Republik Calo
NAMANYA JUGA USAHA, KAN?

Di mana ada masalah, di situ ada peluang bisnis. Repotnya, sebagian kalangan bisnis, terutama investor gede (dan asing pula), sering mengeluhkan ketidakpastian dalam perizinan dan pengurusan masalah. Mungkin mereka malas berbagi rezeki dengan pebisnis recehan tanpa NPWP.
Para pengeluh itu tampaknya mengabaikan prinsip sakti dalam pelayanan publik. Pertama: kalau bisa bayar, kenapa harus gratis (bisa juga menjadi extended version, kalau bisa mahal kenapa harus murah). Kedua: kalau bisa lama, kenapa harus cepat. Ketiga: kalau bisa ngeselin kenapa dibikin nyenengin ati.
Sebuah sistem pelayanan bisa disebut andal dan mandraguna jika warga yang buta huruf, dan buta hukum, pun bisa mengurus sendiri masalahnya secara cepat.
Kalau itu tak tercapai maka yang menghadir hanyalah mata rantai birokratis yang melelahkan dan membingungkan, dengan menu utama permainan mencari shortcuts.
Jangan keburu menyalahkan calo, biro jasa, atau sejenisnya. Mereka hanya ingin membantu siapa pun yang sanggup bayar lantaran pelayanan resmi banyak bolongnya. Di negeri maju pun ada saja biro jasa ini dan itu. Semakin kompleks produk hukum sebuah negeri, pengacara pun semakin dibutuhkan.
Belasan tahun lalu saya berniat menghadiri sidang tilang di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Saya ingin menjadi warga negara yang baik, dan menggunakan hak untuk berbantah dengan hamba wet dalam kasus sumir.
Sesampainya di halaman pengadilan, saya mendapati meja panjang yang berisi KTP dan STNK. Seorang calo, bagian dari meja panjang itu, menawari saya dua pilihan.
Pertama: ikut sidang, dan akan kena denda Rp 10.000, tapi baru rampung empat jam lagi. Kedua: bayar Rp 10.000 saat itu juga, dan STNK motor saya langsung dikembalikan.
Saya adalah warga negara yang baik, yang juga rasional dan pragmatis. Pilihan kedua jelas lebih masuk nalar dan cocok di hati. Sesuai dengan kepentingan saya yang memburu waktu.
Itulah lamunan tadi siang, saat melihat kantor biro jasa di Kebonjeruk, Jakarta Barat. Biro itu siap membereskan tilang yang Anda petik.
Kemarin seorang bintara polisi memberikan kartu namanya kepada seorang wanita yang dia bantu mendapatkan SIM (dengan paket tarif tertentu). Pesannya, “Kalau Ibu ada masalah di jalan, misalnya tilang, hubungi saya saja.”
Siapa bilang masyarakat kita tidak helpful?
9 Responses to Republik Calo
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012Ada saja cara membangun suasana spasial kedai agar tetamu mendapatkan kesan mendalam. Misalnya ala modiste, dengan mesin jahit dan baju baru terpajang. Lho, bukannya kalau kita bertandang dan makan di tempat tetangga atau saudara yang pe... […]postyorous menerous »»»
- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012
Cicitcuit!- @memethmeong banyak hal nggak terduga kok tentang pakdhe @mbilung | @imanbr @ndorokakung @pamantyo May 23, 2012 mbakdos (Agatha N. Ardhiati)
- @mbakdos pakde pake jaket kulit? @mbilung @imanbr @ndorokakung @pamantyo May 23, 2012 memethmeong (medina wulandari)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Sodok-menyodok Menjadi Satu, itulah Indonesia… :)
May 15, 2008 by AntyoCERITA DARI PEREMPATAN, POTRET MASYARAKAT TOLERAN.
Saya tidak tahu dari mana arah datangnya, selain dari belakang, tahu-tahu mbak itu ada di antrean terdepan. Dia konsisten, tidak berpindah jalur untuk berhenti. Dia tetap mengambil jalur kanan yang mestinya untuk kendaraan dari arah berlawanan.
Tak ada polisi di dekat perempatan di Jalan Barito, Jakarta Selatan, itu. Lebih [...]
Recent Comments
Eka» Jadi inget waktu masih kecil.. =( Sekarang udah jarang banget perahu othok2 ini.. hiks hiks.. =(
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





hmmm,masalah calo yang paling kerasa di hudup aku saat ini adalah CALO 21 :P
biro jasa sembarang kalir
kan sudah dibilang
saya hadir kan untuk mempersulit pelayanan toh. Lha wong itu adlah kerjaan saya
Tanya kenapa..?..he he he….
Ah, ‘pelayanan’ versi Indonesia ;). Tidak habis-habis ya kita membahas hal satu ini. Ujung-ujungnya birokrasi lalu korupsi.
Apakah ini berarti birokrat Indonesia = koruptur Indonesia? Kalau begitu pekerjaan KPK gampang sekali ya? Tangkap saja semua birokrat hehehe.
sama seperti irfan,
ngurus sendiri sekitar 107rb
dalam waktu sekitar 2 jam.
Dua minggu lalu saya memperpanjang SIM A ke kepolisian Bandung di jalan jawa. Baru aja parkir motor, udah ditawarin sama tukang parkir.
Masuk gerbang malah lebih parah, yang nawarin malah polisi dan provost.
Untung tekad saya sudah bulat, memperpanjang SIM dengan jalur Resmi.
Total yang dikeluarkan:
1. Periksa Kesehatan: 10000
2. Map: 2000
3. SIM: 60000
4. PMI: 1000
5. Minum: 5000
Sedangkan konon yang nembak sampe 250rb walau katanya waktunya lebih cepet.
Saya beres dalam waktu 5 Jam.
Calo…eh Biro Jasa, bagaimana kalau kita anggap bagian dari Outsourcing-nya individu dalam urusan birokrasi? Setuju?
kalo ga mempersulit ga ada kerjaan om