ANEH DAN TANGGUNG, RASANYA. ENAKNYA BUAT APA?

Seusai sarapan gudeg Bu Harjo di Pasar Cikini, Jakarta Pusat, buah di penjaja sebelah itu saya beli. Namanya buah kecapi. Supaya anak-anak saya tahu.
Saya? Tahunya juga baru belasan tahun lampau. Dulunya saya pikir cuma nama alat musik tradisional. Makanya saya dulu heran kenapa di Pondokgede ada Pasar Kecapi.
Aneh rasanya, kata Day, anak saya. Raras, adiknya, tak mencicipi karena tak tertarik. Memang rasanya manis belum, asam tidak, keset pun bukan.
Masih lebih jelas rasa manggis. Persamaan keduanya adalah daging buah tak dapat sepenuhnya terangkat dari biji. Cara memakannya sih hampir sama.
Ketika buah-buah lokal semakin jarang dijajakan — sementara buah impor mudah kita jumpai di lapak kaki lima — bagaimana kelanjutan nasibnya?
Saya bukan ahli pangan, bukan ahli gizi, dan tak paham pengembangan teknologi berbahan tumbuhan. Tetapi saya berpengandaian kalau buah lokal tertentu itu enak, pasti disukai dan akan dibudidayakan secara meluas.
Enak atau tak enak, kalau ada manfaatnya untuk pengobatan maupun lainnya, pasti akan dibudidayakan — lantas kapan mulainya, bukan cuma riset belaka. Untuk urusan ini Timpakul dan Daus lebih berkompeten daripada saya.
Jarak untuk bahan bakar, mereka berdua bisa menilai bagus atau tidaknya. Minyak sawit kita diboyong RRC untuk keperluan di luar goreng-menggoreng, sehingga kita kerepotan, mereka juga bisa bikin tinjauan yang lebih matang daripada saya.
Links:
+ Peminum kopi: another weird fruit buat anak kota
+ Mamanya Maureen: ngidam kecapi demi si jabang bayi
+ Depkes: peluruh kentut dan pemeras keringat
+ Aki Suparka: kecapi dan lainnya
+ IptekNet: buah yang bandel
+ P2KP: kecapi dan pembusukan sosial-politik







dian | 14 09 2008 @ 13:27:17
pa sich nama ilmiah buah kecapi monyet?
bimo | 25 06 2007 @ 18:50:24
emang bener buah tanggung, yang jual juga bingung, lha.., orang kebanyakan disuruh beli kecapi ga mau, tapi kalo di kasih pasti mau. sedikit banget yang nolak, (kebetulan banget, kemarin pas abis di kasih kecapi ama tetangga)
dhany | 25 06 2007 @ 11:00:08
kecapi..
kirain alat musik.
thya | 23 06 2007 @ 17:28:40
jadi ngilerrrr…
kalo di bandung dimana yak bisa dapetin buah2an tradisional gini..
di pasar andir gitu ?
zam | 23 06 2007 @ 9:26:10
begitu juga dengan nasib jajanan heritage kita, pakde.. :)
bangsari | 22 06 2007 @ 16:08:26
menurut saya, sebenarnya banyak juga buah dari luar negeri yang ngga enak. contohnya (menurut lidah saya lho): stroberi, kiwi, buah naga, pir.
Kdang saya mikir, apa karena ketoke nggaya, njur laris manis di indonesia ya?
dendi | 22 06 2007 @ 9:11:25
Gendang Gendut Gagang Kecapi
Kenyang Perut Senang Di hati
..gak pernah makan kecapi
Pujiono | 21 06 2007 @ 15:52:46
beberapa waktu yang lalu saya sempat ke pasar tradisional. di situ ternyata ada yang jual buah kecapi juga. iseng-iseng saya tanya berapa harganya. ternyata murah sekali. sekilo cuma 3 rb perak saja. akhirnya saya langsung beli, nggak pake nawar.
sampe di rumah, saya ditertawakan istri. ngapain beli buah seperti itu, katanya. aku cuma bilang buat iseng saja.
ternyata buah ini nggak enak. daging buahnya tipis. rasanya pun nggak ada yang istimewa. manisnya dikit banget, sepetnya banyak.
walah, buah seperti ini nggak berapa lama pasti akan punah kecuali ada kecapi bangkok. hehehe… ya, kecapi bangkok yang besarnya segedhe bola tenis, nggak berbiji, super manis dan ada sepanjang tahun.
tantangan nih bagi lulusan IPB yang sekarang justru lebih banyak jadi wartawan. hahahaha…
dnaftali | 21 06 2007 @ 14:03:21
Sebenarnya khan bisa dikawin silang, rekayasa genetik atau sejenisnya gitu khan???
Jadi walaupun judulnya tetap buah kecapi, kali aja rasanya bisa niru duren atau mangga golek.
Ntar pasti akhirnya banyak yang suka dan membudidayakannya. Ya khan???
Budi = Manusia
Daya = Cipta, karya.
BudiDaya = …
dsp | 21 06 2007 @ 12:59:29
seleksi alam berjalan (juga) untuk buah2an, yang rasanya gak jelas, berbuahnya lama, dan pohonnya tinggi, dibiarkan punah, dan akan digantikan dengan buah yang rasanya mantap, berbuah cepat dan pohonnya gak tinggi-tinggi amat. ‘makasaih…
atta | 21 06 2007 @ 11:36:40
buka kulit kecapi paling yahud dengan cara digencet di sela-sela pintu… hehehe
ehhh itu kartu remi gimana ngasihnya nih?
~kopidangdut~ | 21 06 2007 @ 9:28:02
Bapak teman saya sewaktu SD(almarhum- yg alm itu teman saya, bukan Bapaknya alm)pernah menjabat Kepala lurah Kecapi.
Kelurahan ini letaknya di dekat PERUMNAS Kota Cirebon (dekat terminal Cirebon).
dan sekarang dibangun “Vila Kecapi Mas”.
Dulu saya pun penasaran, Kecapi itu apa? apakah alat musik petik? Ataukah permintaan pelanggan Penjual sate tegal: “Kecapi(n) dikit aja Bang..”
kw | 21 06 2007 @ 7:31:37
masih banyak juga disekitar kost. rasanya memang kurang enak, jadi mungkin orang malas budidaya. :)
evi | 21 06 2007 @ 6:59:19
wah…kalo buah kecapi sih, di tempat tinggal saya di selatan jakarta masih banyak tuh…..
Hedi | 21 06 2007 @ 4:41:11
Saya penasaran Paman buka kecapi pakai pisau atau dengan cara dijepit pintu seperti saya waktu kecil dulu.
Leo | 20 06 2007 @ 23:20:55
Dengar kabar…K.aktiv.mau rehat…? Benarkah Pak De?
firman firdaus | 20 06 2007 @ 21:26:31
sekarang jadi pengamat buah tradisional ya om?
triesti | 20 06 2007 @ 19:27:09
‘Ketika buah-buah lokal semakin jarang dijajakan — sementara buah impor mudah kita jumpai di lapak kaki lima — bagaimana kelanjutan nasibnya?’
harus nunggu gosip dari luarnegeri kalau kecapi itu bisa anti ini itu.. baru booming
mpokb | 20 06 2007 @ 19:05:59
kecapi? duh, makanan masa kecil selain buah kupa, limus dan kemang. hiks hiks.. soal rasa enak atau tidak kan selera, paman. buah duren yg menurut banyak orang enak itu juga adaaa aja yg nggak suka :P