Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Malu tapi Rindu

Sabtu, 21 Juli 2007 @ 01:29 | Selingan

KARENA PULANG TAK BAWA UANG? ATAU SOAL LAIN?

pulang malu tak pulang rindu

Mungkin bunyi coretan spidol pada mobil boks yang melintasi Jalan Raya Jatiwaringin, Pondokgede, itu sudah superbasi. Bahkan boleh jadi lagu dangdut sudah mendendangkannya. Tapi sungguh mati saya baru mendapatkannya kemarin dan terkesan — bahkan terkekeh sendirian. Sepele, datar, tanpa kejutan, tapi lucu: “Pulang malu… Enggak pulang rindu.”

Apa yang terpampang di bak truk dan mobil boks seringkali tak hanya mewakili dunia sopir melainkan juga dunia lekaki secara umum. Dari ungkapan bergambar wanita berdaster tipis tergolek setengah melek sampai gambar wanita dewasa atau gadis kecil dalam pose berdoa.

Ada pula yang cuma tulisan, dari “Kutunggu Jandamu” sampai “Do’a Mama”. Bisa juga gabungan gambar dan tulisan.

Dalam beberapa hal ada kerinduan untuk singgah — entah di mana dan di hati siapa. Dalam hal lain ada rasa kangen untuk kembali ke rumah dan tak pergi untuk sekian lama. Tapi oh… apa daya pekerjaan menjauhkannya dari orang-orang terkasih.

pulang malu tak pulang rindu

Ada 13 komentar | trackback | Depan

#13

pesanlewat » Blog Archive » Kepada Jalanan ‘Ku Mengadu | 07 03 2008 @ 10:31:03

[...] Pulang malu, nggak pulang rindu. Ohhh… (Bukannya aku banyak ngaso lalu mampir, tapi rezeki memang tak mau nyengir) [...]


#12

blogombal : catatan ringan angin-anginan » Blog Archive » Diburu oleh (Calon atau Bekas?) Mertua | 06 11 2007 @ 0:41:42

[...] Bonus: + Dilema kerinduan sopir + Keluhan dan pembenar sopir + Donal atau Didi Bebek yang jadi kuli pasir? [...]


#11

mei | 01 08 2007 @ 11:51:01

judulnya menarik paman..xixi makanya aku klik duluan…lama gak main, apa kabar paman???


#10

Putra Daerah | 30 07 2007 @ 17:08:58

Sampeyan iku tulisan cuilik ngono kok yo sih kethok?


#9

petrus suratno | 23 07 2007 @ 14:01:15

setuju mas anang, sopir iku berat, apalagi angkot,jadi ingat kemarin sore aku naik angkot, baru ngetem and belum dapet penumpang aja udah harus “bayar ini itu”( jarene untuk maklar) yo nek penumpang rame nek sepiii wah….


#8

ojobingung | 21 07 2007 @ 17:39:48

hehehe dengan tidak mengurangi rasa hormat terhadap profesi sopir, saya juga pernah terkekeh saat di jalur jakarta - merak baca tulisan di truk “ora sudi nduwe mantu sopir”. saya asumsikan pak sopir tersebut lah yang punya prinsip demikian…

salam kenal..


#7

kwak kwik kwek | 21 07 2007 @ 15:38:39

Pamane, aku naksir kameramu, close up-nya bs keren gitu.. Kapan-kapan bole liat yo Mas? …:-)))

—–

Cuma kamera kacangan kok, Nduk.
[tyo]


#6

Tresno | 21 07 2007 @ 14:22:46

aku malu pulang, Ip jelek!!


#5

guntur | 21 07 2007 @ 8:53:56

kemarin ada lihat “sopir bercinta kenek menderita”…


#4

kw | 21 07 2007 @ 7:37:59

ada kok yang menuliskan: m3r123lak!
coba apa bacaanya? :)


#3

Anang | 21 07 2007 @ 2:29:08

jadi supir itu berat paman… meninggalkan keluarga selama jangka waktu yang lumayan panjang… jadi ya semua ekspresi tulisan itu ya seperti itu…

yang enak itu kerja jadi blogger…. hehehe bisa nulis dimana aja, dirumah juga bisa dan ga menjauhkan dari orang2 terkasih…


#2

hielmy | 21 07 2007 @ 1:58:20

*rasa2nya pertamax lagi nih*
memang benar paman, saya seringkali menemukan tulisan2 seperti itu di truk maupun angkutan umum, saya dan teman2 menyebutnya dengan “bahasa truk”. memang unik tulisan2 itu, seperti misal “sering jumpa timbul rasa”, “lupa orangnya ingat rasanya”, “terlibat kasus janda”, dll. mungin itu memang sebuah curahan hati dari para supir itu,yang kebanyakan kata2 itu berhubungan dengan wanita (terutama janda; entah kenapa kenapa) yang menggambarkan kerinduan para supir dan awak truk terhadap belaian wanita. mungkin loh…:p


#1

dp | 21 07 2007 @ 1:56:13

Apa perlu dikonfirmasi, jadinya pulang atau nggak?