Simbok van Bandoeng
PENYEBUTAN, PENGAKUAN, PENGUKUHAN.

Simbok, si embok, si ibu, si emak, biyung, ada di segala zaman. Mami juga ada di segala waktu, cuaca, dan tempat. Apa bedanya?
Dalam perjalanan masa, simbok yang Jawa itu tercebur dalam sebuah konteks: ibu tua yang menjadi pembantu rumah tangga setia, yang bisa dipercaya. Film Indonesia, dan tentu tontonan di televisi, mengukuhkan hal itu.
Maka penggunaan merek “Si Mbok” untuk binatu swalayan alias penyewaan mesin cuci di Ciumbuleuit, Bandung, itu sekadar meneruskan apa yang sudah dipahami bersama.
Bagaimana dengan “mami”? Di tempat dan situasi tertentu — tepatnya: tempat hiburan pria — mami berarti koordinator para gadis penghibur untuk melayani tamu. Termasuk di antaranya adalah “mami dancer” yang menyediakan cewek penari erotis di ruang karaoke.
Yah, itulah bahasa yang hidup. Kata-kata tertentu banyak yang mengalami pengayaan makna. Maka nun di Bogor, seorang bocah kurang suka ketika ibunya dipanggil sebagai “Mbak” oleh tetangga yang lebih muda. Menurut dia, “mbak” itu panggilan untuk pembantu.
Mbak — tepatnya “mbak-mbak” — dalam konteks tertentu adalah sebutan untuk wanita (muda) yang biasa dalam penampilan, gaya hidup, dan bahkan pekerjaan. Maka jadi lucu ketika seorang mbak tak terima disebut “kayak mbak-mbak”.
Begitu pula untuk sebutan mas-mas, suatu hal yang bisa difilmkan itu. Mas-mas bukanlah mas, tapi juga mas. Membingungkan? Tidak, saudara-saudari. Bahasa juga mencakup rasa.
Mas-mas adalah, “…wong lanang kampung, ora mentèrèng, kaya sing dodol bakso utawa tukang ojèk” (Lelaki kampung, tak mentereng, seperti penjual bakso atau tukang ojek).
Mbak dan mas adalah ungkapan Jawa. Sialnya jawanisasi kelewat kencang sehingga orang-orang (keturunan) Jawa, atau yang tumbuh dalam kultur Jawa, akan meng-mas-kan dan mem-mbak-kan siapa pun. Maka seorang uni galak pernah protes, “Gue Padang, jangan manggil Mbak.”
Padang? Ini pun hasil perjalanan bahasa. Lebih mudah menyebut orang Minang sebagai orang Padang, sampai akhirnya urang awak pun menyebut diri begitu, padahal bisa saja mereka orang Solok dan Payakumbuh.
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Dering Telepon Landline February 10, 2012Suatu hari fixed-line kantor berdering berkali-kali. Mirip kantor betulan! Binis adalah krang-kring. Seperti dalam film lama. Tetapi kini orang kantoran makin sering berponsel. Langsung ke tujuan. Tarif lebih murah. Di rumah pun telepon kabel tak seaktif dulu. Selain untuk memesan gas dan air galonan, telepon untuk interlokal. Mungkin semakin jarang keluarga […]antyo
- Dering Telepon Landline February 10, 2012
Cicitcuit!- RT @cho_ro: Jadi social smoker itu karena gak ada obat mati gaya. masalahnya dari social smoker ke pecandu itu tinggal selangkah ~ @pamanTyo February 10, 2012 glennypy6 (Glenny Jonathan)
- RT @cho_ro: Jadi social smoker itu karena gak ada obat mati gaya. masalahnya dari social smoker ke pecandu itu tinggal selangkah ~ @pamanTyo February 10, 2012 hollowayzr4 (Holloway Wharton)
Recent Posts
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
Archives
Random Posts
Habis-habisan Gaya Sala
July 6, 2007 by AntyoKALAH MELULU, KATANYA.
Stiker pada motor bebek ini saya jumpai di sebuah tempat cuci mobil yang berada di halaman sebuah rumah pondokan. Kira-kira di seberang (agak geser) GOR Bhinneka, Sriwedari, Surakarta.
Artinya: “100% asli mumet. Kalah wajah, kalah harta, kalah teruus.” Itu bukan mumet, tapi sial.
Gojekan itu tampaknya mewakili sebagian pria. Tampang dan [...]
Recent Comments
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (87)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





hello…
great post…
iya, saya menamakan si mbok sekedar untuk meneruskan pemahaman yang umum :)
@boit; lha.. kok gitu ama tetangga? :p