Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





Tidur (dengan maupun tanpa Dengkur)

Minggu, 18 November 2007 @ 04:00 | Umum

KETIKA KANTUK OGAH JADI SETERU.

tidur di pasar

Tadi, tengah malam, warung rokok dekat masjid itu dikerumuni beberapa orang. Sejumlah pembeli dan tukang ojek yang mangkal di depan warung, bergotong-royong membangunkan Salim, si pemilik warung, yang sedang tertidur pulas.

Mungkin Salim sedang larut dalam mimpi selagi merebahkan diri di atas papan berlapis tikar dan kardus bedahan. “Bininya pulang kampung sih, nggak ada yang nemenin,” kata Bang Ojek.

Tidur pulas. Berbahagialah mereka yang bisa mengalaminya saban hari, entah siang entah malam. Bandingkan dengan pengidap insomnia karatan yang selalu gagal menjemput lelap padahal kantuk sudah menjerat.

Tidur pulas. Mungkin soal tempat. Mungkin soal kebiasaan. Bisa saja mereka yang terbiasa terlelap di kamar dan ranjang nyaman akan heran melihat orang tidur lelap di pasar.

Juga bisa, maksud saya mungkin saja, orang yang terbiasa tidur sembarangan justru tak bisa merem ketika pertama kali tidur di hotel — lima berlian, “kamar presiden” pula. Tanpa gangguan nyamuk dan kebisingan bisa membuatnya terasing dan pangling terhadap diri sendiri.

Saya, terus terang saja, ngantukan. Pernah ketika pendeta bilang “Amin!”, saya masih terpejam dan menunduk, dengan tarik-embus napas panjang teratur. Sikutan istri membangunkan saya.

Tidur. Mungkin persoalan sepele. Semata menyesuaikan diri dengan giringan alam. Toh sepertiga hidup kita mungkin memang untuk tidur.

Menjadi masalah ketika kantuk datang selagi menyetir. Saya pernah naik motor, sendirian, dalam keadaan ngantuk berat. Saya terbangun sudah terduduk di atas aspal, di samping becak terguling, berikut tukang becaknya yang marah-marah. Itu di depan Hotel Srimanganti, Yogya, pagi hari sehabis begadang, akibat mengabaikan larangan Bang Rhoma, “…boleh saja kalau ada artinya.”

Roda dua saja berbahaya apalagi roda empat. Maka untuk perjalanan jauh sendirian, terutama ketika kantuk menyergap siang menjelang sore, singgahlah ke sebuah kota. Carilah bioskop. Jangan pedulikan filmnya. Tidurlah. Semoga berhasil.

Tapi manusia memang aneh. Sebagai penumpang maupun pengemudi, kadang kantuk membuai justru ketika kendaraan sedang melaju. Begitu berhenti, kantuk memang belum sirna tapi tidur tak tergapai lagi. Tertidur dalam kotak yang bergerak mungkin serasa bayi dalam gendongan — atau pangkuan.

Begitu juga dengan orang yang tertidur di depan TV atau di samping radio. Ketika siaran selesai malah terbangun. Lagi-lagi terbukti, manusia dewasa merindukan jadi bayi yang harus dininabobokan oleh suara.

Saya dulu, ketika kantuk mulai menelikung sehabis tenggat menjelang pagi, kadang datang ke area teman-teman yang ngobrol. Mendengar mereka berceloteh, apalagi menanggap salah satu untuk bercerita, adalah pengantar tidur yang efektif. Tahu-tahu hari sudah siang. Saya masih terbaring di atas tiga kursi yang dijejer. Sendirian.

Kantuk sampai tertidur juga bisa menjemput kita saat rapat. Ada yang bilang itu normal. Tapi untuk anggota DPR, fit and property test-nya mungkin juga mencakup abnormalitas mereka.

Maksud saya pilihlah calon legislator yang abnormal dalam arti tidak ngantukan. Percuma bersidang dengan biaya mahal, termasuk dari anggaran ajaib counterparts, tapi cuma tidur.

Ada 26 komentar | trackback | Depan

#26

den bagus | 11 12 2007 @ 12:26:53

Macet gila, gue ketiduran gara2 nunggu kerata lewat. 100m didepan mobil dah kosong dan yg dibelakang teriak2 hahaha…


#25

elgato! | 05 12 2007 @ 13:42:56

kadang aku pengen..
tertidur di gereja,
terbangun di sebelahnya..
dian sastro!


#24

lexi | 23 11 2007 @ 21:23:30

om tyo,
klo kmntar sy ini gak bunyi, hrp dimaklumi. wong sy ngetik ini dlm kndsi ngantuk berat, bhkn mgkn dah setngah tdr Zzzzzzzzzzz


#23

isman | 20 11 2007 @ 9:30:54

“Maksud saya pilihlah calon legislator yang abnormal dalam arti tidak ngantukan.”

Sekaligus uji mendengarkan. Bisa saja mata terbuka segar. Tapi semua yang lalu lalang di hadapan mata dan telinga hanya dianggap tamu formalitas belaka. Tidak ada yang singgah lebih lama daripada seharusnya.


#22

kalender 2008 » TetesEmbun-dotORG Tetes Embun dotORG | 19 11 2007 @ 23:49:30

[...] Bagi anda yang bukan jongos, dan seorang yang madeg pandhito, atau pengembara, silakan merencanakan libur panjang anda dengan melihat almanak 2008 berikut ini. Sudah memiliki rencana memanfaatkan Hari Tergencet Nasional? [...]


#21

yantee | 19 11 2007 @ 17:13:57

saya bisa tidur di meja kerja dengan kepala tegak n tangan di atas keyboard…hahaha…


#20

isni | 19 11 2007 @ 16:34:50

wah, pernah juga tuh sempat tidur diatas motor. dan pas tersadar, hampir aja nabrak bemper mobil orang yg lagi jalan..
dan sekarang, sering banget ngantuk pas siang gara2 begadang..


#19

Totoks | 19 11 2007 @ 14:38:17

tidur memang perkara sepele tinggal rebahan lalu klesek, tapi buat sebagian orang seperti saya perkara tidur jadi ritual yg nyleneh, musti baca-baca dulu baru ngantuk lalu tidur.
*dasar gak hobi baca hihihi*


#18

Pelintas | 19 11 2007 @ 13:55:27

Syarat untuk jadi anggota legislatip kudu ditambah ‘pengidap insomnia !


#17

Kardjo | 19 11 2007 @ 9:10:05

Inilah yang paling saya sukai dari tukang gombal. ‘Spot angle’ yang ciamik soro. Fotonya itu loh bikin iri, dengan komposisi pencahayaan yang minim namun tetap bisa mengungkap kepolosan tanpa kehilangan kekuatan untuk berbicara lewat gambar.

Man-paman. Kursus foto po’o. Aku pengin bisa memiliki ’sense of art’ seperti njenengan.. Haus berguru ke tukang foto.


#16

dhany | 19 11 2007 @ 4:44:00

narkolepsi…
tambah wawasan baru
……. katro buanget


#15

kwak kwik kwek | 19 11 2007 @ 1:40:34

Coba dengerin Watching Over You-nya ELP deh..:D


#14

venus | 18 11 2007 @ 23:24:13

saya, paman. saya insomnia dari bayi. duh…


#13

edratna | 18 11 2007 @ 20:00:28

Paman Tyo,
Saya mendapat anak yang diberi “kelebihan” oleh Allah swt, yaitu narcolepsy (sleeping disorder)…sangat mudah tertidur. Tapi asal tidurnya ditempat yang tepat, dia bisa mendengarkan apa yang diobrolkan dalam ruangan itu.

Yang menjadi masalah adalah jika dia keperpustakaan atau ketempat lain, sebelum kuliah, bisa-bisa tertidur disana. Syukurlah semua teman, dosen, bahkan Dekan dan wakil Dekan memahami kelebihannya itu, sehingga sampai sekarang dia masih bisa kuliah, walaupun tak bisa secepat temannya karena hal tsb. Menurut dokter, dia pasien termuda pertama di Indonesia yang ditemukan (sempat masuk diwawancara oleh Trans TV).


#12

koeaing! | 18 11 2007 @ 15:19:53

Boeng kemploe !
Ik perna ada tidoer van koebangan kebo itoe poen. Bole bassah koejoep itoe malem, bole sijang bangoen soeda kering karoentang, haibat nian !
Koeaing!


#11

umarfaridz | 18 11 2007 @ 14:51:21

bayi kok gak bisa tidur kaya kita ya paman, harus dikelon


#10

Hedi | 18 11 2007 @ 14:42:01

Orang2 di jalanan itu yg bisa tidur sangat pulas dan tulus. Tapi soal sepertiga hidup lebih banyak tidur, bos lama saya udah pernah ngomong itu, makanya dia tidur cuma 3 jam sehari…


#9

dani | 18 11 2007 @ 14:03:03

yg penting fungsionil..ngantuk » merem » dimana aja-kapan aja :D
kecuali kl ada rambu ‘zzz dicoret’


#8

andex | 18 11 2007 @ 12:13:52

sangat natural, alami! dan saking naturalnya, hal kayaq begituan amat-sangat-sering saya alami!


#7

annots | 18 11 2007 @ 10:14:36

Ngomong-omong soal anggota DPR yang ngantukan, berarti saya ini ndak cocok jadi anggota legislatif. Memang saya pantesnya jaga di loket legitrasi mahasiswa baru kampus saya, hehehe….


#6

Abi_ha_ha | 18 11 2007 @ 10:02:32

Dulu… jaman ibunda senang mengguyur atau menyabet daku dengan lidi supaya bangun pagi untuk sekolah, saya sudah hampir-hampir berargumen;
“Bu, sudah untung saya bisa tidur pulas. Kalau saya insomnia, berapa uang ibu harus keluar untuk ngobati? Sekolah kan murah, cuma mbayar 3ribu sebulan, di’skip sedikit ya ndak banyak rugi”
Tapi nggak berani, takut disuruh minggat bapak.


#5

mpokb | 18 11 2007 @ 9:52:58

nice pic..
jatah sepertiga hidup itu perlu untuk bisa menjemput dua pertiga berikutnya :)di pasar tanah abang blok a, para portir yg kelelahan itu tidur di anak tangga, di tengah keriuhan pembeli dan penjual. sakti juga..


#4

handaru | 18 11 2007 @ 9:47:15

AlhamduliLLAH, masih bisa tertidur lelap.


#3

kunderemp an-narkaulipsiy | 18 11 2007 @ 9:27:34

Tapi, Paman.. Tidak semua orang tidur itu tidak mendengarkan. Saya, sering masih mendengar tanpa sadar bila tertidur di kelas sehingga saya masih bisa mengikuti kelas. Jadi, walaupun saya mengidap narkolepsi, asalkan saya bisa masuk ke kelasnya, saya pasti bisa mengikuti kuliahnya..

Yang jadi masalah adalah,
karena tidurnya, trus saya tidak datang ke kampus dan tidak ada yang bisa didengarkan. Barulah nilai saya anjlok berkali-kali… :(

Mungkin harusnya,
karena kita tahu bahwa menjadi anggota DPR itu membuat gampang ngantuk, kita bikin test apakah calon legislatif kita bisa mendengar dalam tidur atau benar2 tidur dengan panca indera tertutup seluruhnya. :p


#2

Adinoto (Aa Nata) | 18 11 2007 @ 7:45:52

hahaha saya paling suka bagian terakhir :D


#1

dp | 18 11 2007 @ 6:57:00

Yang lagi gak bisa tidur nih….