Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Sobek Biar, yang Penting Berkibar

Sabtu, 22 September 2007 @ 10:18 | Umum

TENTANG KITA DAN BENDERA.

bendera carrefour puri indahSeperti bendera kapal bajak laut yang keok dihajar armada kerajaan. Ingatan komikal itu muncul kemarin saat mata saya memergoki bendera Carrefour di pucuk atap Mal Puri Indah, Jakarta Barat. Mungkin bendera itu dicabik oleh cuaca dan waktu.

Tidak, tidak. Saya tak hendak menyamakan Carrefour dengan perompak atawa lanun. Saya juga tak mempersoalkan kenapa tidak ada petugas yang diperintah untuk memanjat genteng — tak seperti hotel berbintang tiga ke atas yang lebih merawat benderanya.

Tentu, bendera compang-camping itu urusan internal Carrefour. Tidak ada hubungannya dengan konsumen. Bahwa dinas pendapatan daerah, siapa tahu, tetap memajakinya sebagai reklame, sama seperti terhadap spanduk promo obralan, itu juga bukan urusan kita. Suka-suka para tuanlah.

Tapi ingatan saya hinggap ke sana-sini. Tentang bendera, ya bendera apa pun, dalam pengertian harafiah, bagi orang tertentu adalah urusan hidup dan mati. Ketika sampai di situ urusannya bukan lagi harafiah melainkan simbolis.

Ketika berkait dengan hidup dan mati, persoalannya bukan lagi nilai intrinsik bendera — dari harga kain, ongkos jahit, sampai sablon atau bordir. Ini soal klaim tentang keberadaan sebuah kelompok.

Keberadaan bendera (dari bahasa Portugis “bandeira“) menuntut pengakuan — dan penghormatan. Menurut siapa? Menurut yang punya bendera, dong. Kalau si empunya bendera dan para pemandangnya punya ukuran yang sama dalam memperlakukan bendera, maka urusannya aman dan lancar. Kalau tidak, bisa ruwet.

Bagi saya, bendera adalah temuan kuno dan hebat manusia dalam menentukan penanda visual yang mewakili dirinya dalam sebuah teritori. Sebelum mengenal kain mungkin manusia menggunakan daun, atau tonggak kayu, atau tumpukan batu.

Dari sebuah bendera, saya belajar banyak hal. Waktu SD saya heran kenapa pada 4 Juli wong Amrik di dekat rumah saya mengibarkan bendera merah-putih dan bintang-garis dalam tiang dan tali yang sama, dengan ketinggian yang sama. Ibu sayalah yang kemudian menjelaskan artinya kepada saya.

Dari seseorang yang bermukim di negeri dingin, saya mendapat cerita tentang pengibaran bendera kebangsaan sebagai ungkapan pribadi. Misalnya karena anaknya lulus sekolah.

Si penutur, dengan lugunya, bertanya apakah kalau anaknya tak lulus maka si tetangga akan mengibarkan bendera setengah tiang? Jawabannya adalah wajah cemberut karena tersinggung.

Si tersinggung itu, setiap kali TV-nya menyiarkan tayangan pengibaran bendera dengan iringan lagu kebangsaan, langsung beranjak dari sofa, lalu berdiri dengan sikap sempurna. Tak ada yang menyuruh maupun menghukumnya. Dia pun bukan orang ultranasionalis, ultrakanan, atau aliran sempit-dan-keras lainnya.

Jangan main-main dengan bendera, kata si bijak. Ketika persoalannya menjadi serius, apalagi motif dasarnya memang serius, itu jelas bukan main-main. Repotnya kita kadang tak tahu batasnya.

Ada 13 komentar | trackback | Depan

#13

gembul | 26 09 2007 @ 11:48:53

waktu SD tetanggaan dengen orang amrik ? hmm..hm..hm dimana ya kira2


#12

dhany | 25 09 2007 @ 14:22:21

jangan minder jadi gombal
si gombal pun bisa jadi bendera..
kayak blog ini..


#11

bimo | 24 09 2007 @ 17:05:36

kok paman tau sih, manajernya aja ga tau!


#10

thya | 23 09 2007 @ 8:19:25

itu bendera kerfur ?
Waaah.. kacian, masa mereka sampe ga bisa bikin yang baru..
Itu kesambit apaan yah sampe bisa sobek babak belur gitu..
Layangan ? segede apa ?
Burung ? burung apa ?
Pesawat ? jurusan mana ? *kek angkot*


#9

kw | 23 09 2007 @ 6:59:05

kalau yang dipakai bendera warna putih, ini pasti main-main yang serius paman. :)


#8

firman firdaus | 23 09 2007 @ 4:13:01

dalam Intisari edisi beberapa waktu lalu ada penelusuran tentang kepemilikan bendera jepang yang ada noda darahnya. kalau sudah begitu, nilai intrinsik bendera tidak lagi terlalu penting. sejarahnya yang penting.

nice post! (as always)


#7

rendy | 22 09 2007 @ 22:06:58

itu kan memperingati hari pembajakan internasional ?


#6

-tikabanget- | 22 09 2007 @ 21:27:37

ada tikus di atap carrefour??


#5

arifkurniawan as bangaiptop | 22 09 2007 @ 18:44:27

Urusan dengan bendera memang membingungkan. Ada saudara kita yang dari Maluku bahkan sampai divonis 15 tahun dalam penjara. Karena kedapatan membawa bendera yang berbeda dengan bendera dwiwarna ketika sedang naik ojek.
Saudara-saudara kita yang di Papua, malah lebih parah lagi, dulu sampai dikepruki karena mengibarkan bendera yang berbeda. Bukan hanya yang mengibarkan bendera, keluarga sang pengibar bendera non-dwiwarna pun ikut-ikutan dikepruki.
(*hmhh benar-banar lambang suci gagah perwira*)


#4

depe | 22 09 2007 @ 15:04:30

benar, bendera merupakan eksistensi sebuah kelompok, partai, perusahaan atau negara.

***

Mungkin dalam hal ini, oranisasi carrefour Mal Puri Indah sedang tercabik-cabik?
Atau ada orang luar yang dengan sengaja merobeknya, seperti sejarah kepahlawanan bangsa kita yang anti penjajahan?


#3

kwak kwik kwek | 22 09 2007 @ 13:14:02

Paman, sekarang ini peraturan ngerek bendera kalo 17-an itu brapa hari kah? Ayo Man, tulis donkkk, soalnya di kampung saya orang suka sampe sebulan setelah 17 agustus baru pada inget buwat nurunin benderanya, thanks yo Man..:-))


#2

mpokb | 22 09 2007 @ 12:57:58

lanun? kok bisa teringat kata ini, bang pam? :D
di atas kantor proyek macintosh steve jobs cs, justru bendera bajak laut pernah berkibar dengan bangganya, sebagai simbol independensi..


#1

Abihaha | 22 09 2007 @ 10:24:50

sik pakdhe… kalo saya runtuni itu cilike pakdhe kan nda Solotigo, lha kok wonten tiang Amriki nda Solotigo?
Dosen tamu UKSW nopo pripun niku?
Nopo native speaker kursus engles?