Kalkulator dan Ponsel untuk Bocah
DI MANA BAGUS DAN JELEKNYA UNTUK SI KECIL?

Seorang bapak memergoki gadis kecilnya, masih SD, sedang menggunakan kalkulator pada ponselnya untuk mengerjakan PR di kamar.
“Hanya mencocokkan,” kata si kecil seraya menunjukkan kertas jawaban, yang menurutnya, adalah hasil hitungannya sendiri.
Kalkulator, dalam bentuk kalkulator biasa maupun yang melekat di peranti lain (arloji, komputer, ponsel, penggaris), adalah alat bantu yang menyenangkan.
Haruskah dilarang dan dalam hal apa kalkulator diperbolehkan? Andalah yang saya harapkan menjawab.
Tentang ponsel, karena harganya kian terjangkau, lagi pula pulsa prabayarnya juga kompetitif, maka pemilikannya kian meluas. Makin muda saja para pemegangnya.
Kini tak dianggap mewah jika seseorang punya dua atau lebih ponsel — bandingkan dengan sepuluh tahun lalu, ketika menerima panggilan selagi dalam angkot bisa membuat risih, seolah dilihati, bahkan dikuping.
Beberapa sekolah setingkat SD melarang muridnya membawa ponsel. Salah satu alasan adalah mencegah kehilangan yang biasanya membangkitkan kecurigaan terhadap pencuri.
Pada beberapa SD, larangan ini berlaku untuk, misalnya, anak-anak di bawah kelas enam. Para orangtua, selain atas nama sayang anak, tentu punya alasan sendiri untuk membelikan ponsel. Dari yang fungsional (“Biar mudah dihubungi dan menghubungi kalo nunggu jemputan”) sampai asal tidak repot (“Daripada mainin HP mamanya, setting berubah mulu”).
Berbeda dengan kalkulator, pemanfaatan ponsel menuntut biaya. Terutama jika dipakai untuk berkomunikasi. Jatah pulsa cepat habis. Baik untuk bertUkar jawaban PR maupun mengunduh ini dan itu.
Lantas sejak kapan dan bagaimana para orangtua sebaiknya memonselkan anaknya? Lagi-lagi saya berharap Andalah yang menjawab.
“Papa dulu nggak pake HP juga lancar aja tuh sekolah ama gaulnya,” kata seorang ayah. “Mama malah nggak punya telepon rumah,” sahut ibunya.
“Ya gitulah kalo lahir duluan. Misalnya dulu sudah ada HP, harganya murah, eyang pasti juga beliin Papa ama Mama,” kata si kecil.
Ini seperti seorang perwira tinggi yang menasihati putranya, “Kenapa minta mobil sendiri? Dulu Papa itu jalan kaki pergi-pulang tiga puluh kilometer buat sekolah.”
Si anak, sudah mahasiswa, menyergah, “Papa dulu kan anak petani. Aku kan anak pejabat, Pa!”
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
Cicitcuit!- Saya jadi ketawa ngeliat komentar @pakde Totot pada kolom komentar blogpost "Memahami FPI" punya @pamantyo baca saja -> http://t.co/RjtBfBdd May 19, 2012 sibair (Bair)
- :'( RT @dannytumbelaka: @TonnySukirno @PamanTyo bangaip @motulz RIP Donna Summer... May 18, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Uang Bensin yang Stttttt…
October 18, 2007 by AntyoPELAJARAN MENGARANG ITU MENGASYIKKAN. :D
Saya pikir print out bon bensin itu memudahkan dan menyenangkan semua orang. Petugas tak perlu mengisi sambil bersungut-sungut karena bolpen macet padahal pengantre lain menguap sambil menggoyangkan kaki. Konsumen tinggal terima lembar kecil yang informatif. Auditor akan sangat terbantu, apalagi jika nomor mobil tercatat. Kurang apa coba?
Nyatanya masih [...]
Recent Comments
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
jimmy» bagus sekali artikelnya, thx
jimmy» Nice Informasinya gan,, sangat membantu sekali.. :)
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Dibeliin HP, klo ternyata dipake untuk saling bertukar jawaban pas ulangan/ujian gimana? Nyontek pun sekarang sudah hi-tech.
Paman Tyo khan sudah punya anak, jadi lebih bijak kalo saya bertanya kepada sampeyan.
kalimat2 serupa…
ibu: “mama aja dulu belajar sendiri, gak pake les, bisa dapet nilai bagus.”
anak: “materi pelajaran dulu ama sekarang kan beda.”
si bapak bukannya belain ibu, malah keceplosan gara2 ngintip buku catetan anak: “gile! ini mah, gw baru dapet pas kuliah!”
si ibu langsung pelototin si bapak.
dulu, untuk perkalian, gue pake sistem itung jari yang dilipet lipet gitu ..
tapi ya gitu, akhirnya (sampe sekarang) yang namanya mencongak gak pernah apal diluar kepala
Dulu bapaknya kalo sekolah di kampung ndak bersepatu…
masak sekarang juga anaknya masih seperti bapaknya dulu..???!
saya punya pengalaman menarik nih, paman..kemarin pas pulang mudik hari terakhir malah kehilangan hp karena ketinggalan hp di taxi. tau komentar dari sang pnakan yang baru kelas 4 SD? “duh..kok bisa hilang?! padahal game nya udah hampir tamat..”
ha ha…dasar bocah..!!!
Orangmuda jaman sekarang menjawab, “Wakakakk! Jalan kaki tiga puluh kilo setiap hari? Mending Papa nggak usah cerita aja.”
Yah itulah dilemanya Paman. Kalau dulu kita SD, SMP berjalan kaki ke sekolah. Kalau sekarang? Anak SD saja sudah naek kereta MOTOR kalau ke sekolah. Ihiks.. jaman sudah berganti Paman. ^_^
tapi sayang juga kalo hp cuma digunakan untuk menghitung
oh ya soal telp umum.. ini ada gambar menarik dari Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIK)..
silahkan di lihat (maaf blum di rotate)
http://files.myopera.com/rheza/albums/248188/Pake%20batu%21.jpg
buat anak sd sih mendingan jangan pake hp dulu. klo alesannya buat contact sama ortu, budayakan mereka nelpon pake telp umum.. tapi masalahnya telp umum kita masih ada yang berfungsi dengan baik ga? :P
Ponsel buat anak kecil harusnya fungsi telpon aja, khusus untuk ngontrol posisi si anak. Kalo ada kameranya ntar khawatir pada buat video-video 3GP :D
Si kecil sudah sepantasnya memiliki telepon selular sendiri saat ia memahami cara menelepon dan mengirim SMS. Batasan usia bagi si kecil cukup ketika ia memahami cara bekerjanya. Pantauan ayah/ibu berkaitan dengan pulsa dan seputar pertanyaan yang membingungkan si kecil. Semakin akrab si kecil dengan telepon selular semakin bertambah cepat daya tangkap dan daya pikir terhadap kemajuan dan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi sejak kecil (belia). Kekhawatiran ayah/ibu biasanya berkaitan dengan aspek keuangan dan keselamatan/keamanan si kecil. Berpikir positif saja untuk si kecil, maka kekhawatiran itu ternyata cuma rasa waswas yang berlebihan.
ini iklan nokia kah? :))
kalkulatornya bisa kalkulus ga’, dah 3G lom, harganya berapa?? itu sudah trmasuk gantungan brhuruf R belum?? kekekekkkk
jaman sudah berubah jteknologi melaju cepat kalo anak sekarang pegang hape lumrah tp tak usah di manjakan dengan harga yg terlalu mahal supaya tidak di biasakan serba memenuhi kebutuhan..*
kalo menurut saya jangan di kasih dulu paman, ntar saja kalo sudah seumuran smp gitu. karena kalau masih seumuran sd kadang anaknya belum bisa dibebani tanggung jawab, kuatir ntar malah ilang atau gak terkontrol
ponsel non raras lebih canggih daripada aye :P
tegas dikit sama anak juga nggak menjadikan orang tua jadi jahat kok. kalkulator baru perlu saat sma, karena ada pelajaran trigonometri. kecuali kalau suatu saat kurikulum sd memasukkan trigonometri, anak sd dan smp sebaiknya berhitung mencongak, buat melatih otak kanan. kalo kepergok ditegur juga nggak apa2. namanya juga belajar hidup :) *sok bijak*
Bahaya tuh penggunaan kalkulator buat anak kecil. Bisa2 nanti lemot itung2an, seperti saya :D
Lebih baik duit kalkulatornya buat les anak ke kursus Simpoa Aritmatika :)
1.
“Papa dulu nggak pake HP juga lancar aja tuh sekolah ama gaulnya,” kata seorang ayah. “Mama malah nggak punya telepon rumah,” sahut ibunya.
=> ya udah, HP papa buat aku aja, papa kan udah cukup gaul jadi gak perlu HP lagi
=================================
2.
Ini seperti seorang perwira tinggi yang menasihati putranya, “Kenapa minta mobil sendiri? Dulu Papa itu jalan kaki pergi-pulang tiga puluh kilometer buat sekolah.”
=> wah papa hebat, pertahankan pa, baik untuk kesehatan, mobilnya biar aku yang bawa ya
* injek2 anak kurang ajar :P
apa memang sebaiknya kalkulator itu dibolehin aja ya di sekolah, kan sekarang dunia serba cepat, di sini anak primary school boleh tuh ngerjain soal pake kalkulator
Suruh anaknya baca Laskar Pelangi, Paman. Cari idola baru (tapi tragis) namanya Lintang.
*serius: ON*
Biasakan anak-anak terasah kemampuannya untuk menghitung manual dan dalam benak (mencongak). Penting! karena adakalanya kita diharuskan memiliki jawaban perhitungan dikala kondisi darurat dan saat yang bersamaan tidak memiliki gadget yang mendukung operasi matika-matika.
@ruishang
Saya ndak setuju sama anda. Terlepas kalau anda guyon, wong meski anak ndak gagap teknologi tetapi secara tanpa alat dia semakin bodho. Jangan sampai anak kita diperbudak teknologi. Halah!
Wong anak sekarang buat ngitung akar dari suatu bilangan 3 digit saja sudah bingung.
(*merintih sedih lihat anak bangsa semakin tersisih*)
1. Ini posting bukan pamer HP canggih yang dimilikin anak sendiri toh?
2. Tumben fotonya ndak diberi watermark. Foto sendiri atau comotan?
3. Semua anaknya paman, memiliki nama belakang Rentjoko ya?
Soal kalkulator, sebaiknya diberikan ke anak 3x sehari setelah makan. Jika sudah habis segera kontrol.
Tentang ponsel, segera diberikan ketika sudah ada niat untuk memberi dan ada kemampuan.
untuk anak sekolah dasar tidak boleh, kasih sempoa saja supaya punya mental sempoa yg bagus atau sejenisnya (selain sempoa).
namanya aja juga kanak-kanak! kalkulator emg dibuat untuk apa? lak yo buat itung2an to yo… mbok yao do bangga kalo ada anak2 tdk gagap teknologi… hehehhe..