Cerita Lebaran #4: Spanduk
CETAK DIGITAL KIAN MERAKYAT.

Makin lumrah saja perorangan, bukan lembaga atau kumpeni, pasang spanduk ucapan selamat hari raya. Banyak wakil partai, yang menyebut diri wakil rakyat, menebar spanduk, terutama di wilayah konstituen, lengkap dengan logo partai. Bupati dan walikota, juga para calon, pun memasangnya. Tak hanya spanduk tapi juga baliho.
Kalau permukiman pasang spanduk, itu juga sudah mulai biasa. Tanpa sponsor berupa logo perusahaan. Swadaya, begitulah.
Perkembangan terbaru, di kompleks saya juga ada spanduk ucapan selamat. Terbikin oleh RT. Dicetak secara digital di atas vinyl. Modern kan? :D Cocok untuk saya yang TV-nya sudah berwarna.
Cetak digital kian dan terus memurah. Sampai akhir abad lalu, terutama setelah krismon, cetak digital adalah mainan mewah. Plotter, large printer, wide-format printer, atau apalah namanya, berikut perbekalannya, adalah barang mahal.
Kini penjual soto, warung bakso, dan kios pulsa di gang sempit pun sudah memakai produk cetakan digital. Pembuat spanduk dan umbul-umbul (dengan kuas, bukan sablon) kian terpinggirkan. Demonstran saja sekarang bawa spanduk dan plakat hasil cetakan digital.
Cetak digital telah mendatangkan penyesalan bagi para bekas pembuat poster di kampus tahun 80-an. Mereka dulu meracuni diri dengan lichtdruk (diazo printing), setelah berkutat di meja gambar dengan kertas kalkir, spidol, rapido, dan kadang Pylox hitam. “Kenapa dulu belum ada?” begitu getun mereka.
Selain lichtdruk, mereka dulu juga mengandalkan fotokopi ukuran besar dan sablon. Melelahkan. Padahal baru lima menit terpasang sudah dicoreti orang.
Cetak digital juga telah meminggirkan seni cat semprot (airbrush) pada mobil boks dan bilbor. Saya ingat, pada 1999 mendapati mobil boks bergambar iklan kasur pegas. Modelnya adalah Marissa Haque. Wajah Marissa, di kanan maupun kiri dinding boks, berbeda. Maklum hasil pekerjaan manual. :D Saya tahu itu Marissa karena pernah melihat versi cetak offset-nya di brosur.
Cetak digital juga mulai menggusur, meski baru sedikit, baliho bioskop. Dengan cetak digital, file gambar bisa disebarkan ke sejumlah pencetak, bahkan yang berlainan kota, dan hasilnya bisa seragam.
Baliho di atas kain kanvas, yang dikerjakan dengan kuas secara manual, pakai panjat-memanjat segala? Justru di situ seninya. Wajah aktor, tipografi, bahkan penulisan nama, bisa dikemas lebih demokratis. Beda studio beda hasil. Seolah seragam, padahal beragam.
11 Responses to Cerita Lebaran #4: Spanduk
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012Ada saja cara membangun suasana spasial kedai agar tetamu mendapatkan kesan mendalam. Misalnya ala modiste, dengan mesin jahit dan baju baru terpajang. Lho, bukannya kalau kita bertandang dan makan di tempat tetangga atau saudara yang pe... […]postyorous menerous »»»
- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012
Cicitcuit!- @memethmeong banyak hal nggak terduga kok tentang pakdhe @mbilung | @imanbr @ndorokakung @pamantyo May 23, 2012 mbakdos (Agatha N. Ardhiati)
- @mbakdos pakde pake jaket kulit? @mbilung @imanbr @ndorokakung @pamantyo May 23, 2012 memethmeong (medina wulandari)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Cawang dan Blog Kerawanan Kota
August 9, 2006 by AntyoADA NGGAK SIH BLOG YANG MENGAJAK KITA WASPADA?
Sial! Ketika turun dari bus, ponsel dalam saku celana cowok itu berdering. Satu dari empat pria yang juga barusan turun dari bus langsung meminta, “Mana barang lu? Mana?” Ponsel berpindah tangan ke bedebah laknat di tengah keramaian.
Itu peristiwa yang menimpa teman dari kawan saya enam [...]
Recent Comments
Eka» Jadi inget waktu masih kecil.. =( Sekarang udah jarang banget perahu othok2 ini.. hiks hiks.. =(
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Paman,saya lagi cari kain MMT, tapi mau beli meteran jangan roll. Paman ada rekomendasi beli dimana yg murah di Jakarta?
Terima kasih sebelumnya…….
spanduk kain tetap ada kelebihannya.
kalo sudah kedaluwarsa, bisa dicopot dan dibikin celana…
bikin spanduk makin murah & beraneka warna
yg untuk (lagi2) kumpeni yg punya pabrik printer.
para tukang sablon siap2 jadi pengangguran.. he.. leh…
lichtdruk atau lichtdruct ?? Di tempat saya, tulisan neon sign kebanyakan pake yang ke dua.
typo:
1. (aline 3, kata 17). Benarkah penuliasn di_atas harus dipisah?? Mengingat ada kata obyek yaitu ‘vinyl’. Bandingkan kata ‘awan terletak di atas.’ dengan ‘buku diletakkan diatas meja’… (saya ndak tahu pasti)
2. (alinea terakhir, kata ke-7) ‘dkerjakan’
3. Boleh ndak kalau kata ‘digital’ diganti ‘dijital’ ???
4. Berani ndak paman mengganti kata ‘spidol, rapido, Pylox’ dengan nama barangnya (bukan nama merek yang generik itu)..hehe.
*nyoba jadi pekerja showproof, boleh khan?!*
—
boleh. terima kasih.
digital, dijital? soal pilihan.
mestinya imagi, atau imaji? religi atau reliji? kovergensi atau konverjensi?
spidol, itu dulunya merek yang kemudian jadi nama barang. rapido juga. pylox? belum. :D
sudaj dikerjakan, bos. :D
[tyo]
Kasihan tukang spanduk dan letter manual. Apalagi yang masih menggunakan cara-cara kuno…. kian tersisih.
Stempel saja sekarang sudah banyak yang tanpa bantalan dan 1 jam selesai. wuihhhh
berarti cetak digital nggak demokratis ya, paman? hehe …
Kalo tidak salah, bahan yang sekarang sering dipakai itu istilahnya MMT ya? Seperti plastik, tapi lebih tahan lama dibanding spanduk dari kain.
apa gak mahal tuh??
yang kayak gini, disini, ntaran akan end up jadi background deklit (deklit tuh bahasa indonesianya apa ya? :D) pas ada pesta nikahan
huihihi…
adanya nikahan tapi belakangnya mengucapkan selamat hari raya … (sila diisi sendiri :D)
Cetak digital lantas diperlukan agar wajah Marissa tidak berbeda … :D
iya, awal ramadhan kemaren saya juga pesen spanduk di atas media yg bagus (mungkin namanya vynil ya..?)…harganya 70ribu per meter…tapi hasilnya cakep banget dan tahan cuaca…