CETAK DIGITAL KIAN MERAKYAT.

spanduk lebaran

Makin lumrah saja perorangan, bukan lembaga atau kumpeni, pasang spanduk ucapan selamat hari raya. Banyak wakil partai, yang menyebut diri wakil rakyat, menebar spanduk, terutama di wilayah konstituen, lengkap dengan logo partai. Bupati dan walikota, juga para calon, pun memasangnya. Tak hanya spanduk tapi juga baliho.

Kalau permukiman pasang spanduk, itu juga sudah mulai biasa. Tanpa sponsor berupa logo perusahaan. Swadaya, begitulah.

spanduk lebaran rtPerkembangan terbaru, di kompleks saya juga ada spanduk ucapan selamat. Terbikin oleh RT. Dicetak secara digital di atas vinyl. Modern kan? :D Cocok untuk saya yang TV-nya sudah berwarna.

Cetak digital kian dan terus memurah. Sampai akhir abad lalu, terutama setelah krismon, cetak digital adalah mainan mewah. Plotter, large printer, wide-format printer, atau apalah namanya, berikut perbekalannya, adalah barang mahal.

Kini penjual soto, warung bakso, dan kios pulsa di gang sempit pun sudah memakai produk cetakan digital. Pembuat spanduk dan umbul-umbul (dengan kuas, bukan sablon) kian terpinggirkan. Demonstran saja sekarang bawa spanduk dan plakat hasil cetakan digital.

Cetak digital telah mendatangkan penyesalan bagi para bekas pembuat poster di kampus tahun 80-an. Mereka dulu meracuni diri dengan lichtdruk (diazo printing), setelah berkutat di meja gambar dengan kertas kalkir, spidol, rapido, dan kadang Pylox hitam. “Kenapa dulu belum ada?” begitu getun mereka.

Selain lichtdruk, mereka dulu juga mengandalkan fotokopi ukuran besar dan sablon. Melelahkan. Padahal baru lima menit terpasang sudah dicoreti orang.

Cetak digital juga telah meminggirkan seni cat semprot (airbrush) pada mobil boks dan bilbor. Saya ingat, pada 1999 mendapati mobil boks bergambar iklan kasur pegas. Modelnya adalah Marissa Haque. Wajah Marissa, di kanan maupun kiri dinding boks, berbeda. Maklum hasil pekerjaan manual. :D Saya tahu itu Marissa karena pernah melihat versi cetak offset-nya di brosur.

Cetak digital juga mulai menggusur, meski baru sedikit, baliho bioskop. Dengan cetak digital, file gambar bisa disebarkan ke sejumlah pencetak, bahkan yang berlainan kota, dan hasilnya bisa seragam.

Baliho di atas kain kanvas, yang dikerjakan dengan kuas secara manual, pakai panjat-memanjat segala? Justru di situ seninya. Wajah aktor, tipografi, bahkan penulisan nama, bisa dikemas lebih demokratis. Beda studio beda hasil. Seolah seragam, padahal beragam.

 

11 Responses to Cerita Lebaran #4: Spanduk

  1. Tony INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Paman,saya lagi cari kain MMT, tapi mau beli meteran jangan roll. Paman ada rekomendasi beli dimana yg murah di Jakarta?
    Terima kasih sebelumnya…….

  2. guntur INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    spanduk kain tetap ada kelebihannya.
    kalo sudah kedaluwarsa, bisa dicopot dan dibikin celana…

  3. dhany INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    bikin spanduk makin murah & beraneka warna
    yg untuk (lagi2) kumpeni yg punya pabrik printer.
    para tukang sablon siap2 jadi pengangguran.. he.. leh…

  4. kardjo INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    lichtdruk atau lichtdruct ?? Di tempat saya, tulisan neon sign kebanyakan pake yang ke dua.

    typo:
    1. (aline 3, kata 17). Benarkah penuliasn di_atas harus dipisah?? Mengingat ada kata obyek yaitu ‘vinyl’. Bandingkan kata ‘awan terletak di atas.’ dengan ‘buku diletakkan diatas meja’… (saya ndak tahu pasti)
    2. (alinea terakhir, kata ke-7) ‘dkerjakan’
    3. Boleh ndak kalau kata ‘digital’ diganti ‘dijital’ ???
    4. Berani ndak paman mengganti kata ‘spidol, rapido, Pylox’ dengan nama barangnya (bukan nama merek yang generik itu)..hehe.

    *nyoba jadi pekerja showproof, boleh khan?!*

    boleh. terima kasih.
    digital, dijital? soal pilihan.
    mestinya imagi, atau imaji? religi atau reliji? kovergensi atau konverjensi?
    spidol, itu dulunya merek yang kemudian jadi nama barang. rapido juga. pylox? belum. :D
    sudaj dikerjakan, bos. :D

    [tyo]

  5. kardjo INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Kasihan tukang spanduk dan letter manual. Apalagi yang masih menggunakan cara-cara kuno…. kian tersisih.

    Stempel saja sekarang sudah banyak yang tanpa bantalan dan 1 jam selesai. wuihhhh

  6. STR INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    berarti cetak digital nggak demokratis ya, paman? hehe …

  7. Putra Daerah INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Kalo tidak salah, bahan yang sekarang sering dipakai itu istilahnya MMT ya? Seperti plastik, tapi lebih tahan lama dibanding spanduk dari kain.

  8. areta INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    apa gak mahal tuh??

  9. nananias INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    yang kayak gini, disini, ntaran akan end up jadi background deklit (deklit tuh bahasa indonesianya apa ya? :D) pas ada pesta nikahan

    huihihi…

    adanya nikahan tapi belakangnya mengucapkan selamat hari raya … (sila diisi sendiri :D)

  10. Mbilung INDONESIA Mozilla Firefox Mac OS says:

    Cetak digital lantas diperlukan agar wajah Marissa tidak berbeda … :D

  11. fisto INDONESIA Camino Mac OS says:

    iya, awal ramadhan kemaren saya juga pesen spanduk di atas media yg bagus (mungkin namanya vynil ya..?)…harganya 70ribu per meter…tapi hasilnya cakep banget dan tahan cuaca…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.