TENTANG JATAH SEKOLAH DAN LOWONGAN KERJA.

solopos dan jatah bangku untuk anak guru

Ada jatah bangku untuk anak guru dalam Penerimaan Siswa Baru. Itu yang saya petik dari SoloPos selama saya di Sala. Bukan hal baru, sudah lama berlangsung di mana-mana, bahkan tidak hanya di dunia sekolah (negeri) melainkan juga di dunia pekerjaan (pemerintah).

Pada hari-hari awal kuliah saya di universitas negeri, seorang dosen membuka kuliahnya dengan guyon untuk meledek. Kurang lebih begini omongannya, “Anda semua masuk ke sini lewat seleksi kan? Bukan titipan?”

Untuk kasus jatah anak guru, selain restu dari birokrat pendidikan, sumber masalah adalah tafsir sepihak yang mau enaknya sendiri terhadap ayat 1 dalam penjelasan pasal 19 UU No 14/2005 tentang Guru dan Dosen.

Yang dimaksud dengan kemudahan untuk memperoleh pendidikan bagi putra-putri guru adalah berupa kesempatan dan keringanan biaya pendidikan bagi putra-putri guru yang telah memenuhi syarat-syarat akademik untuk menempuh pendidikan dalam satuan pendidikan tertentu.

Saya memahami kegalauan beberapa guru sehingga mau enaknya saja. Percuma memintarkan anak orang lain, tapi anak sendiri telantar, tak mendapatkan sekolah yang baik dan murah. Begitulah kira-kira keyakinan mereka.

Kalau sekolah itu bukan negeri, tapi milik keluarga, ya sumangga karsa. Punya anak kurang cerdas, bahkan tak dapat baca-tulis hingga dewasa, boleh saja ditampung di sekolah milik sendiri. Tapi di sekolah negeri? Itu sama saja melanggar hak masyarakat dan perikeadilan.

Hal serupa berlaku untuk dunia pegawai negeri. Dulu teman saya, sarjana hukum, punya jatah kursi di kantor kejaksaan untuk menggantikan bapaknya yang pensiun. Ternyata pekerjaan (dan jabatan) bisa diwariskan. Aha! Ada rekrutmen berdasarkan kriteria genealogis dan herediter.

Bagaimana dengan perusahaan swasta yang Tbk? Masyarakat boleh marah jika di sana ada rekrutmen berdasarkan titipan — dari titipan oleh karyawan biasa, direktur, sampai komisaris.

Kita tak dapat menganalogikan itu semua dengan warung tegal dan rumah makan padang yang menampung sanak saudara juragan. Warung-warung itu milik mereka sendiri. Masyarakat ikut membiayai sebatas membeli makanan di sana, tanpa paksaan, tanpa ancaman sanksi. Bukan lewat pajak maupun pemilikan saham dan obligasi.

Maka wajarlah jika ada orang malas mendatangi pertemuan keluarga semacam arisan trah. Orang-orang itu meniti karier secara mandiri dan menghargai kometisi maupun kompetensi.

Mereka akan pusing jika didekati, “Wah, kamu sudah punya posisi ya, Ngger? Ada tempat di kantormu ndak? Bisa nitip, jadi apa saja terserah? Itu anaknya Bulik Prenjak barusan diwisuda, masa sih kamu tega ngeliat cah ayu pinter kok ngaggur? Mantunya Pakdhe Kampret barusan di-PHK; kasihan lho, sarjana kok buka warung pulsa…”

Lebih kasihan dan lebih menyedihkan lagi adalah orang yang suka menitipkan anak maupun keponakan. Bagi mereka, itu juga bagian dari kompetisi. Tepatnya: kompetisi antarkeluarga, baik saling kenal maupun tidak. Orang lain bisa memasukkan anaknya ke sekolah dan kantor tertentu lewat pintu belakang, kenapa kita tidak?

Kilah yang lumrah adalah, “Habis gimana lagi? Lha sekarang sistemnya kan gitu to?”

Apa tadi? Sistem? Huahahahahaa! Indonesia, aku cinta kau!

 

22 Responses to Titip Anak, Sayang Anak, Abaikan Masyarakat

  1. waah waah aku nemunya yang kayak gini malah masih SD dulu(tahun ’70an), inget banget dan saya tahuuuu betul, guru SMP nitipin anaknya yang mau masuk SD dengan ” pesan” : ‘Nitip yo pak, sesuk gentenan’…. weleh – weleh

  2. poer INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    dulu waktu smp aku nemu yg gini, pas waktu kuliah jg nemu yg kayak gini, pas udah kerja pun ketemu yg kayak gini lagi ^^

  3. dhany INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    mertua saya penilik & kepala sekolah.
    tapi anak-2nya sekolah tanpa ketebelece pun bisa
    ah.. hanya berguna bagi yg tak punya asa…

  4. bangsari INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    kikikik. ada cinta indonesianya segala…

  5. qq INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Duh, sampai kapan ya sistem begini berlaku terus? Jadinya kan menutup pintu bagi orang yang ‘bukan siapa-siapa’ seperti diriku ini paman….hehehehehe.

    Aniway, titip menitip ini sepertinya sudah mendarah-daging banget ya di negara ini?

  6. -tikabanget- INDONESIA Mozilla Firefox Mac OS says:

    wahahahahha..
    sistem, apaan ituh??

  7. Sei INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Udah bosen sama yang beginian paman. Rahasia umum dan terjadi di mana saja tanpa bisa dicegah…

    saya juga cinta endonesiah kok paman ;)

  8. pailo INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    saya suka kasihan sama orang yang nggak diterima di sekolah tertentu karena bodo sehingga tidak lulus ujian seleksi PSB/SPMB. Lha, maunya disekolahkan di situ ya supaya dari bodo bisa jadi pinter. Kalau sudah pinter, ya ngapain disekolahkan lagi.

  9. fisto INDONESIA Flock Mac OS says:

    ibarat akar beringin, udah mengakar2 banget banget….susah, tapi bukannya tidak bisa dibabat…

  10. agusset GERMANY Mozilla Firefox Windows says:

    hahaha… paman Tyo memang gombal… aku cinta kau deh!

  11. laksono INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    nepotisme, ra adoh-adoh. wes mengakar dibudaya indonesia kayaknya :D

  12. iway INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    SALA yan man? dah lama ga denger ini

  13. kwak kwik kwek INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    Paman, nggawe sekolah yuuuk?

  14. dp QATAR Internet Explorer Windows says:

    Kompetisi adalah satu hal dan kompetensi adalah hal lain. Dua hal yang berbeda.

    Bahwa kompetensi adalah hal mutlak untuk berbagai posisi dan profesi. Kompetensi bisa dimiliki sebelum menjabat suatu posisi. Atau kompetensi bisa diberikan di masa pelatihan atau pendidikan.

    Kompetisi tidak harus dilakukan sepanjang mengenal sosok dengan karakter kuat dan cocok untuk posisi yang tepat. Pemilik saham bisa menempatkan pilihannya sebagai dirut atau direktur. Seorang manager bisa mengajak mantan anak buahnya untuk menjadi supervisor. Lulusan ITB akan mengutamakan lulusan ITB, begitu juga UI, UGM dan UNPAD. Seorang teman bisa merekomendasikan temannya yang kompeten. Dan seterusnya.

    Maaf kalau kepanjangan, Paman. Komentar koq isinya saingan dengan uraian utama.

  15. Abi_ha_ha INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Yah pakdhe… ngurus bisnis sendiri juga ternyata untuk cari order ya harus lewat… relasi :)
    Endonesah tea euy!

  16. thya INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    “Huahahahahaa! Indonesia, aku cinta kau!”
    ko jadi kaya iklan telkomsel yaaak ;p

  17. *serius MODE ON*:
    “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world“ (nelson mandela).

    Paman,
    Pendidikan yang baik, menghasilkan pribadi tangguh, tanggon, trengginas dan takwa..
    itu saja.

  18. aji INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    …adalah berupa kesempatan dan keringanan biaya pendidikan bagi putra-putri guru yang telah memenuhi syarat-syarat akademik untuk menempuh pendidikan dalam satuan pendidikan tertentu…..

    keringanan sayah setuju paman
    tapi kalo kesempatan, saya keberatan

    secara berat saya udah 86 kilo, hihihihi

  19. Simpel aja paman,mosok orang yang kita kenal mau disamakan dengan orang yang gak kita kenal :-)

  20. budiw INDONESIA Epiphany Ubuntu Linux says:

    wah, udah sampe solo.. sebentar lagi nyampe surabaya..

    kopdar-kopdar…

    –budiw

  21. mpokb INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    sebenarnya yg seperti itu bukan cuma di indonesia aja, bang paman. dan nggak cuma orang jawa doang. kuncinya ada pada si anak. malu atau justru bangga kalo orang2 ngomongin “dia itu titipan dari bos anu. sebenarnya dia malas dan nggak bisa ngapa2in, tapi bisa kasih nilai strategis buat kampus/kantor”.

  22. “Apa tadi? Sistem?”

    Hahahaha.

    Pertama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.