Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Wireless Remote Controller

Minggu, 26 Agustus 2007 @ 10:58 | Personal

KITA INGIN MENJADI PENGENDALI, BAHKAN PENGUASA.

remote controller gombal

Teknologi adalah perpanjangan fungsi indera dan anggota tubuh kita. Dengan itulah, diharapkan, kita menjalani hidup lebih gampang dan enak. Sebut saja remote controler untuk TV.

Alat itu menjadikan kita malas mengangkat pantat karena pemencetan tombol akan menyelesaikan urusan. Kepada kotak ajaib ini pula, pengelola stasiun TV dan rumah produksi berharap-harap cemas. Begitu pula para juragan stasiun radio.

Remote controller untuk TV di rumah saya sudah beberapa kali ganti karena rusak. Penyebab utama ya jatuh. Lantas saya belikan pengganti di kaki lima, dan yang terakhir di toko murah meriah. Alhasil TV layar cembung kuno 21 inci (kesian ya?) itu masih bisa dikendalikan. Kalau saya boleh menyombong, TV saya sudah berwarna lho.

Saya masih mengalami pesawat TV tanpa remote controller. Tapi itu pun sebetulnya bukan soal, karena saat itu percuma juga punya TV berbanyak saluran kalau yang siaran cuma TVRI. Yah, saya bukan MTV generation, melainkan TVRI generation.

Apakah pengendali jauh itu harus nirkabel? Pada akhir 70-an, ada TV punya teman yang pengendalinya berkabel. Itu sudah bagus, karena penonton tak perlu menangani pesawat TV dalam arti harafiah.

Sekarang hitunglah berapa jumlah remote controller di rumah Anda. Tak hanya untuk TV kan?

Saya juga ingin tahu seberapa sering sang pengendali ngumpet di balik bantal atau terselip dalam celah sofa atau terselimuti koran dan tabloid. Kalau barang tak ditemukan kita nyap-nyap, merasa dunia penuh alap-alap.

Saya punya set pemutar musik rakitan biasa; satu merek, bahkan satu seri produk. CD player, tuner, dan amplifier masing-masing punya satu remote controller. Tampangnya sama. Maka bertambahlah jumlah pengendali — dan kerepotannya.

Bagaimana menangani beberapa remote controller, Yuni Jie punya resep. Misalkan ditaruh dalam kotak khusus.

Mau ditaruh di mana pun, remote controller membuktikan bahwa kita selalu ingin menjadi pengendali. Lihat saja bagaimana orang berebut menguasi alat pengendali TV.

Belasan tahun lalu, di salah satu kantor lama, seorang teman membawa remote controller dari rumah. Dia fotografer, namanya Umar “Umay” Widodo. Setiap seseorang memindahkan saluran, dalam segera tayangan kembali ke saluran semula atau malah berpindah ke saluran lain. Itulah Umay punya ulah. :D

Hampir dua puluh tahun lalu, ketika Casio mengeluarkan arloji yang merangkap remote controller, saya ingin memilikinya.

Buat apa? Mengganti saluran — kalau perlu mematikan — TV di apotek, bandara, dan tempat umum lainnya. Untunglah saya tak punya duit, sehingga niat itu tak terlaksana.

Ada 26 komentar | trackback | Depan

#26

samsul | 10 05 2008 @ 5:04:51

kita pengin beli antena wirelles apa ada?


#25

wilis | 21 03 2008 @ 14:52:57

Teknologi semakin canggih, semakin mempermudah manusia dalam berbagai aktivitasnya
http://www.netkom-wifi.com


#24

blogombal : catatan ringan angin-anginan » Blog Archive » Layar Tayang | 07 12 2007 @ 19:13:30

[…] Semuanya berkelebat. Bahkan jika durasinya panjang, mata kitalah yang menatapnya sekelebat. Hanya orang kuno dari zaman sedikit stasiun dan tanpa wireless remote controller yang menonton televisi sebagai ritus seperti di bioskop: dipersiapkan benar, penuh konsentrasi. […]


#23

blog | 06 12 2007 @ 3:53:02

hi…

usefull…


#22

mina | 04 09 2007 @ 8:03:31

oo… jadi remote itu bisa dipake ke alat elektronik lain yang serupa ya? baru tahu.


#21

rezayazdi | 31 08 2007 @ 18:21:29

Huahhahahaha…
kalau saya lagi di bandara, sedang nonton tv, lalu tv tiba2 mati atau berpindah saluran, tinggal cari bapak-bapak berkepala plontos… Tersangka utama nya … hahahahhahaha
—–
Kalau semua orang di situ plontos, kecuali Anda, lalu bagaimana? :D
[tyo]


#20

ojobingung | 28 08 2007 @ 21:29:38

oalaah..yg bener ternyata sebutannya “remot kon..trrol..ler” tho..(uupps hampir aja..). baru sadar nih..


#19

masse | 28 08 2007 @ 20:30:38

Ada Universal Remote Controller, ini yang bikin saya ngiler pengen punya Nokia 9300. Sayang sampai saat ini tetep belum gablek duit buat nombokin :)


#18

dhany | 27 08 2007 @ 23:28:09

remote control terpanjang adalah, sebilah rotan untuk mencet tombol televisi…
pasti nggak ada yang pernah punya kecuali aku..


#17

dheche | 27 08 2007 @ 17:54:45

gak beda jauh dg pengalaman mbilung (#2) dan andrias (#10), kalo yg pertama kita lebih sering menyebutnya remote “kongkon” (bhs jawa yg artinya menyuruh), sedangkan yg kedua pengalaman waktu msh nge-kost, cuma punya tv 14″ yg remotenya dibuat pake gagang sapu/pel, secara ruang kos2an gak terlalu gede, jd gagang sbg remote cukup representatip lah unt selalu ditaro disamping dipan.


#16

halah_mak! | 27 08 2007 @ 16:00:40

udah lama aku tak pernah pegang barang ini..
karena udah dimonopoli anak2 dan ibunya..:-)


#15

iway | 27 08 2007 @ 13:20:33

saya masih ngalami punya tipi item putih yang ngganti channelnya diputer paman, pake aki lagi hehehehe jadul ya


#14

jalansutera | 27 08 2007 @ 12:50:34

bos, saya jadi ingat pilem berjudul Click yang diperani oleh Adam Sandler.

IMDB meringkaskannya utk kita: “A workaholic architect finds a universal remote that allows him to fast-forward and rewind to different parts of his life. Complications arise when the remote starts to overrule his choices”

Pilemnya lucu, tapi kebanyakan sih berlebihan, nggak logis. Asuiklah jadi tontonan dibanding sintentron kita yang super wagu…


#13

kw | 27 08 2007 @ 12:29:48

aku kok lebih ndeso ya, sejak jatuh, aku gak mau beli remote lagi. karena aku tak suka nonton tv. beruntung ada tipi yang isinya berita mulu. jadi gak perlu angkat-angkat pantat. :)


#12

yantee | 27 08 2007 @ 10:39:08

Paman, karena buru2 turun saya pernah salah bawa, dikira HP ternyata remote tape mobil…


#11

balibul | 27 08 2007 @ 10:37:05

loh jaman aku cilik kae kon makani tiap sore, “le ijo2ne gowonen nang kandang marmote le”


#10

andrias ekoyuono | 27 08 2007 @ 9:37:53

temen saya pernah bikin “remote” dari bambu, dipakai untuk mencet tombol tivi dari jauh


#9

didi | 27 08 2007 @ 9:30:13

kemaren tvri ultah ke 45. kok sepi2 aja yah??


#8

F4T80Y5 | 27 08 2007 @ 9:30:12

Ada Program Remote TV yang berbasis symbian yang bisa jalan di HP Nokia yang o/s-nya symbian…. dulu sy pakai di 3650.. sering pake untuk ganti remote TV di Kantin Kantor dan tempat umum lainnya tanpa orang lain tahu saya yang ganti… karena dikirian lagi baca SMS… :)


#7

thya | 26 08 2007 @ 20:26:52

yang jelas remote control tipi harus dijauhkan dari ayah, karena beliau kalo nonton tipi lebih sering pencet2 remote, ga jelas pengen nonton apaan…
begitu nemuin acara yang menurutnya berkenan ditonton, paling juga cuma 10-15 menit nontonnya, keburu ketiduran :D


#6

maseko | 26 08 2007 @ 19:13:35

Dulu di rumah, sering sekali remote control jadi biang keributan diantara adik2 saya (saya nggak ikut, karena sewaktu saya di sana, TV-nya masih tanpa remote). Setelah salah satu adik saya akhirnya membanting dan remotenya rusak, bapak nggak mau lagi beli lagi yang baru, dan keadaan menjadi sedikit lebih ‘tenang’.


#5

avianto | 26 08 2007 @ 17:51:48

Pakai ‘universal remote control’. Satu remote untuk semua, harga agak mahal tapi cukup satu - yah, kecuali nanti jatuh dan rusak lagi =D.


#4

handaru | 26 08 2007 @ 15:42:57

Ya, paman, manusia terkadang ingin sebegitunya berkuasa. Bahkan bukan hanya alat yang dia ingin kontrol tetapi kalau bisa kehidupan juga dia kontrol termasuk hidup orang lain. Seperti filosofi dibalik film berjudul “Click” yang dibintangi Adam Sandler dari Sony Pictures.


#3

Dimas | 26 08 2007 @ 13:20:57

Apa karena ada remote control sehingga produsen TV mengabaikan keawetan tombol di TV? TV di kos saya sudah rusak tombolnya pdhl ngga lama2 amat. Awalnya gara2 baterai controllernya abis, trus pada malas beli jd memilih untuk pencet2 tombol di tv langsung (walau nggak harus pakai tangan :) ), toh nontonnya ngga jauh2 amat dan kanalnya jrg diganti (cuma sedikit TV yg berbaik hati dgn tidak memutar sinetron yg gak jelas juntrungannya).
Namun apa nasib skrg tombolnya juga rusak. Sekalian TVnya jrg hidup. Hik2. (koq jd curhat)


#2

Mbilung | 26 08 2007 @ 11:58:00

jaman tv masih hitam putih eyang putri saya sudah pakai remote control “le…suara tvnya dikecilkan”, “le…tvnya dimatikan” …

si cucu yang semprul itu menjawab, “eyang, i’m not programmed to do that… i’m just a bird watcher…” :D
[tyo]


#1

Mamat | 26 08 2007 @ 11:38:30

Hidup saya makin mudah dengan benda itu, tapi hasrat saya tak terbendung, sehingga tersiksa.

Bukankah kenikmatan itu adalah kemampuan menahan diri?