DICARI: BUKU PELAJARAN YANG ASYIK PUNYA.

Kalau mobil dijemur seharian di bawah terik Matahari, dan semua kaca jendela ditutup, maka jadilah oven beroda. Panas setirnya, sekitar 70° C, setara pemanggang daging sapi — tapi tak sampai gosong. Adapun panas dasbornya, sekitar 82° C, bisa bikin matang daging ayam.
Saya bayangkan Pak Guru akan menambahkan bumbu, “Kalau mobilnya tanpa V-Kool 60 persen, dan cat bodinya hitam, maka interior mobil itu akan jadi oven yang hebat.”
Itulah yang segera terlintas dalam lamunan saya ketika mendapati jembatan keledai dalam bungkus tabir surya di keranjang sampah.
Jembatan keledai adalah cara untuk menyederhanakan masalah dan mempermudah pemahaman. Sama seperti sejak dulu Pak Guru bilang “mejikuhibiniu” untuk spektrum warna. Serupa Bu Guru dulu mengajarkan mata angin dengan lagu “Timur, tenggara, selatan, barat daya…”
Apakah klaim diri Axius, produsen tabir ini, dapat dipertanggungjawabkan, karena tak merujuk sebuah hasil riset oleh pihak independen?
Itu soal lain. Tapi cara dia meng(k)omunikasikan maksud itulah yang menarik. Cukup sugestif dan semoga tak mengecoh.
Kita pun sebenarnya sudah semakin akrab dengan jembatan keledai, terutama melalui media cetak, karena para editornya sadar bahwa infografik akan membantu pemahaman pembaca.
Dulu, akhir 80-an, sebelum koran dan majalah Indonesia akrab dengan infografik, kita mendapatkannya dari media luar. Misalnya USA Today dan US News & World Report. Lantas media lain dan kantor berita juga memasok infografik.
Apa urusannya dengan Pak Guru? Alangkah baiknya jika buku-buku pelajaran menggunakan jembatan keledai yang secara visual maupun verbal tergarap bagus.
Untuk isu lingkungan, misalnya berapa kali lapangan sepakbola hutan kita yang hilang saban hari, Timpakul bisa bantu. Begitu pula, lagi-lagi misal, volume total pembuangan BBM selama dua jam puncak kemacetan Jakarta, itu bisa dipakai untuk apa saja.
Saya merindukan buku-buku pelajaran SD yang enak dibaca dan perlu — seperti tempe yang enak dibacem dan perlu — sehingga para murid tak didera oleh hapalan yang membengkakkan benak.
Djoni Herfan pasti punya ide untuk simplifikasi materi buku pelajaran. Oh ya, tiba-tiba saya membayangkan alangkah mengasyikkannya jika Priyadi menulis buku sains untuk SD. Akan lebih sip kalau dibantu Tukang Koran.







Carl | 23 08 2007 @ 4.30.49
jfklsjf77kf80f3
tuLtuL | 30 07 2007 @ 14.53.13
iya kan pak de…..
poer | 30 07 2007 @ 14.30.54
jadi inget ini:
HeLiNaKawinRubiCsFrustasi
Bebek Mangan Cacing Seret Banget Rasane
:D
dhany | 26 07 2007 @ 23.50.33
kalau pengen “isis”, beli pintu mobil dibuka kacanya..
mpokb | 24 07 2007 @ 17.40.00
bang paman mau bikin buku pelajaran SD yak? aye dukung dah 100%..
~Mas Kopdang yang KOndang~ | 24 07 2007 @ 9.56.45
ah, postingan kali ini Paman obral links dan juga tanggapan dari Bung Johnherf yang panjang tulisannya mengalahkan postingan Paman selaku tuan rumah..Gak asoy..[nyuwun sewu]
johnherf | 24 07 2007 @ 5.27.44
Kalau untuk konteks Indonesia, susahlah kita bicara mengenai buku pelajaran yang enak menjadi bacaan murid. Itu terkait juga dengan banyak
hal: kurikulum/GBPP, penulis, guru, sistem ujian, dll.
Soal itu perlu mendapat perhatian melalui seminar/diskusi secara serius.
Materi diskusi berkaitan dengan upaya untuk mencari buku pelajaran yang enak dibaca dan tidak membuat siswa jenuh bin bosan.
Akan tetapi, untuk tahu sebuah buku baik atau kurang baik, kita pasti punya tolok ukur. Dari ukuran (kita) itu, cari tahu apakah buku yang seperti ditulis oleh penulis itu sudah ada, ada yang mirip, atau belum ada sama sekali. Bagaimana cara kita mengetahuinya? Antara lain dengan “benchmarking”.
Jadi, ada serbaneka faktor yang memengaruhi. Karena buku hanyalah sarana dan alat bukan tujuan pendidikan itu sendiri.***
-tikabanget- | 23 07 2007 @ 18.32.36
coba minta keponakan sampeyan buwat bikin buku pelajaran berkomik :D
b0wo | 23 07 2007 @ 18.04.50
setujhuuuu, otak lebih mudah memahami gambar dan grafik daripada tulisan…..
venus | 23 07 2007 @ 17.23.43
waduh, ini tentang ‘back to school’ ya paman?
btw, makasih entry yg ‘when harry met sally’ dipajang di sidenote, paman. i’m flattered. halah :D
mbakDos | 23 07 2007 @ 16.29.44
eh ngomong2 buku pelajaran, yang ada sekarang justru bisa meningkatkan kreatipitas anak2 lho…
lha kalok memang bukunya cuma menyediakan keledai, anak2 didorong untuk mbikin jembatannya tho?!
mudah2an bapak dan ibu gurunya bersedia membantu juga sih ;-)
mbakDos | 23 07 2007 @ 16.24.14
saya fanatik sama jembatan itu.
berhasil menutupi satu2nya kelemahan saya: MENGHAFAL! :P
andrias ekoyuono | 23 07 2007 @ 12.24.10
Saya bayangkan Pak Guru akan menambahkan bumbu, “Kalau mobilnya tanpa V-Kool 60 persen, dan cat bodinya hitam, maka interior mobil itu akan jadi oven yang hebat.”
halah, ini kok mobilku banget yo. jadi oven dong ,hiksss
johnherf | 23 07 2007 @ 10.51.49
Materi yang simpel pada buku pelajaran ini jadi bidang yang mengasyikkan waktu pengerjaan, dan menyebalkan kalau berkaitan dengan guru dan murid. Nah, dalam hal ini ada kemiripan dengan “puzzle” yang harus disatukan. Karena ada kecenderungan isi buku terjebak pada kurikulum yang seolah-olah diartikan sebagai kerangka atau “outline” buku. Oleh karena itu, penilaian sebuah buku baik atau kurang baik pasti punya ukurannya.
Dari ukuran itu, ada cara untuk mencari tahu apakah buku yang seperti itu sudah ada, ada yang mirip, atau belum ada sama sekali.
Cara mencari tahunya antara lain via “benchmarking”.
Jadi, untuk konteks Indonesia, susahlah kita bicara mengenai buku pelajaran yang enak dibaca. Itu terkait juga dengan banyak hal: kurikulum/GBPP, penulis, guru, sistem ujian, dll.
Soal itu perlu diseminarkan/didiskusikan secara serius. Materi diskusi berkaitan dengan upaya untuk mencari buku pelajaran yang enak dibaca dan tidak membuat siswa jenuh bin bosan.
dp | 23 07 2007 @ 7.03.19
Paman rajin banget, merhatiin semuanya, sampai-sampai sempat mengkonversikan dari derajat Fahrenheit ke derajat celcius. Tapi klaim dari Axius ini, penuh dengan catatan koq paman. Lihat Aja note-nya bilang, Actual results may vary depending on geography, time in sun, make of car, size of windows, direction to which car is parked. Jadi belum perlu hasil riset tim independen. Lha variabel yang mempengaruhinya banyak koq.
triesti | 23 07 2007 @ 4.54.45
ah jadi inget ‘jembatan keledai’ itu rupanya terjemahan letterlijk bhs belanda ezelsbruggetje. Suatu hari, ada dosen londo ngajar dlm bhs inggris. katanya.. you know just use donkey bridge. ROFL meester… itu ada juga mnemonic terjemahannya.
Fiz | 23 07 2007 @ 3.24.07
Kalo dicari ya pasti ada Pak Dhe…! Institusi sy misalnya, sudah 1 thn ini tlh diijinkan untuk menterjemah, menyadur, mengadaptasi, mele’ot dan mendistribusikan buku2 Sains SD dari salah satu penerbit asal Amrik. Tp sayang baru dipakai di 3 sekolah dlm naungan lembaga pndidikan yg sama (di Sidoarjo, Bandung & Bekasi). Bukunya muanteb tenan…
hielmy | 23 07 2007 @ 1.39.57
hmm…nggg….
kayaknya aku belum ngerti nih…
udah ngantuk jadi gak konsen…
Abi_ha_ha | 23 07 2007 @ 1.20.55
wah pakdhe… kalao buku pelajaran mudah dipahami nanti bagaimana dengan dapur bapak-ibu guru yang ngebul dari uang ‘les’?
ini kan ‘kebul’an sebulan sekali diluar yang setaon sekali PMB kemarin ini.
sudah banyak sabetannya kok ya masih datang ngeluh ke istana. jan tut wuri ora ngerti tenan.