Koran Gratis, Koran Tempel
KORAN BELUM MENJANGKAU DAN TERJANGKAU SEMUA ORANG.

Makin jarang saya menjumpai koran gratis yang ditempel pada papan di tepi jalan. Biasanya, selain dipasang di depan kantor koran, bacaan gratis tersebut (dulu) dipasang oleh kantor-kantor pemda dan kantor penerangan. Yang dipasang oleh pemda dan Deppen dulu adalah Suara Karya versi lama, yang sangat selompret Golkar dengan mantera sakti “pembangunan”.
Di Jakarta, pengelola Trans Jakarta juga menyediakan koran gratis terbitan sendiri di halte bus way. Tidak ditempel, tapi dibagikan dalam arti boleh diambil secara percuma.
Selain terbitan sendiri, ada juga koran lain, yang hanya boleh dibaca di halte. Misalnya Media Indonesia. Adapun koran lain yang menyediakan koran gratis untuk dibaca di tempat, dari rumah makan padang sampai lobi bank, adalah Koran Tempo. Koran-koran baca di tempat itu biasanya terbundel oleh sebuah penjepit mirip pentung.
Saya tak tahu masih banyakkah pembaca koran tempel gratisan hari ini. Yang saya lihat suatu malam, di Sala (Solo, ngono lho), seorang tukang becak asyik membacanya. Koran itu dipajang di depan kantor perwakilan Suara Merdeka (terbitan Semarang).
Di sebuah permukiman menengah di sudut Jabotabek, loper-loper koran bilang bahwa di kompleks itu jumlah pelanggannya sedikit. Lebih banyak yang beli eceran, itu pun tak saban hari.
Saya yakin, itu lantaran alasan waktu. Kalau semua orang berangkat kerja pagi buta, percuma dong langganan koran karena bacaan harian itu tiba setelah mereka berangkat. Lagi pula bisa saja di kantornya mereka sudah dapat jatah koran.
Tapi loper dan agen yakin alasannya bukan hanya itu — entah apa maksudnya. Intinya, cari pelanggan koran itu susah, karena orang yang rumahnya mentereng dan mobilnya bagus belum tentu mau.
Suatu hari seorang agen menelepon seorang warga kompleks itu. “Bener, mau langganan The Jakarta Post? Saya ingatkan ya, itu koran berbahasa Inggris! Harganya juga beda!”
22 Responses to Koran Gratis, Koran Tempel
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Tahu Bacem February 8, 2012Temannya tempe bacem. Tapi paling enak itu ya bacem dengan tahu segitiga berkulit dan tempe mlenuk. Permalink | Leave a comment » […]postyorous menerous »»»
- Tahu Bacem February 8, 2012
Cicitcuit!- RT @didinu: @blontankpoer : Selamat malam kang cc: @dopyadi @subiakto @InkaSativa @Hardjoeno @St_Aboe @RivoPamudji @nukman @orsuy @PamanTyo February 8, 2012 InkaSativa (Twinika Sativa F)
- @blontankpoer : Selamat malam kang cc: @dopyadi @subiakto @InkaSativa @Hardjoeno @St_Aboe @RivoPamudji @nukman @orsuy @PamanTyo February 8, 2012 didinu (didinugrahadi)
Recent Posts
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
Archives
Random Posts
Potlot Berbahan Koran
January 4, 2009 by AntyoMUNGKIN BASI, TAPI TETAP MENGGUGAH.
Ternyata saya memang kurang perhatian. Sudah cukup lama saya tahu kehadiran pensil O’bon di toko dengan kemasannya yang cantik (@ Rp 4.000). Tapi baru tadi saya ngeh bahwa pensil itu tidak berbahan kayu melainkan kertas koran — itu pun setelah diberitahu anak saya. Lantas saya membuktikannya. Ketika [...]
Recent Comments
danang» milih golput aja ah..selama masih tokohnya itu2 ajah,,
Kaget» Apa kita nantinya ngga pada bingung Paman? kamus IT, kamus tehnik, kamus bahsa,….. kedepan akan muncul kamus2 lain. masalahnya cuma satu,… zaman sekarang yang serba sibuk melihat gadget, kapan buka kamus-nya?
mpokb» Aha, bagus nih buat rujukan.. Lalu entri semacam “kerudung wajib lapor” atau “jilbab Islam KTP”, masuk di kamus mana ya, Bang Paman? :D
askep» Saya sebagai salah satu pembuat karya di situ kok merasa tidak terkesan dengan kehadiran Foke dan pembantu2nya di situ. Oh, ada sih, saya terkesan dengan sulitnya ijin yang berbelit2, untuk acara yang mereka selenggarakan sendiri.
ewesewes» Beli ah!
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (87)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Saya sering lewat depan kantor SM itu, kalo siang banyak orang yang baca.
Kompas sekarang ini cuma dijual seribu rupiah di kampus2, koran lain layak menirunya.
jadi inget jaman SMA dulu, di koridor tiap kelas juga dipasang koran tempel begitu, trus bacanya rame2.
yang nyebelin klo ada yg males berdiri, trus main copot aja ga dibalikin
kawasan taulina industri jln taulina raya sukamukti h1-4 katapang soreang bandung 02270224991–08562013818
di deket kelurahan tempat saya tinggal dulu, yg mana masih masuk laladan solo juga, juga ada koran tempel model gini. cuma bukan suara merdeka tapi pikiran rakyat yg terbitan bandung. opo tumon ?
idiih pakdhe gw baru aja jalan2 dari semarang dan lewat salah satu kantor harian dan di depannya banyak orang berkerumun membaca berita…ah seituasi seperti itu hanya gw dapati juga di bandung…
dibandung juga ada lho om didepan kantornya pr yang jalan asia-afrika.
syang si om ga mampir waktu itu.
Lucu lho baca koran di tembok/kaca gitu. Di Malang juga ada tuh, biasanya Koran Surya.
di solotigo misih ada, Man…di depan kantor pemda, bekas bioskop madya.
Bener, mau langganan The Jakarta Post? Saya ingatkan ya, itu koran berbahasa Inggris! Harganya juga beda!
mmm say andeso boro2 yang pake bahas inggris, koran yang ada ajah gak dibaca…paling liat berita yang heboh n bisa meraik perhatian doank wwkwkwkkwk…tolong jangan ditiru pemirsa hehe
potonya keliatan jadul banget, kesannya solo eh sala masih ndeso ya man, masih ada koran tempel pula :D
Wahhh..aku pas masih di Solo dan lewat jalan ronggowarsito dekat Manggukenagara ini juga sering baca koran tempel tersebut nih…Di solo sendiri aku tau di kantor perwakilan Suara Merdeka tersebut dan di depan kantor kecamatan Jebres belakang kampus UNS.
jangan kan koran..mading aja kadang juga jarang dibaca kalo tidak ato kurang menarik..
biasa nya kalo ada hadiah nya munkin lebih bisa menarik minat..
apalagi jaman skerang era teknologi
semakin mudah org mendapatkan informasi.. tinggal klik.. dapet de..
heueue :P
tp sebetulnya koran ato media cetak tetap dibutuhkan..:)
Ehm, gw kayaknya tau tuh pak becak yang di oslo itu, gw juga kayaknya kenal deh sama yang di-ander-istimit (kata Thukul) sama loper JP itu…hihihihihi
Disarankan bagi mereka yang sempat membaca koran sebelum pergi kerja, sebaiknya pas berangkat kerja skalian bawa korannya untuk ditempel dipapan koran gratis.
Itung-itung amal :)
The Jakarta Post, sasaran pelanggannya ya orang Jakarta..kalo yang nilpun “Bermukim di tenggara Jakarta, sudah termasuk wilayah Jawa Barat.” ..ya, pasti bertanya-tanya…
*kaburrr*
di rumah makan padang masih ada tuh koran gratis…hehe
mungkin wong2 sugih itu bisa browsing pagi2, jadi ga perlu langganan koran…
karena orang indonesia lebih suka mengobrol daripada membaca? uh, fitnah! eh, bukan. itu kutipan tulisan di kompas. sumpah deh.
di Jakarta ada koq, di salah satu sudut Masjid Al-Muqarrabin, kompleks TNI-AU Jatiwaringin.
di dusun saya yang ada cuman tukang loper korannya aja. itupun ndak ada pelanggan dari dusun saya.
pernah ada usul bikin koran dinding begini, eee.. pak kadus dan ketua pemuda diem aja. padahal pak dukuh itu juragane para tukang loper koran tadi.. piye jal?? huh!!
lagi jalan2 pulang kampung salatiga trus mampir solo ya paman ? Kebetulan foto yang dipasang paman adalah gambaran yang saya inget ketika baca judul artikelnya paman, secara itu kan di Solo :-)
Iya, kangen banget ya baca koran tempel kayak gini, dulu sering waktu di surabaya baca koran tempel didepan kantor surabaya post, sekarang masih ada apa gak ya ?