Saya dan Blog Sudimampir: Sebuah Cerita
SEKADAR MENERUSKAN GAGASAN NGAWUR.

Dia masih ingat impian gombal saya belasan tahun silam. Lantas dia menyimpulkan, “Kayaknya blogombalmu itu sudah menjawab, Mas.” Kami terbahak bersama.
Mungkin, ya mungkin saja, blog-blog saya sudah menuntaskan keinginan gombal itu.
Dulu saya membayangkan mengelola media yang isinya sakarêpé dhéwé, semau saya sendiri.
Karena internet belum meluas maka yang terbayang adalah media cetak. Edisi ini bisa majalah seukuran kuarto, edisi berikutnya bisa setabloid, edisi selanjutnya bisa sebuku saku, dan bukan tidak mungkin cuma senotes kecil. Seminggu bisa terbit sepuluh kali, lalu lima bulan sekali, dan kalau perlu terbit dua tahunan.
Logo boleh gonta-ganti. Jenis kertas boleh selang-seling. Teknik cetak pun kalau perlu diselingi sablon. Majalah atau apalah namanya itu disebarkan gratis — meniru Aikon-nya Rico, pelopor majalah gratisan untuk kafe.
Isinya pun gonta-ganti sesuka hati. Edisi ini ngomong hermeneutika (mungkin ini sebangsa tongseng, yang penting kelihatan terpelajar). Edisi berikutnya hanya berisi TTS (berhadiah pula). Edisi selanjutnya hanya berisi foto-foto stiker di angkot (tanpa pembahasan).
Lantas sesudahnya ada edisi berisi cerpen yang nyastra banget (entah yang bagaimana). Kemudian disusul edisi yang isinya paparan penelitian antropologis.
Setelah itu isinya cuma puisi. Selanjutnya cuma komik. Dan berikutnya ada edisi stylish yang nggak bakalan dinista oleh kaum fashionista.
Lalu nongol edisi berupa kliping berita kriminal (tanpa kajian sok pintar) dengan bonus video pertandingan catur yang diambil dari kamera diam.
Tentu media macam itu tak bisa diisi sendiri. Tugas saya, eh kami, cuma penjaga gawang.
Apa ada yang mau baca bahkan mengoleksi? Kami waktu terbahak-bahak.
Dari mana biaya cetaknya? Kami tertawa bersama.
Dari mana duit untuk bayar honor termahal? Lagi-lagi kami terpingkal mentertawakan diri.
Waktu itu belum ada Pantau (versi lama) kelolaan Andreas Harsono et.al. yang membayar honor berdasarkan jumlah kata. Tapi kami pingin kasih honor termahal.
Cita-cita naif. Impian kenthir. Mencuat karena media tempat bekerja, dan media lain, tak pernah bisa menampung keinginan hati. Setiap media punya pakem dan konsep produk, tidak bisa zig-zag seenak udel.
Lalu impian itu larut bahkan lenyap. Terlupakan.
Kemudian datanglah blog. Isinya bisa melulu teks, bisa juga pakai gambar. Topiknya bisa beragam. Dan muncullah ungkapan entah bersyukur entah meledek, “Kayaknya blogombalmu itu sudah menjawab, Mas.”
Itu pun dengan tambahan, “Ketoké kowé hepi karo blogmu, Mas. Enjoy banget ngono lho.” (Kayaknya kamu hepi dengan blogmu, Mas. Enjoy banget, gitu lho).
Benarkah? Dalam beberapa hal iya. Sejauh ini saya hepi dan menikmati. Tentu sesekali bosan bahkan lupa. Sama seperti Anda terhadap blog ini.
Terima kasih Anda telah singgah. Mestinya nama blog ini Sudimampir.
NB:
[1] Salah satu orang yang ingat gagasan tak bermutu ini adalah F.X. Rudy Gunawan. Pakabar Dab?
[2] Rombongan sirkus gombal: Blogombal, Gombalabel, Gombalkartu, Gombalbarang, dan… Memo Blogombal :D
© Ilustrasi: Paman Tyo/Blogombal
23 Responses to Saya dan Blog Sudimampir: Sebuah Cerita
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
Cicitcuit!- Saya jadi ketawa ngeliat komentar @pakde Totot pada kolom komentar blogpost "Memahami FPI" punya @pamantyo baca saja -> http://t.co/RjtBfBdd May 19, 2012 sibair (Bair)
- :'( RT @dannytumbelaka: @TonnySukirno @PamanTyo bangaip @motulz RIP Donna Summer... May 18, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Lagu Alam Memang Sunyi, Sayang
October 10, 2006 by AntyoTUTURAN IWAN ABDULRACHMAN.
Cuma jarak yang memisahkan kita / seribu mil lebih sedepa / seribu mil pun lebih sedepa / lagu alam memang sunyi, sayang // …Lagi pula ini bukan puisi / cuma bahana yang diam-diam… [Seribu Mil Lebih Sedepa]
Seberapa kita akrab dengan mil, pun depa, yang pasti bukan metrik, itu bukan [...]
Recent Comments
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
jimmy» bagus sekali artikelnya, thx
jimmy» Nice Informasinya gan,, sangat membantu sekali.. :)
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Aku suka gaya tulisan di blog ini. Segar….
Aku suka gaya tulisan di blog ini…segar.
P recently posted..Bila Kebaikan Hatimu Disalahgunakan Teman
wis moco k-o-m-a, novel teranyarku durung? ayo cepetan moco paman tyo!
piye kabarmu pakde? kemarin nyeket willy pramudya, aku, iput, heru, jodi, ketemuan. seru tenan bernostalgia JJ, mulai crito soal ninik sampe acay, hahaha
ah, mimpi yang sama. Mengelola media sakkarepedhewe. Pasti nikmat. :D
[...] Kenapa gelas? Pertama: tembus pandang; ketahuan apa isinya, termasuk barang kecil yang tingginya di bawah bibir wadah. Kedua: mudah membersihkannya. Ketiga: itu tadi, murah. Salah satu gelas murahan yang saya isi ikan-ikanan gocengan menjadi ilustrasi di sini. :D [...]
yg penting hebring coy terus bt yg lucu coy
paman tyo! gantian saya yang bertandang ke blogombal. bikin terpingkal-pingkal :) setuju! karena kita sendiri yang punya, ya sekarep kita kapan mengisi dan mengosongi [lha, kok dibusak?!], hahaha.
yuk ah…
ngeblog kan asiknya bisa santai2… kagak perlu konsisten.
hehehe..
saya mau comment jadi ngga jadi.. terkesima oleh pelototan mata iwakmu itu lho paman!
*mesak’ake’ tenan*
apa hubungannya dengan sang ikan plastik…?????
wah saya membayangkan, bila gombalan paman ini dijadikan media cetak, apa ya laku. secara yang berkunjung kemungkinan besar adalah pekerja yang memanfaatkan fasilitas kantor. tapi bayangan saya mungkin salah. secara paman adalah selebritis blogger indonesah. :P
bener nih paman baru nyadar?, bukannya dari dulu?
idealis sekali!
Seharusnya blog ini dinamakan sakarêpé dhéwé
eh, aikon itu masih terbit? soalnya dulu dapatnya pas main ke jakarta. di surabaya gak ada :(
selamat, paman. huehehe….
kalau mau mencetak, siapa yang mau membiayai? gombalan segini banyak dengan tanpa ada pembeli yang tetap
teruskan kegombalanmu, pak!
Pantesnya emang sampeyan ini ngeblog aja, lha bahan gombalnya banyak banget. Kalo di media mainstream, susah bikin pakemnya :D
ya hampir sama memang… tetapi beda medianya.. ya kalo jaman dulu memang kudu nulis di koran atawa bikin buletin selebaran, kalo sekarang kan tinggal posting aja.. mak nyus langsung ada yg baca termasuk saya ini :D
Setubuh, eh salah, setuju !Pertanyaan: Itu ikan bisa ngeblog juga ngga ya? Huss pertanyaan ngawur, sama seperti bacaannya :)