Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Bungkus Titit

Jumat, 17 Agustus 2007 @ 23:56 | Keluarga

ADA YANG BILANG, “ENTAR JUGA TAU SENDIRI.”

Jika Anda kaget membaca judul tulisan ini, maka Anda sama terkejutnya dengan Mbak Kasir sebuah minimarket. Anak bungsu saya, perempuan umur 10, mengamati dagangan yang dipajang di meja kasir. Lantas dia bertanya kepada kakaknya yang kelas 9 (SMP), “Kondom itu apa sih?”

Si mbakyu menjawab lirih, “Tanya Bapak aja, Dik…”

Jawaban saya, sambil membayar, cukup pelan tapi ternyata terdengar oleh orang lain: “Oh, itu bungkus titit. Nanti Bapak jelasin.”

Dalam sebuah kesempatan santai saya jelaskan fungsi kondom dalam bahasa yang dia mengerti, sewajar saya menjelaskan fungsi shower cap, pengikir kuku, earphone, dan benda lain.

Kapan kondom harus dibungkus, ya saat masuk ke wawuk. Kenapa harus dibungkus, ya supaya sperma tak masuk ke dalam wawuk, sebab kalau masuk bisa membuat hamil. Kata “bisa” ini saya jelaskan ulang.

Dengan sejumlah contoh, termasuk seorang nona yang hamil sebelum genap 17, dia pun mulai paham. Setelah paham maka saya jelaskan kenapa di MTV sering ada iklan Durex. Itu bukan hanya untuk mencegah kehamilan, tetapi juga mencegah penularan penyakit kelamin.

Saya senang jika anak bertanya, karena itu berarti pintu masuk untuk menjelaskan. Dulu ketika masih kelas 2 SD mbakyunya bertanya, “Pak, sperma itu apa?”

Tempo hari, di sebuah minimarket 24 jam di lingkungan kampus dan pondokan mahasiswa, terjaja alat tes kehamilan di kasir. Saya sudah bersiap menjawab jika anak saya bertanya. Tapi karena mereka tak tertarik oleh benda itu ya saya diam saja.

Bagi saya kurang bijak jika anak bertanya langsung disergah “Husss…!” Maka kepada si kecil saya jelaskan juga tentang bercintanya orang dewasa, toh dari lagu-lagu dia sering mendengar “make love” dan “making love” — masa sih kita terjemahkan “bikin cinta”?

Hardikan ortu tak bakal mempan sementara di luar informasi bertaburan. Dalam mobil antar-jemput dan angkot, anak TK pun mendengar gosip dan gurauan anak-anak SMP. Di radio, TV, film, komik, dan sebut apa saja medianya, informasi yang berhubungan dengan seksualitas manusia itu bertaburan.

Maka saya dan istri saya hanya tersenyum ketika si kecil masih TK kecil dan bergelut canda dengan kakaknya lantas berteriak sambil tertawa, “Kamu lesbi, suka meluk cewek.” Tugas orangtualah untuk meluruskan.

Seksualitas manusia adalah sesuatu yang wajar. Ada sisi joroknya, ada sisi sarunya, ada sisi indahnya, ada sisi pantas dan tak pantas, ada sisi boleh dan tak boleh, dan masih banyak lagi, sesuai konteks waktu dan tempat. Itu pula yang saya jelaskan kepada anak — tidak harus dalam satu paket kilat yang bikin bingung.

Saya tak menganggap cara saya paling benar. Saya paham bahwa setiap keluarga adalah otentik, bahkan bisa menjadi cawan pertarungan norma dan nilai yang dibawa oleh ayah maupun ibu.

Saya pun tak menyalahkan bila sebagian orangtua cenderung menutup diri terhadap keingintahuan anak tentang seks. Bisa saja mereka belajar dari pengalaman masa kecil, toh tanpa diajari akhirnya tahu sendiri (dan sempat bingung sendiri).

Tapi teori gombal bilang: dorongan seksual itu memang natural. Tapi perilaku seksual kan bisa dan biasa dipelajari. Bagaimana Bapak dan Ibu, setuju? :)

Informasi tentang seks itu bisa berlimpah sekaligus menyesatkan. Bisa juga minim tapi memancing penasaran yang berlebihan dan menjerumuskan. Tentu ini khas omongan orang tua. :D

Dalam sebuah buku lama yang diindonesiakan oleh penerbit Erlangga awal 90-an, Ruth Westheimer, edukator seks itu, menyatakan bahwa pria Amerika lebih tahu karburator mobil ketimbang klitoris. Di halaman lain dia mengajak wanita berterima kasih kepada model porno karena telah mengajarkan anatomi alat kelamin wanita. Maklum tak semua wanita Amerika (tahun 80-an?) mengenal anggota tubuhnya yang sangat pribadi.

Lantas bagaimana sebaiknya (atau mestinya)? Bualan ini saya tutup dengan penggalan kisah. Seorang teman jadi kaget sekaligus jengah ketika mendengar istrinya ditanya oleh anak lelakinya yang masih SD, “Ibu pernah oral sex?”

Bonus:
+ Kondom bekas pakai

Ada 49 komentar | trackback | Depan

#49

Angga Kusuma Dawami | 15 06 2008 @ 14.32.58

Wew…Bener nie Ayah bisa jadi panduan wat masa depan…
Gmn klo anaknya di ganti a pacar…
So yang kita ajarin bukan anak tapi Pacar…
Jadinya langsung praktek deh….
hehehehehehe:P
Langsung taw gmn hasilnya…
Hahahahahah:D
Cuman canda doank…
Seep Nie Bapak…Nice father…
Pasti dah berpengalaman ya…
Salam Semangat…


#48

Praetorian | 16 03 2008 @ 18.01.57

Allah bknnya rmhnya di sirotul muntahar langit ke-7 ya?

(btul g sih?)
klo yg kayak gini salah bahaya dunia akherat………


#47

blogombal : catatan ringan angin-anginan » Blog Archive » Kampanye Kondom Nasional | 11 11 2007 @ 23.05.23

[...] Dulu, ketika dispenser kondom diperkenalkan, ada sebagian masyarakat yang keberatan. Penyediaan kondom secara gampang, bagi kaum puritan, berarti sikap permisif terhadap hubungan pranikah dan luar-nikah. Malah mungkin ada yang menganggap dispenser sebagai pro-promiskuitas yang menyenangkan produsen bungkus titit (yang ini pasti). [...]


#46

Ricko | 11 10 2007 @ 1.39.58

Crtny lcu bngt,sampai skrg klu ingt crtny,srg trtwa sndr,he…he…Lm knl aj tk yg ad dsni.


#45

Ricko | 11 10 2007 @ 1.38.17

Alat pmbks titit y kndm pak de!sy dlu pny kpnkan,dia brtny?mz kndom itu ap sich,ak jwb kndm itu alt kntrasepsi


#44

pabu | 18 09 2007 @ 13.00.19

lumayan buat tersenyum. slam kenal ya


#43

Putra Daerah | 08 09 2007 @ 21.13.54

Kok dengaren posting kali ini ndak pake ilustrasi. Padahal saya udah ancang2 mo liat gambar yang mungkin hhoooottt….


#42

amien | 04 09 2007 @ 22.49.34

keren, sekedar ilustrasi pak. katanya di belanda sex edukasi dikasih sejak kecil di sd mengurangi freesex malahan.
Di thailand anak tk diajari sex dengan dikasih kondom untuk dikasih orang tua. Kalo ngasih tau-nya bijak malah oke kali ya ???

huhuhu… jadi inget ibu gw deh…
“kamu boleh nonton bokep, tapi jangan kebiasaan nanti kalo pengen malah susah kamu”… hahaha


#41

juragan | 31 08 2007 @ 23.29.16

wuih, saru… but wise


#40

Myr | 25 08 2007 @ 15.32.40

wise father. mestinya nulis buku panduan nih masé .. banyak topik yg kudu disampein tp ngga semua org bisa/ terbiasa. salam buat si bungsu raras


#39

tukang ketik | 24 08 2007 @ 17.29.16

#18:
kalau dikasih foto, tar malah foto k*ndom bekas, mau liat?


#38

mei | 23 08 2007 @ 10.26.58

wahhh layak di tiru nih pakde, secara selama ini aku sellu nyari2 referensi mana yang pas untuk sex education pada anak…maklum duwe anak wedhok pakde =D


#37

Anubis-Condro | 22 08 2007 @ 21.11.32

Jawaban cerdas, Paman.
Dulu juga ada ibu-ibu muda ditanyain begitu oleh anaknya, tampaknya sempat mikir berkali-kali sampai stuck, baru akhirnya bilang. “Emm… itu permen karetnya orang dewasa.” =)


#36

yantee | 20 08 2007 @ 14.44.47

Sex education sebaiknya jgn dianggap tabu. Putri saya (7 thn) saya ajarin perbedaan gender. Juga bahwa tidak semua org yg dia kenal boleh memegangnya, bagian2 tubuh mana yg tdk boleh disentuh org lain, siapa saja yg boleh menggendong atau memangkunya, menghindarkan tontonan mesum di TV, hati2 meletakkan majalah org dewasa (majalah wanita sekalipun). Saya hanya antisipasi Paman, krn ga tega liat berita di TV anak balita diperkosa teman mainnya yg juga msh sd. Salut buat Paman, bisa saya jadikan referensi bila sekali waktu si kecil bertanya.


#35

hutingbaoa | 20 08 2007 @ 14.26.50

truss terang, paman..
inilah topik yg kerap jadi kendala buatku..
biasanya kalo ada pertanyaan beginian, langsung ku forward ke ibunya..
lha, wong sampe sekarang nyang namanya klitoris pun aku gak ngerti..
he..he..


#34

R | 20 08 2007 @ 9.56.20

sejutuh Paman! informasi harus tetap disampaikan, dengan bahasa yang sesuai…
dan meski belum beranak pinak, tapi entah kenapa saudara2 yang lebih muda selalu menanyakan ke saya ttg seks ato hal lain yang sekiranya bakal dibilang “hush…” sama orangtuanya.
yang terbaru ada yang nanya, “mbak, G-Spot itu apa?” mateek.. garuk2 kepala deh si mbak.. bingung ngejelasinnya… kenapa gak nanya hot spot aja seh….
tapi ada bagusnya seh dia nanya dulu daripada nyari G-spot-nya dulu :D


#33

laksono | 20 08 2007 @ 9.09.14

wah bapak yang informatif dan edukatif nih paman tyo…

:D


#32

kw | 20 08 2007 @ 8.40.20

kondom perempuan sebutannya apa paman?


#31

bangsari | 20 08 2007 @ 8.01.34

tips yang berguna, paling tidak biar siap kalo suatu saat punya anak.


#30

Beta Uliansyah | 20 08 2007 @ 7.11.43

Lha dulu aku baca buku Hipnotisme punya ibuku, ada istilah yang aku tanyakan, “Ma, masturbasi itu apa? Kok perlu diobati pake hipnotis?”


#29

kritik-itb | 19 08 2007 @ 21.30.44

top nih postingnnya.
mengajari tanpa menggurui


#28

thya | 19 08 2007 @ 19.33.01

ya, ya, ya…
saya setuju dengan paman, karna saya pun memiliki orangtua yang sama seperti paman.
Waktu kami masih kecil, ketika adik laki2 saya suka ogah dipakein celana sehabis mandi & si bibi ngomel2 sambil bilang “nanti burungnya terbang lho !”
mama atau papa selalu dengan santai menjawab: “bi, itu titit, bukan burung”


#27

rendy | 19 08 2007 @ 15.51.49

kalau saya suka dengan wanita, berarti lesbi yah…

paman paman paman,,,

lesbi itu apa ?

ubi ?

xi xi xi xi


#26

De | 19 08 2007 @ 13.45.44

Anakku bertanya: ma orgasme itu apa? Aku kaget aja dr mana dia tau kosa kata itu.


#25

dhany | 19 08 2007 @ 13.20.54

iya.. habisnya bungkus tetek udah tahu khan..


#24

mbakDos | 19 08 2007 @ 0.25.56

saya mengerti bagaimana rasanya jadi anak yang bertanya demikian kok, pakdhe :D
—–
rasanya seperti sedang duduk bersila atau sedang ngajar? :D
[tyo]


#23

mariskova | 19 08 2007 @ 0.01.47

Ternyata si Om masih pake nama samaran untuk dua alat kelamin itu hehehehehehehe…

Bukan nama samaran. Hanya nama alias, yang dipakai di keluarga saya. Kalau “burung” dan “sarang burung”, itu nama samaran. :D
Tentu, nama resminya — yaitu penis dan vagina — mereka juga tahu. :D

[tyo]


#22

FAZA | 18 08 2007 @ 23.11.57

Dari kecil saya sudah disuruh beli softex oleh kakak… jadi semacam sex education juga, sebab jadi tahu untuk apa itu.. (FYI, saya pria)


#21

IRA LATHIEF | 18 08 2007 @ 23.07.53

Wah…paman Tyo seorang bpk yg sangat informatif sekali…

Jadi inget Waktu umur 10 tahun, sy pernah tny arti kata “SEX ” ke bokap krn ada di cover majalah…

Eh…dia gelagapan….kagak bisa ngejelasin apa-pa tuh :(


#20

firman firdaus | 18 08 2007 @ 21.18.10

pendidikan yang bagus nih. siap-siap ditanya sama Kafka, hehe…Mudah-mudahan enggak sampe nanya “kenapa ada kondom rasa stroberi?” Susah jelasinnya.
—–
Jawabannya: “Karena yang rasa duren nggak enak.” Tambahannya, “Sama seperti permen dan sirop obat batuk, juga sampo dan sabun cair buat cuci tangan, atau pewangi mobil dan cairan pel, juga setip atau karet penghapus, aroma stroberi itu enak baunya, banyak yang suka.”
Hahaha.
[tyo]


#19

Berciuman dalam Mobil | 18 08 2007 @ 20.16.13

Pantesan!
—-
Maksud sampeyan?
[tyo]


#18

fahmi! | 18 08 2007 @ 20.15.35

tumben paman posting ndak pake foto :D


#17

fisto | 18 08 2007 @ 18.54.51

hehehe….smart post…saya belum punya anak sih, tapi mungkin saya bisa belajar dari post ini tentang bagaimana menjelaskan seks kepada anak saya kelak…


#16

budiw | 18 08 2007 @ 17.41.11

Postingan ini top-markotop. Harus dibookmark! Postingan of the year. Kalo perlu dimirror disemua blog.

Soalnya, nanti kalo saya punya anak, saya tinggal baca postingan ini paman…

Kalo ada tips-trick mengajari/meng-edukasi sex kepada si kecil, bolehlah ditulis paman.., kalo perlu, saya sponsori untuk jadi blog tersendiri.. Mau? *niru logatnya 3*

–budiw


#15

triesti | 18 08 2007 @ 17.38.07

dgn bapak saya, saya(&adik) bisa ngomong panjang lebar sampai apa yg keluar dari badan pun bisa dibahas, bahkan saya bisa minta tolong beliin softex kalo pas kepepet… yg paling seru jadi guide ke zeedijk & sex museum bareng ortu.. masak saya yg jelasin ke emak. huahahaha
man.. i’ve been here way too long!


#14

didats | 18 08 2007 @ 15.41.03

hehehehe…
*catet*

iyo pakde, sepertinya memang sebagai orang tua hal-hal kaya gini harus di ajarkan sejak kecil…


#13

toni | 18 08 2007 @ 12.07.05

membaca, menelaah, merenung … besok-besok mau dijawab gimana ya? .. ngeri juga melihat “kritis”-nya anak jaman sekarang ..


#12

venus | 18 08 2007 @ 11.52.08

wuaahhh…saya setuju, paman. biarpun kadang masih rikuh dan pekewuh, mestinya memang kita sendiri yg ngasi penjelasan soal hal2 kayak gini ke anak2 kita. lhoh! kok ‘anak2 kita’??? huehehe…

MERDEKA, paman!!!


#11

dental | 18 08 2007 @ 10.38.36

titit titit.. tititnya berbunyi… *siul siul*


#10

iman brotoseno | 18 08 2007 @ 9.11.05

Anakku pernah ngomong, keceplosan..” wuhh jadi ngaceng deh “..mak ngedeglik jantungku,


#9

Abiha | 18 08 2007 @ 9.04.15

mbesuk-mbesuk minta nomer HP ya pakdhe, ini termasuk kekuatiran saya kalau anak2 mulai banyak tanya yang begini. Biar saya konsul jawabannya sama pakdhe saja.
1 SMS Rp.2.000,- ya ndak apa.


#8

tito | 18 08 2007 @ 8.52.49

kalimat penutup postingnya menohok :D.


#7

Street Marketer | 18 08 2007 @ 8.08.55

Salut Mas,
peranan keluarga dlm edukasi sex memang sangat penting…hal demikianlah yg menuntut keluarga untuk open-mind, alih2 tabu membicarakan hal2 yang demikian akhirnya si anak tdk dpt akses untuk bertanya.. kalau sudah begini si anak bisa bertanya kpd orang yg salah atau malah trial and error???

Keluarga yang patut dicontoh…
btw anak mas tanya wawok itu apa gak? hehehehehe


#6

Nna | 18 08 2007 @ 7.58.13

wah, susah juga ngejawab pertanyaan ini dengan versi yang bisa diterima anak-anak… ;)


#5

pratanti | 18 08 2007 @ 7.07.59

waw… salut! tidak banyak keluarga yang mau dan mampu membicarakan soal sex pada anak-anaknya.
Padahal anak hanya sekedar bertanya, tanpa tendensi apa-apa, sementara terkadang orang tua berpikir yang lebih jauh dari itu (bagaimana nanti kalau dia tanya soal hubungan seks, soal kelainan seks, dll, dsb). Jadilah jawabannya hanya “hush…, jangan tanya begitu” Alih-alih mau nanya, malah jadi dimarahin, tapi pertanyaan tidak terjawab dan tetap tinggal tanda tanya… :)

Paman, salam kenal ya…
Jadi terinspirasi bikin tulisan tentang topik ini juga… kalau nanti saya link, boleh kah?


#4

Yudhi | 18 08 2007 @ 3.42.44

kayanya susah utk bisa seperti sampeyan dhe.hehehe.karna normalnya keluarga yang pernah saya temui,agak jengah dan risih kalau anak2nya (yang blm cukup umur) bicara tentang sex seperti ini,bahkan cenderung tabu.hehehe.anyway,salut buat pakdhe yang bisa menjelaskan secara bijak =)


#3

hielmy | 18 08 2007 @ 1.57.31

cukup bijak paman, memang anak itu harus “diajarin sex” sejak dini, agar dia mengerti dan nggak salah kaprah dalam mengartikan sex. tapi memang kadang kita risih kalo ngomongin masalah begituan apalagi dengan anak kecil, susah juga menjelaskan dengan bahasa yang dimenerti mereka. BTW mana nih skrinsyutnya? nggak biasanya tanpa skrinsyut? apa nggak mau nampilin produk? tar disangka iklan yah… ^_^


#2

ngadimin | 18 08 2007 @ 1.04.16

jadi penasaran, utk kalimat penutup. jawabannya apa yah?


#1

Hedi | 18 08 2007 @ 0.42.39

Pertanyaan anak soal seks, mungkin kita masih bisa jawab. Namanya juga naluri. Yang repot waktu saya pernah ditanya anak kecil, “Tuhan itu rumahnya di mana?” :D