2an yang dulu dari halaman rumah itu menjadi sangat mahal, di sini rambutan per 1 kg di hargai 27 QAR atau setara 60 rb. IDR. Jauh di atas buah2an eropa yang dihargai 1/5 nya.
kabarnya, pohon sawo dipake gelantungan kuntilanak? bener gak paman?
lah, pas banget nih saya lagi makan sawo. hahahaha…
kalo dhuwet apa ada sedia di tukang buah itu juga paman ?
kangen sawooooooooooo