Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Kabar Saya, dan Sebuah Cerita Basi

Selasa, 13 November 2007 @ 16:07 | Personal

CATATAN SEPIHAK TENTANG SEPENGGAL MASA.

bekas kantorku

Apa kabar, tanya beberapa teman. Saya dan mereka dipertemukan oleh blog. Di antara mereka ada yang bekas sejawat. Pernah sama-sama bersarang di pagupon (kandang merpati) yang sama.

Ngapain aja, tanya mereka via SMS maupun e-mail, dan sesekali ketika berjumpa sesaat di sebuah tempat.

Jawaban jujur adalah nganggur dan bokek.

Memang ada saja yang menebar fitnah mesra bahwa saya banyak duit, cuma berleha-leha dan haha-hehe. Apa boleh buat, kebohongan dalam canda kalau diulang-ulang akan dipercaya oleh mereka yang kurang hirau konteksnya. Itulah yang namanya propaganda. :P

Lalu datanglah e-mail terakhir. Dari penghuni pagupon juga, yang lama tak bersua. Akrab, tapi agak kikuk (sekaligus sopan) ketika menyinggung soal PHK yang dicanangkan Maret lalu. Sebuah kehati-hatian agar tak merobek luka yang belum mengering, menurutnya.

Masa-masa sulit itu telah lewat. Itulah rentang waktu berbulan-bulan ketika pekerjaan, wewenang, dan tanggung jawab mendudukkan saya dalam peran yang menuntut ketegaran, kewarasan, dan kesiapan untuk menampung lalu menghubungkan perbedaan.

Di satu sisi saya memang mewajibkan diri mengurusi orang lain, tak hanya pihak yang menjadi korban sebuah keputusan melainkan juga pihak yang dengan berat hati memutuskan, dan di sisi lain saya sepenuh sadar menempatkan nasib sendiri dalam prioritas terakhir.

Istri saya, seperti istri teman-teman, tahu kepahitan itu dari suaminya. Dia tahu setelah saya ajak bicara, keesokan pagi, di kantin tempat kerjanya. Terlalu mendadak dan mengejutkan, baginya. Dia hanya menatap lekat ke arah saya, sambil menahan tangis. Selebihnya adalah pancaran hampa sepasang mata. Itu ekspresi yang belum saya lihat sejak kami pacaran pada usia 17 sampai kami berusia 46 sebagai suami-istri dengan dua anak.

Saya menceritakannya dengan suara pelan, tenang, ringkas, runtut, karena sebagian ketegangan sudah melebur sejak awal pembicaraan rencana pahit itu bersama para pengambil keputusan.

Saya tahu sejak dini, terlibat, dan sealir perkembangan masalah saya tahu di mana posisi saya, dan keputusan pantas macam apa yang harus saya ambil untuk diri sendiri.

Tak sepenuhnya keputusan saya itu altruistik. Kadar egosentriknya cukup kental: agar hati ini nyaman dan tidur nyenyak tak diganggu mimpi buruk.

Ada rasa tertampar dan menyumpahi diri ketika ada saja teman sekerja yang menyampaikan rencana kerjanya dan usulannya untuk kelak setelah produksi tamat, dan terutama rencana pribadinya yang berhubungan dengan masa depan dan biaya.

Benak saya menyimpan pita meteran ujung perjalanan kelompok dan anggotanya. Hati saya membukakan kantong kebungahan tentang rencana-rencana baik itu. Tapi di hati yang sama ada kantong lain yang juga menganga, untuk menampung mendung berbiak yang belum mereka ketahui.

Untunglah masa sulit itu, terutama setelah pencanangan yang disusul negosiasi, kadang disii canda bersama, untuk mentertawai nestapa sendiri. Saya juga bercanda, membuat katup secara sok kreatif, melalui permainan grafis di dinding, agar tak menjadi letupan destruktif.

bekas kantorku

Memang ada saat yang bisa meledakkan tangis sendirian di ruang sudut karena kompleksitas peta psikologis sebuah kelompok kecil ternyata memicu gesekan, mengikis sesaat temali kebersamaan yang dijalin bersama bertahun-tahun. Setiap orang menjadi lebih sensitif, mudah marah, gampang tersinggung, lekas meledak.

Saya waktu itu belum sampai pada keputusasaan. Hanya kegeraman sesaat kepada situasi dan kondisi. Selebihnya adalah hari-hari saya yang jalani seperti biasanya. Dengan ngeblog. Dan cengengesan. Seolah sebagian besar urusan beres, dan sisa tipisnya adalah masalah ringan.

Tapi jujur saja selama masa-masa sulit itu garis imajiner yang mengubungkan nat lantai, sambungan plafon, bujur-lintang kusen, dan tepian dinding ruang kerja maupun keseluruhan kantor, telah menghadirkan sebuah konstelasi kegundahan.

Itulah garis imajiner sejak pagi ketika saya datang sebelum petugas kebersihan tiba, dan malam ketika harus mengunci semua pintu untuk pulang. Garis imajiner saat sepi orang. Tanda “exit” di atas pintu tangga darurat pada ujung lorong telah bermakna lain. Lebih tegas.

bekas kantorku

Exit. Tibalah hari itu. Saya pamit ke beberapa orang. Tanpa luka. Tanpa dendam. Bukan sebagai pecundang. Dan tanpa perbincangan panjang. Pihak yang dipamiti kadang tak tahu harus bicara apa saat mata berkaca dan tenggorokan tercekat. Hubungan kedinasan memang tak sepenuhnya instrumental, struktural, dan fungsional. Pertalian personal juga tebal. Itulah sebagian dari nilai-nilai kehidupan.

Itu semua telah berlalu.

Saya ceritakan ini untuk penanya kabar yang belum tahu, tapi dalam setiap perjumpaan sekilas di antara meja kedai, dan bahkan wastafel dalam toilet tempat umum, itu semua tak dapat saya ungkapkan karena terlalu panjang.

Ada 60 komentar | trackback | Depan

#60

Perpisahan « My Opinion | 09 03 2008 @ 11.30.09

[...] March 9, 2008 Adakah yang menyenangkan dari sebuah perpisahan? ada saja mungkin ya.. tapi koq tak sedikit yang merasakan perpisahan itu menyisakan kepedihan dan ketidaknyamanan. Terfikir sampai sedalam apa ya ketidaknyaman yang paman itu rasakan ketika memutuskan untuk berpisah atau memisahkan diri dari apa yang biasa di kerjakannya. Sungguh memerlukan keberanian … [...]


#59

blogombal : catatan ringan angin-anginan » Blog Archive » … Meteran dan Propaganda Cengengesan | 08 02 2008 @ 0.29.15

[...] Kalau saya, sebagai penganggur, cuma di rumah saja maka akan dibilang, “Namanya juga… meteran, santai terus.” Padahal saya mumet, bokek, dan lapar. [...]


#58

tukang koran | 03 12 2007 @ 9.05.27

Maaf paman, saya termasuk orang yang menganggap setelah peristiwa itu paman banyak duit, cuma berleha-leha dan haha-hehe.

Setelah membaca ini saya masih beranggapan sama, bahkan paman lebih kaya dengan wise-nya. Lebih berleha-leha karena gak ngantor, dan tetap haha-hehe.

Pahlawan atau bukan, intinya ini: “…agar hati ini nyaman dan tidur nyenyak tak diganggu mimpi buruk.”

Semoga komentar saya tidak malah menyusahkan :-)


#57

koeaing! | 24 11 2007 @ 17.10.35

sabar boeng kemploe…bole djahadie ini awal dari satoe kedjaiaan koweorang poen….

koeaing!


#56

isman | 20 11 2007 @ 9.46.08

Sering kali, kata-kata yang sampai pada pembaca adalah yang tidak dituliskan dengan eksplisit. Dalam kasus ini juga begitu. Kata-kata yang ada tidak gamblang. Tapi emosi dan jiwanya tersampaikan dengan jelas.

Salut atas kata-kata yang tidak tertuliskan, Paman. Karena itu menuntut pemikiran dan kedewasaan yang tinggi.


#55

venus | 18 11 2007 @ 23.32.39

waduh…nyesek…:(


#54

qq | 18 11 2007 @ 19.34.08

Wah, sudah lama ga mampir ke sini, ternyata ketinggalan banyak hal. Apapun yang terjadi paman, tetap semangat :D


#53

Ollie | 18 11 2007 @ 15.00.47

the observer, saya menangkap hal yang Anda ungkapkan itu tersirat dengan halus sekali di postingan Paman Tyo


#52

rezayazdi | 16 11 2007 @ 13.04.04

Saya sih sebenarnya gak tau apa2, paman. Menyambung “the observer”, kalau ada fakta penting (diluar heroisme), apalagi menyangkut “pembelaan” maka esensi kenapa dibela itu kan harus diungkap, apalagi kalau pembelaan itu hadir karena ketidakadilan. Sori bin maaf low paman, atas kelancangan yg sok tau ini.


#51

paman tyo | 16 11 2007 @ 12.37.25

Terima kasih untuk Anda semua.
Untuk #49 (the observer), kasusnya tidak seheroik itu kok. Dalam ketenagakerjaan, ini soal cemen belaka. Tentu, saya takkan “menyalahkan pembaca”. Bagaimanapun saya tak dapat mengungkap apa pun secara rinci tentang eks-kantor saya apalagi ketika masih di sana. Ibarat bekas kekasih, ada batas untuk mengungkap isi hubungan kan? :D


#50

Lita | 16 11 2007 @ 0.01.54

Mau komentar, lha kok sudah dikatakan om JaF *manyun*

Saya terharu, paman. Lha saya sedang terharu ingat guru-guru saya dulu. Datang ke sini, paman mengingatkan saya kembali ke mereka, tentang ‘yang tak dikatakan’. Paman juga guru saya, walaupun tidak memanggil ‘anakku’ namun ‘bulik’ :)

Ayo paman, kita lanjutkan perjalanan. Tujuan kita sama, kan? :)


#49

the observer | 15 11 2007 @ 23.46.51

penjelasan versi saya

seorang boss mengundurkan diri krn anak buahnya dipecat sama boss yg lbh tinggi maksudnya yang tertinggi!! padahal spt yg diakui para boss besar bahwa yg kena phk itu bkn krn bersalah. ini baru berita!!!

gosip bilang si boss itu sbtlnya sdh ada job lain yg lbh aman & nyaman tapi kesempatan itu dia buang demi membela & mendampingi anak buahnya.

gw tau ini dari kalangan dekat dan anak buah paman. udah lama. tapi anehnya kalo ditanya org tertentu paman gak pernah cerita, cuma bilang ‘yah gitulah, semua di phk’ seolah2 paman melindungi pihak yang merugikan. padahal sebetulnya paman tdk termasuk phk krn msh dipercaya oleh boss besar buat lakukan yg lbh penting

tapi sbg backround information ‘cerita basi’ ini gak njelasin soal mengundurkan diri. coba dicari di artikel, nggak ada kata itu!!

jangan salahin pembaca kalo cuma dpt kesimpulan paman dipecat lalu pada kasihan iba.

padahal bkn itu masalahnya tapi mengundurkan diri dari posisi dan pekerjaan mapan itu yang mustinya diungkap gamblang paman!!

maap jadi emosi


#48

blonty | 15 11 2007 @ 23.01.01

aduh…!
pbbxvcxxlemjkhjwnm.
marakke mbrebes, Man…


#47

adipati kademangan | 15 11 2007 @ 14.31.55

di tempat saya, ketika kejadian ini menimpa maka beredarlah kata-kata mutiara seperti ini di email :
“Life is a journey”

Semoga paman juga begitu, cepat beralih kesana dan kesono


#46

kwak kwik kwek | 15 11 2007 @ 14.08.50

Paman, ai lop yu,deh!
BTW kamu ternyata romantis ya Man?
Huehehehehehehe
(ampyun Tika, aku ojok diciwel ya, Say..:-))


#45

Putu Alberto Lee | 15 11 2007 @ 12.23.45

Ini blog indonesia favorit saya, untuk tema dan gaya penulisannya. Salut. I wish the best for you.


#44

Ahmad | 15 11 2007 @ 12.15.00

Jika luka bisa diobati dengan kata, maka sesungguhnya si empunya telah mampu menghilangkan lara.

Paman mempunyai segudang kata. Lalu, bagaimana sejuta rakyat kita yang ‘kelu’ menghadapi penderitaan yang menghimpitnya?

Mungkin, paman bisa menghiburnya juga dengan kata.


#43

riefzu | 15 11 2007 @ 11.28.15

pakde gak sendiri didunia ini…

sebuah kata tak berarti tanpa doa dan usaha…

keep spirit of fighting!!


#42

yudi | 15 11 2007 @ 11.10.29

Pakde, saya jadi sedikit tercekat ditenggorokan ketika bacanya …..semoga ada solusi yang baik …


#41

-tikabanget- | 15 11 2007 @ 8.26.53

^^
u’re one of my inspiring guys..


#40

petrus suratno | 15 11 2007 @ 8.13.56

nice, great posting…apik tenan Pak dhe, salut untuk ketabahan Pakdhe juga, aku turut bantu doa,semoga cepat dapat solusi


#39

evi | 15 11 2007 @ 7.37.18

ceritanya jadi mengingatkan pada saudara saya yang berprofesi sama dengan pakdhe, di perusahaan yg sama pula dan bernasib sama juga.
kejadiannya thn 90-an, saat ramai-ramainya ada organisasi wartawan selain yang resmi dari penguasa.
sekarang beliau hidup tenang di BSD sana.


#38

Agus Supriadi | 15 11 2007 @ 5.08.37

dan banyak benih yang sempat tersemai pada sepenggal masa itu akan terus tumbuh hingga saatnya berbunga nanti, Paman…


#37

lenje | 14 11 2007 @ 22.14.36

hey, man, i’m alive, i’m taking each day and night at a time
yeah, i’m down, but i know i’ll get by
hey, hey, hey, man, gotta live my life
’cause i ain’t got nothing but this roll of a dice
i’m feeling like a monday, but someday i’ll be saturday night

*kok kayaknya lagu ini semakin applicable buat banyak orang…*


#36

Hedi | 14 11 2007 @ 21.49.38

…tapi bagaimana mengisi kabar selanjutnya itu yang saya bisa pelajari…tenan…saestu…


#35

ndoro kakung | 14 11 2007 @ 19.03.47

halah … aku kok dadi mbrebes mili toh, kang …


#34

handaru | 14 11 2007 @ 17.37.04

wow


#33

gemblung | 14 11 2007 @ 17.21.38

Dewasa bangeeeet….
Paman udah banyak pengalamannya, paman udah melewatinya…
Sekarang paman menyimpulkannya..
Dengan cara yang benar-benar apik!
Salut buat kejujurannya…
Sedikit sekali orang mau dan mampu melakukannya.
Bener-bener daleem…
Great posting……!
Salute..!


#32

koeaing! | 14 11 2007 @ 17.15.35

Boeng Kemploe,
ndherek Belo soengkowo poen….boel kowe kassie inih blog reklaame sahadja, bole kassie koerangin koweorang poenja beban itoe poen….

Tjoeba kowe kassie iklan banner tijap artikelen, bole bertarip 25 F boewat saoemoer idoep, soeda boel bikin idoep itoe poen….

koeaing!


#31

dhany | 14 11 2007 @ 16.00.05

bagi dong.. kiat menghadapi masa sulit
keponakan juga lagi terancam neh pak puh…
sungguh.. ndak guyon…


#30

omithood | 14 11 2007 @ 14.43.13

aku salud dgn paman..
*the fighter*


#29

Pelintas | 14 11 2007 @ 13.46.30

Biutipul pain


#28

daustralala | 14 11 2007 @ 12.28.35

hmm, rezeki di tangan Tuhan kata orang. jika bukan melalui pabrik yang sekarang, ya dari pabrik lain mungkin. atau, malah kita yang bikin pabrik. cu om.


#27

Qky | 14 11 2007 @ 10.32.20

nganggur dan bokek adalah jawaban dari kerendahan hati seorang begawan… :))


#26

cah semarang | 14 11 2007 @ 10.25.14

Salut buat mase. Panjenengan jadi panutan yang baik buat para kuli, termasuk saya. Terakhir, apa kabar, mas? Sehat to? *jgn.bosan.kalo.sy.sll.tny.itu*


#25

yantee | 14 11 2007 @ 10.14.12

nice post, Paman…


#24

Adityo Ananta | 14 11 2007 @ 9.55.58

nice post :)
andai bisa menuangkan perasaan dengan tulisan yang seindah ini …


#23

kardjo | 14 11 2007 @ 8.29.26

Paman, Salatiga masih butuh guru blogger dan guru fotografi.
3 buah ATM dan 4 Kartu Kredit, sepertinya masih cukup buat modal nggombali orang Salatiga… :-D

(Maaf, Semoga ndak lupa, Yeremia 29:11)


#22

abah oryza | 14 11 2007 @ 8.22.18

hadapi dengan senyuman yah om, semua yang terjadi, tetap terjadi. makasih kisahnya, saya baru tau.


#21

Ollie | 14 11 2007 @ 8.08.31

Sangat menyentuh dan emosional. Life goes on ya. Semangat, Paman!


#20

Imponk | 14 11 2007 @ 3.35.24

Dunia ini tidak pernah benar-benar kejam, Bos. Asal dibekali dengan pikiran positif. Kalau toh yang satu hilang, kita masih punya yang lain. Otak, kaki, dua tangan, yang kesemuanya bisa diberdayagunakan.

Para PKL yang tergusur itu, walau mereka menganggap sepetak tanah itu adalah segalanya –malah kadang terlihat seperti pahlawan yang rela mengorbankan nyawanya padahal tidak–, toh mereka masih menginjakkan kaki di bumi. Setelah terusir, ada tempat lain yang bisa ditempati. Walau awalnya entah.

Saya yakin, bose bisa menenangkan orang-orang sekeliling –karena saya tahu diri sendiri sudah tenang :) Dan saya yakin, seperti halnya para PKL yang tergusur itu, ada banyak tempat yang bisa menerima setelah ini.

Bukankah para wartawan itu tidak pernah ter-PHK? –karena selalu ada tempat lain yang bisa dimasuki.


#19

JaF | 14 11 2007 @ 1.01.27

(cuma tiga titik di atas yang bisa saya tulis, abis ndak tau nulis apa atau komentar apa. sumpah, nggak tau.. mau bilang sabar ndak sopan rasanya karena saya masih anak kecil yang minim pengalaman hidup. mau kasih saran apalagi. Mau membesarkan hati, ya hati saya udah kadung ciut sama panjenengan.. cuma titik2 aja lah paman ya.. mudah2an tidak dianggap menghina :) )


#18

tjahjo | 14 11 2007 @ 0.10.58

sebuah jawaban atas pertanyaan yang tidak pernah sempat saya ajukan.

karena saya hanyalah satu dari sekian banyak orang yang cuma bisa “salah tingkah”, tak tahu mesti berbuat apa saat itu.

salam buat teman2!


#17

Abi_ha_ha | 13 11 2007 @ 23.55.48

46? weleh, ta’arani masih early thirty something. Soale cara pandang dan tutur tulise kok uptodate.
Turut mendoakan saja pakdhe, mudah-mudahan lekas kembali 5758 (maju mapan).


#16

antobilang | 13 11 2007 @ 23.52.11

Paman bisa mengungkapkan kegundahan dengan cerdas. :)


#15

Deny Sri Supriyono | 13 11 2007 @ 21.46.14

jarang-jarang nemu cerita yang bukan gombalan di sini.

semoga lekas dapet solusi jitu, om - turut bantu doa.


#14

gak penting | 13 11 2007 @ 21.34.54

Jadi yang saya dengar itu benar rupanya, tapi kenapa gak dari dulu ngungkapnya, apakah tunggu semua reda? Alangkah bangganya anak2 buah anda paman


#13

elgato! | 13 11 2007 @ 20.59.21

Nice pics.
Nice post.
My sympathy.
Hats off..Tulang!


#12

kw | 13 11 2007 @ 20.28.44

santai paman. bikin pabrik sendiri lebih nyaman kan? :)


#11

mbakDos | 13 11 2007 @ 19.24.01

memang imajiner.
tapi kadang garis sejenis itu yang ternyata tetap bisa mengikatkan kita pada kewarasan, suka atau tidak :)

anyway,
(selama ini) saya tidak pernah menyangka akan membuat mata saya berkaca2 membaca tulisan pakdhe.
tapi saya salah.


#10

Rian | 13 11 2007 @ 18.39.19

ya begitulah kehidupan… harus brani mengambil keputusan pada saat yang tepat walau itu akan menyakitkan


#9

Totoks | 13 11 2007 @ 17.53.42

menyesakkan memang… tapi begitulah kehidupan kadang kita diatas kadang bisa juga berada dibawah.


#8

ndut | 13 11 2007 @ 17.53.41

aaah paman hebat. berani bertindak dan mengambil semua resikonya. salut untuk paman. bukan hanya karena kepandaiannya mengolah kata hingga bermakna dalam, tapi juga keberaniannya bersikap.


#7

Beta Uliansyah | 13 11 2007 @ 17.53.13

Mustinya saya sudah bisa membaca sikon saat paman menghilangkan frase “pekerja media” di kotak About.


#6

Mbilung | 13 11 2007 @ 17.19.39

yah gitu deh, been there done that paman,

http://ndobos.com/archives/17

tulisan EXIT itu lho ….


#5

mpokb | 13 11 2007 @ 17.18.44

ngajarin motret aja, bang paman. hiks hiks, fotonya keren..


#4

setiaji | 13 11 2007 @ 17.15.48

hmmm…pelajaran berharga buat saya, setidaknya untuk lebih mensyukuri nikmat yang telah diberikanNya :D terima kasih Tuhan, terima kasih paman..


#3

winy | 13 11 2007 @ 17.10.39

sudah lewat kan pak…


#2

jalansutera | 13 11 2007 @ 16.44.03

semoga secepatnya mendapat solusi. turut prihatin…


#1

guntur | 13 11 2007 @ 16.19.06

ndak tau mesti komentar apa, Man.
saya sendiri nguli di tempat orang.
saat ini masih ok2 saja, ndak tau taun2 depan, siapa tau mendadak saya juga cuma dianggep gombal =(