Maklumat Jalan Pak Pendi
CARA YOGYA UNTUK MENGINGATKAN KHALAYAK.

Beritanya sih sudah lama. Sebagian Jalan Gejayan, Yogyakarta, berganti nama menjadi Jalan Affandi untuk mengenang sang pelukis besar. Yang saya telat tahu adalah pemasangan maklumat berupa gambar vektor yang dicetak di atas kertas foto, menutupi nama lama jalan, di depan Togamas.
Boleh juga. Selama ini penggantian nama jalan di banyak kota cukup dilakukan melalui pengumuman dan pemasangan papan nama baru. Selanjutnya biarlah sang waktu yang menggarap benak khalayak.
Sejauh saya tahu (jadi bisa saja salah), penggantian nama ini hanya mencakup ruas sepanjang depan gardu PLN sebelah Auditorium RRI (batas Kota Yogya dan Kabupaten Sleman) hingga simpang jalan lingkar (Condongcatur) yang memang merupakan wilayah Sleman.
Adapun ruas sepanjang depan gardu PLN sampai pertigaan Jalan Adisucipto (Demangan) tetap bernama Jalan Gejayan karena merupakan wilayah Kota Yogya.
Saya kurang tahu dari mana asal muasal nama Gejayan. Dulu, akhir 70-an, ruas jalan itu rasanya hanya sampai Selokan Mataram. Bahkan sebagian papan nama toko antara IKIP sampai selokan ada yang menyebut diri beralamatkan di Jalan Mrican.
Pada awal 80-an, ketika Yogya memiliki bus kota (Kopata) sebagai pengganti Colt Kampus (dan ring road belum ada), tak semua bus kota sudi berputar hingga Condongcatur. Kawasan selewat titik putar berpohon beringin itu seolah menjadi terra incognita.
Begitu asingnya kawasan itu, sehingga nama salah satu dusunnya kurang dikenal lantaran ada nama yang sama dan lebih tenar, hanya saja letaknya jauh di selatan, di wilayah kota. Nama dusun itu adalah Sanggrahan.
Dulu di dusun itu — Sanggrahan yang Sleman — ada kebun semangka. Untuk mencapainya dari arah Pasar Demangan, ketika saya masih bocah, harus bersepeda melewati jalan berbatu karena setelah Asrama Realino ke arah utara tak ada jalan berasapal. Adapun di Sanggrahan yang lain, di selatan itu, konon beda semangkanya. Ndoro Bedhes lebih paham.
Lantas kenapa judul tulisan ini memakai nama “Pak Pendi”? Dulu tukang tambal ban di depan Museum Affandi menyebut sang maestro sebagai Pak Pendi.
© Peta: Mycityblogging Yogyakarta
15 Responses to Maklumat Jalan Pak Pendi
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012Ada saja cara membangun suasana spasial kedai agar tetamu mendapatkan kesan mendalam. Misalnya ala modiste, dengan mesin jahit dan baju baru terpajang. Lho, bukannya kalau kita bertandang dan makan di tempat tetangga atau saudara yang pe... […]postyorous menerous »»»
- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012
Cicitcuit!- @memethmeong banyak hal nggak terduga kok tentang pakdhe @mbilung | @imanbr @ndorokakung @pamantyo May 23, 2012 mbakdos (Agatha N. Ardhiati)
- @mbakdos pakde pake jaket kulit? @mbilung @imanbr @ndorokakung @pamantyo May 23, 2012 memethmeong (medina wulandari)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Gudeg dan Ikan Ayam
February 22, 2009 by AntyoORANG YOGYA LAMA TAK KENAL IKAN?
Sudah biasa. Bahkan sudah jadi dagelan garing bahwa orang Jawa menyebut daging itu “iwak”, lalu mengindonesiakannya menjadi “ikan”, dan jadilah “ikan ayam”. Juga garing ketika orang kehabisan lauk, hanya ada nasi dan kecap, ibu jari sendiri pun digigit sebagai “iwak jempol”.
Ingatan itu muncul kemarin pagi di Stasiun [...]
Recent Comments
Eka» Jadi inget waktu masih kecil.. =( Sekarang udah jarang banget perahu othok2 ini.. hiks hiks.. =(
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





http://gytd.iespana.es
Ini bagus, ketimbang Jogja terus dikepung nama-nama pak jendral. Emang kota militer? Btw, kakak kelas di kos dulu selalu kasih kode “ke Nyimung (kidul)” atau “ke Saigon” kalo mo ngersakke ke Sanggrahan wakakakakak…
hue he he…lik tyo…itu jang bikin gambare adalah saya…hihihi…btw boleh gak tulisan ini dimasupin ke buletin 100 tahun pak pendi ? :D
wah paman, tolong diulas yo jajanan khas yogya yang dah hampir punah, seperti sate kendal yang di alun-alun sewandanan, terakhir kesitu yg jualan tinggal seorang.
jangan-jangan setelah yogya bakal mengulas magelang nih, ato malah kota kecil wonosari…gak sabar menunggu tulisan berikutnya
wah paman, tolong diulas yo jajanan khas yogya yang dah hampir punah, seperti sate kendil yang di alun-alun sewandanan, terakhir kesitu yg jualan tinggal seorang.
jangan-jangan setelah yogya bakal mengulas magelang nih, ato malah kota kecil wonosari…gak sabar menunggu tulisan berikutnya
ooo jadi critanya lagi napak tilas nih…waktunya melangkolissss
sekadar ikutan nggombal mukiyo, kenapa pindah di gejayan? kok bukan di depan rumah beliau di jl. laksda adisucipto? itu mungkin karena
1. ndak malah dikirain ikuta-ikutan gambar muka mbah jenggot ka-ep-si yang ada di sebelah rumah pak pendi.
2. takutnya, masarakat mengira mbah jenggot ka-ep-si itu adalah pak Pendi.
3. saya ndak tahu, pam.. :D
nderek mireng nostalgia pak puh tyo..
Kemarin-kemarin tentang Solo, kini tentang Jogja. Sekarang sedang di Jogja?
perlu berdiri tepat di depan traffic light kalau angle foto yg pertama seperti itu :)
Bukannya JK versi negeri BBM juga sering bilang:
” Dek Pendi…Bikows Wat? “
wah terlalu sering ganti nama jalan kasihan pak pos deh bingung pasti cari alamat
inilah cara kita mengenang sang ‘pahlawan’ negeri ini
sanggrahan ki endi to? aku kok ra mudeng … :D
Tolong dik Pendi, jelaskan, kenapa nama jalan resmi ditutupi seperti itu?! Hehehehehe… tumben, yg pertama! :D