Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Motor Tabrak Mobil: Salah si Mobil

Minggu, 23 September 2007 @ 13:32 | Komedi Indonesia, Personal

MASYARAKAT ADALAH SEBUAH BUKU BESAR…

Barusan, siang ini seorang ibu, selagi menyetir, ditabrak sepeda motor nyelonong. Si pengendara jatuh. Pemboncengnya, istri, robek kaki setelah memecahkan lampu kabut mobil si Ibu. Semua orang di tempat kejadian tahu, dan bersaksi, bahwa yang salah adalah si motor.

Bagi Pak Motor, kalau dia menabrak mobil karena pandangannya terhalang mobil-mobil lain yang sedang berhenti di pertigaan, untuk memberi kesempatan mobil yang sedang keluar dari kompleks, maka yang salah adalah si mobil.

Alasannya? “Ya pokoknya gitu Bu, hukumnya.” Hukum yang mana? “Pokoknya ada deh undang-undangnya!”

Lantas Pak Motor mendatangkan anaknya yang serdadu. Untung Bu Mobil dari tadi tenang, hanya mau membatasi soal dengan bapaknya. Bu Mobil juga tenang, tidak mau menunjukkan — apalagi menyerahkan — SIM maupun STNK kepada Pak Motor.

Klasik? Basi? Ya. Maka solusinya juga usang. Mobil harus menanggung penjahitan luka, pengobatan, kasih ongkos Rp 200.000, plus uang jaga-jaga Rp 200.000.

Setelah urusan beres, Pak Motor minta maaf, mengaku salah, menyalami Bu Mobil dan kedua putrinya,sambil berdalih tadi itu dia terburu-buru dan, ehm, “Saya kan emosi, Bu!”

Bagi saya inilah komedi Indonesia. Jalan raya menjadi potret sosial. Bagaimana orang menempatkan hukum tercermin di sana. Juga, bagaimana orang mengaitkan alat transportasi dengan penggolongan sosial dan menentukan cara menyelesaikan masalah, semuanya ada di jalan raya yang menjadi buku hidup sosiologi Indonesia. Di KisFM saya pernah dengar ungkapan menyakitkan dari seorang wanita pemobil, “I hate motor riders!

Pernah mobil kerabat saya ditabrak motor ngebut justru ketika dia sedang berhenti dalam antrean kemacetan. Polisi menjadi saksi karena sedang mengatur lalu-lintas. Motor ringsek. Pemotornya babak belur.

Bagaimana nasib si mobil? Opini di tempat kejadian, dan opini keluarga korban, menyatakan, “Mobil ancur mah gak masalah. Apalagi kalo ikut asuransi. Orang punya mobil tuh pasti kaya.”

Kesimpulan sementara saya: sikap dan perilaku pengendara mobil setelah ditabrak motor atau sepeda akan menentukan panjang-pendeknya masalah.

Kalau dia ngotot, emosional, dan terus menyalahkan penabrak, maka dia akan dianggap jumawa.

Dalam kasus kerabat saya, dia terus menerus diperas, bahkan dengan dukungan polisi saksi dan serdadu kerabat korban. Sebulan lebih urusan baru beres. ATM terus dikeduk. Orang lain, mungkin pilih jalan pintas: ganti melibatkan preman atau serdadu dan polisi yang pangkatnya lebih tinggi.

Saya pernah ditegur seseorang dengan nasihat yang seolah bijak. Saya bilang, ketika saya naik motor (termasuk saat parkir) saya akan sebisanya memperhitungkan kerepotan orang yang menyetir mobil, dan begitu pula sebaliknya. Kalau saya jalan kaki, saya mau hirau keribetan penyetir, dan seterusnya.

Dia bilang, “Kalo kamu naik motor ya berpikirlah sebagai pengendara motor. Kalo naik mobil, ya pikirin aja mobilmu. Rumit amat sih jadi orang?”

Dia dulu adalah penunggang motor yang suka ugal-ugalan. Ketika punya mobil dia jarang naik brompit, dan suka memaki-maki penunggang motor.

Ah ini kayak nasihat seseorang yang berbau menyalahkan dalam soal lain.

Menurutnya, “Lu tuh aneh, kenapa balik nanya kalo gue jadi pengusaha bakal ambil tindakan gimana. Buat gue, kalo di-PHK yang harus marah soalnya gue kan bukan majikan. Selama kita jadi pegawai ya berpikirlah sebagai pegawai, jangan sok berempati jadi direktur. Itu fair, bukan mau menangnya sendiri!”

Dia lagi belajar jadi pengusaha. Misalkan suatu saat (maaf, semoga tidak) dia harus menutup kumpeninya lalu memecat pegawainya, apa yang akan dia katakan kalau pegawainya rewel padahal dia sudah merasa memberi lebih?

Dia sudah punya jawaban dini, “Gue bakal mikir sebagai employer dong! Lu tuh kayaknya aneh deh!”

Baiklah kawan-kawan. Saya akan belajar jadi orang normal, yang nggak aneh, dan nggak rumit, karena itulah yang fair. :Pamature creampie teenhymen hairynude pics underageone hentai comic pieceinterracial grou sexafrican peeing girlpussy preeteenclose up creampiecolombianas amateurhuge swollen clit

Ada 36 komentar | trackback | Depan

#36

kardjo | 05 07 2008 @ 14.02.19

Oops… ada yang pakai nick menyeramkan nih… *lirik K***ol*

Oke deh paman, saya sendiri kadang punya pendapat, ketika orang tidak memiliki empati, berarti orang itu kurang berpendidikan.

Orang itu, mungkin belum pernah merasakan seandainya ia di posisi lawannya. Andaikata hal ini dimiliki oleh semua orang di pertiwi ini, mungkin gak akan perlu polisi atawa surodadu buat menakut-nakuti.

(*janganlah kamu menghakimi, jikalau tidak ingin dihakimi*)

pakabar oom..?? lama tak berkunjung!


#35

Kontol | 05 07 2008 @ 1.01.05

Emang kontol smua pengendara motor yg pasang muka sok bener alasannya inilah itulah dasar pepek kalian itu gue cincang juga kontol loe baru tau rasa loe


#34

ridhocyber | 06 03 2008 @ 4.26.18

saling menghormati aja lah!!!


#33

exblopz | 06 10 2007 @ 15.34.43

Emang sih kebanyakan mobil yang disalahin. Untungnya waktu naik mobil sama bos ada motor yang nyenggol mobil, bahkan sampe jatuh babak belur, tapi orangnya entah sadar atau tidak kalau dia babak belur, kemudian ngeloyor pergi.

Yang ada di mobil cuman melongo menyaksikan orang yang babak belur naik motor pergi dari pandangan mata. Koq ada orang seperti itu.


#32

Dony Alfan | 02 10 2007 @ 23.34.19

Saya sebagai pengendara motor sebisa mungkin tau diri, motor vs mobil di Indonesia bak Tom and Jerry.
Di undang2 memang tak disebut bahwa kendaraan yang lebih kecil itu yang menang, yang salah ya yang sak penake dewe, tak peduli dia motor ato mobil.


#31

ekSi | 02 10 2007 @ 12.06.10

Mobil saya juga pernah ditabrak oleh motor, pintunya rusak parah, sampai bengkok ke dalam. Yang salah? Si Motor itu ngebut banget, lagi tikungan, dari arah berlawanan, mau nyalip mobil di depannya. Rasanya sudah jadi “pengertian umum” pengendara bermotor, bahwa di tikungan harusnya memelankan laju kendaraan, bukannya tambah kenceng… Yang salah? Dia ngaku salah sih, tapi tetep ajah, ga mungkin bayar ganti rugi :D Hehehehe

Mungkin harus sama2x saling mengerti. Yang naik motor harus lebih pengertian dan sayang nyawa. Yang naik mobil juga jangan kasih space motor kecil2x banget buat nyempil :P


#30

miund.com » Blog Archive » Motor Gede? | 30 09 2007 @ 12.38.08

[...] Iseng saya jalan-jalan ke rumah maya si Paman, dan membaca posting ini. [...]


#29

miund | 30 09 2007 @ 12.05.26

duh Paman, aku jadi tergoda posting sesuatu yang mirip dengan hal ini…


#28

manado | 26 09 2007 @ 10.37.08

kalo yg ditabrak mobil pulisi atou mobil anggota DPR yg mulia gimana ya?


#27

Rafeequl | 26 09 2007 @ 0.37.02

Orang Endonesa itu makhluk sosial yang “unique”, Segala untuk kepentingan pribadi/kelompok adalah kebenaran yang mutlak tanpa bisa berempati kepada dan berifkir logis. Makanya nggak heran kalo tiba2 orang Endonesa bisa menjadi begitu Selfish dan (untungnya)Nasionalis.
Dan fenomena yang sering terjadi di jalanan adalah “belaga bego” hehehe
Peace ah …


#26

dhany | 25 09 2007 @ 14.19.21

di “jalanan” hukum rimba dipakai… ada truk trailer maka pesepeda kayak saya harus tahu diri
di “kecelakaan” hukum rimba kebalikannya..
apapun kejadiannya yang lebih besar yang salah.


#25

luwak | 25 09 2007 @ 13.12.03

kalau lagi naik bus, sebel liat mobil, motor dan pejalan kaki. kalau lagi naik mobil, sebel liat bus, motor dan pejalan kaki. kalau lagi naik motor, sebel liat bus, mobil dan pejalan kaki. kalo lagi jalan kaki, sebel sama semua kendaraan. mending di rumah aja, manjat pohon, nggak usah lewat jalan raya. ada hukum juga bisa diplintir2 sih..


#24

Andy OrangeMood | 24 09 2007 @ 23.18.36

Saya sendiri kebetulan bawa motor dan mobil, saya pribadi seh termasuk orang yang tertib hukum… *ehm2… :)

Kalau menurut saya, siapa yang salah, dia yang harus minta maaf, bukannya malah ngotot karena banyak yang belain.

Tapi orang lain kadang ngga mikir gitu kan? jadi ya tinggal pintar2 kita bernegosiasi biar ngga di “bego-in” banyak2 / sering2. :)

“Andy OrangeMood is Online Advertising Consultant & Motivational Blogger”


#23

Eka Putra | 24 09 2007 @ 22.19.01

Paman, saya sedih liat kondisi jalan raya di Indonesia. Cerminan kondisi masyarakat Indonesia secara umum. Saya biker, sekuatnya berusaha mematuhi aturan dan berjalan hati-hati. Hanya sekali-kali pernah terpancing kelakuan pengguna jalan lain. Bagaimana kalau ada yang pasang iklan tv dan media lain, setahun penuh, tunjukkan kepada masyarakat contoh2 orang tolol dalam berkendara dan contoh2 orang bijak ketika berkendara. Misal, ada biker yang melewati zebra cross, tunjuk saja itu contoh orang tolol dan goblok. Tapi ongkos pasang iklan itu bayar pake apa ya? Hehehe…


#22

yantee | 24 09 2007 @ 15.55.24

Resep dari temen : klo ditabrak sama pengendara motor dan dia ngotot minta ganti, perkarakan saja ke polisi, tp sebelumnya tanya dia, surat2nya lengkap ga? Karena klo di kota saya banyak pengendara motor yg ga punya SIM dan STNK…


#21

melly | 24 09 2007 @ 15.48.09

citacitaku, ada jalur khusus motor, kayak jalur busway itu. cuman buat motor, dan motor cuman boleh disitu. silahkan nikmati sajalah!


#20

rezayazdi | 24 09 2007 @ 13.44.02

Masak saya parkir mobil di kantor, diam dan berhenti lalu tiba2 ditabrak motor. Untung ada satpam kantor yang memergoki, mau kabur katanya. Saya tanpa ampun paman, saya kejam. Saya kasih 2 pilihan: ganti rugi 200rb atau ke polisi. Tambah bikin dongkol, si pengendara gak mau mengakui kesalahannya, katanya: maklum pak baru belajar, kalimat yang lain: namanya musibah pak. Saya geram: “Musibah kalau lo tiba2 ketimpa pohooonnnn!!!!, kalau nabrak mobil diam itu bukan musibah!”. Kata satpam, dia mau belok, belokannya masih jauh, malah pengen nya nyium mobil yg baru diangkat 1 minggu dari showroom mobkas. Saya tidak benci pengendara motor, karena saya pengendara motor setiap hari kecuali weekend (kadang-kadang).


#19

annots | 24 09 2007 @ 11.53.55

#17
Kata bang Fefmi yang rodanya banyak selalu mengalah, berarti kereta api harus ngalah terus ya?


#18

Haris | 24 09 2007 @ 11.27.59

Ada hukumnya paman, bunyinya “jikalau terjadi konflik di jalan, yang paling ngotot (dominasi fisik adalah opsional) adalah yang (jadi) benar.”


#17

sufehmi | 24 09 2007 @ 11.23.46

Mobil vs Motor -> Rodanya dua, ya yang rodanya empat harus ngalah

Kelupaan satu satu, pengendara Pria Dia bilang, “Kalo kamu naik motor ya berpikirlah sebagai pengendara motor. Kalo naik mobil, ya pikirin aja mobilmu. Rumit amat sih jadi orang?”

Egois & zalim luar biasa, masyarakat kita.

Apakah masih ada yang heran kenapa bencana tidak habis-habis menyerbu Indonesia ?

Paman Tyo, coba kita mulai kampanye moral untuk Indonesia, gimana pak ?
Mudah-mudahan alam nanti jadi tidak lagi muak melihat kelakuan kita.


#16

andrias ekoyuono | 24 09 2007 @ 10.04.00

jakarta banget ya, itulah yang membuatku ajep2 tiap pagi. Alhamdulillah gak pernah ada masalah.

Yang pernah malah ngamuk sama bus di tol jagorawi, alhasil bikin macet. Eh tapi itu gw berarti sebagai kendaraan yang lebih kecil menyalahkan kendaraan yang lebih besar ya, hehehe


#15

maseko | 24 09 2007 @ 7.51.00

dulu ban depan motor pernah nyerempet bemper mobil sampe terjatuh. dalam kesakitan saya bilang siap bertanggung jawab karena memang saya yang salah. tapi setelah mengetahui kalo saya dan motor baik-baik, pemilik mobil keburu pergi


#14

galih | 24 09 2007 @ 7.41.51

ah, entahlah paman…


#13

Pitra | 24 09 2007 @ 7.25.15

hehe.. ya gitulah.. dilema..
sbg amob (anak mobil) diriku jg merasakan hal serupa..

tapi mungkin.. mungkin loo ini.. dan ini kadang suka berlaku di rimba jakarta, mana yg gertak duluan itu yang menang.. Jadi kalo seandainya ditabrak, cepet2lah keluar, n marah/bentak yg ditabrak..


#12

Jim | 24 09 2007 @ 7.00.29

Selamat datang di Jakarta…baru pindah ya, atau baru punya mobil ya?..he he..no offense..


#11

ivanlanin | 24 09 2007 @ 4.50.27

Saya ketawa getir waktu baca tulisan ini :) Mirip banget dengan apa yang terjadi dengan saya. Solusinya? Ancem atau bawa saja ke kantor polisi :)


#10

godote | 24 09 2007 @ 0.14.49

eh lupa..
dulu saya pernah liat bus nyrempet aston martin. dan si supir bus cuman nunduk nggak bisa berkata2. :P sembari si empunya aston maki2 dan nuding2 si supir bus :D


#9

godote | 24 09 2007 @ 0.12.37

belum tentu yang murah yang menang dong.
kalau mobilnya jaguar gimana?
trus yang punya si jag ini orang kaya yang kemana2 bawa bodyguard? atau yang punya si jag ini umm siapa tuh bapak2 yang profesinya sbg pembunuh bayaran?

dan tidak semua pengendara motor itu ugal2an, contonya saya hehehe… alon2 sing penting tekan nggone.


#8

areta | 23 09 2007 @ 23.12.02

emank ini masalah bikin gondok!
pengendara motor tuh demen banget ugal2an dan nyalip2 diantara mobil2.
gak mikir gimana repotnya dan was2nya bawa mobil diantara motor yang nyelonong2 sana-sini.
gw (sopir gw yang lagi ngangkut gw) pun pernah nabrak pengendara motor. kita emang lagi buru2, tapi kecepatan masih normal.
jalan depan kita bersih, jadi agak cepet jalannya. tiba2 ada motor nyalip. jadi pantat motornya keseruduk moncong mobilkuw… penghuni motornya langsung berterbangan lalu berjatuhan. salah satunya kakek2 lagi!
untung banget, mereka gak nuntut dan orang2 di sana tau itu salah mereka. sopir gw pun ikut marahin si kakek2.


#7

depe | 23 09 2007 @ 23.00.39

Hmm…Sistem, aplikasi sistem yang dinodai oleh pembuat sistem itu sendiri.
***
Contoh, Anti calo terpampang besar di depan loket pembuatan SIM tapi dari gerbang masuk sudah banyak serdadu sipil berseragam yang menawarkan diri menjadi calo.


#6

Imponk | 23 09 2007 @ 18.30.35

dan begitulah.. kita harus maklum dengan hukum masyarakat –yang katanya sebuah buku besar [yang salah cetak?]


#5

anton | 23 09 2007 @ 17.28.19

ya itulah indonesia. tapi bener lo kata mas irfan selalu yang lebih murah yang benar, padahal ga selamanya yang itu tuh yang benar


#4

dudi | 23 09 2007 @ 15.58.22

defaultnya manusia kan selalu merasa benar terus paman? jadi ya begitu deh.

pengennya sih bisa melihat dari berbagai sisi, tapi opo yo tumon karo waktu’ne paman? :D


#3

handaru | 23 09 2007 @ 15.15.38

Kita semua memang sakit.


#2

irfan | 23 09 2007 @ 15.08.22

selalu terbalik seperti itu, sepertinya yang lebih murah selalu jadi benar.

Mobil vs Mobil -> Yang marah besar pasti yang lebih jelek mobilnya.

Mobil vs Motor -> Rodanya dua, ya yang rodanya empat harus ngalah

Mobil vs Becak -> Anda pasti tahu siapa yang paling benar, tapi pasti kalah sama yang ngelawan arus

Motor vs Becak -> Masih tetap yang menang adalah yang rodanya tiga.


#1

fahmi! | 23 09 2007 @ 14.32.53

eh tumben ndak ada foto.