Melepaskan Anak
TAK PERLU SAMPAI GUSI NYERI.
Petang tadi kami tiba di rumah, tapi sepi. Tak ada kedua anak saya. Mereka kami antarkan ke Bandung, lalu kami tinggalkan di sana. Mereka ingin sesekali berlibur tanpa orangtua. Kami juga ingin melatih mereka.
Tadi pagi kami menunda kepulangan ke Jakarta karena menunggu mereka bangun. Maklumlah, mereka habis begadang dengan sepupunya sampai pukul dua pagi sehingga bangunnya siang. Tak tega meninggalkan mereka begitu saja di rumah budhenya, yang dekat sawah itu, padahal tuan dan nyonya rumah bekerja di luar.
Malam ini saya menelepon mereka berulangkali. Duh, tak dapat sahutan. Mereka lagi di bioskop. Telepon lagi, ternyata ponsel Day di dalam tas, dan ponsel Raras low batt. Senewen juga.
Ibunya sih hanya mentertawakan saya. Rasain ditinggal anak, begitu kurang lebih pesannya. Apa boleh buat.
Sebetulnya bukan pertama ini saya ditinggalkan oleh anak. Dulu mereka sering berlibur hanya dengan ibunya karena saya tak ambil cuti.
Day dulu, saat berumur lima tahunan, malah pernah berlibur sendiri di Bogor — dengan diambil dan dikembalikan oleh paklik dan buliknya di Stasiun Kalibata. Waktu kelas 6 SD, dua kali dia ikut acara sekolah ke luar kota dan menginap. Rasanya waktu saya lebih siap.
Pekan lalu kami berapat keluarga, menawarkan pelepasan. Raras menukas, “Aku pengin banget, soalnya umurku sudah sepuluh, sekarang (naik ke) kelas lima.”

Maka Senin kemarin berangkatlah kami ke Bandung. Setiba di sana kami langsung sarapan di Mak Uneh, Jalan Pajajaran. Lantas muter-muter dan akhirnya menclok di toko anyar pasangan istri-suami Iit & Tri. Sempat ketemu Budi Noir sebentar. Malamnya kami sekeluarga dan sanak bersantap di Kampung Daun.

Waktu bocah, saya juga mengalami beberapa kali pelepasan. Yang paling mengesankan adalah saat berusia lima tahunan. Saya dan mbakyu saya (ibunya Tito), dijemput Mbok Saroh, seorang bakul beras, lalu dibawa ke desanya, dekat Rawa Pening, naik dokar.
Rumahnya kecil, berdinding gedek, tanpa kamar, kurang cahaya, dan tentu tanpa listrik. Saya tak ingat berapa jumlah anaknya, tapi saya ingat kami dan keluarga itu tidur bareng di amben besar. Di sebelah amben adalah beberapa sapi! Aneka bau menggenangi ruang pengap.
Kejutan berikutnya adalah pagi harinya. Kami mandi di sungai yang airnya jernih, tapi di sebelah saya ada orang be’ol. Gigi kami, oleh Mbok Saroh, digosok dengan abu — tanpa sikat, cukup jari. Gusi kami sakit sekali.
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012Ada saja cara membangun suasana spasial kedai agar tetamu mendapatkan kesan mendalam. Misalnya ala modiste, dengan mesin jahit dan baju baru terpajang. Lho, bukannya kalau kita bertandang dan makan di tempat tetangga atau saudara yang pe... […]postyorous menerous »»»
- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012
Cicitcuit!- @memethmeong banyak hal nggak terduga kok tentang pakdhe @mbilung | @imanbr @ndorokakung @pamantyo May 23, 2012 mbakdos (Agatha N. Ardhiati)
- @mbakdos pakde pake jaket kulit? @mbilung @imanbr @ndorokakung @pamantyo May 23, 2012 memethmeong (medina wulandari)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Ada Sedia Kodok tak Melompat
November 17, 2006 by AntyoPERUT KITA ADALAH KUBURAN.
Kedai kwetiau sapi memasang gambar besar sapi pada papan namanya. Warung tenda masakan sari laut memasang gambar ikan pada kain penutupnya. Resto masakan reptil di Mangga Besar, Jakarta Barat, memasang relief kobra dan biawak pada tembok luarnya.
Mereka masih memerlukan gambar untuk menyampaikan pesan. Begitu pula penjual swike di [...]
Recent Comments
Eka» Jadi inget waktu masih kecil.. =( Sekarang udah jarang banget perahu othok2 ini.. hiks hiks.. =(
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





senang juga punya teman senasib… tapi kita senewen itu khan karena sayang sama bidadari2 kecil kita Paman. apa kita bentuk klub aja Paman, klub Bapak2 Suka Senewen.
Salam senewen!!!
jeftap recently posted..How Does Smoking Affect Your Body Learn from 9-11
…gara-gara ke bogor itu,kami tahu ternyata si Day yang baru 5 tahun itu sudah sangat fasyeh bermeditasi untuk melepaskan diri dari rasa sesak KA ‘ayam’ Jabotabek…geli, bingung, sekaligus kagum, liat Day meletakkan kelima jemarinya tegak lurus di depan mukanya yang imut,konsentrasi…(sumprit!kagum!)
[...] http://blogombal.org/2007/06/27/melepaskan-anak/ « TAUTerapikomiK [...]
halah, aku justru pingin ngabur tanpa anak aja susahnya ampun-ampunan. nempel kayak prangko
sebenarnya bukan masalah jarak, bang paman, tapi lebih ke siapa meninggalkan siapa. buat yg ditinggalkan, biasanya terasa lebih berat. btw, kalo kelak non day dan non ras nonton sama teman bertanda kutip, apa ditelponin juga? :D
someday sepertinya saya akan merasakan momentum seperti sampeya.. hiks..
haaaaa iyah . . . ! semua pada apal klo aku kagetnya telat! setelah 20 tahun ditinggal tito & chandra, baru sekarang terasa beratnya :(