Siapakah Gerangan Tuan
YANG DIPERTUAN DI RUMAH SAKIT DAN RUMAH OBAT.

Sebagian penyedia pelayanan medis dan farmasi masih menyapa konsumennya dengan “tuan”. Tentu jika konsumennya pria. Lihat saja papan data pasien di ranjang rawat dan pemanggilan (pakai teriak) pemesan obat pakai resep. Memang sih tidak berlaku di semua rumah sakit maupun apotek.
Adakah yang salah dengan Tuan? Tidak. Itu bagian dari kosa kata kita. Hanya saja kita jarang mendengarnya dalam keseharian.
Selama ini kita mendapati “tuan” dalam dokumen legal, naskah drama, dan buku cerita lama. Beberapa subtitel gambar hidup, dan karya terjemahan, kadang juga bersetia dengan “tuan” — termasuk adegan guru negeri bule menyapa muridnya “mister”. Di lingkungan khusus, sapaan “Tuan Guru” juga masih berlaku.
Bagi orang tertentu, “tuan” memberi kesan feodal, memuliakan kaum menak, dan menghidupkan gaya pri(y)ayi. Sekali lagi: kesan. Semacam bandara (Jawa, baca: bendoro) yang disingkat ndara (baca: ndoro). Misalnya Gusti Bandara Pangeran Harya Bedhes Wetaning Pasar Awanturu Wengimelek Ngahadmancing. Diringkas jadi Ndoro Kakung.
Bagi rumah sakit dan apotek, persoalannya mungkin lebih sederhana. Semata-mata untuk mengidentifikasi jenis kelamin (dan status perkawinan).
Tuan berarti pria, dari sinyo ingusan yang serampung pipis terjepit ritsleting sampai kakek gaek yang sudah 13 kali kawin-cerai. Nyonya untuk wanita yang sudah menikah. Nona untuk gadis kencur sampai wanita lajang matang yang terus-terusan sok sibuk memilih calon suami (misalkan banyak yang meminatinya).
Akhirnya bahasa Indonesia modern lebih nyaman dengan “bapak” (dan “ibu”). Adapun “saudara” dianggap lebih egaliter tapi masih formal.
Ketika seorang pesakitan (duh, jadul banget) berkali-kali menyapa, “Tuan Hakim yang mulia…” boleh jadi itu dianggap meledek. Memanggil seorang advokat sebagai “Tuan pengacara yang Mulya” tentu tak salah kalau namanya memang Todung Mulya Lubis.
Pak Hakim — lengkapnya: Bapak Hakim — sih boleh menyebut pesakitan sebagai “Saudara Terdakwa”. Mestinya begitu juga terhadap pesakitan yang bekas presiden dan sering mengaku sakit itu.
Yang dipanggil “saudara” mungkin boleh protes: “Kapan kita bersaudara, hah? Enak saja!”
Penggunaan “tuan” dan “puan” — di luar artikel kolumnis yang suka melucu, dari Remy Sylado sampai Seno Gumira Ajidarma — kayaknya asyik juga. Apalagi sambil mengingat Juwita Malam-nya Ismail Marzuki.
Sebuah pompa bensin di Pluit, Jakarta Utara, pernah punya bon bertuliskan “SPBU Puan Maharani”. Bukan mau bergaya, mungkin itu memang nama pemiliknya, dari sebuah keluarga terkemuka yang berbisnis BBM.
13 Responses to Siapakah Gerangan Tuan
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Dering Telepon Landline February 10, 2012Suatu hari fixed-line kantor berdering berkali-kali. Mirip kantor betulan! Binis adalah krang-kring. Seperti dalam film lama. Tetapi kini orang kantoran makin sering berponsel. Langsung ke tujuan. Tarif lebih murah. Di rumah pun telepon kabel tak seaktif dulu. Selain untuk memesan gas dan air galonan, telepon untuk interlokal. Mungkin semakin jarang keluarga […]antyo
- Dering Telepon Landline February 10, 2012
Cicitcuit!- RT @cho_ro: Jadi social smoker itu karena gak ada obat mati gaya. masalahnya dari social smoker ke pecandu itu tinggal selangkah ~ @pamanTyo February 10, 2012 glennypy6 (Glenny Jonathan)
- RT @cho_ro: Jadi social smoker itu karena gak ada obat mati gaya. masalahnya dari social smoker ke pecandu itu tinggal selangkah ~ @pamanTyo February 10, 2012 hollowayzr4 (Holloway Wharton)
Recent Posts
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
Archives
Random Posts
Buku si Blogger Gokil
September 21, 2007 by AntyoKOCAK, NAKAL, SESEKALI SERIUS.
Namanya sungguh elok: Asmara Letizia Wreksono. Nama panggilannya gagah: Miund — mengingatkan saya kepada Bang Mi’un. Jika kelokan dan kegagahan digabung jadilah kelucuan.
Saya mengenal blognya, yang kemudian jadi buku ini, pada 2004. Bukan sebagai pembaca rutin sih. Kesan saya, si blogger itu adalah cewek urban, periang, [...]
Recent Comments
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (87)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Kuwi mung basa,tata krama tumrap brayan,wong bahasa kuwi yo mujudake eksistensine menungsa,Lha nek diwenehi Gelar Raden opo bendoro wae yo nggopo,wong ra kena digadhekake wae ko…Pripun Kang rentjoko pawartosipun..?
Sakit apa, paman?
Mungkin perlu digalakkanl lagi pemakaian panggilan “ndoro tuan”…
#2. tapi kalau mereka terjemahkan frau ke bhs inggris jadinya mrs. bukan ms. di bhs belanda juga sama. semua mevrouw.
—-
di bidang kesehatan kan memang tampil beda, liat saja.. cuma sesama dokter yg saling menyebut teman sejawat. di belanda pun, sesama dokter kalau berkirim rujukan lengkap dgn embel² ‘de weledelgeleerde heer X’ yg terhormat sarjana X. kalau doktor jadi weledelzeergeleerde.
paling sebel cara apotik RI ngasih obat di plastik tanpa kertas ttg obat itu, apa efek sampingannya etc, belum lagi expired datenya suka ngga keliatan.
pakdhe, wajah pangeran harya bedhes cakep mana sama wajah pakdhe!
heheheheheh
pissssss mennnnnnnnn
—–
Jelas lebih gagah dan tampan Ndoro Bedhes — bahkan dalam sikon paling jelek sekalipun. Namanya juga priyayi.
[Tyo]
Soale terlalu hirarkis!
Dan sangat tinggi, sehingga mendekati Tu(h)an!
Gusti Bandara Pangeran Harya Bedhes Wetaning Pasar Awanturu Wengimelek Ngahadmancing -> mesti ngarang iki. :D
Jadi ingat novel-novel Agatha Christie yang diterjemahkan Gramedia. Masih banyak yang memakai kata Tuan dan Nyonya, juga Nona
Anto itu bacanya dengan o pada solo atau o pada sala hehehhe inget postingan soal solo dan sala, haruskah ditulis Antya Rentjaka?
Kadang kita menemukan nama seseorang yang tidak identik pada pria atau wanita, seperti nama Eka, Dwi, belum lagi nama-nama china, korea dan jepang.
Maka penggunaan awalan Tn./Mr. atau Ny./Ms. terutama untuk penegasan nama pria dan wanita, sangat diperlukan.
Paman sedang gak enak badan? Cepet sembuh ya paman.
kok soal2 kaya gini ga pernah dibahas dipelajaran bahasa indonesia yah..
(paling tidak waktu aku msh sekolah dulu ga ada pembahasannya)
Ga tau yah kalo skarang dah ada
;p
di jerman panggilan “fraulein” alias “nona” ditiadakan karena dianggap merendahkan. kaum wanita cukup puas dengan sebutan “frau” (seperti “ibu” dan bukan “nyonya”). untuk sapaan pengganti “saudara”, kok rasanya enakan “bung” yak..
mungkin kalau kata “mister” di Indonesia-an emang (kebanyakan) cocoknya jadi “bapak” oleh karena itu di surat2 resmi maupun panggilan kepada orang (pria) lebih banyak menggunakan kata “bapak” seperti “bapak guru”. untuk kata tuan sendiri saya cukup sepakat kalau kata tersebut bisa dibilang “agak” feodal, karena biasanya dalam kehidupan sehari2 (diluar rumah sakit dan apotek tentunya :P) kata tuan biasanya ditujukan untuk orang yang terhormat atau punya status sosial yang tinggi. CMIIW.