MUNGKIN ANTARA BUTUH DAN TAK BUTUH.

Ini bukan pertanyaan titipan agen ganda (ya agen majalah, ya agen koran, ya agen pulsa, merangkap agen perubahan). Juga bukan pertanyaan untuk Serikat Penerbit Suratkabar. Maka, seperti biasa, saya tidak mau merepoti diri dengan merujuk data. Lebih menarik kita bertukar pengalaman dan pandangan personal, kan?
Koran. Yang versi cetak, yang bisa dipegang, yang bisa dibawa ke toilet, itu masihkah Anda baca?
Iya, koran yang bisa buat bungkus dan alas kandang burung. Koran, yang menurut keponakan saya, waktu dia TK, dibuat oleh lopernya semalaman, lantas paginya diantar ke rumah mbah kakungnya.
Saya masih baca koran. Kadang saja. Tak semua isinya (makanya nggak hapal nama menteri). Tapi masih berlangganan. Kadang iklannya lebih menarik. Koran pun kadang saya baca telat, keesokan harinya. Sudah pasti jadwal TV di koran kemarin tak saya simak.
Para editor tahu bagaimana mengemas berita. Bukan hanya tahu, tapi mengerti. Yaitu bagaimana membuat tulisan yang boleh dibaca sekilas, kalau perlu dari judul dan pembukanya kita sudah mencium isi. Perancang grafis juga sangat memahami kemalasan pembaca.
Memang ada yang ekstrem seperti Lampu Merah itu: pembaca cukup mengunyah judul dan catcher, pull quote, atau apalah namanya. Lalu selesai.
Ada juga koran yang tebal, muncul dua kali sehari, pagi dan sore, misalnya Seputar Indonesia. Bisa kenyang membacanya.
Saya tadi bilang bukan pertanyaan agen. Tapi izinkanlah saya menceritakan ocehan beberapa loper. Di pinggiran Jakarta, tepatnya Jakarta coret, sebagian orang tak mau berlangganan koran karena mereka berangkat kerja terlalu pagi, sebelum koran datang. Hanya Sabtu dan Minggu mengedarkan koran eceran itu menguntungkan.
Juga dari loper, dan seorang penagih utusan agen, saya dapat kabar bahwa yang paling menarik itu jualan tabloid, terutama kalau di TV lagi ramai gosip seleb. Barusan saya dapat kabar, seorang agen selalu pusing karena kerap kehilangan beberapa tabloid tentang artis pada pagi hari, saat pengedropan dan penyortiran, sementara koran tak ada yang mau mencuri.
Koran. Yang versi cetak itu. Sekian lama kita akrabi. Kita jadikan jendela informasi. Jadi contoh dalam pelajaran. Jadi lirik lagu. We can try to understand the New York Times’ effect on man, menurut Stayin’ Alive yang belum kenal koran online, tiga dasawarsa lalu. Di simpang jalan Tugu Pancoran, tunggu pembeli jajakan koran, kata Iwan Fals tahun 80-an.
Zaman sudah beda. Informasi tersaji oleh banyak media — silakan Anda sensus sendiri. Koran terus mencoba menyiasati persaingan dengan radio, televisi, dan internet (tata rupa Kompas baru maunya memahami generasi internet). Bahkan kemasan koran juga cenderung memajalah.
Koran cetak paling cepat hanya menyajikan berita tadi pagi dan tadi siang. Jadi masihkah Anda membaca koran, dan… keluar uang untuk itu?
Oh tentang sang bocah, yang ramah menawarkan koran, membawa berita yang sama, seperti tak ada berita lain. Itu kata JSOP dan Iwan Fals melalui God Bless.




blogombal : catatan ringan angin-anginan » Blog Archive » Cuma Mau Ngasih Tau | 22 02 2008 @ 14:30:56
[...] Beberapa waktu lalu gepokan koran pagi yang datang ke rumah sudah terikat pita karton. Isi pengikat adalah promo yoghurt Activia dari Danone, lengkap dengan kupon untuk mendapatkan sampel. Hanya pengikat, tanpa koran gratis, karena koran adalah urusan agen ganda. [...]
blogombal : catatan ringan angin-anginan » Blog Archive » Kompas Jadi Dua | 04 01 2008 @ 19:20:55
[...] Sudahlah, itu masa lalu. Lantas apa menariknya dengan edisi dobel itu? Ketika televisi, radio, dan internet kian cepat menyiarkan berita, media cetak masih mencoba bertahan dengan segala jurus — termasuk menggarap anak sekolah. [...]
windede | 23 11 2007 @ 22:31:05
saya masih… malam (after deadline) dan pagi (ketika koran jadi). kalo nggak, saya bakal nggak gajian hahaha…
Panji | 23 11 2007 @ 16:10:19
Di Semarang pagi-pagi Kompas sudah dijual seribu perak. Nggak tahu, itu strategi dagang atau karena nggak laku.
cecepcakep | 23 11 2007 @ 8:26:01
Enak klo di malang siangan dikit Kompas uda turun harga jd seribuan. di manad0 kompas BARU BEREDAR sore, jam 3 an itupun dg harga 2900.
Beta Uliansyah | 21 11 2007 @ 17:03:37
Kebalikan sama wong bangsari, saya justru mbawain koran tempo sajen buat boss tiap hari :D
ambar | 19 11 2007 @ 16:25:31
Saya masih konsumen koran cetak utama. Lah wong murah hanya 80c saja. Cuma mau nuding : ini dah baca di reuter ini di afp ini di bbc…Jadi tau deh gimana juragan berita mengolahnya.
sluman slumun slamet | 19 11 2007 @ 14:36:32
makanya Dahalan Iskan malah mbikin TV lokal yang ternyata berjaringan nasional juga kayak korannya.
tapi pakdhe, paling enak pagi-pagi minum kopi sambil ngerokok n baca koran. apalagi kalau ada ketan bubuk atau telo gorengnya.
MAKNYUUUUUUUUUUSSSSSSSSSSSS
guntur | 19 11 2007 @ 8:37:18
koran cetak tetep lebih enak dibaca, apalagi sambil klekaran =)
Beta Uliansyah | 19 11 2007 @ 8:23:38
Oo.. aku kira masalah media mainstream vs blog.
kwak kwik kwek | 19 11 2007 @ 1:29:15
manekinnya sopan deh, pakai underwear segala..:D
venus | 18 11 2007 @ 23:28:44
saya termasuk pecandu (halah) printed materials. koran, majalah, tabloid. tapi beberapa taun terakhir udah jarang banget baca koran :D
tata | 18 11 2007 @ 9:28:05
masihhh paman…tapi hari sabtu dan minggu sajah ..skalian liat lowongan pekerjaan hihihihi
Budi Rahardjo | 18 11 2007 @ 7:51:34
Saya sudah mau berhenti langganan koran cetak. Sekarang masih ada harian Pikiran Rakyat, tapi itupun hari karena salah komunikasi dan belum diperbaiki. Ah biarkan saja, meskipun saya hanya baca sepintas (mungkin 1 minggu sekali, atau bahkan 1 kali dalam sebulan).
Serius … saya sudah jarang membaca koran cetak. Sekarang saya lebih banyak membaca blog. Ini bukan guyonan lho …
herru | 18 11 2007 @ 0:50:31
baca postingan ini yang ada di lamunan saya adalah berapa pohon yang ditebang setiap harinya untuk mencetak koran cetak
umarfaridz | 17 11 2007 @ 23:09:28
gak pernah lagi, kecuali yang hari sabtu, nyari kerja demi masa depan yang lebih baik (halah)
yudiwbs | 17 11 2007 @ 20:46:54
Saya sudah lama tidak lagi membaca koran hardcopy.
Sudah terbiasa dengan internet, jika sedang penasaran untuk satu topik saya dapat membuka sampai belasan tab sekaligus. Langsung bisa melihat dari berbagai sudut pandang.
Untuk topik dalam negeri yang lebih spesifik, lebih baik beli majalah saja. Tapi dari berita TV biasanya sudah cukup. Bisa juga ikut milis yang sesuai.
Untuk melihat opini terkini, lihat-lihat blog :-)
edratna | 17 11 2007 @ 20:43:59
Saya masih langganan Kompas dan Kontan. Walaupun udah ada internet, tetap aja isinya beda. Koran bisa dibaca sambil tiduran, mata juga lebih nyaman dibanding baca yang lewat kompi..mata jadi pedes.
Kalau Tempo, Gatra, yang bagian beli anak sulung, karena beli di fakultas, harganya lebih miring. Nova sesekali belinya, ini titipan si mbak, karena ada resep masakannya.
bangsari | 17 11 2007 @ 20:33:52
janjane saya pengin mbaca koran tiap pagi, tapi berhubung baca koran di kantor dianggap malas bekerja dan mengundang amarah bos, saya ndak pernah mbaca. iso dipecat aku pakde…
—
tapi bosmu boleh mbaca koran to?
tyo
Nofie Iman | 17 11 2007 @ 19:21:42
Kebiasaan saya dulu, baca Kompas Sabtu-Minggu. Tangan kiri pegang koran, tangan kanan pegang spidol. :)
JaF | 17 11 2007 @ 19:15:02
Saya masih paman.. Mungkin saja lebih karena faktor latah atau kebiasaan. Soalnya setiap pulang kantor lewat warung orang India yang jualan koran, selalu beli walau belum tentu dibaca.. dibaca juga lebih banyak skimming headline terus baca artikel yang saya suka aja..
Anda saya bisa jeli kayak anda, sampe ke iklan2 di pojok2 terpencil juga jadi perhatian hehehe
fahmi! | 17 11 2007 @ 17:13:50
sorry OOT, fotonya asik! :D
galih | 17 11 2007 @ 16:15:52
Saya masih suka membaca Kompas, tapi cenderung halaman-halaman dalamnya. Liputan yang berat (baca: mendetail) dan membawa pengetahuan baru. Memang isi seperti itu tidak bisa dibaca setiap hari, bisa-bisa stress kalau tiap hari baca berita berat seperti itu. :)
daustralala | 17 11 2007 @ 15:56:43
masih baca paman. masih butuh kliping2…hehe
mpokb | 17 11 2007 @ 15:27:42
weh, bukan 75%, tapi 7.5%. uh! *menyingkir* :P
mpokb | 17 11 2007 @ 15:20:36
sudah bertahun2 langganan koran hanya 3 hari : jumat, sabtu dan minggu. sisanya bisa baca di kantor atau internet, lebih gampang lagi tv :D
btw, wah wah.. itu yg lagi diskon 75% lasenza bukan yak? *menghampiri etalase*
Totoks | 17 11 2007 @ 15:12:04
saya juga masih baca kok.. cuman sekilas dan dibolak-balik saja.. terutama lembaran olah raga yg saya baca dulu :D
arsya | 17 11 2007 @ 14:11:05
Wah kalo koran cetak kita masih setia paman. Kalo lama nggak langganan “ngangenin” juga.