Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Melayani. Berat Juga, Ya…

Selasa, 11 September 2007 @ 20:34 | Personal

THE ROYAL AT HEART, TAPI KADANG TAK TEPAT.

namanya rahmaMengamati seorang kasir kedai makanan tiada henti melayani pembeli, saya kagum juga.

Dia mencoba tetap sabar dan ramah. Dia juga harus berkoordinasi dengan teman di dapur dan pembawa baki, karena mereka berada dalam tim.

Ketika ada jeda sesaat, karena tak ada pembeli, dia mencoba bersandar dan ambil napas. Lalu dia mengelap keringat, karena AC kurang sejuk. Lantas pembeli datang lagi.

Di rumah saya sekarang pusing mengurusi juluran kabel di meja kerja.

Di eks-kantor saya tak mau pusing. Mas O-Be yang rajin itu akan menangani wiring serapi dan sefungsional dia memberesi meja saya, setepat dia memilihkan cangkir kesukaan saya untuk kopi maupun teh, dan gelas yang mana untuk air putih.

Saya merenung, andaikan saya jadi dia apakah dapat bekerja serapi dan secekatan itu?

Tak pernah saya ucapkan, tapi saya praktikkan, dalam menikmati layanan saya hanya bisa meminta dan menuntut.

Rasanya berlebihan jika saya hanya terpaku pada “Lha tugas dia emang itu, gimana lagi?”

Saya akui, di tempat yang sudah lama saya tinggalkan saya pernah khilaf. Dengan pongah, congkak, dan lajak saya mengajak seorang petugas yang waktu itu saya anggap ngeyel — karena dia bilang kalau tak puas silakan lakukan sendiri — untuk bertukar pekerjaan. Dia tersinggung. Mukanya merah. Otot lehernya menegang. Maafkan saya, Kawan.

Melayani. Bukan pekerjaan gampang. Dulu, awal 90-an, ada maskapai penerbangan baru di Jakarta — sayang tak jadi terbang, pesawatnya tetap di Singapura. Dalam merekrut pramugari dan pramugara, bos perusahaan itu mengutamakan pelamar dari kelas menengah ke bawah.

Alasannya, pelamar dari kalangan itu tak terbiasa dilayani seperti anak-anak kalangan atas. Tentu, ada saja pengecualian. Toh tak sedikit anak keluarga makmur yang dilatih untuk melayani diri sendiri.

Tetapi secara umum, ehm… kita semua kan memang ingin dilayani. Bisa berupa pelayanan wajar sebagai konsumen dan pembayar pajak, bisa juga pelayanan personal yang berlebih karena kita merasa telah membayar lebih. Ada raja dan ratu yang bersinggasana dalam hati kita — dalam pengertian yang melenceng.

Ada 40 komentar | trackback | Depan

#40

areta | 23 09 2007 @ 23.41.50

sapa tuh yang di poto?
cantik jugak…


#39

mitra w | 19 09 2007 @ 4.56.12

first : foto nya bagus banget, shoot nya pas sekali… :)

n, melayani memang ga mudah mas. Tp sebenarnya seorang leader yg hebat adalah leader yang mampu melayani…^_^


#38

firman firdaus | 19 09 2007 @ 3.44.36

kadang kita sering lupa pada hal-hal kecil seperti ini on.


#37

-tikabanget- | 18 09 2007 @ 23.08.44

:( padahal sayah itu masi suka ngomel ngomel kalo si pelayan ndak cepet cepet ngelayanin sayah..


#36

Domba Garut! | 18 09 2007 @ 19.41.59

Dari hasil jepretannya sih nampaknya cocok untuk jadi paparazi tabloid :D

Moga2 kita2 bisa jadi pelayan yang baik buat lingkungan sekitar deh..

Seneng udh bisa mampir lagi kesini..


#35

Mimi | 17 09 2007 @ 13.17.29

pelayan yang berdedikasi ya paman. tapi “pelayan” rakyat kayaknya pada mengecewakan, justru rakyat yang ngelayanin sang “pelayan2″ itu hehehe. eh paman.. mau kenalan sama anak ku gak? :D ganteng lho hihihihi


#34

life's like this - avianto's journal | 17 09 2007 @ 12.37.54

Indonesian Culture of Services…

Indonesian are very cultural people. I will not argue that, it is a slap fact in the face. My only……


#33

bimo | 17 09 2007 @ 12.26.39

mana paman postingan barunya? kangen nih? sakit ya?


#32

manadocity | 15 09 2007 @ 16.02.52

paman kok hobby nya makan diluar tapi kok ngga ada postingan tempat makan yang recomended seeh?
ato emang paman hobi nyatroni tempat makan cuma untuk jadi paparazzi hehehe…


#31

thya | 14 09 2007 @ 18.23.01

itu pelayan ditoko mana paman ?
yang saya alami dengan customer servicenya HP Nukiyem gak gitu tuh !
Boro-boro ramah dan sabar…
*$^#&@!&*!?>~


#30

yantee | 14 09 2007 @ 10.41.45

Paman, blognya boleh saya link? Thx


#29

dhany | 14 09 2007 @ 10.01.46

blogger juga “melayani” para blogwalker khan…..


#28

kw | 14 09 2007 @ 8.21.40

aku minta dilayani kalau terpaksa saja paman. kekekekkek


#27

kardjo | 13 09 2007 @ 22.52.33

pakde Tyo.. budhe Tyo kalau ‘melayani’ pinter gak?? Sabar ga? pakai istirahat dan ngelap keringat gak?

*kabuuur=ON*

—-

Kenapa sampe kabur?
Namanya suami-istri tuh saling melayani, Dik.[
tyo]


#26

Rizky | 13 09 2007 @ 20.00.50

melayani orang kyk tugasnya mbak-mbak ini emg bukan kerjaan gampang ya. makanya gw heran knapa orang yg kerja kyk gini kurang dihargai.

sampe skrg gue masi sungkan untuk nyuru-nyuru OB, biasa apa-apa sendiri sih. paling waktu pesen makanan aja, itu pun karena ditawarin.


#25

atta | 13 09 2007 @ 19.15.35

sejak berita muncul setiap hari dan kadang-kadang disertai alamat surat elektronik lengkap, tugas saya tambah satu: melayani pembaca :D

kartumyu piye iki nasibe?


#24

gimbal | 13 09 2007 @ 17.33.32

harus-nya semua pejabat pemerintah punya jiwa “melayani”


#23

bangsari | 13 09 2007 @ 14.53.49

weh, jenengku kok penggalangan dana? maap pakde…


#22

penggalangan dana | 13 09 2007 @ 14.50.06

#nomer 12: wakakakak.

dadi kelingan kerjaan nggawe wedang nang kantor.


#21

ndahmaldiniwati | 13 09 2007 @ 12.32.06

sayang.. pegawai pemerintahan yg notabene pelayan masyarakat justru sok jadi raja. coba layanan mereka ka’ mba’ kasir yg cakep itu ato mas O-Be


#20

oon | 13 09 2007 @ 12.11.02

orang kota memang cakep²…pantes pak de moto² terus…
betul apa yang ditulis #2…mau juga dong dikenalin xixixi…:p

hiks…tapi maintenance costnya tinggi gak ya? cari yang low maintenance cost tapi user friendly ada gak, trus ramah lingkungan juga?


#19

~Mas Kopdang~ | 13 09 2007 @ 11.48.18

“dan sama Paman, terima kasih sudah melayani saya dengan cerita-cerita yang mneghibur selama ini …”


#18

umay | 13 09 2007 @ 9.40.43

kata-kata “melayani” kagak ada dalam buku juklak dan juknis pegawai negri


#17

kwak kwik kwek | 12 09 2007 @ 16.39.20

“to protect and serve” kata mas hunter, melindungi dan melayani, kata stiker di mubil pulisi mbekasi. Ah tenane kuwi…:-))


#16

johnherf | 12 09 2007 @ 15.58.24

Sektor riil lebih getol dan pasti menghitung pundi-pundi yang ia terima saat itu. Ketika ia pasif, pelanggan yang menjauh perlu energi ekstrahati-hati mengembalikan kepercayaannya. Ini memang asli pekerjaan yang berat. Namun, hasilnya langsung dirasa dan diterima. Negara belum bangkrut manakala sektor riil bertebaran di mana-mana. “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”.


#15

Qky | 12 09 2007 @ 14.56.09

kalo gitu, mending pelayan rakyat eh.. pemerintah… kudu mental training dulu kayak mbak snaps-an Pakde Oom, ngkali yak?!? apa bisa?


#14

mei | 12 09 2007 @ 12.58.31

dan kebetulan juga manis orangnya..hihi

iya om, melayani itu gampang kalau kita sebagai “pelayan” juga sedang dalam mood yang bagus. tapi sangat sulit kalau kitanya juga sedang not in good mood..wes pokoke rasane neroko


#13

adipati kademangan | 12 09 2007 @ 11.38.53

melayani !!!???
kalo urusannya masih bisa dipersulit, mengapa tidak toh ?
wong saya dibayar untuk mempersulit pelayanan


#12

budiw | 12 09 2007 @ 10.36.49

1:”GSDFGDS##$%^@!% !#% @ !!!!”
2:”iya pak, maaf pak”
1:” #@%@ #@%@ @)%(**^!!!”
2:”baik pak. kami mohon maaf pak..”


#11

avianto | 12 09 2007 @ 8.55.17

Akui saja, konsep ‘melayani’ itu bukan bagian dari budaya Indonesia. Yang ada hanya konsep ‘majikan dan pembantu’ (dulu ‘raja dan rakyat’).

Jadi ‘melayani’ sebagai panggilan jiwa tidak pernah ada dalam kosakata budaya Indonesia - yang ada adalah ‘melayani’ sebagai kewajiban dan parahnya lagi status ‘pelayan’ bernuansa merendahkan.

Jelas kan kenapa ‘customer service’ di negara tercinta ini hancur-hancuran? Susah lah, semua orang Indonesia maunya jadi boss =P


#10

iway | 12 09 2007 @ 8.24.12

saat sepi pembeli biasanya ramah banget, begitu rame-ramenya jadi songong, beuh


#9

andrias ekoyuono | 12 09 2007 @ 8.03.58

Hampir semua bisnis saat ini sudah beranjak menjadi bisnis service dimana konsumen sudah menuntut akan layanan yang maksimal. Yang menjadi masalah adalah tidak mudah merubah mindset karyawan supaya menjadi service minded.


#8

Beta Uliansyah | 12 09 2007 @ 8.00.51

Perfeksionis. Biar OB atau kasir, yang penting pekerjaan terlaksana sempurna. Menyehatkan pikiran, jiwa dan raga. Apalagi kalau kegelisahannya adalah untuk berkarya.

Malah ada profesi-profesi (orang jawa bilang peran hidup) yang menyerahkan nyawa pun rela. Asal mission accomplished.


#7

didi | 12 09 2007 @ 7.50.55

tak kira kritik, taunya penghargaan.


#6

galih | 12 09 2007 @ 7.08.05

Kasir hypermarket juga keren. dia sanggup berdiri berjam-jam untuk melayani, menghitung kembalian, memasukkan barang-barang ke dalam tas kresek tanpa banyak melakukan kesalahan. kesalahan berarti dipecat!


#5

Hedi | 12 09 2007 @ 4.00.44

Itu sebabnya saya sempet kesal lihat ada orang marah-marah waktu ngisi BBM di SPBU belakang Dept. Pertanian. Dia marah karena lama antri. Heran, mana ada pom bensin yang ga antri.


#4

Abdul Kadir | 11 09 2007 @ 23.42.50

Ya, melayani memang pekerjaan berat. Itulah sebabnya, mengapa pejabat kita tidak siap disebut “pelayan masyarakat”.


#3

mpokb | 11 09 2007 @ 23.12.04

kalo pramuniaga cuek bikin kesel, tapi kalo terlalu ramah dan sopan kadang bikin terintimidasi, eh, rikuh, gitu.. apalagi sampai langkah kita diikuti ke mana2. kan malu :P


#2

JaF | 11 09 2007 @ 22.35.33

mbaknya cakep euy.. kenalin dong paman..


#1

handaru | 11 09 2007 @ 21.25.52

“dia mencoba bersandar dan ambil napas. Lalu dia mengelap keringat.”

weleh, kayak adegan apa, gitu ya ?