Cerita Lebaran #5: Ceramah di Kedai
PADAHAL INI KESEMPATAN SALING MEMAAFKAN…
Perut semakin lapar, petang sudah menjadi malam. Maka pengambilan keputusan dalam rombongan perut kosong terkadang ikut diktator saja, dalam hal ini sopir.
Kami, kemarin malam, singgah ke ke kedai di Bogor itu. Antrean tak panjang. Parkiran tak berjejal. Kami duduk, memesan. Bolak-balik pramusaji keluar dari dapur, “Yang ini habis tuh.” Lalu nongol lagi, “Yang itu juga habis.” Padahal kami dulu ke sini tiada masalah.
Setengah jam berlalu. Minuman tak kunjung muncul. Maka saya panggil pelayan, “Mas, tolong ya, yang namanya di minuman di rumah makan mana saja itu dikeluarin dulu.”
Setelah mengiyakan, dan masuk ke dapur, dia keluar lagi. Tanpa baki. “Jeruk panasnya habis,” katanya.
Kami tahu, lima belas menit sebelumnya baki berisi minuman yang serupa pesanan kami sudah dibawa keluar tapi dibawa masuk lagi untuk dirapatkan. Baki itu keluar lagi, isinya cuma dua minuman, untuk dua tamu di meja lain yang datang belakangan.
Tak apa. Ngalah saja. Tampaknya orang di meja lain itu kelelahan, apalagi membawa orok.
Akhirnya minuman keluar. Sudah dingin, wong jadinya sudah lama.
Kami maklum, pada hari raya, tepatnya hari kedua Lebaran, banyak kedai diserbu orang, dan stok cepat habis. Maka saya, dan istri, memanggil kasir, yang menjadi kordinator pesanan, untuk memberi sekadar ceramah kecil, tanpa meledak-ledak.
Intinya adalah pemakluman kami plus mengingatkan agar informasi menu apa saja yang sudah habis disampaikan lebih awal. Dia mengiyakan. Manggut-manggut, tapi mukanya kesal.
Sepuluh menit kemudian orang dari dapur keluar. Tanpa baki. Bisik-bisik di meja kasir. Kami panggil dia, lalu saya tanya, “Masih lama nggak, Mas?”
Jawabannya merdu, “Nasinya habis.”
Perut kosong, asam lambung yang merambat naik, gelembung udara yang terus mendesak jakun, mengantarkan saya kepada tawaran untuk anak dan istri, “Kita pindah saja yuk… Cari tempat lain.”
Kali ini mereka menolak. Rasa lapar telah menyandera mereka dalam kepasrahan sekaligus kekesalan. Keputusan untuk berpindah tempat adalah eksperimen yang layak tolak karena belum jelas hasilnya.
Ini seperti mengurusi negara dan organisasi. Keputusan jangka pendek lebih masuk akal. Pemungutan suara adalah buang waktu dan energi. Para diktator paham itu, sehingga darurat menjadi default. Tapi jangan lupa, dalam situasi tertentu, setiap orang bisa jadi diktator. Kalau hasilnya bagus maka dia dibilang telah bertindak tepat, penuh kepemimpinan. Kalau hasilnya buruk dia akan dikutuk tujuh pangkat tujuh turunan.
Ketika saya muda, situasi macam ini saya atasi dengan gampang. Panggil pemilik kedai, bayar penuh semua makanan yang terpesan (padahal belum jadi), kemudian tinggalkan tempat.
Seseorang bilang, cara sok pri(y)ayi Jawa itu tidak cocok dengan zaman, hanya betsi (beda tipis sekali) dengan kepongahan-sekaligus-kebodohan. Para pemilik kedai malah senang dan untung kalau ada orang semugih yang kemlinthi. Mereka tahu, si kemlinthi setelah jadi pri(y)ayi kagetan kembali jadi kere karena uangnya sudah habis.
Orang yang lain lagi punya saran yang kurang berbudaya tapi menurutnya efektif. Panggil pemilik kedai atau kepala pelayan, siramkan sambal ke wajahnya, lalu tinggalin duit. Waktu saya muda saja tak ada nyali untuk beginian, apalagi setelah tua.
Nah, karena saya tidak sugih dan sudah berkurang kemlinthinya, maka saya minta pelayan menyajikan pesanan yang sudah jadi. Lalu keluarlah potongan ayam kurus yang sudah dingin — iya, sudah jadi sejak tadi.
Lantas pelayan datang lagi, mengabarkan satu pesanan yang ternyata sudah habis, padahal tadi dibilang ada. Tak lama kemudian menyusullah nasi ketika ayam hampir habis.
Selalu saja ada situasi sulit yang merebus batas kesabaran. Pakde Totot melakukannya dengan perlawanan ala wong cilik: mengancam untuk mutung.
20 Responses to Cerita Lebaran #5: Ceramah di Kedai
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012Berita paling konyol pekan ini: pemasangan 177 kursi (@ Rp 24 juta) dalam ruang rapat senilai Rp 20 miliar milik Banggar DPR dilakuan menjelang pergantian hari hingga dini hari dengan pengamanan ekstra. Setiap kursi baru masuk, sehingga pintu harus dibuka, lampu ruang sudah padam. Artinya para politisi dan birokrat di DPR itu masih punya rasa […]antyo
- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012
Cicitcuit!- Five Roles of An Online Investigation Team » http://t.co/6VFaC7wO | cc: @hedi @PamanTyo @orsuy @ndorokakung February 4, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
- @leksa @pamantyo kebanyakan yg belanja org2 yg jualan makanan sekitar mega kuningan. asal tegal, purwokerto sama kuningan :D February 4, 2012 aralle (alle)
Recent Posts
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
- Nasib Koran dan Penjajanya
Archives
Random Posts
Pesan untuk Istri
December 19, 2006 by AntyoUNTUK DITERUSKAN KE SUAMI…
Nakal juga iklan Bank Bukopin ini. Visualnya, untuk ukuran sekarang, mungkin biasa saja. Toh yang namanya iklan promosi berhadiah itu sudah sering bergaya sinting. Mungkin mengimbangi kesintingan orang yang keranjingan hadiah. Tapi lihatlah pesannya: “Suami Anda gila BMW?”
Hmmm… wanita sebagai sasaran antara. Dulu waktu saya kecil pernah [...]
Recent Comments
Fauzi Enigma Web» waduh. miris. budaya “sebagian̶ 1; masyarakat yang serba instan. pengen ini pengen itu tapi tidak mau menanggung bebannya. Sedih melihat orang-orang seperti itu
Fauzi Enigma Web» Ampun. seumur-umur gue ga pernah milih. Dari gw mulai dapet KTP sampai nyaris kepala 3 ini. Dan kayaknya gak bakalan kalau para pemimpin kita masih sibuk mengurusi perut dan nafsunnya ketimbang memihak rakyat. mbuh
wafaa» kalau bingung gak usah milih :D
vhyan» kllo syya sii pillih yg adill dan jujur sajja.. hehe..
Alex» Rekam jejaknya juga selama ini bertabur-tabur, Paman. Bersama kawan-kawan kami pernah coba bikin blog mulut pejabat dengan iktikad merekam jejak mereka yang sedang menjabat, untuk arsip jika kelak mereka mau naik lagi. Tapi ya susah. Hehe. Yang terlibat sedikit masih. Sistemnya sederhana:...
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (86)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





:) hahahha
wah, dendam nih. kekesalannya bikin kedai itu calon bangkrut. (satu lagi tempat yang ga boleh dikunjungi – kedai dangerously)
Wah…situasi sing ngayelke yho Paman, celuk bakule lungguhke pisuh pisui paman hehehehe
hehehe saya pernah begitu di pemancingan… gelasnya dibuangin ma temen ke kolam…abisnya nggak ada kerjaan laen sih….(salam tempel buat joko dkk)
Ngertio ngono nggowo sangu seko ngomah nggih Pak Dhe, terus mlebu kono…” permisi numpang makan” ( mbukak sangune dhewe) selesai makan ke kasir mbayar “sewa tempat”….he ..he.
saya salut dengan kesabaran keluarga paman ;p
[...] NGAMuk dan NGAMbul ini pun memiliki banyak turunan dan variasinya. Salah satu derevatif dari NGAMuk adalah NGAMuk Seafood ala Pak Budi. Sedangkan NGAMbul sering dilakukan oleh Paman Tyo seperti ceramahnya di kedai. [...]
bener-bener minta di-gepuk tuh paman :D
warungnya ganti nama jadi :
“SABAR MENANTI…”
Sabar ya paman..
Lucu bangat blog kamu ini,saya suka.
http://www.hanafionline.com
Yang begini memang perlu dimaklum, tapi tips paling gampang itu begini pakdhe, “mas/mbak… saya ini aparat lho! mau dinas! butuh cepat!” biasanya efektif untuk antri makan, karcis sepur dan ‘gatal’ di mangga besar.
nasib kok apes tenan…. :D
hahaha, aduh maaf ya paman. makanan di situ sdh saya borong semua sebelum paman datang. hihihi.. :D
mmm … tapi sekarang wong cilik nggak cuma bisa mutung tok, paman … mereka sekarang udah mulai bisa mengorganisasi diri untuk melakukan tindak anarkis yang nggak vandalis.
memang sok sih, tapi saya suka cara itu (maklum … orangmuda …)
bacanya aja udah ngeselin, gimana kalo ngalamin langsung ;p
wooo kedai itu. saya pernah nawari ke mereka untuk bawa ayam sendiri
Kalau saya : NGAMUK MODE [ON] !
ah gila..
kalau saya pasti sudah dari awal pindah ke restoran lain :)
memang pengalaman yang sangat njelehi ya