Nge-SOHO atawa Kerja di Rumah
TAK GAMPANG, TAPI DI SITU SENINYA. :d

Teman saya sudah tiga bulan ini ngantor di rumah. Nomor telepon rumah dan faksimilinya hanya bisa dihubungi pada jam kerja. Maksudnya tentu saja jam kerja normal, eight… eh… nine to five.
Tantangan untuk bekerja di rumah adalah disiplin. Tidak ada bos yang mengawasi. Yang ada hanya klien atau apalah yang menagih.
Secara teoritis waktunya lebih longgar. Proses penuaan di jalan (berangkat-pulang habiskan waktu empat jam) bisa dikurangi. Pakaian cuma sarungan juga boleh. Ngliga atau bertelanjang dada pun boleh — karena rumah tanpa AC. Kalau wanita ya cuma berdaster. :P
Tapi dalam praktik, manajemen waktu itu hal yang sulit bagi banyak orang. Kalau dia masih lajang mungkin nggak seberapa ribet. Tapi kalau sudah berkeluarga, terutama bagi kaum ibu, weleh… mau tak mau kudu ngurusin soal domestik.
Bekerja di rumah berarti selagi berkutat juga harus menangani pompa sumur rusak, menerima antaran galon air dan tabung gas, melayani peminta sumbangan, menjawab telepon salah sambung, kedatangan pensiunan kesepian yang doyan ngobrol dan suka datang tanpa janjian…
Kalau dibilang sibuk maka bakal disanggah, “Sibuk apaan? Halah, wong cuma baca buku dan nulis di komputer gitu kok. Cucu saya juga demen nggambar di komputernya tuh!”
Tapi untuk pria atau wanita, sudah bapak atau ibu, kuncinya lagi-lagi klise: disiplin. Lha itu yang susah. Disiplin menurut siapa?
Orang yang terbiasa nokturnal, bahkan pernah bekerja di kantor yang jam kerjanya luwes, malah boleh menginap segala, merupakan hal sulit untuk ber-SOHO secara baik dan benar, kecuali dia memang orang yang adaptif banget.
Secara internal, kebiasaan nokturnal itu bisa bikin keluarga tak nyaman. Orang lain tidur, eh dia bekerja — mana setel musik pula, tapi kalau pakai headphone jadi tak tahu bahwa audio mobil di luar dibongkar maling.
Mau pakai musik atau tidak, malam hari anak minta dikeloni. Suami atau istri juga minta ditemani, sampai kirim SMS berisi penagihan karena rindu.
Seorang teman punya tip bagus: kudu punya ruang sendiri, yang berpintu. Dia katakan, ayahnya dulu, seorang bankir, setelah memasuki MPP setiap pagi masuk ke ruang kerjanya. Istri dan anak-anak tidak mengganggu.
Tapi kalau itu diterapkan dalam kehidupan sekarang mungkin perlu penyesuaian. Rumah kecil, kamar tidur pun ada yang dipakai berdua bahkan bertiga, terlalu mewah untuk bikin ruang kerja eksklusif.
Soal lain adalah pasal anak (dan pasangan). Bagi anak dan suami atau istri, apa artinya pasangan atau ortu bekerja di rumah tapi nggak bisa diajak ngariung?
Seorang teman mengeluh, kalau kumpul dan hura-hura domestiknya pada jam kerja berarti mengurangi jam kerja dia yang normal. Mau mengganti jam yang hilang pada malam hari, anak merengek, suami mencolek terus.
Ada juga yang mengaku, selagi asyik bekerja pada malam sepi, istrinya bawa laptop, mau menemani. Tapi yang nyonya buka adalah situs seram, “Lihat nih, Mas…” Maka tenggat pekerjaan pun terlanggar.
Seorang teman yang lain mengaku kapok kerja di rumah. Enak di luar, karena suami nggak merecoki, bisa lunch di tempat asyik, pulang kantor bisa menyerbu great sale, di kantor pun bosnya nggak terlalu cerewet karena yang penting hasil.
Apa lagi yang lucu karena bekerja di rumah? Saat mengisi formulir sekolah anak. Soal alamat kantor. Pihak sekolah, terutama forum orangtua siswa, langsung mengira sebagai wiraswasta yang banyak duitnya! Harus siap ditodong.
NB:
Dulu seorang penulis skenario yang novelis sampai mengontrak rumah tetangga untuk ruang kerja pribadi. Asyik kan? :D
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
Cicitcuit!- Saya jadi ketawa ngeliat komentar @pakde Totot pada kolom komentar blogpost "Memahami FPI" punya @pamantyo baca saja -> http://t.co/RjtBfBdd May 19, 2012 sibair (Bair)
- :'( RT @dannytumbelaka: @TonnySukirno @PamanTyo bangaip @motulz RIP Donna Summer... May 18, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Sulitkah Mencari Jodoh di Ibu Kota?
April 6, 2009 by AntyoDIMULAI DARI BERKENALAN. SEDERHANA SIH.
Judul gombal. Cuma memancing perhatian. Tapi sabar. Tunggu dulu. Tadi siang jelang sore di tengah hujan, saat menunggu jemputan di teras sebuah pusat perbelanjaan, saya mendapatkan sebuah pengalaman. Seorang Nona Manis, resepsionis, usai menutup telepon langsung bilang ke satpamwan bersafari gelap di sebelahnya, “Orang yang itu tuh, nelpon dari [...]
Recent Comments
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
jimmy» bagus sekali artikelnya, thx
jimmy» Nice Informasinya gan,, sangat membantu sekali.. :)
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





saya menikmati bekerja di rumah, mencari inspirasi dan ide ide film lebih enak,jadi kadang malah orang kantor yang bolak balik ke rumah..
Waktu blajar gawe home ofis gini, saya syok bgt liat tagihan telpon naek sepuluh kali lipat…:-(. Matilah awak ini…!
he he he rada mirip sama pikiran saya.. http://setiaji.wordpress.com/2007/03/23/ternyata-menjadi-programmer-freelance-itu-tidak-mudah/
kerja di rumah adalah salah satu idaman saya. suatu saat nanti. pasti.
MPP itu apa mas ? Mati Pelan Pelan ?
*idih sadis*
Saya sudah sekitar 2 tahun bekerja dirumah. Dan sekarang Alhamduillah udah berkembang punya tempat ngantor sendiri. Tapi ga enaknya salah satunya kalo mo ngredit atau pengajuan yg berhubungan dengan BANK!!
RIBETnya setengah mampus, pernah ditolak pengajuan karena alasan “bagaimana kami yakin bapak berpenghasilan kalo penampilan bapak aja kurang meyakinkan”.
Damn!!
Satu saran aja, kalo ga yakin seyakin2nya bisa hidup tanpa bekerja kantoran mendingan jangan mencoba2 untuk bekerja di rumah :)
pengen. kalau bisa secepatnya. doain ya paman. :)
gejala ini terkait dengan “outsourcing” dan kecenderungan manajemen yang semakin tipis (atas bawah), juga kecenderungan banyak pekerjaan yang padat pengetahuan atau kreativitas. kalau untuk kerja administratif masih sulit, tetapi kerja intelektual dan kreatif pasti bisa asal berani. Moda telekomunikasi juga biang pemicunya (mau teleconference data, suara, dan gambar juga bisa); dengan piranti yang tepat ruang semakin jadi relatif.
Lha kantor saya sekarang juga bisa dianggap rumah sendiri hehehe
Saya pernah kerja full time di rumah. Waktu itu bisa berhari-hari tidak keluar rumah. Ternyata tidak bagus juga dari sisi sosialisasi.
Sekarang jadi dosen, beberapa hari di kampus, sisanya di rumah, baru pas deh :-) Jam kerja juga fleksibel sehingga umumnya tidak kena macet di jalan.
Kemudian prinsip kerja di rumah: harus dapat di-interrupt! Kalau tidak, percuma saja, lebih baik kerja di kantor sekalian.
ahh.. cita-cita juga pengen bisa ber-SOHO-an … :)
“…langsung mengira sebagai wiraswasta yang banyak duitnya! Harus siap ditodong.”
Wha… betul pakdhe… tepat! Belum lagi orang-orang purchasing dept. nya klien yang senang bertandang menanyakan jatah lebaran.
Jatah lebaran dengkulmu kui!
colek-colek.. sabun kali :D
maunya sih jadi pegawai on call duty, bang pam.. jadi nggak sering2 menikmati macet :P
ya begitulah.
paling sebel kalau pas lagi mood, lalu tau tau diajak ngobrol ama pasangan..
kalo nggak di hiraukan, pasti cemberut/marah :)
huehehehe. padahal siapa dong yang harusnay marah? tanyakan pada rumput yang bergoyang
ah, kangen bekerja lagi di rumah.
di kantor juga musti disiplin, bukan sama jam kerja, tapi sama jam blogwalking :))
Pengen euy kerja di rumah yang “bener2 menghasilkan untuk penghidupan”.. adakah info? especially yang belum perna berkecimpung di dunia freelance.
aih aih… thanks deh pak dah mampir ke blog mitra nan sederhana itu (norak mode on :P)
Btw, kerja di rumah tuh salah satu mode kerja yg mitra suka :P
tp emang sih pak, yg jelas tuh disiplinya yg paling susah.
palagi kalo masih pengantin baru ;P
—-
emang napa kalo pengantin baru? gak paham saya. ;)
[tyo]
memang gag gampang, saya aja ke kantor suka belum mandi, dateng jam 7, terus tidur lagi, keluar masuk, efisien jam 9, mandi, terus duduk, terus ngontrol kerjaan anak2…
itu foto kantor pribadi Paman, ya?
—
oh, itu ruang kerjanya orang lalu saya jepret saat masuk. gitu, paman patih.
[tyo]
wah, gak papa tuh kerja di rumah?
kan jadi gak sosialisasi (kayak yg kerja di kantor).
lagian bahaya. kalo lagi males, mumet, pengen istirahat bentar di kasur, eh ketiduran ampe besokan!
wah kerja dirumah asik bagnet pak de…
asal jangan disuruh kerja nyetrika, nyuci baju…kalo sekedar senam lante alias ngepel gak papa lah :p
*ra nyambung :p
Pengennya kerja di rumah, tapi belum ada kerjaan yang menghasilkan.
hehehe saya kalau lagi kerja di rumah, kalao sudah sore2 istri saya pasti nanyain, ayah udah pulang belom kok masih ngetik2 aja :-p
ya, saya juga sudah kapok kerja di rumah
Hehehee.Lha sampeyan kapan pakdhe ber soho-soho jaya ? :D.