Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Siapakah Gerangan Tuan

Jumat, 20 Juli 2007 @ 11:09 | Umum

YANG DIPERTUAN DI RUMAH SAKIT DAN RUMAH OBAT.

nama tuan dan bapak dalam kantong obat apotek

Sebagian penyedia pelayanan medis dan farmasi masih menyapa konsumennya dengan “tuan”. Tentu jika konsumennya pria. Lihat saja papan data pasien di ranjang rawat dan pemanggilan (pakai teriak) pemesan obat pakai resep. Memang sih tidak berlaku di semua rumah sakit maupun apotek.

Adakah yang salah dengan Tuan? Tidak. Itu bagian dari kosa kata kita. Hanya saja kita jarang mendengarnya dalam keseharian.

Selama ini kita mendapati “tuan” dalam dokumen legal, naskah drama, dan buku cerita lama. Beberapa subtitel gambar hidup, dan karya terjemahan, kadang juga bersetia dengan “tuan” — termasuk adegan guru negeri bule menyapa muridnya “mister”. Di lingkungan khusus, sapaan “Tuan Guru” juga masih berlaku.

Bagi orang tertentu, “tuan” memberi kesan feodal, memuliakan kaum menak, dan menghidupkan gaya pri(y)ayi. Sekali lagi: kesan. Semacam bandara (Jawa, baca: bendoro) yang disingkat ndara (baca: ndoro). Misalnya Gusti Bandara Pangeran Harya Bedhes Wetaning Pasar Awanturu Wengimelek Ngahadmancing. Diringkas jadi Ndoro Kakung.

Bagi rumah sakit dan apotek, persoalannya mungkin lebih sederhana. Semata-mata untuk mengidentifikasi jenis kelamin (dan status perkawinan).

Tuan berarti pria, dari sinyo ingusan yang serampung pipis terjepit ritsleting sampai kakek gaek yang sudah 13 kali kawin-cerai. Nyonya untuk wanita yang sudah menikah. Nona untuk gadis kencur sampai wanita lajang matang yang terus-terusan sok sibuk memilih calon suami (misalkan banyak yang meminatinya).

Akhirnya bahasa Indonesia modern lebih nyaman dengan “bapak” (dan “ibu”). Adapun “saudara” dianggap lebih egaliter tapi masih formal.

Ketika seorang pesakitan (duh, jadul banget) berkali-kali menyapa, “Tuan Hakim yang mulia…” boleh jadi itu dianggap meledek. Memanggil seorang advokat sebagai “Tuan pengacara yang Mulya” tentu tak salah kalau namanya memang Todung Mulya Lubis.

Pak Hakim — lengkapnya: Bapak Hakim — sih boleh menyebut pesakitan sebagai “Saudara Terdakwa”. Mestinya begitu juga terhadap pesakitan yang bekas presiden dan sering mengaku sakit itu.

Yang dipanggil “saudara” mungkin boleh protes: “Kapan kita bersaudara, hah? Enak saja!”

Penggunaan “tuan” dan “puan” — di luar artikel kolumnis yang suka melucu, dari Remy Sylado sampai Seno Gumira Ajidarma — kayaknya asyik juga. Apalagi sambil mengingat Juwita Malam-nya Ismail Marzuki.

Sebuah pompa bensin di Pluit, Jakarta Utara, pernah punya bon bertuliskan “SPBU Puan Maharani”. Bukan mau bergaya, mungkin itu memang nama pemiliknya, dari sebuah keluarga terkemuka yang berbisnis BBM.

Ada 13 komentar | trackback | Depan

#13

petruk | 23 08 2007 @ 14:23:28

Kuwi mung basa,tata krama tumrap brayan,wong bahasa kuwi yo mujudake eksistensine menungsa,Lha nek diwenehi Gelar Raden opo bendoro wae yo nggopo,wong ra kena digadhekake wae ko…Pripun Kang rentjoko pawartosipun..?


#12

Tukang Koran | 01 08 2007 @ 19:47:51

Sakit apa, paman?


#11

guntur | 21 07 2007 @ 8:45:24

Mungkin perlu digalakkanl lagi pemakaian panggilan “ndoro tuan”…


#10

triesti | 20 07 2007 @ 23:22:29

#2. tapi kalau mereka terjemahkan frau ke bhs inggris jadinya mrs. bukan ms. di bhs belanda juga sama. semua mevrouw.
—-
di bidang kesehatan kan memang tampil beda, liat saja.. cuma sesama dokter yg saling menyebut teman sejawat. di belanda pun, sesama dokter kalau berkirim rujukan lengkap dgn embel² ‘de weledelgeleerde heer X’ yg terhormat sarjana X. kalau doktor jadi weledelzeergeleerde.

paling sebel cara apotik RI ngasih obat di plastik tanpa kertas ttg obat itu, apa efek sampingannya etc, belum lagi expired datenya suka ngga keliatan.


#9

sluman slumun slamet | 20 07 2007 @ 22:34:03

pakdhe, wajah pangeran harya bedhes cakep mana sama wajah pakdhe!
heheheheheh
pissssss mennnnnnnnn

—–

Jelas lebih gagah dan tampan Ndoro Bedhes — bahkan dalam sikon paling jelek sekalipun. Namanya juga priyayi.
[Tyo]


#8

alamak! | 20 07 2007 @ 20:06:01

Soale terlalu hirarkis!
Dan sangat tinggi, sehingga mendekati Tu(h)an!


#7

mufti | 20 07 2007 @ 16:46:34

Gusti Bandara Pangeran Harya Bedhes Wetaning Pasar Awanturu Wengimelek Ngahadmancing -> mesti ngarang iki. :D


#6

galih | 20 07 2007 @ 14:14:34

Jadi ingat novel-novel Agatha Christie yang diterjemahkan Gramedia. Masih banyak yang memakai kata Tuan dan Nyonya, juga Nona


#5

iway | 20 07 2007 @ 13:49:52

Anto itu bacanya dengan o pada solo atau o pada sala hehehhe inget postingan soal solo dan sala, haruskah ditulis Antya Rentjaka?


#4

dp | 20 07 2007 @ 13:15:21

Kadang kita menemukan nama seseorang yang tidak identik pada pria atau wanita, seperti nama Eka, Dwi, belum lagi nama-nama china, korea dan jepang.
Maka penggunaan awalan Tn./Mr. atau Ny./Ms. terutama untuk penegasan nama pria dan wanita, sangat diperlukan.

Paman sedang gak enak badan? Cepet sembuh ya paman.


#3

thya | 20 07 2007 @ 12:08:02

kok soal2 kaya gini ga pernah dibahas dipelajaran bahasa indonesia yah..
(paling tidak waktu aku msh sekolah dulu ga ada pembahasannya)
Ga tau yah kalo skarang dah ada
;p


#2

mpokb | 20 07 2007 @ 11:48:58

di jerman panggilan “fraulein” alias “nona” ditiadakan karena dianggap merendahkan. kaum wanita cukup puas dengan sebutan “frau” (seperti “ibu” dan bukan “nyonya”). untuk sapaan pengganti “saudara”, kok rasanya enakan “bung” yak..


#1

hielmy | 20 07 2007 @ 11:48:00

mungkin kalau kata “mister” di Indonesia-an emang (kebanyakan) cocoknya jadi “bapak” oleh karena itu di surat2 resmi maupun panggilan kepada orang (pria) lebih banyak menggunakan kata “bapak” seperti “bapak guru”. untuk kata tuan sendiri saya cukup sepakat kalau kata tersebut bisa dibilang “agak” feodal, karena biasanya dalam kehidupan sehari2 (diluar rumah sakit dan apotek tentunya :P) kata tuan biasanya ditujukan untuk orang yang terhormat atau punya status sosial yang tinggi. CMIIW.