Kabar Saya, dan Sebuah Cerita Basi
CATATAN SEPIHAK TENTANG SEPENGGAL MASA.

Apa kabar, tanya beberapa teman. Saya dan mereka dipertemukan oleh blog. Di antara mereka ada yang bekas sejawat. Pernah sama-sama bersarang di pagupon (kandang merpati) yang sama.
Ngapain aja, tanya mereka via SMS maupun e-mail, dan sesekali ketika berjumpa sesaat di sebuah tempat.
Jawaban jujur adalah nganggur dan bokek.
Memang ada saja yang menebar fitnah mesra bahwa saya banyak duit, cuma berleha-leha dan haha-hehe. Apa boleh buat, kebohongan dalam canda kalau diulang-ulang akan dipercaya oleh mereka yang kurang hirau konteksnya. Itulah yang namanya propaganda. :P
Lalu datanglah e-mail terakhir. Dari penghuni pagupon juga, yang lama tak bersua. Akrab, tapi agak kikuk (sekaligus sopan) ketika menyinggung soal PHK yang dicanangkan Maret lalu. Sebuah kehati-hatian agar tak merobek luka yang belum mengering, menurutnya.
Masa-masa sulit itu telah lewat. Itulah rentang waktu berbulan-bulan ketika pekerjaan, wewenang, dan tanggung jawab mendudukkan saya dalam peran yang menuntut ketegaran, kewarasan, dan kesiapan untuk menampung lalu menghubungkan perbedaan.
Di satu sisi saya memang mewajibkan diri mengurusi orang lain, tak hanya pihak yang menjadi korban sebuah keputusan melainkan juga pihak yang dengan berat hati memutuskan, dan di sisi lain saya sepenuh sadar menempatkan nasib sendiri dalam prioritas terakhir.
Istri saya, seperti istri teman-teman, tahu kepahitan itu dari suaminya. Dia tahu setelah saya ajak bicara, keesokan pagi, di kantin tempat kerjanya. Terlalu mendadak dan mengejutkan, baginya. Dia hanya menatap lekat ke arah saya, sambil menahan tangis. Selebihnya adalah pancaran hampa sepasang mata. Itu ekspresi yang belum saya lihat sejak kami pacaran pada usia 17 sampai kami berusia 46 sebagai suami-istri dengan dua anak.
Saya menceritakannya dengan suara pelan, tenang, ringkas, runtut, karena sebagian ketegangan sudah melebur sejak awal pembicaraan rencana pahit itu bersama para pengambil keputusan.
Saya tahu sejak dini, terlibat, dan sealir perkembangan masalah saya tahu di mana posisi saya, dan keputusan pantas macam apa yang harus saya ambil untuk diri sendiri.
Tak sepenuhnya keputusan saya itu altruistik. Kadar egosentriknya cukup kental: agar hati ini nyaman dan tidur nyenyak tak diganggu mimpi buruk.
Ada rasa tertampar dan menyumpahi diri ketika ada saja teman sekerja yang menyampaikan rencana kerjanya dan usulannya untuk kelak setelah produksi tamat, dan terutama rencana pribadinya yang berhubungan dengan masa depan dan biaya.
Benak saya menyimpan pita meteran ujung perjalanan kelompok dan anggotanya. Hati saya membukakan kantong kebungahan tentang rencana-rencana baik itu. Tapi di hati yang sama ada kantong lain yang juga menganga, untuk menampung mendung berbiak yang belum mereka ketahui.
Untunglah masa sulit itu, terutama setelah pencanangan yang disusul negosiasi, kadang disii canda bersama, untuk mentertawai nestapa sendiri. Saya juga bercanda, membuat katup secara sok kreatif, melalui permainan grafis di dinding, agar tak menjadi letupan destruktif.

Memang ada saat yang bisa meledakkan tangis sendirian di ruang sudut karena kompleksitas peta psikologis sebuah kelompok kecil ternyata memicu gesekan, mengikis sesaat temali kebersamaan yang dijalin bersama bertahun-tahun. Setiap orang menjadi lebih sensitif, mudah marah, gampang tersinggung, lekas meledak.
Saya waktu itu belum sampai pada keputusasaan. Hanya kegeraman sesaat kepada situasi dan kondisi. Selebihnya adalah hari-hari saya yang jalani seperti biasanya. Dengan ngeblog. Dan cengengesan. Seolah sebagian besar urusan beres, dan sisa tipisnya adalah masalah ringan.
Tapi jujur saja selama masa-masa sulit itu garis imajiner yang mengubungkan nat lantai, sambungan plafon, bujur-lintang kusen, dan tepian dinding ruang kerja maupun keseluruhan kantor, telah menghadirkan sebuah konstelasi kegundahan.
Itulah garis imajiner sejak pagi ketika saya datang sebelum petugas kebersihan tiba, dan malam ketika harus mengunci semua pintu untuk pulang. Garis imajiner saat sepi orang. Tanda “exit” di atas pintu tangga darurat pada ujung lorong telah bermakna lain. Lebih tegas.
Exit. Tibalah hari itu. Saya pamit ke beberapa orang. Tanpa luka. Tanpa dendam. Bukan sebagai pecundang. Dan tanpa perbincangan panjang. Pihak yang dipamiti kadang tak tahu harus bicara apa saat mata berkaca dan tenggorokan tercekat. Hubungan kedinasan memang tak sepenuhnya instrumental, struktural, dan fungsional. Pertalian personal juga tebal. Itulah sebagian dari nilai-nilai kehidupan.
Itu semua telah berlalu.
Saya ceritakan ini untuk penanya kabar yang belum tahu, tapi dalam setiap perjumpaan sekilas di antara meja kedai, dan bahkan wastafel dalam toilet tempat umum, itu semua tak dapat saya ungkapkan karena terlalu panjang.
60 Responses to Kabar Saya, dan Sebuah Cerita Basi
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
Cicitcuit!- Saya jadi ketawa ngeliat komentar @pakde Totot pada kolom komentar blogpost "Memahami FPI" punya @pamantyo baca saja -> http://t.co/RjtBfBdd May 19, 2012 sibair (Bair)
- :'( RT @dannytumbelaka: @TonnySukirno @PamanTyo bangaip @motulz RIP Donna Summer... May 18, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Nasib Titik dalam Jazz
September 25, 2006 by AntyoINDONESIA KITA: EMBLEM PUN DICONGKEL.
Sudah jadi pengetahuan umum bahwa titik di atas huruf “j” dalam emblem Jazz-nya Honda itu pada raib. Begitu pula si titik di atas “i” dalam emblem “Fit”. Kabarnya sih para pencongkel menjadikannya sebagai mata cincin.
Maka jarang sekali kita, terutama di Jabodetabek, melihat emblem yang utuh, bahkan pada Honda [...]
Recent Comments
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
jimmy» bagus sekali artikelnya, thx
jimmy» Nice Informasinya gan,, sangat membantu sekali.. :)
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Mau komentar, lha kok sudah dikatakan om JaF *manyun*
Saya terharu, paman. Lha saya sedang terharu ingat guru-guru saya dulu. Datang ke sini, paman mengingatkan saya kembali ke mereka, tentang ‘yang tak dikatakan’. Paman juga guru saya, walaupun tidak memanggil ‘anakku’ namun ‘bulik’ :)
Ayo paman, kita lanjutkan perjalanan. Tujuan kita sama, kan? :)
penjelasan versi saya
seorang boss mengundurkan diri krn anak buahnya dipecat sama boss yg lbh tinggi maksudnya yang tertinggi!! padahal spt yg diakui para boss besar bahwa yg kena phk itu bkn krn bersalah. ini baru berita!!!
gosip bilang si boss itu sbtlnya sdh ada job lain yg lbh aman & nyaman tapi kesempatan itu dia buang demi membela & mendampingi anak buahnya.
gw tau ini dari kalangan dekat dan anak buah paman. udah lama. tapi anehnya kalo ditanya org tertentu paman gak pernah cerita, cuma bilang ‘yah gitulah, semua di phk’ seolah2 paman melindungi pihak yang merugikan. padahal sebetulnya paman tdk termasuk phk krn msh dipercaya oleh boss besar buat lakukan yg lbh penting
tapi sbg backround information ‘cerita basi’ ini gak njelasin soal mengundurkan diri. coba dicari di artikel, nggak ada kata itu!!
jangan salahin pembaca kalo cuma dpt kesimpulan paman dipecat lalu pada kasihan iba.
padahal bkn itu masalahnya tapi mengundurkan diri dari posisi dan pekerjaan mapan itu yang mustinya diungkap gamblang paman!!
maap jadi emosi
aduh…!
pbbxvcxxlemjkhjwnm.
marakke mbrebes, Man…
di tempat saya, ketika kejadian ini menimpa maka beredarlah kata-kata mutiara seperti ini di email :
“Life is a journey”
Semoga paman juga begitu, cepat beralih kesana dan kesono
Paman, ai lop yu,deh!
BTW kamu ternyata romantis ya Man?
Huehehehehehehe
(ampyun Tika, aku ojok diciwel ya, Say..:-))
Ini blog indonesia favorit saya, untuk tema dan gaya penulisannya. Salut. I wish the best for you.
Jika luka bisa diobati dengan kata, maka sesungguhnya si empunya telah mampu menghilangkan lara.
Paman mempunyai segudang kata. Lalu, bagaimana sejuta rakyat kita yang ‘kelu’ menghadapi penderitaan yang menghimpitnya?
Mungkin, paman bisa menghiburnya juga dengan kata.
pakde gak sendiri didunia ini…
sebuah kata tak berarti tanpa doa dan usaha…
keep spirit of fighting!!
Pakde, saya jadi sedikit tercekat ditenggorokan ketika bacanya …..semoga ada solusi yang baik …
^^
u’re one of my inspiring guys..
nice, great posting…apik tenan Pak dhe, salut untuk ketabahan Pakdhe juga, aku turut bantu doa,semoga cepat dapat solusi
ceritanya jadi mengingatkan pada saudara saya yang berprofesi sama dengan pakdhe, di perusahaan yg sama pula dan bernasib sama juga.
kejadiannya thn 90-an, saat ramai-ramainya ada organisasi wartawan selain yang resmi dari penguasa.
sekarang beliau hidup tenang di BSD sana.
dan banyak benih yang sempat tersemai pada sepenggal masa itu akan terus tumbuh hingga saatnya berbunga nanti, Paman…
hey, man, i’m alive, i’m taking each day and night at a time
yeah, i’m down, but i know i’ll get by
hey, hey, hey, man, gotta live my life
’cause i ain’t got nothing but this roll of a dice
i’m feeling like a monday, but someday i’ll be saturday night
*kok kayaknya lagu ini semakin applicable buat banyak orang…*
…tapi bagaimana mengisi kabar selanjutnya itu yang saya bisa pelajari…tenan…saestu…
halah … aku kok dadi mbrebes mili toh, kang …
wow
Dewasa bangeeeet….
Paman udah banyak pengalamannya, paman udah melewatinya…
Sekarang paman menyimpulkannya..
Dengan cara yang benar-benar apik!
Salut buat kejujurannya…
Sedikit sekali orang mau dan mampu melakukannya.
Bener-bener daleem…
Great posting……!
Salute..!
Boeng Kemploe,
ndherek Belo soengkowo poen….boel kowe kassie inih blog reklaame sahadja, bole kassie koerangin koweorang poenja beban itoe poen….
Tjoeba kowe kassie iklan banner tijap artikelen, bole bertarip 25 F boewat saoemoer idoep, soeda boel bikin idoep itoe poen….
koeaing!
bagi dong.. kiat menghadapi masa sulit
keponakan juga lagi terancam neh pak puh…
sungguh.. ndak guyon…
aku salud dgn paman..
*the fighter*
Biutipul pain
hmm, rezeki di tangan Tuhan kata orang. jika bukan melalui pabrik yang sekarang, ya dari pabrik lain mungkin. atau, malah kita yang bikin pabrik. cu om.
nganggur dan bokek adalah jawaban dari kerendahan hati seorang begawan… :))
Salut buat mase. Panjenengan jadi panutan yang baik buat para kuli, termasuk saya. Terakhir, apa kabar, mas? Sehat to? *jgn.bosan.kalo.sy.sll.tny.itu*