Pribumi dan Pendatang (di Bekasi)
TAFSIR MELENCENG DALAM RENUNGAN GOMBAL.

Saya kurang sreg dengan istilah pribumi dan nonpribumi beserta pengutubannya secara kontrer. Istilah ini — mungkin sebangsa bumiput(e)ra — bisa jadi komoditas politik yang kemriuk. Mudah dikunyah, tapi tak mengenyangkan, kalaupun terus disantap hanya akan mendatangkan seret dan dahaga.
Tadi saya mendapati mobil dari tim sukses salah calon wali kota Bekasi. Slogannya “mempersatu pribumi dan pendatang”. Inilah kekurangan saya. Mestinya saya berdialog dengan si pembawa mobil, agar paham apa yang dimaksud dengan pribumi.
Nah, karena telanjur sewenang-wenang menafsir, maka kesembronoan ini saya teruskan saja. Kesan saya (jadi bisa salah), yang dimaksud dengan pribumi adalah penduduk asli Bekasi. Asli, artinya lahir di sana, orangtuanya mungkin juga.
Adapun pendatang, ya sebangsa saya. Tidak lahir di Bekasi, mukim di wilayah itu, tapi mengais duit di Jakarta — bahkan mungkin membuang (uh, gaya!) uangnya di Jakarta, begitu pula menyekolahkan anak. Malah ada yang pelat nomor mobil dan motornya masih ikut DKI, tak setor pajak ke Bekasi. Entahlah bagaimana dengan Daus, Vavai, dan Djoko — dalam hal apa mereka asli, dalam hal apa pendatang. :D
Bisa juga pendatang adalah orang dari wilayah lain, yang bermukim dan mencari uang di Bekasi.
Bermukim tak hanya berteduh. Bisa cuma mengontrak, bisa pula membeli tanah untuk rumah tinggal dan ruko, pokoknya menyangkut ruang hidup, bahkan ketika meninggal dimakamkan di bumi Bekasi, bukan di kampung asal.
Bermukim dan kemudian bekerja di Bekasi juga berarti kompetisi dalam ruang nafkah. Jika kelewat timpang bakal ada yang terpelanting dari putaran.
Istilah pribumi, dalam konteks hasil tafsir paksa saya ini, telah dikemas sebagai entitas yang tak sama dengan pengutuban non-Cina dan (baca: versus) keturunan Cina.
Asli Bekasi dan pendatang, itu bisa menjadi peka. Beberapa tahun lalu sebuah hypermart diresmikan dan langsung menuai demo dari laskar primordial yang mengatasnamakan penduduk asli. Mereka minta jatah pekerjaan.
Salahkah tuntutan itu? Siapa pun yang merasa sebagai “orang asli” cenderung tak rela bila sejumlah hajat hidup dikuasai pendatang. Ini seperti cerita zaman dulu di sebuah kampung di Yogya. Pemuda-pemuda asli merasa tersingkir karena untuk memeriahkan tujuhbelasan pun RT lebih mengandalkan mahasiswa indekosan. Para cewek, dan orangtuanya, lebih kesengsem sama mas-mas indekosan yang kebetulan berpendidikan lebih tinggi.
Asli versus pendatang ini di beberapa daerah kadang tinggal menunggu bisul pecah, dan jadilah konflik horizontal yang berdarah. Bumbu pendidih paling dahsyat tentu saja bendera agama. Yang mulanya urusan antarpreman, tak ada urusannya dengan antariman, bisa merembet ke mana-mana.
Asli versus pendatang, apakah ini hanya masalah masyarakat transisional dunia ketiga?
Sejarah terus berjalan dan berulang. Ultranasionalis, ultrakanan, atau apalah, juga ada di negeri maju dan jadi komoditas politik. Di Australia, yang kulit putihnya pendatang, juga punya orang macam Pauline Hanson yang anti-Asia. Dalam konteks beberapa negeri kulit putih yang mengaku sekular, isu terkini adalah “bahaya Islam bawaan imigran”.
Lantas apa urusan itu semua dengan Bekasi? Sekali lagi, itu hanya tafsiran saya. Muara pikiran gombal saya adalah ini: komunikasi politik. Apa yang digerundelkan justru diangkat ke permukaan, untuk dikomunikasikan. Hanya dengan dialog orang bisa saling menerima dan mungkin membangun landasan untuk berkompromi.
Abstrak ya? Memang. Itulah tugas politisi dan orang partai, yang isinya orang-orang cerdik lagi cendekia (setidaknya salah satu dari dua kata itu), untuk mengartikulasikan apa yang laten, yang cuma jadi grenengan, dengan rumusan yang gamblang.
Tiga dasawarsa terakhir abad lalu politik lokal hanya menjadi sebuah bisik-bisik berbumbu gunjingan dan prasangka. Monolitisme ruler’s party (bukan ruling party), dengan dukungan militer, telah menabukan setiap proses komunikasi terbuka. Mantera sensitivitas SARA dan stabilitas pembangunan cukup ampuh meredam isu — setidaknya menyembunyikan debu di bawah karpet.
Pilkada(l), adalah eksperimen demokrasi yang menegangkan sekaligus menjanjikan bagi yang percaya. Tak hanya bagi Bekasi, tapi kita semua, di Indonesia, yang sedang meniti seutas tambang di atas jurang yang kadang berkabut. Kalau tak berani menyeberang, kapan kita bisa berubah, kata orang (sok) optimistik.
NB:
Ah tiba-tiba saya teringat seorang teman yang cendekia, blogger juga. Usul tema kampanye yang pernah dia tawarkan kepada sebuah tim sukses calon bupati, bukan di Bekasi, adalah “pasar yang bersih, timbangan yang benar”. Usul ditolak. Kurang menjual. Padahal dalam tafsiran saya, tema yang sesuai syariat Islam itu jelas berlaku universal. Apa kabarmu, Kawan? Masihkah kamu tenggelam dalam sastra dan filsafat? Pinjamkan sentolopmu untuk aku yang awam ini.
*) Penulis adalah seorang warga Bekasi yang suka plonga-plongo sambil melamun, makanya bisa bikin posting yang melelahkan untuk dibaca. Maklum, pengangguran. :D
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012Ada saja cara membangun suasana spasial kedai agar tetamu mendapatkan kesan mendalam. Misalnya ala modiste, dengan mesin jahit dan baju baru terpajang. Lho, bukannya kalau kita bertandang dan makan di tempat tetangga atau saudara yang pe... […]postyorous menerous »»»
- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012
Cicitcuit!- @memethmeong banyak hal nggak terduga kok tentang pakdhe @mbilung | @imanbr @ndorokakung @pamantyo May 23, 2012 mbakdos (Agatha N. Ardhiati)
- @mbakdos pakde pake jaket kulit? @mbilung @imanbr @ndorokakung @pamantyo May 23, 2012 memethmeong (medina wulandari)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Gus Dur
January 2, 2010 by AntyoMEMANG PAHLAWAN KOK…
Saya baca di Koran Tempo, bahwa Ketua Fraksi Golkar di DPR-RI Setya Novanto menyatakan pihaknya setuju Gus Dur diberi gelar pahlawan nasional, dengan syarat Soeharto juga diberi gelar serupa. Setya mengingatkan, Gus Dur dulu menzalimi partainya karena mengusulkan pembubaran Golkar.
Ada dua hal yang harus dicermati. Pertama: saya tak menggunakan kutipan langsung, [...]
Recent Comments
Eka» Jadi inget waktu masih kecil.. =( Sekarang udah jarang banget perahu othok2 ini.. hiks hiks.. =(
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





[...] Berseberangan tentu boleh-boleh saja, tapi otak harus tetap sedingin kulkas. Kalau tidak, emosi dan sentimen antarpihak yang berseberangan bisa menjadi komoditas kemriuk (meminjam istilah Paman Tyo) buat para oportunis dunia maya untuk mencari popularitas dan, mungkin, dolar. [...]