Minus Sentuhan Personal
MENYEBUT NAMA ADALAH PEKERJAAN BERAT.

Siang ini saya menerima surat dari Telkom. Biasa, berisi tawaran. Tapi ada hal yang bagi saya kurang pada tempatnya, mengingat surat ini bukan sisipan dari sebuah dokumen, melainkan dikirim khusus dalam amplop.
Soal apa? Tak ada penyebutan nama penerima.
Baiklah, Anda boleh menyebut saya gila hormat, rindu penghargaan, mendamba pengelu-eluan (padahal sering disapa, “Elu tuh ya…”). Baik, baik. Ndak masalah. Saya memang pengidap megalomania gombalistis.
Saya cuma heran, di hari gini masih ada bagian pemasaran yang tega menyapa pelanggan secara generik. Saya tak paham buat apa bank data yang ada di kantornya itu.
Pada akhir abad lalu, ketika banyak biaya masih terjangkau, saya belajar ginian dari penyedia jasa di luar negeri. Kalau isinya cuma sisipan berupa edaran, maka saya cuma disapa “dear subcriber(s)“. Kalau berisi tawaran, nama saya disebut.
Kemudian ketika layanan online semakin merata, mesin si kantor pelayanan sudah langsung sok akrab, “Dear Antyo…” Memang, kalau diterapkan di sini, njangkar tanpa penyebutan Bapak, Ibu, atau Saudara bisa dianggap kurang sopan. Tapi itu diskusi lain kali saja ya.
Di sini sekarang makin banyak perusahaan yang dalam korespondensinya menyapa konsumennya secara personal. Meskipun hanya imaji yang dipindahkan oleh pencetak laser, tanda tangan si pengirim yang menjabat bos itu terasa lebih menghormati konsumen.
Surat dari Telkom ini juga sudah menyertakan tanda tangan manajer. Tapi nada suratnya tetap berisi edaran generik (kurang merayu, lebih mirip maklumat) dengan pembeda utama pada nomor telepon dan alamat tujuan yang lengkap — pakai RT/RW dan kode pos, hanya saja nama kotanya salah.
Posisi monopolistik yang terlalu lama — baik karena regulasi maupun hukum pasar — memang bisa melenakan pebisnis. Konsumen akan dielu-elukan sebagai, “Elu kan yang butuh gue, bukan sebaliknya?”
Nukman Luthfie, Pujiono, dan Andrias Ekoyuono pasti punya tips untuk orang pemasaran.
NB: Kalau Ndoro Bedhes jadi orang pemasaran, maka dia akan menyapa konsumennya sebagai “Ndhuk” dan “Kang”. Ini pun sudah agak personal. Dan sudah barang tentu mengesalkan. :D
21 Responses to Minus Sentuhan Personal
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012Berita paling konyol pekan ini: pemasangan 177 kursi (@ Rp 24 juta) dalam ruang rapat senilai Rp 20 miliar milik Banggar DPR dilakuan menjelang pergantian hari hingga dini hari dengan pengamanan ekstra. Setiap kursi baru masuk, sehingga pintu harus dibuka, lampu ruang sudah padam. Artinya para politisi dan birokrat di DPR itu masih punya rasa […]antyo
- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012
Cicitcuit!- Five Roles of An Online Investigation Team » http://t.co/6VFaC7wO | cc: @hedi @PamanTyo @orsuy @ndorokakung February 4, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
- @leksa @pamantyo kebanyakan yg belanja org2 yg jualan makanan sekitar mega kuningan. asal tegal, purwokerto sama kuningan :D February 4, 2012 aralle (alle)
Recent Posts
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
- Nasib Koran dan Penjajanya
Archives
Random Posts
Kagak Ade Matinye
June 13, 2007 by AntyoDIJADIKAN RAJA, EH PRESIDEN LAGI SAJA…
Skenario peradilan paling sip, kayak apa sih? Ini dia. Jika hakim paling jujur dan lempang pun akan membebaskan terdakwa demi hukum karena lemah bukti, lemah (ke)saksi(an), lemah dakwaan, bahkan administrasi penyidikan pun banyak kesalahan.
Tanggal yang melenceng, alamat yang ngawur, masa penahanan melebihi batas, ping-pong berkas tiada berkesudahan, [...]
Recent Comments
Fauzi Enigma Web» waduh. miris. budaya “sebagian̶ 1; masyarakat yang serba instan. pengen ini pengen itu tapi tidak mau menanggung bebannya. Sedih melihat orang-orang seperti itu
Fauzi Enigma Web» Ampun. seumur-umur gue ga pernah milih. Dari gw mulai dapet KTP sampai nyaris kepala 3 ini. Dan kayaknya gak bakalan kalau para pemimpin kita masih sibuk mengurusi perut dan nafsunnya ketimbang memihak rakyat. mbuh
wafaa» kalau bingung gak usah milih :D
vhyan» kllo syya sii pillih yg adill dan jujur sajja.. hehe..
Alex» Rekam jejaknya juga selama ini bertabur-tabur, Paman. Bersama kawan-kawan kami pernah coba bikin blog mulut pejabat dengan iktikad merekam jejak mereka yang sedang menjabat, untuk arsip jika kelak mereka mau naik lagi. Tapi ya susah. Hehe. Yang terlibat sedikit masih. Sistemnya sederhana:...
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (86)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





[...] yang terinspirasi dari pola ngeblog seorang blogger idola saya. Saya menyebut kategori baru itu Gombalisme. Apakah gombalisme itu? Seperti namanya, ia terinspirasi dari blog milik Paman Tyo Gombal.Ceritanya begini: setelah sekian lama mengamati, saya melihat ada satu benang merah dari pola ngeblog beliau. Coba lihat contoh posting yang ini, ini, dan ini atau yang ini atau keliling sendiri lah di blognya. Apa pola yang terlihat? Saya sih melihat ada tiga pola: [...]
Di jaman serba personal dan segmented gini, kok ya masih ada yang memperlakukan pelanggan dengan “gebyah uyah” dan nggak “nguwongke” gini ya ? ckckckck.. Tapi masalahnya paman blom punya pilihan lain yang benar2 bisa menggantikan telkom (kabel) kan ? jadi pertanyaannya adalah, masihkah diperlukan orang marketing untuk telkom (kabel) ? hihihi
lha tipsnya sudah dikasih sama paman gitu kok: “Sapalah secara personal”
mungkin telkom pikir kita ini android yang punya barcode?
telkom menaikkan biaya abonemen suka2, nggak ngecek itu rumah tangga biasa atau tempat usaha. setelah bikin surat pernyataan bermaterai bahwa rumah saya bukan tempat usaha, baru biaya abonemen diturunkan lagi. kelebihan penagihan juga nggak dibalikin lagi. padahal saya nggak ada niat bersedekah ke telkom lho.
komputernya masih belum ngeset MAIL MERGER ya pak puh..
wak sok nih..
saya setuju bahwa surat dari telkom itu masih “bergaya pemerintah”. lagipula, masa iya telkom nggak tahu kalau yang namanya Antyo itu adalah seorang bapak, bukan ibu. ada bank data ngapain tidak dimanfaatkan scr maksimal? …
Mungkin juga telkom berpikir kalau pemilik nomor bisa berubah-ubah, jadi ia langsung menusuk ke nomornya. tidak peduli siapa nama penerima, yang penting yang membayar tagihan nomor tersebut ada. :D
ayo bikin telekomunikasi PSTN tandingan … !!!
Ceritanya begini: Pada waktu itu, kebetulan ada seorang hacker gombal yang iseng bisa login dan masuk sebagai administrator di bank data. Tanpa sengaja dengan sok tau di nulis pada console:
UPDATE _customer SET _customer.FirstName = "", _customer.LastName = ""Akhirnya dari 938.712 pelanggan telepon di Jakarta Timur, semua field Nama menjadi spasi kosong. Berhubung harus segera mengirim surat, maka pihak sekretaris memakai data nomor telepon sebagai nama penerima surat. Maaf-maaf.
*Dasar hacker gombal: sok tahu*
Membaca posting ini saya jadi teringat kejadian yang saya alami beberapa hari yang lalu. Saya dapat surat semacam ini dari NTT (Telkomnya Jepang) untuk meng-upgrade layanan internet provider saya. Nama ditulis lengkap (tentu dalam huruf Latin), dengan alamat lengkap. Yang mengesankan, mereka menyertakan bonus di dalam surat “edaran” ini: sebuah penyangga foto meja (dengan model yang unik). Jepang memang terkenal sebagai negara yang sangat memanjakan konsumennya. Bahkan kadang berlebihan.
kudu kursus pakai mail merger ala di Word Star jaman jadul
mungkin memang dalam bank data telkom nama kita hanya lah berupa angka angka
Menuliskan hal ini di blog sudah merupakan bentuk ekspresi untuk menurunkan ketegangan. Selain itu, juga memberikan kesempatan bonus datang.
*berharap ada orang marketing Telkom baca postingan ini*
sama seperti sms massal ucapan hari raya :(
oooo gitu ya
begitulah…
bagi telkom,
kita itu hanyalah nomor pelanggan…
namanya juga perusahaan negara. tapi, kalo gak maju2 apa gak ditutup aja yak.
hallo, saya 192.168.0.234, ato bisa juga dipanggil fahmi :D
begitulah kalau si pengusaha merasa dibutuhkan… kalau tidak tertarik tidak apa2..yang lain masih banyak yang antri kok.. begitu kira2 paman :D
Yang terhormat Paman Tyo,
Saat blog ini jadi blog global dan bukan gombal mungkin standar layanan di sini bisa diukur dengan tolok ukur global.