Burungnya Sudah Mati, Bos!
KUPING KITA TAK PERNAH PUAS.

Dasar kuping saya kelas abal-abal, meski mulanya risih akhirnya kebal juga oleh gemericik air dan kicau burung. Suara air dan burung itu palsu. Cuma tiruan, dipancarkan oleh sebuah rangkaian elektronik seperti yang Anda dulu bikin saat belajar elektronika.
Suara itu merupakan bagian dari paket hiasan dinding yang banyak dijual. Yaitu kotak neon bergambar pemandangan, bikinan RRC, lantas ada tombol untuk menghidup-matikan suara. Ya suara air dan burung tadi. Noise not voice.
Di tempat saya rehat itu, pengunjung lain yang datang belakangan rupanya tak tahan. Dia panggil pelayan kedai kopi, “Hoiii matiin itu suara. Berisik tau?!”
Pelayan segera bertindak. Dengan memanjat sandaran sofa dia matikan suara itu. Dia lapor, “Burungnya sudah mati, Bos! Barusan saya tembak.” Ternyata parit pun sudah dia bendung. Gemericiknya hilang.

Kita mungkin akan menyebut manajemen kedai itu norak. Bukannya memasang paket Bose dengan spiker sekepalan tangan untuk pengiring seruputan tapi malah memasang kotak neon bernyanyi yang pating kresek.
Tapi bagi saya, upaya itu layak dihargai. Dengan keterbatasan dana dia sudah mencoba menghadirkan suasana alami melalui reproduksi suara.
Masalahnya, kuping manusia selalu rewel. Mereka yang kupingnya sepeka monyet, dan berduit banyak, tak sayang berboros untuk audio supaya Acoustic Alchemy serasa bermain di depan kursi malasnya, dan lain kali cello Yo-Yo Ma dimainkan di depannya, lantas lain saat petikan gitar John Petrucci dan denting piano Jordan Rudess menjadikannya sebagai penanggap duo kampiun secara privat.
Hi-fi terus berkembang. Untuk kelas tertentu harganya semakin memurah. Micro hi-fi untuk meja kerja sekarang bisa didapat dengan harga Rp 1,5 jutaan — tapi bukan Yamaha Pianocraft apalagi paket mungil bertabung dari Audio Analogue yang tanpa setelan bass dan treble itu.
Hi-fi berkembang dan kuping manusia tetap tak puas. Maka maklumilah jika ada orang melecehkan MP3, dan tak sayang duit untuk menikmati piringan hitam beserta perlengkapannya seharga lebih dari Rp 100 juta.
Padahal kalau dipikir-pikir, yang mereka kejar adalah reproduksi suara untuk disusupkan ke sepasang kuping.
Jika ingin menikmati air terjun dan kicau burung, datanglah ke tempatnya yang asali. Tapi bagaimana menikmati suara para almarhum — sejak Bing Slamet, Bing Crosby, Jim Morisson sampai Freddie Mercury — itulah masalahnya. Produk rekaman tetap dibutuhkan.
Saya? Kuping saya jelek. Kocek saya cekak. Dan saya termasuk yang nrima ing pandum, dengan risiko kena tempeleng pendulum.
NB:
Kenapa sih dunia audio selalu dihubungan dengan lelaki dan menggenapkan ledekan “boys will be boys”? Memangnya wanita kurang suka?aggregate limits loan student$20,000 fair credit loanalabama hud loanscar alaska turck loan401k loan bankruptcyauto loan 5.5bad credit loan 12000loans $900,000 Map
17 Responses to Burungnya Sudah Mati, Bos!
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Dering Telepon Landline February 10, 2012Suatu hari fixed-line kantor berdering berkali-kali. Mirip kantor betulan! Binis adalah krang-kring. Seperti dalam film lama. Tetapi kini orang kantoran makin sering berponsel. Langsung ke tujuan. Tarif lebih murah. Di rumah pun telepon kabel tak seaktif dulu. Selain untuk memesan gas dan air galonan, telepon untuk interlokal. Mungkin semakin jarang keluarga […]antyo
- Dering Telepon Landline February 10, 2012
Cicitcuit!- RT @cho_ro: Jadi social smoker itu karena gak ada obat mati gaya. masalahnya dari social smoker ke pecandu itu tinggal selangkah ~ @pamanTyo February 10, 2012 glennypy6 (Glenny Jonathan)
- RT @cho_ro: Jadi social smoker itu karena gak ada obat mati gaya. masalahnya dari social smoker ke pecandu itu tinggal selangkah ~ @pamanTyo February 10, 2012 hollowayzr4 (Holloway Wharton)
Recent Posts
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
Archives
Random Posts
Hari tanpa TV Boleh tanpa Partisipasi
July 22, 2006 by Antyo“JADI aku besok nggak boleh nonton TV, Pak?” tanya si bungsu Raras. Dia menanggapi Hari tanpa TV besok Minggu. Kakaknya, Day, yang sudah mendengar Hari tanpa TV itu ikutan, “Iya Pak, nggak boleh? Emang napa?”
Jawaban saya, “Boleh kok. Nggak apa-apa. Toh selama ini kita nonton TV nggak berlebihan.”
Jawaban yang sok [...]
Recent Comments
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (87)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





ok kite gabung dapat shareng tentang poto ok
kalau bagi pemilik kuping itu penyuka burung bagaimana bang? apakah akan dibegis juga pemilik kafenya :) salam kenal
aku seneng bunyi gemericik..tapi mungkin kalau lama2 juga bikin anyel..khan kadang orang pgn ketenangan…iya khan pakde=D
suara palsu penjual burung berkicau jauh lebih reseh..
karena bikin orang ketipu..
mbilung gemblung…
Huahaha, posting yang “kena” banget :)
Minggu lalu saya tanya sana-sini soal home theater, rekomendasinya beli yamaha lepasan yang harganya selangit. Berhubung telinga saya berkasta rendah (apalagi dompet saya), sudahlah beli sebisanya pada tanggal 19 Agustus 2007.
Eh, besoknya “kena sindir” di blogombal. Huahaha…
wanita saya memang tidak suka musik pakde…
Susah mau diskusi soal Kurt Cobain sama dia ha..ha..ha..
jadilah kalau ada acara musik tidak saya bawa.
Kata saya, “Musik bagus”
Katanya “Berisik!”
iya, knapa sih ada anggapan bahwa wanita pasti gapteknya, cuma suka brg elektronik untuk gaya-gayaan dong…
tuduhan yang kejam !
;-)
nah kalo yang kayak gini aja bilang kupingnya jelek, gimana kuping gw ya??
Itulah paman, kenapa para wanita tidak mengerti bahwa kita ini penikmat sound (dan juga otomotif). Kenapa ya ?
Di daerah jatiwaringin atau pondok gede (?-maaf saya lupa pastinya), seorang anak bangsa ada yang ahli bikin macem-macem sound system dan selalu juara test sound tingkat dunia… Ini pernah dikupas oleh Mas Budiato Sambazy dalam kolom Politika-nya..
saya suka kesal kalo di restoran musiknya keras-keras. gak nikmat rasanya makan.
wanita kan cuma suka mike-nya pakde..
bukannya kurang suka, tapi kurang paham, bang paman. kalo kebeneran pas denger nyanyian bang predi yg sangat “hidup”, rasanya seperti dengar suara dari alam kubur. bikin bulu kuduk berdiri.. =’.'=
di sebuah rumah makan yang menampilkan musik hidup, saya pernah hampir membayar penyanyinya untuk berhenti menyanyi.
dulu waktu saya masih ngantor di bilangan sudirman. tetangga cubicle pasang screensaver teletubbies. yang brisiknya bisa bikin trance atawa njathil..
karena saya nggak begitu kenal dgn orangnya (agak jutek sptnya) akhirnya saya milih beli headphone yang closed air.
eh keterusan sampai sekarang malah koleksi headphone huehehehe…
selera memang beda-beda. sudah juga kalau semua satu selera, bosannya bisa barengan kali ya hehe