Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Musim Kawin

Minggu, 22 Juli 2007 @ 00:10 | Umum

KADO, SARIMBIT, DAN TAMU SINGKAT.

Kalau dijejerkan berdiri, kumpulan undangan resepsi pernikahan yang saya terima selama Juni-Juli, baik dari dalam maupun luar kota, itu bisa menyaingi deretan buku.

Maklumlah, undangan sekarang umumnya tebal-tebal dan buku-buku saya kebanyakan memang tipis — bahkan ada yang lebih tipis dari undangan masa kini.

Begitulah, sekarang lagi musimnya orang menikah. Sebelumnya saya pikir, banyaknya pernikahan pada tengah tahun itu karena membarengi libur sekolah sehingga lebih mudah mengumpulkan keluarga besar.

resepsi pernikahan

Ternyata tidak. Ketika anak-anak sudah masuk sekolah pun masih banyak orang merayakan pernikahannya. Mungkin karena jadwal sewa gedungnya dapat belakangan. Maklumlah, pemesanan gedung bisa setahun sebelumnya.

Duduk manis

Tentang resepsi, ada saja yang menarik. Misalnya resepsi di gedung dengan mendudukkan tamu, dan hidangan pun mengalir mengikuti USDEK. Ini jargon Bung Karno yang dipelesetkan menjadi unjukan, sop, dhaharan, es, kundur (Jawa: minuman, sup, makanan, es, pulang).

Lama saya tak merasakan jagong (artinya duduk) di function hall, bukan di rumah, dengan cara seperti itu. Gayeng juga.

Kalau orang Jawa bilang “(n)jagong” untuk menghadiri resepsi, tampaknya bermula dari duduk bareng yang menyusahkan untuk berhandai-handai dengan siapa pun kecuali berpindah kursi.

Bagusnya, jagong model begini ini membuat kita dapat kenalan baru karena masing-masing pihak sama kikuknya bersanding dengan orang asing.

Sebagian orang Salatiga dan Semarang menyebut (n)jagong pengantin maupun sunatan sebagai “nyumbang”. Memang, datang ke perhelatan berarti menyumbang.

Uang, bukan barang

Tentang sumbangan atau hadiah untuk mempelai — kadang juga berarti untuk orangtua pihak perempuan — apa yang dimulai hampir 20 tahun lalu akhirnya menjadi kelaziman. Itu lho, kado barang digantikan oleh amplop.

Sumbangan berupa uang jelas lebih praktis. Hadiah berupa barang bisa merepotkan; membuka kadonya saja bisa sampai pagi. Pengantin mengantuk. Petugas pencatat teler. Petugas penyingkir kado (dan pembungkus) tenggelam dalam lautan kertas dan kardus.

Kabarnya, dulu, di beberapa kota ada toko yang siap menampung limpahan kado dari mempelai. Pengantin dapat duit. Toko dapat barang kulakan murah, termasuk yang berasal dari tokonya sendiri. Mungkin barang yang sama akan jadi kado dan kembali lagi ke toko itu.

Meskipun kuno, kado masih sering terlihat di meja penerima tamu. Berbahagialah pengantin yang menerima kado mungil berupa kunci rumah atau kunci mobil, dan bukan hanya kunci.

Sekeluarga berseragam

Sering terlihat, pasangan suami-istri memakai busana yang sama. Model sarimbit, katanya.

Sarimbit itu artinya pergi berpasangan. Pasangan yang tak memakai batik atau tenun yang sama berarti belum sarimbit, belum kompak, tidak se(i)ya sekata. Tentu sarimbit bukan jaminan sepanjang perjalanan berangkat maupun pulang itu mesra tanpa cemberut.

Kadang seragam itu tak hanya dikenakan oleh suami dan istri tetapi juga anak-anaknya. Dari segi pengadaan jelas hemat bahan. Dari segi pencitraan diri dan identifikasi keluarga, jelas lebih kentara dan gampang. Kalau segenap anggota rombongan memakai pakaian bergaris-garis zebra, itu namanya Dalton Bersaudara.

Kalau saya tak salah ingat, model sarimbit itu mulai muncul pertengahan 80-an. Meski sudah lama, ternyata saya ketinggalan zaman. Hingga hari ini belum punya seragam sarimbit. Besok mungkin, eh semoga, ada.

Tamu yang bergegas

Ini lazim di kota besar. Dalam sehari bisa saja seseorang harus menghadiri lebih dari satu resepsi.

Maka di Jakarta, misalnya, lumrah saja jika ada tamu yang datang ketika petugas jasa boga membereskan meja hidangan.

Juga biasa jika ada tamu yang datang awal, lalu setelah menyalami pengantin langsung keluar.

Kemarin saya menghadiri resepsi pernikahan di sebuah sport club di Jakarta. Seorang anggota keluarga pengantin bilang, pesta untuk mantu yang ketiga ini (di tempat yang sama) lebih aman, selamat dari serbuan tamu bergegas dalam arti lain.

Yang dia maksud adalah orang tak diundang. Yaitu orang yang selesai berenang dan berolahraga lainnya — tentu mereka berganti pakaian dulu. Pesta di tepi kolam mereka sangka untuk semua orang.

Masih menyangkut penyerbu, di sebuah kota di Jawa Tengah saya dengar ada gedung yang sebisanya dihindari orang yang punya gawe (dan mungkin katering). Di sana hidangan selalu cepat menguap padahal belum seluruh terundang bersantap.

Perihal perilaku santap-menyantap dalam pesta, silakan baca cerita lama saya.

resepsi pernikahan

Ada 22 komentar | trackback | Depan

#22

blogombal | Blog Archive » Busana Pria Beristri | 13 05 2008 @ 10:17:19

[…] kelompok manis itu ada yang kalau dipesankan “seragam sarimbit” tetap bersedia memakainya dengan harapan tak ketemu […]


#21

Arifin | 03 12 2007 @ 14:22:22

Saya malah kepengin meneliti soal tradisi jagong dan nyumbang ini. Apa benar made in Java, yang sudah menasional? Adakah dilakukan oleh etnis-etnis lain? Kalau banyak yang tidak setuju, keberatan… kenapa tiada konsensus untuk mengubahnya? Siapa pelopor nyumbang yang lebih rasional ekonomis. Apakah kita dalam budaya diam, bisu, tidak berani berbuat apapun padahal tidak setuju, karakteristik wong Jawa?


#20

Katakan dengan Amplop, Sayang : memo | blogombal.org | 11 11 2007 @ 2:41:18

[…] Kota-kota besar memulai ini selewat pertengahan 80-an, dan sempat bikin kagok. Orang Semarang dan sekitarnya menyebut “(n)jagong” (Jawa: datang ke perhelatan) sebagai “nyumbang”. Lebih realistis kan? […]


#19

STR | 14 10 2007 @ 6:21:07

kalo datang itu berarti nyumbang muka ya, paman?


#18

Mikl | 21 08 2007 @ 2:17:35

kdosfmsdf


#17

rini | 14 08 2007 @ 11:29:24

pict. yang bawah kayanya kenal lokasinya…nek ra salah, club house ning semarang yo?
(n)jagong model USDEK, wong sala ketoke isih melestarikan…


#16

juragan | 04 08 2007 @ 12:02:31

sebulan 4 kawinan.
sumbangannya = 50.000 x 4 = 200.000 an wah bisa nggak bayar internet nih


#15

blogombal : catatan ringan angin-anginan » Blog Archive » Pidato (dan Doa) Sebagai Musik Latar | 29 07 2007 @ 2:54:38

[…] Itu sering saya jumpai dalam perhelatan nikah. Maklumlah, saya belakangan ini panen jagongan. […]


#14

dhany | 26 07 2007 @ 23:57:47

yen buwuh kuwi dianggep amal sing ihlas yo oleh pahala
lha nek dianggep nyaur utang, dadi pekoro
yo tho pak puh..?!


#13

~Mas Kopdang yang KOndang~ | 25 07 2007 @ 9:21:12

Baca untuk yang kedua kali tulisan paman ini, saya jadi ingat:
Tamu bergegas dalam artian lain untuk di kawasan Jogja, namanya Gedung Wanitatama, dekat museum Affandi itu yang beda tipis dengan kampus IAIN Kalijaga; satu lagi Wisma Kagama di bagian kidul kampus GaMa..
Tebak sendiri lah siapa para tamu bergegas itu..
[dan saya pernah sekali dua kali berperan sbg tamu tak diundang ini, he-he..]


#12

megaloblat | 24 07 2007 @ 21:50:49

ini kebanyakan diundang jadi nulis tentang undangan ya ? :p


#11

-tikabanget- | 24 07 2007 @ 17:41:07

hh.. sayah capek suruh ngamplop tiap minggu :|


#10

~Mas Kopdang yang KOndang~ | 24 07 2007 @ 17:13:01

Kado sekarang menjadi tak malu-malu untuk dimintakan pasangan dalam undangan berupa setalen dua talen…
Sedangkan sarimbit adalah upaya menjaga imaji bahwa “pasangan kami kuompak, le’..” Hingga ke sekujur sandang.
Tamu singkat? ah, itu karena lebih condong : sahabat jauh tapi dekat, cukup tatap saya melawat, lalu salam dan hilang untuk ke tempat lain, juga perkawinan rekan sejawat..

Maaf, belum tahap sahabat..


#9

ndahmaldiniwati | 24 07 2007 @ 9:52:01

koq saya lum terserang demam musim kawin;((


#8

vita | 24 07 2007 @ 2:19:44

Saya seneng kondangan nikah orang Indonesia di INDONESIA, banyak makanannya…kalau di sini tergantung yang punya gedung ato restorantenya bangsa mana, jatuh2nya salad and pizza, weeks, hehe salam kenal paman


#7

kw | 23 07 2007 @ 12:24:30

yang aku tak mengerti, pesta kok “harus” ada kotak amalnya? :hua hua hua


#6

galih | 22 07 2007 @ 17:11:36

Usdek mungkin agak mulai ketinggalan jaman paman. itu berlaku jika pestanya bukan standing party. duduk, mulai mendengarkan sambutan-sambutan, kemudian ular-ular dari sesepuh, foto-foto, tari-tarian, nyanyi-nyanyi, baru pulang. sekarang ngetrennya kan standing party (kalau orang desa bilang: stending partai) hehehe…
—–
USDEK nggak cuma mulai ketinggalan zaman, tapi sudah lama tertinggal oleh zaman. :D Saya aja tahu istilah ini dari para sepuh. :D

Lho, yang saya ceritakan memang USDEK dalam resepsi duduk kan?

[Tyo]


#5

bebek | 22 07 2007 @ 14:28:26

ngomong mslh kawinan saya kok bertanya2 kpn undangan njagong dari keluarga paman… pengen reti piye to kondangan model paman antyo rentjoko.. :D


#4

Anang | 22 07 2007 @ 12:35:00

acara resepsi kan biasanya kalo makan sambil berdiri.. itu nggak bener… ga baik dari segi apapun… adat, agama, kesehatan dll….


#3

triesti | 22 07 2007 @ 3:04:16

musim diIndonesia: musim kemarau, musim hujan, musim duren, musim: KAWIN


#2

dp | 22 07 2007 @ 1:30:32

Waktu ke pernikahannya Pak Bambang T. datang gak paman? Ayoo ngaku…..
—–
Siapa yang Anda maksud? Pak Bambang Tyo? :D
[Tyo}


#1

hielmy | 22 07 2007 @ 0:32:43

kawin..???
kapan kawin???? *bertanya pada diri sendiri*
aduh paman Tyo ngebahas kawin bikin saya jadi ngebatin.
—–
Ngebatin atau ngebet? :D
[tyo]