Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Cerita Lebaran #3: Akua cap Aqua

Minggu, 14 Oktober 2007 @ 11:41 | Komedi Indonesia, Personal

TERUS SEDOT, SAMPAI KEMPOT. :D

aqua gelasApa yang tak ada waktu saya kecil diajak bertamu sekarang ada di setiap banyak rumah tangga. Termasuk saat hari raya — artinya tak hanya Lebaran. Ya, “aqua gelas”.

Berupa air dalam kemasan, tapi sering disebut sebagai “air mineral” atau “aqua” (mengikuti merek Aqua), minuman macam ini juga ada di layatan dan kotak katering. Praktis, lebih sehat, lagi pula tak semua orang doyan — atau boleh — minum manis terus-terusan.

Menyediakan minuman, termasuk air putih, dalam gelas akhirnya merepotkan tuan dan nyonya rumah. Setelah tamu pulang, pemilik rumah harus segera mencuci gelas, padahal tamu berikutnya dan berikutnya datang, bergantian.

Hal serupa berlaku untuk teh, atau juga kopi, dalam cangkir — lengkap dengan tatakannya. Akan melelahkan, apalagi saat pembantu rumah tangga mudik. Sungguh sangat Indonesia: tergantung pada pembantu. :D

Kembali ke “akua gelas”, ya. Bagi saya ini adalah potret Indonesia. Yang namanya “air minum” atau waterleiding ternyata tak layak untuk langsung diminum. Kamar-kamar hotel, selain memasang peringatan, juga menyediakan air botolan sebagai complimentary.

Orang yang berlangganan P(D)AM maupun mengandalkan sumur akhirnya sama-sama harus menjerang air, termasuk air untuk dikulkaskan. Sampai sekarang saya kurang tahu bagaimana pabrik es batu, pada masa pemilikan kulkas belum meluas, mendapatkan air. :D

Jalan pintas yang lebih praktis bagi konsumen adalah membeli air botolan. Ketika bensin masih disubsidi, apalagi tahun 80-an sampai 90-an, harga air ini lebih mahal daripada BBM.

Sampai awal 90-an, masih ada kantor, bagian dari grup usaha besar, yang menyediakan ceret berisi air putih. Ada dapur umum yang memasok ceret berisi teh (manis, kental, dasar Jawa!) dan ceret berisi air putih.

Kemudian diadopsilah dispenser dan air galonan melalui pemasok. Ceret teh pun akhirnya hilang, digantikan oleh teh celup, dispenser, dan electronic boiler.

Pada gilirannya rumah tangga pun tertular. Mereka mengonsumsi air dalam kemasan, termasuk “akua gelas” untuk menjamu tamu. Menjelang hari raya banyak rumah tangga berbelanja sekian kardus “akua gelas”.

Tapi untuk saya pribadi, yang praktis belum tentu enak. Minum air putih paling nikmat adalah dengan nyucrup dari gelas atau nenggak dari botol. Air melewati bagian luar bibir dan kemudian ujung lidah. Sensasi primitif ini masih melekati saya.

Repotnya “akua gelas” lebih dirancang untuk diminum pakai sedotan. Kuping selaput penutup gelas seringkali sulit untuk diangkat. Mau tak mau harus menyedot. Para tetamu di keluarga Indonesia, termasuk hari raya, kayaknya pada kempot pipinya.

Ada 13 komentar | trackback | Depan

#13

blogombal | Blog Archive » Minum Gratis dan Pabrik Tek(s)til | 19 06 2008 @ 2:26:27

[...] Tulisan sejenis: + Bukan air putih, tapi gratis + Balada sedotan plastik + Aqua dalam hari raya [...]


#12

gemblung | 26 10 2007 @ 11:41:43

dan sampahnya dijual lagi :D


#11

mina | 20 10 2007 @ 22:20:02

cobalah tanya di Kalteng. air buat es batunya dimasak dulu kan? saya bertanya iseng. diketawain. menurut sang penjual: mana bisa beku kalo airnya dimasak dulu. saya cerita pada salah satu member LSM (saya pikir tentu lebih “terpelajar”) tempat saya ikut duduk-duduk, dijawab: memang sih, kalo dimasak dulu, es batunya gak mau keras. saya syok, dan gak lagi minum teh es di sana.


#10

dhany | 17 10 2007 @ 14:18:26

praktis… (gampang disiapkan)
necis.. (paling mahal)
isis… (dari kulkas)
meringis.. (yg ndak nemu sedotan)
kelemis… (buat basahin rambut)
…… is.. (apa lagi yach..???)


#9

Nna | 17 10 2007 @ 7:44:18

wah kalo dirumah masih nyediain air di gelas beling paman.. :D


#8

noor | 16 10 2007 @ 15:13:45

kalo di rumah ndak boleh gitu, pakDhe. Kudu, harus, wajip menyediakan wedang panas di cangkir, bagi tamu lebaran yang dianggap ’sepuh’ dan sirup atau teh manis di gelas buat kami-kami yang berjiwa muda ini.

ndak ngaruh ada ato nggak ada pembantu, pokoke, kudu gitu :p


#7

sawung | 16 10 2007 @ 12:14:17

merusak lingkungan,sampahnya.
temen ku yang deep ecologist ga pernah mau minum dari minuman kemasan. klo diundang jadi pembicara terus dikasih minuman kemasan die ga pernah mau minum.


#6

timpakul | 15 10 2007 @ 7:43:16

air mineral… menghadirkan sampah plastik, mengurangi air dalam tanah, secara perlahan juga telah berkontribusi pada hilangnya air untuk irigasi bagi sawah petani…

memilih air dari perusahaan publik pemerintah, penuh dengan bakteri, tak layak konsumsi, hingga suatu waktu harus berpacu ke puskesmas…

sebuah pilihan yang sulit untuk menantikan setetes air yang lebih baik bagi kehidupan.. ^_^


#5

STR | 15 10 2007 @ 1:01:42

Sampai sekarang saya kurang tahu bagaimana pabrik es batu, pada masa pemilikan kulkas belum meluas, mendapatkan air.

pakdhe saya dulu kerja di pabrik es, jadi teknisi mesin pendingin raksasa. tapi saya belum sempet nanya airnya cari dimana. :D

Repotnya “akua gelas” lebih dirancang untuk diminum pakai sedotan. Kuping selaput penutup gelas seringkali sulit untuk diangkat.

itu harusnya ditancepke dulu sedotannya terus digoyang ke kanan kiri atas bawah biar selaput dara (halah) plastik penutup gelasnya terperawani (halah) dan terkoyak. secara hukum fisika, hal itu bisa memudahkan orang untuk menyedot air keluar lewat sedotan karena koefisien hambatan udara yang masuk terkurangi, yang berarti juga koefisien hambatan air yang keluar juga berkurang. ingat prinsip kerja pompa hidrolik dan vibrator (halah).


#4

abahsangpenyamun | 15 10 2007 @ 0:56:27

air mineral dalam kemasan, emang banyak yg liat sisi praktisnya sih. sy jd inget keterangan bahwa manusia seharusnya berserikat dalam 3 hal: air, tanah, dan api(energi). gimana ceritanya kondisi sekarang ya? hadoooh…


#3

Jiewa | 14 10 2007 @ 23:20:11

Kuping selaput penutup gelas seringkali sulit untuk diangkat.

Bener banget, kalo ga ada sedotannya jadi repot deh bukanya.. mesti dirobek. Jadi muncrat2 deh :(


#2

fisto | 14 10 2007 @ 16:34:42

kalo gak ada sedotan, susah banget mbukanya… :(


#1

Mbilung | 14 10 2007 @ 12:46:03

dan wadahnya “nyampah”