BERURUSAN DENGAN ANGKA YANG MEMBINGUNGKAN.

“Ah cuma lima meter,” saya membatin. Berarti sehabis pengkolan akan bertemu tukang ojek mangkal. Ternyata tidak. Saya menjumpai papan petunjuk yang sama.
Pengertian “lebih-kurang” yang diwakili oleh simbol ± ternyata relatif. Bisa lebih belasan meter, seperti yang terbukti di dekat kampus Unika Atma Jaya, belakang Plaza Semanggi, Jakarta. Pangkalan ojeknya ternyata agak jauh.
Seberapa jauh? Saya tak dapat menaksir. Mungkin karena pengenalan spasial saya payah. Tapi itu bukan masalah. Yang penting pangkalannya terlihat, kan?

Tidak semua dari kita dapat menaksir dimensi mendekati tepat. Maka untuk jarak aman, Jasa Marga sampai bikin contoh di jalan tol. Bermula dari titik 0 meter, kemudian 50 meter, dan akhirnya 100 meter.
Terukur dan terbukti, itu bagus. Tapi dalam kehidupan sehari-hari kadang sulit. Beda reporter beda ukuran. Beda blogger beda amatan. Yang satu bilang jaraknya 100 meter, yang lainnya bilang 200 meter. Belum lagi jika menyangkut jumlah penonton suatu acara.
Deskripsi wartawan Tempo, yang melaporkan panjang tumpukan kayu sitaan di Riau, itu bisa buat contoh kelas jurnalistik. Dengan sebuah motor baru (tanpa menyebut merek), tripmeter disetel nol, lalu kendaraan dijalankan 30 km/jam, butuh “sekitar setengah jam” untuk melewati tumpukan kayu itu (edisi 16 September 2007, hal. 28).
Masih ada tambahan simplifikasi yang bagus. Editornya menulis, bila kayu dijejerkan sejak Istana Negara maka akan berakhir di Blok M. Cocok untuk pembaca di Jakarta. :D
Ketika berurusan dengan angka kita memang butuh perbandingan. Maka sungguh menyenangkan jika para guru selalu memakai itu. Misalnya laju penggundulan hutan kita yang setiap 12 detik seluas satu kali lapangan bola. Sayang banyak guru lupa melakukannya.
Saya dulu, semasa bocah, sulit sekali membayangkan “satu kilometer” dan “satu jam”. Terutama bila blusukan ke pedesaan dan menanya jarak tempuh kepada seseorang. “Sakrokokan” atau “seperokokan” pun membingungkan karena kami, anak-anak, belum merokok. Setelah mengenal rokok, ternyata durasi isap setiap orang berbeda — tergantung pada jenis rokoknya pula.
Menyangkut angka, jika magnitudanya melebihi nalar dan kebutuhan, maka kita cenderung mengatakan “pokoknya gede”. Hutan hilang. Kemplangan BLBI. Persentase anggaran bocor. Jumlah korban kerusuhan politik dan bencana alam. Dan entah apa lagi, silakan Anda tambah sendiri.






funkshit | 20 09 2007 @ 15:56:20
klo saya pernah dikasih petunjuk, suatu tempat itu sampe beberapa langkah dekat belokan. tapi kok jalan nya lurus ngga belok2 :(
stevie | 20 09 2007 @ 11:52:00
Jadi inget waktu tugas di Timor Timur dulu tahun ‘95. Ada penduduk ngasih petunjuk 1 kilo meter sambil menunjuk bukit di depan, ga taunya harus mendaki lagi bukit di belakanyanya…he..he..h..he..he.
jalansutera | 19 09 2007 @ 11:54:20
meteran memang bukan bikinan orang indonesia. makanya, dalam bhs indonesia ada istilah “jaraknya sepelemparan batu”. kalo yang lempar batu anak kecil, ya jaraknya dekat. nah, kalo yg lempar batu adalah atlet lempar lembing, bisa jadi ya sejauh mata memandang. jadi, ya relatip ya bos…
escoret | 19 09 2007 @ 10:52:45
kalo di kaliurang ada sebutan lucu lagi…!!!
tinggal satu gundukan lagi [red-desa yg terbentang tautan gundukan gunung].hehhehe
pineee | 15 09 2007 @ 17:29:57
hehe…make sepeda aja paman. sekalian kita kampanyekan sepeda biar negara kita ini bebas polusi dan warganya sehat semuah
dhany | 14 09 2007 @ 10:04:36
sak-rokok’an, kalau orang kuno pake kelobot yg lupa diisap jadi tambah luaaamaaa.
kardjo | 13 09 2007 @ 22:35:55
Kalau bahasanya Wiro Sableng 212.. jarak 1 km jalan kaki cuma ’sepeminuman teh’… (itu kalau nyruputnya pelan-pelan apalagi kalau panas mon gah-mongah..)
Btw, Matahari se-penggalah itu berarti matahari dekat banget ya… gak perlu ribuan tahun cahaya.
penggalangan dana | 13 09 2007 @ 14:34:36
jadi inget orang orang kampung kalo bilang jarak. bilangnya cuman 1 kilo, jalan kaki hampir sejam baru sampai. byuh…
irfan | 13 09 2007 @ 10:56:41
Kalo di sunda, caket, eta katingali disisieun gunung nu eta.
Masa deket dibilang dipinggir gunung yang.
umay | 13 09 2007 @ 9:38:08
sedepa itu segimana sih? saya kok lupa, tadi baru disuruh beli bambu
poy | 12 09 2007 @ 23:42:13
yang udah jelas pake angka aja ternyata masih bisa relatif, gimana yang ditanyain kapan kawin, trus dijawab ’sebentar lagi.’
(eh bukan curhat colongan loh! :P)
kwak kwik kwek | 12 09 2007 @ 16:34:22
ojek sih ajeg..:-))
ojek is maihiro..:-))
annots | 12 09 2007 @ 10:46:57
Mana yang bener, Ojeg atau Ojek??
iway | 12 09 2007 @ 8:52:25
jadi sering main ke daerah situ man? lagi ada mega proyek ya? apa gusdur proyek?
Beta Uliansyah | 12 09 2007 @ 8:01:22
Seperminuman teh. Pohon tehnya ditanem dulu. :D
galih | 12 09 2007 @ 7:06:37
Dulu, sebelum tahu Jakarta, saya selalu bilang ukuran waktu untuk menyatakan jarak. “Kira-kira 15 menitan sampai kok.” Itu berarti sekitar 5 km. Lha sekarang di Jakarta, 15 menit bisa jadi 2 meter saja, heuehuehue…
fahmi! | 12 09 2007 @ 4:54:26
5 meter itu kira2 sepelemparan batu kali ya? :D
zainul | 12 09 2007 @ 2:49:27
kalo -5 (minus) meter? Ke arah yg sebaliknya.
Imponk | 12 09 2007 @ 1:57:22
Bagi pembaca yang mempunyai nilai 9 pada bidang matematika, akan dengan mudah membaca kalimat bernada matematika: “Dengan sebuah motor baru, tripmeter disetel nol, lalu kendaraan dijalankan 30 km/jam, butuh ’sekitar setengah jam’ untuk melewati tumpukan kayu itu.” seperti ditulis Tempo.
Namun bagi pembaca yang mempunyai nilai 2 dalam bidang matematika, ia hanya bisa berkata: “wah, berarti jaraknya jauh.” Tanpa bisa menyebutkan pasti.
Bagi wartawan yang menulis, ia aman dari hitungan pasti jarak sebenarnya. Alasan lain mungkin tulisan itu berbentuk future –yang memerlukan deskripsi yang ‘berbunga-bunga.’
dheche | 12 09 2007 @ 0:04:23
ah iya iya, paling hanya sepeminuman teh. hehehehe
mpokb | 11 09 2007 @ 22:52:47
sekitar 15% orang indonesia berpenghasilan di bawah US$ 1 per hari, dan 40% di bawah US$ 2 per hari. sementara, PDB per kapita tahun 2007 sekitar US$ 1,800. seberapa menyakitkan?
JaF | 11 09 2007 @ 22:33:50
handaru: kalo rokoknya dji sam soe gimana? lebih jauh dong :)
handaru | 11 09 2007 @ 21:21:02
Sak rokok-an. Kalau rokoknya gak disumet alias gak dinyalakan gimana ?
Mbilung | 11 09 2007 @ 20:14:54
tahun pemasangan papan petunjuk tidak dicantumkan. ya maklum saja, perubahan yang cepat itu ciri negara yang sedang membangun. perubahan tempat ojeg mangkal itu salah satunya, yang lainnya, bisa angka hutan hilang, kemplangan BLBI, persentase anggaran bocor, jumlah korban kerusuhan politik dan bencana alam. silakan ditambahi sendiri :D