Parkir Resmi dan tak Resmi
BIAYA DOBEL TAK TERHINDARKAN. SANGAT INDONESIA.

Saya tak tahu apakah si pengguna spidol merah ini merasa seperti murid yang dihukum, menulis 111 kali: “Saya berjanji tidak akan melompati jendela lagi.”
Stempel kilat tersedia di kaki lima. Saya tak tahu ongkos bikinnya, tapi mestinya tak terlalu mahal. Yang saya lihat, segepok karcis di tangan petugas parkir Pasar Cikini, Jakarta Pusat, tadi pagi, semuanya tertorehi pengingat.
Lantas? Seperti biasanya, dan di banyak tempat, saya bayar parkir dua kali. Pertama untuk penjaga dalam, tanpa seragam, yang bertugas memberi aba maju-mundur dan kanan-kiri-balas lalu “hooppp!”, bahkan ketika pelataran lengang sekali pun.
Yang kedua, dengan atau tanpa coretan spidol, ya membayar di pintu keluar, kepada petugas berseragam.
Tidak istimewa. Sudah biasa. Di Senayan juga begitu, apalagi kalau ada tontonan di Balai Sidang Jakarta. Di mana-mana begitu. Pokoknya banyak.
Jangan tanya on-street parking. Tarifnya beragam, sesuai lokasi. Di Kemang tentu mahal. Dulu, di masa muda Pakde Totot, yang parkirannya paling mahal antara lain Tanamur. Entahlah di sekitar Tan Goei. :P
Hanya di mal bagus biaya ekstra itu lebih berupa tip. Serela kita. Apalagi kalau kita dicarikan tempat parkir. Di Mangga Dua, bukan yang M2M, kalau wajah Anda sudah dikenali satpam, maka akan dicarikan parkir di depan gerbang masuk atau di depan toko lingerie itu. Makin gede tip makin dikenali.
Mengapa orang begitu malas untuk jalan kaki agak jauh sedikit, padahal itu bagus untuk kesehatan?
Maaf, bukan itu yang akan saya diskusikan. Saya hanya berbagi tentang apa yang banyak orang Indonesia (Jabodetabek?) pahami, atau maklumi, terhadap biaya ekstra.
Memang masyarakatnya kadung begitu, ya gimana lagi. Itu kata kita.
Rela atau tak rela, kita maklum ada banyak perut yang harus terisi, padahal lapangan pekerjaan tak terbuka untuk semua orang. Berbagi rezeki sedikit apa salahnya.
Begitu juga terhadap Pak Ogah atau U-Turn Boyz di depan pompa bensin dan bahkan selepas pintu keluar parkiran pertokoan seperti di Pondok Gede Plaza. Kita maklum adanya.
Cari makan itu gampang. Tapi cari uang untuk makan, itu susah. Ketika menjadi penganggur, saya semakin paham. Saya tak beda dengan mereka. Layakkah saya menista mereka?
9 Responses to Parkir Resmi dan tak Resmi
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
Cicitcuit!- Saya jadi ketawa ngeliat komentar @pakde Totot pada kolom komentar blogpost "Memahami FPI" punya @pamantyo baca saja -> http://t.co/RjtBfBdd May 19, 2012 sibair (Bair)
- :'( RT @dannytumbelaka: @TonnySukirno @PamanTyo bangaip @motulz RIP Donna Summer... May 18, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Bukan Sajak Sepatu Tua
December 1, 2006 by AntyoSEPELE, BUKAN BARU, TAPI TAK DITERAPKAN SECARA LUAS.
Jadi orang kaya itu enak, kata seseorang. Alasannya? Sepatunya lebih awet. Alas kaki tak kecapaian menempuh jarak. Berangkat dari carport, turun di teras lobi. Lucu tapi benar.
Saya punya teman. Dia bukan tergolong pria metroseksual, tapi sangat hirau penampilan. Cara menilai kondisi ekonomi pria lain yang [...]
Recent Comments
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
jimmy» bagus sekali artikelnya, thx
jimmy» Nice Informasinya gan,, sangat membantu sekali.. :)
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Ekonomi biaya tinggi kalah bersaing menyebabkan ongkos produksi meningkat. Sanksi tidak ada, kontrol pun diabaikan. Jadilah vitamin D (doku/duit) yang keluar ekstradobel. Besar pengeluaran daripada pemasukan. Sebesar-besar pengeluaran yang gratis khas Indonesia terletak di pantat, hehehehe.
parkir?
masalahnya peraturannya minggu depan mau ganti lagi… ikan ENDONESAH…
kalau dikit2 pesen stempel tambah mubadzir..
iya sih, jadi konflig juga, disatu sisi hal tersebud terkadang memberadkan, tafi disatu sisi mereka-mereka yang kita kasi biaya ekstra sebenerna sedang mencari uang dan memang suda terbiasa….
hmm, jadi ya kalo saia sendiri sih nganggaf biaya ekstra itu sebagai sedekah..*sok alim*
Pak Lik ini, kesanku, kerap bertutur –nadanya sih kadang ngeluh tapi samar– soal kebrengsekan Jakarta dan satelitnya.
Tapi, ajaibnya, kok ya betah-betahnya hidup di situ. Pak Lik, apa ndak pengen tho jadi pertapa, menebar kebajikan dari pucuk gunung atau mana gitu. Toh, akses Internet bisa dari mana saja.
Soal rejeki? Kukira bukan soal besar. Dengan uang yang meteran itu, masih bisalah buat makan tujuh turunan. Hik-hik..
# totot: paman ini punya duit meteran. jadi gak abis-abis kalo cuma buat beli gudeg, keliling jakarta, nggambir, dll … :D
Eh, Bos, ngomong-ngomong soal Tanamur, Fahmi Shahab sang (eks) juragan bulan lalu baru meninggal. Beberapa tahun terakhir ia jadi juragan besar di Gili Terawangan, Lombok. Punya banyak tanah, resort, cafe, dll. di salah satu “surga dunia” itu. Dahsyat banget deh. Dari pada kelilingan Jabotabek duit sampeyan gak habis-habis, mending piknik ke sana sekali-sekali. :)
anggap saja sedekah :)
kalo ndumel, cuma dongkol yg didapat :p
sejujurnya…
kadang2 pak ogah & u-turn boyz itu memang saya butuhkan, apalagi ditempat2 yang rutin dilalui.
Dari jauh pak ogah sudah bersiap2 membantu, ga rugi ngasih tips-nya juga :D