Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Cerita Lebaran #1: Sitrun

Sabtu, 13 Oktober 2007 @ 23:57 | Keluarga, Personal

ASAM, MANIS, WARNA-WARNI, NOSTALGIK.

Rasanya saya mendapatkan hidangan yang berbeda ketika bertandang ke seorang tetangga, bakda magrib tadi, untuk mengucapkan selamat Idul Fitri. Dari sejumlah penganan yang memenuhi meja ada satu yang sangat menarik. Jarang disajikan oleh keluarga lain. Ini lho, “permen sitrun”. Ada juga yang bilang “kue sitrun”. Lebih sering sih cuma “sitrun” saja.

permen sitrun

Sejak kecil saya suka sitrun, yang kecil ukurannya, dengan rasa asam yang pas dan manis secukupnya, serta tak mudah remuk menjadi remah pengundang semut. Seperti sitrun yang saya foto ini.

Untuk perjalanan jauh, apalagi harus menyetir, saya suka sitrun. Murah, enak, tapi kadang saya tak peduli bahan pewarna apa yang dipakai. Jangan-jangan pewarna tekstil.

Boleh tahu hidangan apa yang paling mengesankan Anda saat bertamu dalam Lebaran kali ini? Bagi dong cerita itu… :)

permen sitrun

Ada 14 komentar | trackback | Depan

#14

depe | 22 10 2007 @ 7:39:07

di kampung saya, kue ini lebih alami..
namanya Kue Satu Asem, bahannya cuma asem jawa dan gula halus…
tanpa zat pewarna dan tambahan lainnya, paman…


#13

mina | 20 10 2007 @ 22:16:52

waktu saya kecil, ibu melarang saya beli ini, padahal kan murah, enak dan bentuknya lucu-lucu. kata ibu berbahaya, nanti bisa mati hohohoho…. karena pewarnanya mungkin? tapi tetep, saya beli dan makan sembunyi-sembunyi.


#12

iway | 19 10 2007 @ 9:46:27

lha pengertian saya sitrun itu sirup rasa jeruk?


#11

kardjo | 17 10 2007 @ 1:16:19

Walah.. senengane kok podho.
Saya suka permen ini. Di Malang nyebutnya ‘Satru Asem’, kalo di Blitar nyebutnya ‘Permen Sitrun’.

Ada lagi hidangan sejenis ini, Skompjess (benar tidak nulisnya). Pokoknya hidangan yang diemut langsung lenyap di mulut, itu favorit saya.


#10

Putra daerah | 15 10 2007 @ 19:57:30

Wah makanan lama nih. Saya masih sering menemuinya di supermarket, bisa dibeli dengan ukuran berat.
Jangan makan banyak2 ya, bisa diabetes ntar, hehehe


#9

STR | 15 10 2007 @ 0:23:00

pengalaman saya ada di trackback itu, paman.


#8

Nedworg » Blog Archive » Dekonstruksi Ketupat | 15 10 2007 @ 0:03:40

[...] Kalo Paman Tyo punya sitrun sebagai hidangan termengesankan waktu Lebaran kali ini, saya juga punya kupat (ini Boso Jowo dari ketupat — red) sebagai hidangan mengesankan itu! Jangan under estimate dulu, Mbul! Ketupat yang satu ini memang bener-bener mengena di hati saya. Bukan karena rasanya. Juga bukan karena bentuknya. Saya cuma terkesan dengan bungkusnya. [...]


#7

areta | 14 10 2007 @ 22:25:30

wah, belum pernah nyoba tuh…


#6

hbening | 14 10 2007 @ 17:10:17

mmm masakan mbah “Mbok” & budhe Mul: lodeh kacang panjang & terong bulet, jangan tewel & cabe rawit, sambel trasi puedess ampe bikin ngowoh2, kringetan & pipi ngringgingen.. plus lodo ayam kampung… masak & makannya kembul di trenggalek..

walah..tapi lebaran taun ini gak memungkinkan pulang..so? ces..cess..cesss…ngencess thok iki…


#5

handaru | 14 10 2007 @ 10:57:53

Arangginang, madumongso, bolu, emping mlinjo, krupuk gadung, wajik, jipang, dll. Dll itu kue apa ya ? :D


#4

budhe | 14 10 2007 @ 10:34:09

kastengel.
eh paman, saya juga suka mutihin baju pake sitrun lhooo hehe


#3

Mbilung | 14 10 2007 @ 9:33:34

madumongso …


#2

fisto | 14 10 2007 @ 8:09:21

rendang ayaaaam!!!…hehehe…saya pernah bertandang ke seorang kerabat yg kebetulan dari melayu, dan dia menghidangkan rendang ayam yang rasanya ueeenaak pollll


#1

STR | 14 10 2007 @ 6:08:30

saya belum pernah ngrasain sitrun, paman … enak kah?