BUKAN YANG TERBAIK, TAPI YANG BERSEDIA.

pemilihan ketua rt

Saya pakai baju batik lengan pendek. Saya merasa necis. Maklum ini jarang saya lakukan. Bahwa hasilnya, dalam istilah jadul, adalah pria simpatik, itu nasib. Saya sih lebih merasa berseragam rumah makan hidangan Nusantara, dari Sari Kuring sampai Mbah Jingkrak.

Tak soal. Itu harus saya lakukan untuk menghormati acara malam tadi: pemilihan ketua RT. Setiap pasangan hadir lengkap, kecuali yang duda atau janda.

Singkat kata, ketua baru RT pun terpilih, tertetapkan, dan terlantik. Pak RW kasih wejangan. Intinya: orang yang mau jadi ketua RT itu hebat karena kebanyakan orang ogah.

Haha, seleksi pemimpin pada tingkat paling lokal adalah berdasarkan kesediaan dan ridha untuk dipaksa (lalu digerundeli warga), bukan kualitas dan hasrat si kandidat. Kalau dibuka pendaftaran calon, tak ada yang mengajukan diri. Bayangkan jika ini terjadi pada pemilihan kepala daerah dan presiden.

Ketika saya masih mengungsi ke rumah kontrakan di RT sebelah, ketua RT terpilih (yang tak menghadiri rapat) tak berani pulang ke rumah, sehingga pemilihan pun digelar ulang di bawah lampu jalanan, di pertigaan depan kontrakan saya.

Menjadi pengurus RT/RW berarti menambahi pekerjaan untuk diri sendiri. Beberapa bapak gemar dengan dalih, “Pulangnya aja malam, bahkan pagi; nggak layak dong kita jadi ketua RT. Entar nggak bisa melayani warga.” Sungguh dalih yang layak adopsi. :D

Bu Tetangga mengancam, kalau suaminya terpilih jadi ketua RT, dia akan pulang ke rumah orangtuanya. Bu Tetinggi bilang, kalau suaminya terpilih jadi ketua RT, dia bukanlah Bu RT. Orang lain menafsirkan, dia akan mempersilakan suaminya ambil wanita lain yang bersedia jadi Bu RT.

Bagi saya, ketua RT mestinya tidak harus pria. Kaum nyonya pun boleh dan bisa. Atas nama keadilan dan pembalasan terhadap patriarki, maka suami dari Bu RT boleh dijuluki Pak RT. Bila perlu suami dari Bu Ngatinah kita panggil Pak Ngatinah.

Baiklah, mungkin benar bahwa lembaga RT/RW (dulu RK, rukun kampung) adalah warisan fasis penjajahan Jepang. Sebagai lembaga perpanjangan birokrasi yang tak bergaji, tapi punya sisi pelayanan publik, RT/RW bisa dihapus asalkan kantor kelurahan bekerja efisien dan efektif. Dengan sistem informasi yang andal, Pak Lurah tak perlu berkilah, “Yang paling kenal warganya kan Pak RT dan Pak RW. Kami cuma meneguhkan.”

Bagaimana dengan forum warga, untuk menyelesaikan soal sampah, keamanan, sampai kebisingan?

Karena pemerintah dan negara tak ma(mp)u menangani, sementara tak semua warga perumahan sanggup membayar biro swasta untuk menyelesaikan itu semua, model partisipatoris memang tak terelakkan.

Sebetulnya sampah dan got mampet itu urusan dinas kebersihan pemda. Keamanan, itu tanggung jawab polisi. Kebisingan, itu bisa jadi urusan polisi dan giliran selanjutnya adalah lembaga peradilan. Tapi cobalah sodorkan usulan ini ke forum RT/RW apalagi Pak Lurah, bisa-bisa Anda dicibir, dicap kemaki dan tak tahu diri, “Eling Mas, sampe(y)an itu hidup di mana?”

Bapak saya dulu ketua RT di lingkungan santri, beberapa krèstên, dan abangan. Saya, ketika kecil, diajak ke acara selamatan, dan pulangnya menenteng “besek hamin-hamin” berisi ingkung.

Urusan bapak saya sebagai Pak RT adalah dari mengantarkan aparat keamanan ke rumah buron pada dini hari sampai menengahi cekcok keluarga pada malam sepi. Pernah rumah kami menampung inap seorang ibu yang diamuk mbakyu iparnya. Ribet bener.

 

33 Responses to Jadi Ketua RT. Mau?

  1. L.Sihombing INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Oh ya buat saudara2/i yang baru datang ke Jakarta, yang merasakan sulit sekali urus KTP Jakarta.

    Ini pengalaman saya. semoga berguna bagi saudara.Harap dipergunakan untuk jalan kebaikan. Bukan untuk penipuan!!! Dan saya tidak bertanggung-jawab jika info ini cikal bakal kegiatan penipuan atau kejahatan lainnya! Tetapi untuk mempermudah anda memiliki KTP di Jakarta! Tolong informasi ini disampaikan kepada teman atau saudara – saudari anda yang benar-benar ingin mengadu nasib di Jakarta di jalan yang benar! Misalnya untuk mencari kerja yang harus memiliki KTP asli Jakarta

    Bahwa saya, sebelumnya telah memiliki KTP asli Jakarta (Jakarta selatan). Saya dapat istri di wilayah Jakarta Timur. Cakung Barat. Jujur saja. Istri saya tidak memiliki KTP resmi Jakarta (bahwa KTP-nya yaitu KTP musiman, itu juga nembak, dan sudah lama sekali mati). Dulu dipakainya waktu ngelamar kerja menjadi buruh pabrik di kawasan KBN Cilincing, Jakarta Utara). Setelah kami nikah secara agama tahun 2008 lalu, kami ngontrak di daerah sekitar kawasan KBN (Kawasan Berikat Nusantara), Cilincing-Cakung. Sementara saya memiliki KTP Jakarta yang sah. Tetapi istri saya tidak memiliki KTP Jakarta secara sah, itu pun yang ada KTP musiman yang sudah lama mati. Setelah nikah secara agama dan diadati penuh gedung di Jakarta Selatan. Kami lantas ngontrak dengan tidak memiliki KK (kartu keluarga).Saya sempat bingung.Akhirnya ada tetangga kami menyarankan agar kami segera melapor aja dulu ke pak RT setempat. Tapi untuk urusan pembuatan KK dan KTP istri. Dilapornya ke ketua RT teman saya aja, ujarnya. Disarankan kami datang lapor ke ketua RT temannya tetangga saya. Tak jauh dari sana.
    Disuruh segera datang langsung ke rumah ketua RT daerah teman saya, Cakung Barat, jakarta Timur (dari terminal bis Pulo Gadung naik 41, bilang turun toko Mudra, bayar ongkos 2ribu). Ketemu Ketua RT-nya, orangnya agak tua2, orang Batak marga Lubis.Rumahnya pas pinggir jalan raya . Cara ngakalinnya, bilang aja, anda baru beberapa hari ngontrak di daerah RT bapak, bilang di kontrakan di belakang. Mau buat laporan dulu aj dulu pak. Terus terang saja, kalau KTP sudah hilang lam tidak sempat ngurus karena repot urus kerja.Minta tolong dibuatin aja pak seklaian KK-nya (kalau anda sudah menikah). Lantas pak RT tersebut mengerti. Sebelumnya anda ditanya :nama anda, tanggal lahir, dan agama. Anda kasih saja dulu photo kopi Ijasah, SIM atau apa saja yang anda punya. Minta saja ia yang mengurus KTP dan KK. Segera dia menawarkan biaya pengurusan KTP satu orang + KK satu orang Rp.150.000,- kalau sudah nihah berdua KK suami istri nambah Rp.100.000,- lagi buat sang suami(dulu 1 tahun lalu 2007, mungkin naik sedikit). Anda tinggal bayar, tinggal tunggu saja, ga ada 1 minggu langsung jadi. Tokcer….! Ga perlu pake surat pindah, dan macam2 syarat yang memberatkan…
    Setelah KTP istri saya jadi. saya cek, ternyata KTP istri saya asli!!! Sepertinya pak RT orang kuat dikenal di kelurahan, bahkan kecamatan. Sepertinya beliau mantan purnawirawan tentara TNI.
    tetapi saya hanya bayar Rp.150.000,- untuk bayar pembuatan KTP Jakarta istri saya + KK dia saja.

    Setelah kami pindah ke Wilayah Selatan (Jakarta Selatan). Saya dihadapkan buat KTP baru, KKP baru dan akte nikah catatan sipil di wilayah baru kami (yaitu alamat asli kelurahan KTP saya ). Gampang saja! Saya tinggal lapor ke ketua RT yang purnawirawan itu. saya janji kasih uang bersih Rp.80.000,- dengan bayar DP. dulu Rp.50.000,-. Saya diminta nunggu di warung kopi maksimal selesai cuma 3 jam. Saya minta diurus surat pindah dan surat pengantar untuk pembuatan Akte Nikah Catatan Sipil dari kelurahan Cakung Barat. Saya minta segera di urus surat pindah ke alamat kelurahan baru yaitu yang tertera di KTP saya kelurahan xxx dan surat pengantar pengurusan pembuatan akte nikah dari catatan sipil. jadi saya ga perlu membuat KTP baru lagi, hanya istri saya. Tak beberapa lama sudah selesai….Tidak kurang 3 jam! saya bayar sisanyanya Rp.50.000,- Saya tambahin Rp.25.000,- lagi! Hebat dalam waktu 2 jam selesai surat pindah dari kel.cakung barat dan surat pengantar pembuatan surat akta nikah catatan sipil
    selesai, komplit tanda tangan lurahnya!!!! Akhirnya saya tinggal minta stempel tanda tangan pak Camat ke kantor camat yang tak jauh dari situ (dekat polsek cakung barat).Di kantor kecamatan saya cuma bayar infak yang sudah dipatok Rp.25.000,- setelah mendapat stempel pak camat. Semua beres….Akhgirnya saya bawa surat pengantar pembuatan akte nikah catatatan sipil dan surat pindah. Untuk pengurusan KTP baru istri saya dan KK baru kami (menurut alamat kelurahan KTP saya). Saya tinggal serahkan di kelurahan. sebelumnya saya minta surat pengantar ke pak RT yang sesuai alamat asli KTP saya. Saya cuma kasih uang rokok Rp.15.000,- karena minta surat pengantar pembuatan akte nikah catatan sipil, pembuatan KK baru kami dan KTP istri saya yang sudah pindah tidak beralamat di Cakung Barat (Wilayah Jakarta Timur) lagi tetapi sudah di wilayah Jakarta Selatan.

    Pembuatan akte nikah catatan sipil. Saya minta surat pengantar dari kelurahan KTP saya yang asli (wilayah Jakarta Selatan, minta tanda tangan dari lurah dan langsung ke kantror Camat untuk minta tanda tangan. Di kelurahan saya kasih Rp.15.000,- ribu untuk tanda tangan lurah, dan di kecamatan wajib saya bayar uang infaq Rp.20.000,- Setelah itu, besoknya saya bawa ke Kantor catatan sipil Jakarta Selatan di Jl.RadioNo.5 Jakarta Selatan (dekat Blok M) Sesampai di kantor catatan sipil setelah melengapi syarat2nya berupa photo berwarna berdampingan 4 buah, foto kopi akte kelahiran saya/istri, photo kopi KTP masing2 kelurahan, photo kopi pengantar masing2 dari ke-2 kelurahan (kelurahan saya : Wilayah Jakarta Selatan, dan Kelurahan asala istri saya, wilayah Cakung barat – Jakarta Timur). Saya ditembak biaya Rp.150.000,- sebenarnya sih secara peraturan aslinya hanya Rp.50.000,- tetapi kenapa membengkak ya…? Saya tak mau ambil pusing, bayar Rp.150.000,- Datang seminggu lagi dengan membawa 2 orang saksi. Tanda tangan surat –surat. Dan akte nikah kami pun dijamin selesai setelah 1 bulan kemudian.

    Setelah selesai akta nikah catatan sipil. Untuk selanjutnya mengurus KTP istri saya dan KK kami berdua di kelurahan wilayah Jakarta Selatan. Saya Cuma ngasih surat pengantar RT (alamat KTP saya: wilayah Jakarta Selatan), surat pindah istri saya yang asli, photo koto akta kelahiran saya – istri saya, fotoko KTP istri yang lama dari Cakung barat, photo kopi akta nikah catatan sipil, dan pas photo ukuran KTP 2×3 berwarna 1 buah buat KTP baru istri saya di kelurahan wilayah Jakarta selatan. Kartu KK baru kami jadi menunggu 3 hari dan KTP jadi 2 minggu. Semua beres….!Tanda tangan KK di RT kasih saja Rp.10.000,- dan di kelurahan kasih saja Rp.5.000,- buat uang rokok, dan Pengurusan KTP baru istri di kelurahan, setelah selesai kasih saja Rp.5.000,- untuk uang rokok.

    Demikian pengalaman ini semoga berguna bagi anda yang mau memiliki dokumen resmi sebagai warga Jakarta. L. Sihombing. Jakarta.2009. (Pakar IT-Consultan)

  2. basunjaya INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    Aku mbaca banyak komentar, kok pada ngremehin jadi RT/RW tho.
    Lagi-lagi masalah upah.
    Wong hidup ini kan harus ada amalnya untuk sesama, yen masalah duwit ya nyambut gawe liyani trus jabatan RT/RW ne sambilan aja kuwalik.
    Ketok e yen Jogja wis dipikirake karo kang Hery pancen jane ngono ya ono upahe sing radha memadahi, khususe aja nganti nombok (wis kerja bakti isih nombok)
    Tenang dab periode Juli 2008 – 2013/2011 sesuk wis ana tambahan sing memadahi kanggo imbal jasa ne RT/RW.
    Yen perlu dab nggawe tandingane perkumpulan lurah ” Parade Nusantara ” men iso sithik entuk prioritas, ngono DABBBBBBBBBBBBBB

  3. arahman ali INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    yaaa….susah bener sekarang cari ketua rt…jaman gini…jaman susah!

  4. Baloengwesi INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    Saya Sie Pemuda RW di bilangan Panembahan, Kec Kraton yogya yang pernah kuliah di Sastra Jepang. Menurut Pandangan saya syarat bangsa Indonesia berubah memang salah satunya format RT/RW harus dihapus. Format RT/RW ini merupakan tinggalan Jepang. Klo di jepang sana konsep tetangga namanya TonariGumi (tonari=sekitar, gumi=kumpulan). Ini nggak cocok untuk kehidupan masyarakat kita. Kita dikotak-kotakkan dalam kumpulan yang kecil-kecil. Imbasnya dalam skope yang kecilpun kita merasa lebih bisa dibanding RT ato RW lain. Bahkan ada RT yang merasa mampu membentuk RW sendiri tanpa mampu memandang bahwa Rt lain butuh kita dan kita butuh mereka. Model separatis kecil-kecilan. Sama saja dengan Indonesia ini. Semangat gotong royong yang menjadi akar persatuan bangsa kita dipersempit dalam ruang kecil. Saya pernah diskusi dengan Ketua DPRD kota Yogya yang sependapat dengan ini. Dan katanya ada wacana untuk mengembalikan dalam format RK/rukun kampung. Menurut saya tetap saja birokrasi akan bertele-tele seperti yang pernah terjadi dulu. Ya memang aparat kelurahan yang bergaji harus lebih profesional dalam pelayanan masyarakat. Karang taruna tingkat kelurahan juga kebanyakan yang ada hanya ajang untuk mencari proyek bagi oknum-oknum didalamnya, bukan semata-mata pengabdian untuk mengubah bangsa ini, kegiatannya juga rata-rata pola top-down. Ini pe-er bagi kita semua.

  5. qorumrw 16 INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    Kalo di hitung2 RT itu amalnya banyak lho, siapa bilang RT bergaji?, tidak semua….coba liat di desa dan kampung2 disana. RT juga kerap menjadi konsumsi gunjingan warga, kalo salah dicaci maki malah dicibir orang, kalo betul nggak ada juga tuh yang peduli. Namun seorang RT tetap masih punya beban dan amanah yang secara tidak langsung bukan saja terhadap warga tapi terhadap Allah SWT yang tidak pernah bosan memberikan sinar sekalipun umatnya itu amburadul.

  6. bumisegoro INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    di bumisegoro, pada suatu masa pak rt juga bertugas ngumpulin jimpitan (beras). di tiap2 rumah ada bumbung bambu kecil berisi beras serelanya. hasilnya untuk sosial (disumbangkan ke warga yang kurang mampu). mulia bukan? makanya pak rt dihormati di sana.

  7. FAZA MALAYSIA Mozilla Firefox Windows says:

    Benar Paman, di Jepang masih ada kok RT, dulu pernah ikut rapatnya juga.. sayang nggak mudeng wong ngomongnya nggak jelas.. Gotong royong dan iuran RT juga ada lho..Yg aktif banyaknya ibu-ibu..

  8. Qky INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    kapok, meski cuma sekretaris :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.