Jaguar dari Teh Poci
SUDAH SAATNYA KONSUMEN TAHU BERES.

“Tiga kali saya nelpon selalu dimarahin, dituduh nipu, padahal kan mau kasih hadiah hiburan, terus mau memastikan alamat buat ngirim…”
Itu kata Mas O-Be yang belakangan punya tugas menangani kartu pos undian dan mengabari para pemenang hadiah hiburan. Kalau pemenang utama dan hadiah gede, itu urusannya Mbak Sekretaris.
Menurut Mas O-Be, kemarin petang saat berbuka di Kemang, sebagian orang dia hubungi menganggap itu semua hanya tipuan. Mereka tak percaya, bahkan ada yang tak peduli — kecuali kiriman benar-benar telah tiba.
Saya memahami keluhan Mas O-Be, tapi saya juga memahami ketidakpercayaan orang terhadap undian berhadiah. Terlalu banyak yang menyalahgunakannya untuk memperdayai konsumen. Bukan oleh si penyelenggara melainkan oleh kaum bajinguk bedebah keparat.
Pangkal masalah adalah pajak undian yang ditanggung oleh pemenang, bukan penyelenggara. Bahkan selain pajak undian, masih ada bea balik nama untuk kendaraan bermotor.
Memang, ada sejumlah penyelenggara undian yang tak mau merepotkan pemenang. Misalnya Silver Queen, Telkomsel, dan Bank BRI. Pemenang tinggal terima bersih. Setidaknya, itulah yang terbaca dalam promosi dan lembar “syarat dan ketentuan”.
Namun, tampaknya, masih lebih banyak penyelenggara undian berhadiah yang tak mau menebuskan pajak undian dan lainnya. Beberapa bank masih melakukannya — padahal kabarnya menyediakan hadiah bejibun itu tetap lebih murah ketimbang menaikkan bunga simpanan satu persen. Begitu pula beberapa mal dan pusat perbelanjaan, mereka masih pelit.
Ada juga yang aneh: mensyaratkan pemenang untuk hadir dalam pengundian, dengan membawa kupon dan struk belanja. Mal besar di Jakarta Utara termasuk jenis ini. Kalau tak hadir dan kebetulan menang, maka hadiah pun dibatalkan.
Begitulah latarnya, sehingga saya hanya tertawa ketika pramusaji nasi liwet dan teh poci di sebuah mal menyodorkan selebaran sambil bilang, “Semoga dapat mobil, Pak.”
Saya enggan memanfaatkan promo untung-untungan itu karena untuk menebus Jaguar (taruh kata cuma X-Type yang Rp 660 juta) harus setor pajak Rp 165 juta plus BBN. Memang sih, kabarnya hadiah mobil bisa didapat mentahnya setelah dipotong ini dan itu, dengan sekian tahap administratif.
Lho, belum tentu menang kok sudah jeri duluan? Namanya juga konsumen katro. Kalau bakal susah saya nggak mau ambil. Saya ingat seseorang dari bagian pemasaran perusahaan penerbit yang kerepotan cari utangan untuk menebus pajak Peugeot 206. Padahal kalau tak diambil, hadiah itu akan diserahkan ke Depsos — itu pula jurus penipu untuk menjebak korban.
Soal lain, taruh kata pajak Jaguar sudah ditalangi, repot juga bawanya. Meskipun sudah dilindungi asuransi, saya bakal kelewat hati-hati saat keluar dari rumah maupun cari parkir. Sudah begitu masih diledek sebagai orang kaya baru nan kikir pula — misalnya saat kopdar bloggers. “Naiknya Jaguar kok cuma nyumbang goceng, Paman?” :D
Sudah saatnya pajak undian dan lainnya ditanggung oleh penyelenggara. Pemenang tinggal dapat bersih dan beres. Dari Yamaha Mio yang bengkok setelah menghajar tiang jemuran sampai BMW X5 yang sudah teruji cocok untuk merubuhkan gerbang rumah istri muda, urusan pajak bukanlah tanggung jawab konsumen. Anda setuju?
24 Responses to Jaguar dari Teh Poci
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Dering Telepon Landline February 10, 2012Suatu hari fixed-line kantor berdering berkali-kali. Mirip kantor betulan! Binis adalah krang-kring. Seperti dalam film lama. Tetapi kini orang kantoran makin sering berponsel. Langsung ke tujuan. Tarif lebih murah. Di rumah pun telepon kabel tak seaktif dulu. Selain untuk memesan gas dan air galonan, telepon untuk interlokal. Mungkin semakin jarang keluarga […]antyo
- Dering Telepon Landline February 10, 2012
Cicitcuit!- RT @cho_ro: Jadi social smoker itu karena gak ada obat mati gaya. masalahnya dari social smoker ke pecandu itu tinggal selangkah ~ @pamanTyo February 10, 2012 glennypy6 (Glenny Jonathan)
- RT @cho_ro: Jadi social smoker itu karena gak ada obat mati gaya. masalahnya dari social smoker ke pecandu itu tinggal selangkah ~ @pamanTyo February 10, 2012 hollowayzr4 (Holloway Wharton)
Recent Posts
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
Archives
Random Posts
Duduk di Depan, Tengah, Belakang…
November 21, 2006 by AntyoTERGANTUNG PADA KEPENTINGAN!
Boleh tahu, Anda sering duduk di deratan kursi depan, tengah, atau belakang? Jawaban Anda mungkin, “Tergantung acaranya, siapa yang punya gawe, apa status kita…”
Jika merasa berada di lingkungan asing, sebagian dari kita akan menghindari kursi depan — kecuali datang belakangan dan digiring ke depan oleh panitia karena kursi tengah dan [...]
Recent Comments
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (87)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





kira2 belasan taun yg lalu saya dapet hadiah tv 14-in sharp dari bca. untung tinggal terima bersih..klo harus bayar pajak lagi mungkin bakal kebingungan cos uang jatah kuliah bulanan ngepress..he5x..
kadang penampilan seseorang bukan ditentukan lewat kebutuhan, tapi tuntutan lingkungan.
misalnya, ketika ditanya, kenapa seorang konglomerat suka naik mobil mewah, dia menjawab (kira-kira) : “kalau saya pakai mobil kijang, orang2 akan mengecap saya pura2 miskin.”
mirip dengan seorang fresh graduate yg baru dapat gaji pertama, dan merasa terusik dengan pertanyaan, “sudah kerja kok masih naik angkot aja?”
kesimpulannya, berbahagialah orang yg cuek seperti paman :)
setuju..
Paman Pakde udah pantes, kok, naik Jaguar, meski nyumbang nGoceng… ASLI … :D
seumur-umur belum pernah menang undian berhadiah, paling banter dapat doorprize kalo lagi ada acara kantor.
kalo ada permen berhadiah mobil, saya mau deh…
pakde mbilung pertama terus nih!! punya istri muda yang sama ya?? :D
jangan2 perusahaan banyak gak mau nalangin pajak hadiah, karena hadiah yg mereka kasih sumbangan sponsor juga? ndak ya? :D
Setuju !
Lah kalo gerbang istri muda itu ada pajeknya gak pakde ?
wah…pocinya mantabs! pake gula batu lagi, lebih enak lagi kalo tehnya juga cap poci yang bungkus kuning kecil2. mak nyuss….
UNDIAN BERHADIA..
pengisi comment di blog punya pak puh
akan diundi sebulan sekali
hadiah bisa milih sendiri
pajak dan harga barang
ditanggung pemenang…
setujuu.
meskipun nggak suka ikut undian.
….sampai BMW X5 yang sudah teruji cocok untuk merubuhkan gerbang rumah istri muda,
* * *
Ha..ha..ha.., Ada comment dari pihak BMW?
Kopdar Blogger besok bawa sepeda ato jalan kaki? :p
haduh, aku gak ngerti urusan pajak…
Setuju Paman..!!!
sesama konsumen katrok,Maunya terima bersih….hehheh
Selain pajek ada lagi lho pakdhe, nanti bagian promosi perusahaane nelpun, keamanan perusahaan ya nelpun, pokoe kok ya pada ngerti kalo menang undian. Minta jatah pengertian, keamanan pake bilang kemaren itu yang njagain hadiah-hadiahnya kami lho…
bagi-bagi hadiah aja kok ya juga mbelgedes di sini ya?
apalah yang ndak dipajak. ‘segera’ disusun uu pajak kado. setiap kali kita kondangan, bingkisan, kado, karangan bunga, maupun amplop mentah, harus dilebel PPn Lunas ! Jika tidak berarti anda menghindari pajak. capek deh. eh, kata sapa ? kata sayah :lol:
Perusahaan mental kere sok-sok mau memberi hadiah. :D
Hmm.. jadi mendingan beli Jaguar berhadiah Teh Poci ya ? kekeke…
o, aku baru tau keparat itu = kafir. hehe :D
Setuju konsumen jangan di bebani pajak. Menghindari penipuan berkedok hadiah.
ooo saya setuju sekali, konsumen ga dikenakan pajak, ngedobel dobel pajak saja… makanya saya heran ada perusahaan retail yang masih ngenain pajak, hosting misalnya, kasian konsumen… transaksi kurang dari 10 rebu perak sebulan masih dipajakin…
setujuuu kalau gerbang rumah istri muda dirobohkan saja, biaya perawatannya mahal, dan itu tanggungan suami :D