Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Kampanye Nasional Kondom

Minggu, 11 November 2007 @ 23:05 | Umum

ISU KESEHATAN DI TENGAH PURITANISME.

national condom week indonesia 2007

Penduduk Indonesia 230 juta, tapi konsumsi kondomnya cuma 100 juta per tahun. Thailand punya 90 juta jiwa, konsumsi kondomnya 200 juta per tahun. Malaysia yang berpenduduk 30 juta jiwa menelan 100 juta kondom per tahun. Demikian keterangan Christopher Purdy, direktur DKT Indonesia (produsen Fiesta), yang dikutip oleh pers.

Lantas kita bersiap menyambut Pekan Kondom Nasional awal Desember nanti. Bagi saya ini menarik. Bukan hanya soal kondom dan segala PHS, melainkan perubahan masyarakat kita. Bagaimanakah kita semua akan menyikapi kampanye kondom ini?

Dulu, ketika dispenser kondom diperkenalkan, ada sebagian masyarakat yang keberatan. Penyediaan kondom secara gampang, bagi kaum puritan, berarti sikap permisif terhadap hubungan pranikah dan luar-nikah. Malah mungkin ada yang menganggap dispenser sebagai pro-promiskuitas yang menyenangkan produsen bungkus titit (yang ini pasti).

Yang terjadi kemudian adalah penyederhanaan “safe sex itu sami mawon dengan free sex“. Free? Berarti main dengan siapa saja tanpa peduli orangnya, dong.

Dispenser memang relatif baru. Tapi itu hanyalah kelanjutan dari sediaan kondom di warung rokok. Bedanya, yang di warung rokok tak disorot. Bedanya lagi, pemilik warung bisa mengenali pembeli (sudah dewasa atau belum), sementara dispenser tidak.

Mau lebih ekstrem? Di Jalan Gajah Mada, mulai magrib sampai subuh berjejer rombong (gerobak kios) penjaja kondom dan afrodisiak — dan disela oleh rombong DVD dewasa.

Kampanye penggunaan kondom mau tak mau memang harus kita lakukan. Buat apa kita ngumpet, tapi kampanye Durex menyelingi klip video, dan stiker Sutra ditempel di mana-mana, termasuk helm dan pelat nomor motor?

national condom week indonesia 2007

Buat apa kita merem, seolah-olah tak melihat bahwa meja kasir convenience store dekat kampus menyediakan pengetes kehamilan?

Buat apa kita pura-pura yakin dunia ini beres, tapi statistik PHS tak pernah menggembirakan?

Buat apa kita sok yakin semua jalan lempang rata berpagar, lalu pura-pura tak tahu ada sajian dewasa pendidih hasrat di media, termasuk internet?

Kita harus terbuka terhadap kenyataan. Apakah saya menentang puritanisme? Tidak. Biarlah yang puritan tetap puritan, lagi pula dalam urusan tertentu — tak hanya seks — setiap orang mengantongi bekal puritan kan? Saya pun begitu.

Memang puritan dan (katakanlah) non-puritan bukanlah persoalan hitam-putih. Kehidupan ini kadang tak dapat disederhanakan dengan menepiskan nuansa. Tak dapat pula segala hal dilihat secara biner, hanya ya dan tidak, satu dan nol.

Lantas di mana konteks kampanye kondom? Edukasi dan penyadaran berlaku untuk semua orang, yang puritan dan tidak puritan. Yang puritan sebaiknya punya bekal kognitif yang sama dengan yang tidak puritan. Tanpa itu yang ada hanyalah gumpalan ignoransi.

Bedanya, yang puritan memilih jalan yang tak terlalu berisiko. Sementara yang tidak puritan, apa boleh buat, menyusuri jalur yang — menurut probabilitas — lebih riskan.

Risiko? Sekecil apa pun, itu ada. Risiko PHS, dari yang ringan dapat tersembuhkan sampai yang maut seperti AIDS, selalu ada. Bisa bermula dari higiene lingkungan dan infeksi salah garuk akibat iritasi, tapi kemudian menular melalui hubungan seksual.

Dalam guyon jahat, bisa saja yang puritan suatu saat tertular oleh orang non-puritan akibat ketidaktahuan masing-masing pihak.

Biarlah yang puritan menanamkan nilai-nilai (lama?) dan melakoninya sebagai sebuah jalan hidup, kemudian menularkan jalan terang kepada orang lain. Memang tugas setiap penjaga moral — bahkan termasuk di negeri lain yang bercitra permisif — untuk mengingatkan orang lain.

© original pix (except building): unknown

Bonus: Mencoba kondom sambil traveling gratis

Ada 38 komentar | trackback | Depan

#38

pepen | 02 04 2009 @ 16.58.22

gue setuju nic,dengan pendapat bapk”"thank infonya


#37

MRV | 03 12 2007 @ 0.59.49

Menurut saya, seharusnya kita lebih keras menyuarakan kampanye anti seks bebas, bukannya kampanye kondom! Sudah jelas itu lebih baik. Mungkin di luar sana banyak masyarakat yang memang budaya free sex udah mendarah daging dan mereka merasa nggak mungkin lagi merubah budaya itu, makanya mereka membuat kampanye kondom sebagai alternatif atas ketidakmampuan mereka melawan budaya yang jelas2 sumber dari HIV AIDS. Apa sih puritan dan non-puritan itu? Sudah jelas istilah yang dibuat oleh mereka yang cenderung menganggap dirinya non-puritan, apalah itu artinya.

Kalau soal keadaan di masyarakat yang penuh maksiat dan kemunafikan yang terselubung, apakah lalu kita akan lalu mempromosikan hal buruk tersebut hanya supaya kita dianggap “tidak munafik”? Saya rasa entah mengapa, orang- orang banyak sekali yang berpikiran ‘pengecut’. Mereka takut untuk merubah budaya buruk yang sudah menjadi kebiasaan mereka. Mereka takut untuk menentang budaya buruk seks bebas (di luar dan di dalam dirinya sendiri) sehingga mereka memilih untuk menyerah dan ikut tenggelam bersama arus, lalu membuat alternatif kecil seperti kampanye kondom misalnya. Kurang optimis, dan kuran berani melawan diri sendiri beserta lingkungan!

Bagaimanapun ini cuma pendapat, dan saya akan mengkampanyekannya seperti halnya kampanye yang banyak orang lakukan.
Saya percaya bahwa solusi terbaik untuk mencegah AIDS, adalah dengan menghapuskan budaya seks bebas secara konsisten, dari generasi ke generasi, dari orangtua ke anak, lalu ke cucu dan seterusnya…., bukan dengan membiarkan anak kita membawa kondom di dalam tas saat menghadiri pesta ulang tahun temannya

NOSEXBEFOREMARRIED


#36

Kenapa Saya Menolak Kampanye Kondom? « Jejaka Petualang | 30 11 2007 @ 15.29.02

[...] [1]Istilah bungkus titit gw dapet dari blognya mas Tyo [...]


#35

jeany | 23 11 2007 @ 16.49.56

kita sih asik aja si Joni pake “helm”, tapi ga tahu deh si Joni suka ga dihelmin…………..?


#34

Pierre | 21 11 2007 @ 13.32.47

Keren….


#33

hanny | 21 11 2007 @ 12.14.25

Lha, paman produksi tank top-nya? Saya pesen satu dong! :)


#32

wartawan homo dan porno wahono | 16 11 2007 @ 0.56.35

asik nih buat bahan


#31

Kondom, selubung rasa, penyekat rindu « zakar | 14 11 2007 @ 12.20.57

[...] Kondom, selubung rasa, penyekat rindu Siapa yang mesti siapkan kondom? Pria atau wanita? Manakala risiko hanya sebatas hamil maka wanita lebih membutuhkan. Tetapi manakala risiko adalah sipilis, rajasinga, pektay, herpes, hepatitis, sampai AIDS maka kedua belah pihak butuh kondom. [...]


#30

escoret | 13 11 2007 @ 15.22.14

soal AMAN emang pke kondom..!!!
soal nyaman..???
i don’t know..!!!

jadi,sepertinya perlu di kaji ulang..nyaman ngak pke kondom..???

hehhehe


#29

mpokb | 13 11 2007 @ 14.00.38

seks itu alamiah, perlakukan saja secara alamiah. lihat saja hewan, tidak ada yg kena phs dan aids, karena hewan tidak pernah memanipulasi seks hingga melampaui batas2 alamiahnya sendiri.


#28

yudi | 13 11 2007 @ 11.41.13

Manteph Pak De …..saya pribadi akhirnya menganggap puritan sebagai wacana, kondom sebagai kendaraan yang aman disaat darurat


#27

Hamid | 13 11 2007 @ 10.04.17

Paman…
Puritan itu apa?
Afrodisiak itu apa?
Promiskuitas itu apa?
Kognitif itu apa?

Jangan terlalu tinggi donk bahasanya. Khan yang baca bukan kaum terpelajar semua seperti man-paman. Paling ndak dijelaskan gitu lho artinya.

*saya masih bangsa indonesia*


#26

omith | 13 11 2007 @ 9.50.06

aku jadi ngakak..
kmarin pas dateng di preskon nya kampanye kondom nasional di embassy taman ria senayan ada merchendise nya pengaris transparan didalemnya ada bermacam2 jenis kondom :D

dipajang di meja kantor..


#25

Kardjo | 13 11 2007 @ 5.37.29

Penduduk Indonesia 230 juta, tapi konsumsi kondomnya cuma 100 juta per tahun. Thailand punya 90 jiwa, konsumsi kondomnya 200 juta per tahun.

Paman, pindah ke Thailand yuk, negaranya besar cuman dihuni 90 orang… bisa dapat berhektar-hektar pekaranga buat nanam singkong. Hihihi Typos.


#24

lelakiliar | 12 11 2007 @ 16.54.00

Selalu menyenangkan baca gombalannya mas Tyo apalagi kalau nyerempet2 segitiga venus :) sudah lama banget ngga jalan2 seneng bisa mampir kerumah kawan2 lagi


#23

#22 | 12 11 2007 @ 16.04.50

jadi ingat sebuah lagu, syairnya kira2 begini…

“alat kontrasepsi paling aman,
yaitu gak usah berhubungan,
kalau memang sudah gak tahan,
ya udah main cubit-cubitan”

^^


#22

James | 12 11 2007 @ 16.01.31

Mas,itu tulisan ‘Kawasan wajib helm’ bagian dari iklan ga sih? Apa maksudnya itu helm buat kepala yang itu ya..peace..:)


#21

Sherry | 12 11 2007 @ 15.27.44

pasti mengundang kontolver.. eh maap.. kontroversi…

liat deh menteri agama bkl gimana…sby juga sekalian


#20

areta | 12 11 2007 @ 15.15.05

wah, jarang2 gw liat iklan kayak gitu di indonesia…


#19

wawan | 12 11 2007 @ 14.35.58

hehehe.. senasib ama abah, kata istri pake kondom ga enak, tapi ya gimana lagi, ga pengen pake yg berbau hormonal.

kaos nya keren, kalo mau pesen kemana paman?


#18

soesheila | 12 11 2007 @ 14.34.39

itu gambar ce’nya buat templat ya pa’de… ko sama dengan yang busway itu…


#17

ndahmaldiniwati | 12 11 2007 @ 12.35.25

dosen ipb pencetus barisan kondom di kalangan akademisi lho, tapi kondom yg satu ini singkatan “konsorsium dosen miskin”:)


#16

annots | 12 11 2007 @ 12.20.48

Btw, itu kondom garis2 itu bener bikinan “the gombal foundation” ya? Hmm, punya pabrik kondom rupanya paman ini :D

btw, skrinsyut yang bawah mirip iklan operator GSM sebelah…hmmm mana yang duluan bikin ya?

Logo kondom bergaris — tepatnya tumpukan kondom merah dan putih — itu punyanya National Condok Week Indonesia. Yang mirip iklan operator GSM itu mana ya, eh apanya?

tyo


#15

yantee | 12 11 2007 @ 11.40.19

kondom garis2 yg di iklan itu rasa apa ya? penasaran nih…*kabur*


#14

andrias ekoyuono | 12 11 2007 @ 10.23.59

patut disimak, kemanakah arah kampanyenya, untuk meminimalisir reaksi negatif dari (sebagian) masyarakat


#13

kw | 12 11 2007 @ 10.22.15

kata salah satu penyair, kota tanpa bordil ibarat rumah tanpa kakus. 9eh kondom kan bukan hanya untuk di rumah bordil yak)

pernah sih nyoba pake kondom, di jempol!


#12

umarfaridz | 12 11 2007 @ 10.07.25

gak (belum) pernah pake kondom, gak paham jadinya :p


#11

Putu Alberto Lee | 12 11 2007 @ 9.33.36

Wah keren tulisannya.

Jadi, kapan bukunya — gombalopedia — keluar?


#10

~Mas Kopdang~ | 12 11 2007 @ 8.58.08

Itulah kehebatan produsen lateks yang seakan-akan membenarkan dikotomi puritan dan non-puritan itu ada. Bahwa: “Kalau ini dibiarkan akan dosa” dan di lain pihak: “Jangan muna, fenomena ini sudah ada di mana-mana”. Supaya kita membantu mereka ikut mengkampanyekannya.

Padahal sesungguhnya tak ada dikotomi itu. Baik yang “puritan” maupun “non puritan” pasti pernah mencoba bungkus “itu”. Bagi masyarakat seperti saya sepertinya rugi bila tak mencoba barang baru. Yakinlah! Bahkan belum tentu yang “puritan” tak menggunakannya bila ia “kebelet”. Sekali lagi, yakinlah!

Kaum Puritan [diam-diam] setuju kondom baik untuk “kesehatan dan keselamatan”, hanya saja tak perlu digembar-gemborkan di semua tempat, waktu dan pihak. Cukuplah buat sendiri atau setidaknya komunitas kecil satu peer group. Takut, jikalau nanti dikira ia ikut membenarkan free sex.

Sepertinya.


#9

dhany | 12 11 2007 @ 7.40.11

itu INUL ya…???!


#8

sluman slumun slamet | 12 11 2007 @ 6.11.46

wah kok cuman pake kaos?
harusnya tuh iklan ditato di …………………….


#7

Donny Reza | 12 11 2007 @ 3.47.12

*celingak…celinguk* Kondom apaan sih? *pergi lagi…*


#6

Lim'z | 12 11 2007 @ 3.02.09

kaosnya bagus paman…
ada yang buat laki ndak to kaos e?
ketoke seru ik…hehehe


#5

Kunderemp An-Narkaulipsiy | 12 11 2007 @ 2.06.53

Kenapa jadi ingat banner di b-l-o-g-spot.blogspot.com yah? hihihi…

Jadi ingat, bawa teman (seorang ibu tak bersuami) bersama anaknya membeli makanan ringan di sebuah minimarket (aku lupa apakah indomaret atau alfa). Trus si anak melihat kotak kondom itu.

“Ma..
beli’in balon…
beli’in balon….”

Si ibu gak bisa nahan ketawa…
Aku (yang kebetulan membayar makanan kecil) langsung pura-pura, “duitnya habis, Dik.. ”

Doh…

—-

Sudah saya tengok. Oooo gambar cewek dan kondom itu ya? Mungkin kami satu guru, satu ilmu, bedanya saya ambil yang filial, kelas petang.
Kalo Kunderamp angkatan berapa? :D

[tyo]


#4

abah oryza | 12 11 2007 @ 1.00.45

kalo kata istri saya mah, pake kondom nggak enak. yah apa enaknya pake kondom nggak kerasa, dan yakin dech sebenernya pake kondom itu buat yang merasa ketakutan ajah. toh yang aman kan tidak buang “calon anak” sembarangan, tidak suka jajan, kalo belum mau punya keturunan yah gunakan alat kontrasepsi yang cocok.


#3

Totoks | 11 11 2007 @ 23.54.31

saya sekarang beralih ke Kondom untuk KB idip idip mensukseskan kampanye kondom Nasional :D


#2

ayahshiva | 11 11 2007 @ 23.42.39

yang ini kampanye kondom.
tadi baca di blonya tika kontes kondom
apa emang penting ya pake kondom


#1

JaF | 11 11 2007 @ 23.14.50

ampuun.. ampuuun… *nyembah-nyembah*.. ilustrasinya bagus banget… teach me master.. teach me…