Pondok Indah bukan Negara Indah
PERIHAL PENOLAKAN TERHADAP BUS WAY.
Apa yang saya bayangkan tiga tahun lalu di blog lawas mirip gelagat hari ini. Dulu saya bayangkan warga Pondok Indah, Jakarta Selatan, menutup jalan untuk umum. Sekarang mereka menolak dilalui koridor bus way. Tak sepenuhnya menolak sih, toh mereka juga menyodorkan alternatif.
Gubernur terpilih Fauzi Bowo, yang masih menjabat wagub, bilang bahwa PI bukan negara tersendiri. Artinya harus mau diatur.
Sedangkan Gubernur Sutiyoso bilang, “Saya yakin yang keberatan itu orang kaya.” Ada juga bumbu populis: “Saya pasti menangkan kepentingan warga miskin…” Gagah, kan?
Sejujurnya saya nggak paham peta masalahnya. Saya belum mempelajarinya (hayah, kayak pejabat).
Saya tak paham perjanjian setiap pengembang perumahan (rumah mewah maupun rumah payah) dengan pemda.
Saya belum tahu apakah fasilitas milik perumahan yang dirawat sendiri itu juga berarti milik pemda.
Saya juga tak tahu, setelah semua rumah dan tanah terjual lunas, sehingga pengembang boleh cabut (tanpa serah terima ke Pemda), tanggung jawab dan kewenangan fasilitas ada di tangan siapa.
Jika menyangkut penataan fungsi bangunan, misalnya hunian tidak boleh untuk toko atau kantor, saya paham. Perda tidak membedakan kompleks perumahan swasta maupun bukan.
Lha kalau jalan? Sejauh melingkup jalan di lingkungan dalam, warga dan pengembang “boleh” membuka-tutup — bahkan “kalau perlu” memasang gerbang setinggi tiga meter.
Itu sesuatu yang umum setelah Kerusuhan Mei 98. Misalnya di Pluit dan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Oh ya, juga di sebagian Kota.
Nah, jalan utama kompleks besar yang menjadi penghubung antarkawasan, sehingga boleh/bisa dilintasi oleh setiap orang kapan saja, itu milik siapa?
Saya belum tahu payung hukumnya. Bisa saja “rasa perikeadilan” mengalahkan legalitas. Prinsip oportunitas, bahwa kepentingan mayoritas warga adalah segalanya, bisa saja dirujuk.
Kawasan PI bercitra (dan memang bersosok) elitis — padahal ada juga rumah tipe biasa di dalam. Penolakan oleh orang makmur akan dianggap sebagai kesombongan sosial (kesian juga jadi orang kaya).
Taruh kata — ini baru misal (untunglah tidak) — mayoritas penghuni adalah (maaf) suku Cina, superkaya pula, maka sentimen rasial bisa ditiupkan, tapi masalah dasar diabaikan. Itu lho masalah payung hukum.
Bagaimana jika warga sebuah perumahan kelas payah menolak rencana tertentu pemda?
Mungkin tak akan kencang kontroversinya. Padahal bisa saja di dalamnya ada Cinanya juga. Artinya “pasal Cina” tidak siginifikan (pengamat dan politikus doyan istilah “signifikan”, kan?).
Setiap masalah berkemungkinan menjadi peka jika ras dan kemakmuran digabung lalu dipertentangkan dengan (apa yang diyakini sebagai) kepentingan publik.
Sekusut itukah Jakarta? Yah, desa besar ini tumbuh bukan dengan perencanaan seperti kota baru yang modern. Jalan penghubung pendek antarkawasan kadang tak terpikirkan.
Mungkin saat pemberian konsesi kepada pengembang, hal itu sudah masuk dalam perjanjian. Di sisi lain pengembangan juga berkepentingan dengan aksesibilitas dan ehm… tanggung jawab so(k)sial. Tapi bisa juga tanpa perjanjian.
Gimana nasib bus way di PI? Kayaknya sih bakal ada win-win solution deh (uh, sok tahu!).
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
Cicitcuit!- Saya jadi ketawa ngeliat komentar @pakde Totot pada kolom komentar blogpost "Memahami FPI" punya @pamantyo baca saja -> http://t.co/RjtBfBdd May 19, 2012 sibair (Bair)
- :'( RT @dannytumbelaka: @TonnySukirno @PamanTyo bangaip @motulz RIP Donna Summer... May 18, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Mathemagic is Wonderfool
March 13, 2007 by AntyoGOMBAL TAPI KREATIF LAGI EDUKATIF.
Saya pencet kalkulator. Mencocokkan jawaban kilat Mas Entahsiapa. Kalkulator menjawab 27.232, membuktikan mulutnya yang tadi bilang “dua tujuh dua tiga dua”, sebagai hasil penjumlahan 9.673 + 3.428 + 7.234 + 6.897.
Angka-angka yang aslinya tak bertitik itu mewakili baris demi baris dari bidang jejeran empat balok plastik seukuran [...]
Recent Comments
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
jimmy» bagus sekali artikelnya, thx
jimmy» Nice Informasinya gan,, sangat membantu sekali.. :)
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Wah aku bingung je, gak bisa kasih solusi, biar Fauzi Bowo aja yang kasih solusi, dia khan orang pinter, mungkin karena minum tolak angin juga
kalo soal jalan sih dimana-mana g ada kita beli rumah (bagus/payah) berikut dengan jalan yang ada di depannya kan ? jadi setau ane jalan adalah arena publik…
kalo yg bentuk cluster dhak tau deh…
kalo busway sih sebetulnya nyaman tapi kalo uyel2an kayak umbel dan sarden pas rush hour, mana mau orang kaya….
tapi yang namanya public facility disediakan baik untuk si kaya dan miskin to ??? kalo yg naek mobil berkurang udara lebih bersih seharusnya semua senang ?? ato udara yang kita hirup udah ada lapisan sosialnya ???
saya mampir lagi…
tentang busway di PI, kalau lewat jalannya itu, harus dilebarkan loh. kalau dilebarkan, mungkin pada protes tapi ya kembali dey itu jalannya siapa. kalau ada pembebasan lahan, itu harganya mahal bgt, apa ga jadi lahan amplop disana sini juga :p
lantas, kenapa harus bawa masalah etnis ya? dan kenapa ketika bahas jalanan jadi ada kisah mei 98 sementara tak ada pengusutan mengenai hal tersebut?!!!
saya rasa masalah busway masi polemik… nah mungkin saja supaya “melancarkan” program dihembuskanlah intrik-intrik yang kalau sudah dikaitkan akan jadi ribut (mis: sosio-ekonomi). jadi ya, hati-hati saja si :D
kenapa sentimennya jadi mojokin yang kaya?
kalau ternyata jalan PI itu bukan jalan umum, berarti seharusnya ya sah-sah aja penghuni komplek PI protes, siapa juga yang mau kompleknya dipotong jalan ya kan?
kalau ternyata jalan Pi itu jalan umum, ya warga PI mau gak mau ya ngalah.
jadi yang pertama harus dicari tau adalah itu jalan umum atau bukan? baru dari situ ketahuan
orang kaya gak perlu busbay ,mobilnya aja dah berjejer
setidaknya, BusWay bisa mengikis sedikit kemacetan. Itu adalah alasan dasarnya.
Bagi saya, bus way adalah angkutan yang paling nyaman dibandingkan yang lain.
Andaikata, semua orang di Jakarta mau naik alat massal ini, saya rasa ibu kota akan menjadi lebih nyaman.
Nanti, kalau pulang ke Indonesia, saya akan menggunakan XL Paman?!
Bus Way? Why Bus? Why not?
“Sedangkan Gubernur Sutiyoso bilang, “Saya yakin yang keberatan itu orang kaya.” Ada juga bumbu populis: “Saya pasti menangkan kepentingan warga miskin…””
Warga miskin mana yang naik busway? Dasar gubernur aneh…
wuihhh paman dapet iklan juga
Sekali-kali dong..orang kaya perlu juga merasa tergusur..masak sih dari dulu hanya orang miskin saja yang selalu kegusuran…..:-D
jangan nolak lah, bukan makin bagus kalo makin gampang akses ke daerah PI dengan adanya busway. :D
-IT-
lha kalo ngambil akses ciputat raya bablas kebayoran, apa ga lebih macet paman? ato mending PI pake monorail aja?
heh… untung ga jadi ngambil KPR BTN di PI bulan lalu…..
“kalau bisa beli mobil, ngapain naek bis..!”, gitu kira-2 ucap si kaya
Saya ini orang Cilincing, Paman. Pinggiran Jakarta.
Kalau ada busway melewati kampung Cilincing. Jelas menolak. Karena angkutan umum KWK 05 bakalan nggak laku. Belum lagi ojek moter, pasti mati angin. Lalu ada ojek sepeda ontel, yang pasti terbirit-birit lari disenggol busway.
Cilincing tidak kaya. Malah masuk kategori Inpres Desa Tertinggal. Namun apabila ada busway, jelas mengancam keselamatan kantong pekerja transportasi murah. Belum lagi, mengancam keselamatan anak-anak kecil yag doyan maen di jalanan utama yang sudah sedemikian sempit akibat kontainer super guede yang lalu lalang dari pelabuhan.
Kalau di Cilincing, karena miskin, pasti banyak yang nolak busway.
Tapi kalau di PI, nolak busway alasannya apa? Emang anak-anak kecil di kampung mereka doyan maen di jalanan?
hehe
sacrifice – sacrifice – sacrifice..
argh… puyeng, mual….
Kemaren saya baru ngobrol soal ini sama seorang lawyer. Katanya, orang PI sulit menang karena busway untuk kepentingan umum (angkutan umum). Kalo ada yang berusaha menghalangi, itu masuk delik pidana.
sebetulnya yg bikin macet bukan bus way, tapi jumlah kendaraan yg terus bertambah. kaya atau miskin, sama aja dah.. sama2 mewariskan polusi, sampah, utang dan pola pikir boros energi buat anak cucu.
poinnya sama aja dengan jalur2 busway selain koridor 1. Yaitu jalur busway mengambil jalur kendaraan lain, kendaraan lain jadi macet, namun buswaynya sedikit. Akhirnya penumpang busway empet2an, jalan pun juga makin macet.
kalau jalannya 3 jalur dan 1 jalur dipakai buat busway saya rasa sih pada gak keberatan. lah ini cuman 2 jalur, yang tengah jalur hijau udah capek2 ditanamin pohon palem mau ditebang. gak perlu pake embel2 lingkungan elit & orang kaya saya rasa semua penghuni juga keberatan kalau jalur hijau nya diserobot
wekekekek. mari kita lihat hiburan adu kuat dan kuasa antar pejabat. jarang lho ada hiburan seperti ini…
weh, iklannya sudah sampai sini. makan-makan pakde. hehehe
biar makin macet sekalian!! hehehe….
mari menimbang segala aspek positif maupun negatif dari adanya busway di PI.
kalo dgn adanya busway kepentingan khalayak yg lebih besar (saya benci mengatakan ini, tapi demokrasi terkadang adalah soal mayoritas-minoritas), maka sudah sewajarnya bila penduduk PI tdk boleh menolak busway itu
win-win solution itu kalau yang berunding winarto dan winarti. dalam kasus pi, secara sok tahu, saya menduga yang menang adalah pengacara, apapun hasilnya.
baru ngeh kalau itu jalan komplek :o