KITA BANGSA OPTIMIS, TAK KENAL JERA. :D

Izinkanlah saya mengajukan pertanyaan naif. Masihkah Anda memercayai partai politik dan membutuhkannya?
Saya awam politik, meski yah… kadang menjadikan isu politik sebagai infotainment semata. Untuk disimak sejenak (siapa tahu bermanfaat lucu), dikomentari (supaya dianggap terpelajar), lalu dilupakan (ini alami).
Kadang partai seperti badak bedak antigatal untuk punggung. Dengan terpejam pun kita tahu titik gatal kita, tapi ketika menaburkan bedak, bahkan di depan cermin dalam ruang terang, bedak itu hanya berceceran mengotori lantai. Rasa gatal tetap menanti taburan antihistamin, dan terus berharap, bahkan kian meningkat kadarnya.
Partai adalah soal butuh dan tak butuh. Kita butuh karena merekalah yang mestinya menyuarakan kepentingan kita. Apa pun bunyi statuta masing-masing pastilah berisi klaim tentang agregasi kepentingan rakyat.
Kita tak membutuhkannya kalau kepentingan kita sudah tercapai — itu idealnya. Yang lebih sering terjadi, kita tak butuh karena sebal dan tahu diri. Kepentingan kita tak terwakili. Mereka yang ada di parlemen adalah wakil partai berlencana wakil rakyat — dengan segala ongkosnya.
Ya, mereka. Mereka yang membangun pagar tinggi dan kokoh untuk gedung rakyat, agar tak semua orang masuk lalu mengusik kesibukan mereka. Ya, mereka yang memasang tembok berlapis marmer untuk meredam pekik parlemen jalanan, sambil menghalangi fasad gedung dari pelintas jalan di depan.
Salah, jika kita katakan partai dan poli-tikus adalah orang-orang yang berpikir jangka pendek. Sejak kemarin mereka mulai kasak-kusuk untuk memenangi pemilu, dengan meja berstiker “konsolidasi” dan “silaturahmi”. Mereka berpikir lebih panjang daripada kita, lalu kita mempersilakan mereka untuk dikadali.
Baik, baiklah. Saya tahu Anda sudah muak dan bosan membaca tulisan ini. Anda pun tak peduli bahwa partai-partai besar bikin liga untuk menandingi forum partai eceran, partai tungau, partai gurem.
Saya tak hendak berlama-lama menulis. Saya hanya ingin mengulangi judul untuk bertanya.
NB:
Kenapa keledai tak terantuk batu yang sama untuk kedua kalinya? Karena rute sudah berganti, dan jalan sudah diperbaiki. Untuk itu, keledai tetap butuh partai dan poli-tikus, kan?







andril21 | 30 10 2007 @ 11.27.20
kita masih butuh parpol man!! lha miturut “atoeran jang soedah diboeat” yang pimpin bangsa ini ya para poli – tikus itu… ketawa aja lah!
dhany | 29 10 2007 @ 23.03.32
PARPOL…
lemPAR suara terus ngomPOL
Pelintas | 27 10 2007 @ 11.06.24
Pernah terdengar konon pulitik itu kan cume alat/care,ntuk ngurus kepentingan orang rame dalem wadah nyang namenye negare.Partai ntu cume salah atu komponennyah,nah pigimane jalannye balik lagi ke mangnusianya juge.Di negeri nyang masih kayak begini? nyang myemplung ke sono cuma serigala laper (gak semua kali’ ya ) nyari sosotan ? jijay aje dah
Evy | 25 10 2007 @ 23.10.38
kita bikin partai aja paman, partai rakyat… judule… tapi ntar klo ikutan nongktong di gedung berpagar tinggi itu kita jadi tukang nggombal yo… ga jadi rakyat lagi… rasah wis…
Abe Poetra | 25 10 2007 @ 21.51.04
Typos ya pakde?
–
Maaf. Terima kasih. :)
bangsari | 25 10 2007 @ 19.36.29
wakakak. tulisane pakde tentang perilaku berbangsa kita memang jos.
ndahmaldiniwati | 25 10 2007 @ 15.43.32
golput ae paman, ga’ guna juga ngabisin waktu buat ngantri nyoblos apalagi rame2 kampanye. mendingan blogwalking:D
areta | 25 10 2007 @ 15.03.01
keledainya bakal kesandung polisi tidur…
Hedwig™ | 25 10 2007 @ 14.46.27
jadi …
GWnya | 25 10 2007 @ 12.50.41
gw gk penting parpol itu..yg penting realisasinya..jgn hny mentingan parpol doank..rakyat dunk…khan parpol itu hidup klo ada rakyat mendukungnya…..
matahati | 25 10 2007 @ 11.24.09
aku kerja mbek wong partai, piye jal Paman?
Sugeng Riyadi…
annots | 25 10 2007 @ 10.06.51
sebenarnya, kita yang butuh parpol atau parpol yang butuh kita? -pusing-
galih | 25 10 2007 @ 9.50.30
Saya sudah desperate. gak akan lagi.
alhakim | 25 10 2007 @ 9.21.23
mikirin parpol…capek deh..
dari dulu mereka cuma bisa janji melulu. Ketika sudah di kursi DPR mereka lupa dengan rakyat.”kacang lupa kulitnya”
mitra w | 25 10 2007 @ 9.13.20
berarti kita keledai ya om?? :P
adipati kademangan | 25 10 2007 @ 8.48.08
tipikal orang indonesia,
diberi janji – janji, dibesarkan hatinya, ditinggikan angan – angannya, kemudian dengan sedikit diapusi, setelah itu ditinggalkan
merana sekali dikau nak …
djoko | 25 10 2007 @ 8.28.40
Masihkah Anda memercayai partai politik dan membutuhkannya? jawabnya : Sampai saat ini Tidak Pernah
iway | 25 10 2007 @ 8.17.46
kayaknya posting ini bakalan minim komentar :D
sawung | 24 10 2007 @ 21.42.15
saya pilih the president of the republik panas dalam aja. Wilayah negaranya studio lukis FSRD ITB :))
ayahshiva | 24 10 2007 @ 20.19.44
dari dulu aku gak suka yang namanya politik, gak pernah percaya dengan yang namanya partai
Jo | 24 10 2007 @ 19.24.18
huehehehehehe..jadi mikir kalo paman ikut gabung jadi wakil rakyat, mungkin blog ini bisa jadi penyaluran aspirasi paman..dengan kegombalan yang kadang lebih enak dibaca daripada dengar keseriusan orang orang sana yang jauh lebih gombal..(ngomong opo thooo iki..*kaburrrrrrrrrr*)
fahmi! | 24 10 2007 @ 18.48.30
haha, posting yg sangat gombal di blogombal :D
Thomas Arie | 24 10 2007 @ 18.32.24
Potilik? Ah, males banget ngomongkan ini…
Mendingan baca blogombal daripada baca berita politik. Masalahnya… di blogombal politik bisa diceritakan dengan bahasa yang nggak nggilani.
Maju jadi calon independen, Pakdhe?
yudhi | 24 10 2007 @ 17.11.33
Hidup presiden gombal !!!
*dorong2x pakdhe*
handaru | 24 10 2007 @ 17.08.01
Vote Paman Tyo 4 R1 !
Totoks | 24 10 2007 @ 17.05.55
Sekarang ini hanya dari partai suara kita bisa didengar. Apalagi kalau partainya besar. Melalu blog gombal ini sebenernya suara juga bisa kita perdengarkan kepada mereka hanya masalahnya apa mereka baca blog ini.. Wallahualam Bishawab…