Berbahasa Satu Bahasa Hahaha…
HOW GIMANA PIYE SIH BAHASA ENDONESAH ITU?
Lihatlah kedua gambar ini. Semuanya di Jakarta. Bukan di negeri tetangga. Adakah yang salah? Tidak ada.
Terbukti toko itu punya pelanggan. Terbukti pula bus gratisan di sebuah pusat perbelanjaan itu tetap dinaiki penumpang. Tak ada yang salah, kan? Apa yang dinyatakan oleh tauke toko dan pengelola mal dipahami oleh khalayak(nya).

Bagi saya, kedua foto ini adalah keping puzzle potret Indonesia. Begitu beragam dan hidup. Jadi, apa sebetulnya yang kita cemaskan tentang bahasa kita? Jangan-jangan kita pun bingung untuk merumuskannya.

Jika Anda pembaca setia blog nan gombal ini, pastilah Anda akrab dengan kekacauan berbahasa saya. Tak jadi soal, toh saya punya kilah, “Inilah bagian dari potret Indonesia.”
Potret yang kaya warna. Saya berbahasa Indonesia tapi dengan alur tutur Jawa — sama seperti saya membatin angka (padahal di blognya, Andry pernah mengajarkan cara berangka dalam bahasa Inggris). Sialnya, bahasa Jawa saya ternyata cupet.
Di blog ini saya juga masih menggunakan beberapa istilah asing, semisal “link” dan “links”, padahal sudah tersedia padanannya dalam bahasa Indonesia — dan sudah dipakai oleh banyak bloggers.
Meskipun begitu Imponk pernah menilai cara berbahasa di blog ini seperti karya terjemahan. Mungkin dia ingin mengatakan bahwa cara bertutur saya aneh, tapi dia terlalu sopan untuk berterus terang. :D
Jadi, apa sebetulnya yang kita risaukan tentang bahasa kita? Terbukti, seorang murid paling slengekan pun ketika berpidato dalam acara sekolah bisa menggunakan bahasa seresmi ketua partai — lengkap dengan basa-basi berkepanjangan dan hambur kata berlebihan.
Dua belas tahun lalu, atas nama peringatan 50 tahun Indonesia Merdeka, nama-nama asing dilarang. Hasilnya? Orang Jakarta Barat, terutama sopir angkutan umum, lebih akrab dengan Citraland (di kaca mobilnya kadang tertulis Citralen) dan bukan Mal Ciputra.
Sebagai kata, “Indonesia” adalah sesuatu yang asing tapi kita yakini sebagai hal yang orisinal. Maka menjadi aneh jika pernah ada pelarangan nama asing untuk bangunan publik dan nama dagang (kecuali waralaba dari luar). Juga aneh, pernah ada pelarangan terhadap aksara Cina. Hari ini, pemerintah DKI masih menggunakan “busway” (dan “bus way“) dalam dokumen resmi dan rambu lalu lintas.
Baiklah kita persempit persoalannya dengan memuarakannya ke pemerintah. Bukan soal istilah asing atau serapan (dulu banyak kantor pemda ditempeli papan nama “operation room“). Bukan soal istilah kolonial dalam bidang hukum semacam “gijzeling“ itu. Pun bukan soal istilah asing yang bermuara ke Sansekerta untuk menamai gedung, ruang, piala, dan entah apa lagi. Bukan soal itu.
Soal apa dong? Baiklah saya angkat soal lama, sudah jarang disebut. Pada akhir 90-an ada pasukan penghalau demonstran yang disebut Pasukan Huru-hara (PHH) — bukan Pasukan Anti-huru-hara (PAHH). Pers, dan orang jalanan, juga menyebutnya demikian. Jadi siapa yang mau bikin huru-hara?
Tampaknya pemerintah pun, melalui lembaga-lembaga dan personelnya, juga masih mencintai keragaman dalam berbahasa. Misalnya cara menulis gelar dalam dokumen resmi. Prof. Dr. Gombal Abalabal Bikinmual Tiadasinyal, S.E., S.H., M.A., D.St., D.L.Sb. Haruskah begitu penulisannya? Atau boleh beda, suka-suka?
Belum lagi soal penulisan nama geografis. Pondokgede atau Pondok Gede? Ah, pemerintah sudah banyak urusan, sungguh tak layak mengurusi hal-hal seperti itu. Pejabat cukup mengatakan, “Cintailah bahasa Indonesia, Saudara-saudaraku!” Klothak! Ngiiingggg… Mikropon terjatuh. Spiker mendenging.
Catatan:
Untunglah sekarang tak ada lagi spanduk “Dengan semangat Sumpah Pemuda, Kita blablabla… PJPT II… blablaba menuju era tinggal landas.”
© Foto-foto: blogombal.org
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012Ada saja cara membangun suasana spasial kedai agar tetamu mendapatkan kesan mendalam. Misalnya ala modiste, dengan mesin jahit dan baju baru terpajang. Lho, bukannya kalau kita bertandang dan makan di tempat tetangga atau saudara yang pe... […]postyorous menerous »»»
- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012
Cicitcuit!- @memethmeong banyak hal nggak terduga kok tentang pakdhe @mbilung | @imanbr @ndorokakung @pamantyo May 23, 2012 mbakdos (Agatha N. Ardhiati)
- @mbakdos pakde pake jaket kulit? @mbilung @imanbr @ndorokakung @pamantyo May 23, 2012 memethmeong (medina wulandari)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Izinkanlah Saya Menilai
May 10, 2007 by AntyoDARI YANG LAWAS SAMPAI EMBUH…
Jangan tertawa baca “ulasan” saya. Sebagai konsumen yang beli produk asli mestinya saya boleh berkomentar kan? Mosok sudah mbayar kok ndak boleh celathu. Ini beberapa di antaranya…
Mas-mas Sigit
Namanya kayak teman saya: The SIGIT. Itu singkatan Super Insurgent Group of Intemperance Talent. Warna musiknya seperti zaman oom [...]
Recent Comments
Eka» Jadi inget waktu masih kecil.. =( Sekarang udah jarang banget perahu othok2 ini.. hiks hiks.. =(
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





iya nih. padahal kan kita disuruh melestarikan budaya bangsa. ya salah satunya bahasa daerah. hidup bahasa daerah!!!
… he..he..he topik yang selalu mengundang debat panjang, makian dan tawa nelangsa… tapi tetap berakhir dengan denging speaker.
i
nilah keragaman endonesia..
emg dr sononya endonesia itu dah beragam2 tetapi tetep satu.. pan endonesia menganut azas pancasila yang mempunyai jiwa ber bhineka tunggal ika..
yang perlu diawasi tuh adalah bahasa kekerasan, bahasa aliran sesat, bahasa gosip, bahasa sinetron, bahasa korupsi..
selamat ulang tahun sumpah pemuda..
semoga selalu satu dalam endonesia
jangan hanya sumpah serapah saja
mending boso jowo ae, luwih ribet, luwih lengkap
Indonesia yg mana, Oom?
foto kedua pasti di mangga dua sekwer ya… pernah liat di kaca mikrolet M39, KOTA-PADEMANGAN VIA MG2 SEKWER… :)
berbahasa yang satu….
bahasa sekenanya…