Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Ikrar di Tempat Kerja

Selasa, 27 November 2007 @ 11:18 | Umum

KEBERSAMAAN, PRODUKTIVITAS, KENYAMANAN HATI.

j-co mta jakarta

Saya kira ada demo atau pemogokan, ketika tempo hari melihat orang-orang toko donat bergerombol. Ternyata itu briefing harian. Begitu kata salah seorang donatwan. Menjelang bubar, mereka angkat tangan, lalu “toss!”, seperti mau tanding voli.

Briefing. Santiaji. Senam. Doa bersama. Secara berkala. Itu dilakukan oleh banyak kumpeni. Intinya adalah bagaimana memelihara kebersamaan, memacu semangat kerja, dan mengingatkan komitmen.

Perlukah? Haruskah? Setiap manajemen punya jawaban dan cara untuk memelihara produktivitas. Menjadi masalah ketika kemauan manajemen dan karyawan ternyata tidak klop.

Jenis usaha mungkin juga menentukan sebuah pilihan. Begitu pula mungkin homogenitas maupun heterogenitas karyawan (suku, agama).

Renungan pagi setiap Senin, dengan doa bersama — yang katakanlah “sesuai dengan rubrik keyakinan masing-masing” — belum tentu cocok untuk semua orang.

Senam pagi ala pabrik belum tentu sesuai untuk kantor yang karyawannya datang semaunya, begitu pulang jam kepulangannya (bahkan boleh menginap; tiga hari sekali ada orang binatu datang untuk ambil dan antar pakaian).

Hang out bareng sebulan sekali, belum tentu pas untuk karyawan yang tak suka hura-hura. Bisa-bisa mengundang tanggapan, “Mendingan gue dikasih mentahannya aja deh. Bisa buat anak di rumah. Sampe rumah juga masih sore, nggak perlu pulang pagi dalam keadaan tipsy yang bikin malu sama sopir taksi dan suami.”

Kembali ke paragraf ketiga: perlukah, haruskah? Anda yang lebih layak menjawab.

Jika kita bicara soal pembentuk kebersamaan dalam bekerja, tentu faktornya banyak. Lagi-lagi Anda yang lebih berwenang untuk memaparkan.

Saya hanya akan memberi sebuah cerita gombal. Di sebuah pabrik kata, dua orang bisa jothakan (tak saling bicara) bertahun-tahun, bahkan mungkin sampai pensiun, karena rutinitas — dan keunikan setiap individu — tak memberikan jeda untuk menyelesaikan persoalan.

Dulu, di pabrik kata yang lain, dua orang bisa jothakan bertahun-tahun (salah satu berposisi sebagai atasan), padahal ada pengisian naskah yang melibatkan keduanya. Padahal lagi, belum ada sistem keranjang dalam jaringan komputer. Ada anak buah, sebagai bagian dari sneakers network, yang membawa kertas naskah kepada kedua orang itu. Lembar naskah yang sama. Yang harus dicoreti bergantian. Untuk dibawa ke bagian setting.

Nyatanya produksi tetap berjalan. Soal kenyamanan hati? Entahlah. Oh ya, Anda pasti akan bertanya, “Gimana dong kalau mereka rapat?”polar movie express thetommy boy moviebest porn moviegay black porn movieslesbo black moviesin worn movies clothingmovies free creampieporn movies dailydogfart blacksonblondes moviesmovies download xxx

Ada 20 komentar | trackback | Depan

#20

edratna | 28 11 2007 @ 17:33:49

Sebelum mulai bekerja, di kantor rutin diadakan doa singkat, semoga kita diberi keselamatan. Juga ada meeting mingguan, anak buah suka hadir, karena bebas komentar, mengritik atasan, dengan syarat dia juga punya bahan untuk perbaikan, Kalau cuma ngomong doang, akan kena bantahan dari temannya sendiri.


#19

setiaji | 28 11 2007 @ 16:43:56

Percaya apa nggak, terserah, tapi benar-2 terjadi di tempat saya, bos selalu update tiap saat pekerjaan saya. Mau salah, benar, mentok, lancar, apa aja deh, bos must know, jd nggak ada gap informasi. Padahal awalnya saya pakewuh banget berhadapan dgn situasi spt itu…


#18

Cah Jogja | 28 11 2007 @ 16:41:29

Saya pernah merasakan posisi seperti yang Paman ceritakan di akhir posting ini.

Semula saya berpikir semuanya akan berjalan baik-baik saja meski dalam suasana jothakan. Tapi, ternyata tidak. Malah merembet ke banyak orang lain akibat putusnya komunikasi. Apa boleh buat, terpaksa saya mengambil tindakan amputasi daripada semua mati konyol.

Otoriter? Mungkin! Sedih? Pasti!


#17

mei | 28 11 2007 @ 9:51:41

lek ngomong karo bos ki pakewuh kang =)


#16

mikow | 28 11 2007 @ 9:23:08

kalo dikantorku ada namanya coffee morning, tp skrg udah ga nyaman lg. Orang2 kantor sdikit yg hadir karena banyak “nyamuk2″ yg hadir.


#15

M Fahmi Aulia | 27 11 2007 @ 23:03:07

masalah atasan dan bawahan, sebenarnya mereka berkomunikasi dg telepati kok…jadi tidak perlu dikhawatirkan ;-)


#14

djoko | 27 11 2007 @ 21:42:03

kadang saya billyard, kadang karaoke …. asyik juga lho … coba deh


#13

sluman slumun slamet | 27 11 2007 @ 20:06:08

“ingat Mak Di memakai pola 5-7-9. pola ini memungkinkan penyerang untuk melakukan serangan fajar.
kita jangan kalah dengan Mak Di. trus kamu Tyo, jaga bagian kanan. jangan sampai si Dunk King masuk”


#12

Lim'z | 27 11 2007 @ 18:55:22

kerja memang butuh teamwork…


#11

annots | 27 11 2007 @ 16:09:39

Bagaimana dengan kegiatan “Jumat Bersih” yang dulu sempat diadakan di beberapa sekolah?

Pokoke kalo hari jumat pulang sekolahnya semakin pagi…


#10

guntur | 27 11 2007 @ 15:40:37

“Mendingan gue dikasih mentahannya aja deh. Bisa buat anak di rumah. Sampe rumah juga masih sore, nggak perlu pulang pagi dalam keadaan tipsy yang bikin malu sama sopir taksi dan suami.”

Kok yang dibikin malu suami tho Man? Emang sopo yang hang out sampe pagi itu?


#9

johnherf | 27 11 2007 @ 15:18:38

Donat sudah lama menjadi hidangan pembuka di kota-kota besar di Tanah Air. Oleh karena itu, cita rasa donat semakin akrab di lidah penikmat kue kering. Soal rasa dan selera maka penikmatlah yang berhak memvonis donat yang ini enak dan lezat, donat yang itu tidak enak jauh dari rasa lezat. Kalau Johnny Andrean mau menerobos selera penikmat, selain rasa yang khas yang wajib ada, maka servis yang lebih baik dari pesaingnya kudu terlampaui.


#8

jalansutera | 27 11 2007 @ 14:44:11

jadi inget SKJ tiap jumat waktu jaman orde baru dulu. lucu banget ya… semua orang SKJ-an bareng-2. sampe-2 irama musiknya masih terngiang-ngiang sampe sekarang…

*lho, kok ketok, lho kok ketok….*


#7

Totoks | 27 11 2007 @ 14:43:56

ditempat kerja saya sekarang setiap jam 10pagi ada morning briefing membahas masalah2 pending trus mau ngerjain apa hari ini, mau kemana hari ini dll..dll.. dan itu untuk sekarang masih efektif kita jalankan.. dan sebagai bonus rapat ini kita bisa makan roti dan nyeruput kopi, lumayan pagi gak usah makan dari rumah :)


#6

~Mas Kopdang~ | 27 11 2007 @ 14:39:59

Rapat itu sejatinya menghasilkan keputusan atau mufakat.
Namun ada juga rapat yang dibuat secara sirkular alias si Risalah Rapat keliling ke seluruh penjuru peserta rapat, tanpa perlu saling tatap muka. Mungkin pabrik kata ini layak enerapkan “sirkularisasi rapat”


#5

mpokb | 27 11 2007 @ 14:17:12

trend sudah berubah, konon. supaya karyawan betah di kantor, jangan dijejali dengan doktrin loyalitas, etos kerja dlsb. bikin mereka betah dan rajin bekerja dengan futsal, pengajian kantor, perpustakaan, futsal, fitnes, futsal, klub motor, futsal.. :D


#4

kwak kwik kwek | 27 11 2007 @ 14:13:20

Yah, JCO lagi naek daon Bos, pendekatan bisnisnya sengaja dibikin “beda” termasuk gaya santiaji yang terlalu show off di keramaian begini. BTW aku bosen banget liat JCO. dimana-mana orang beli JCO, oleh-oleh bawa JCO, kmarin di Plangi jam 9 malem di centro ketemu ibu bawa lima dus JCO. Aduuuh orang Indonesa ini doyan banget sama trend. Soalnya donat bukan kedoyanan wong Indonesa, it’s simply a trend!


#3

dhany | 27 11 2007 @ 12:01:03

sorry…
ternyata kedua…


#2

dhany | 27 11 2007 @ 12:00:00

enak jadi amtenar
datang…
duduk..
dapaet duit…

Eh.. comment pertama nih…


#1

Abi_ha_ha | 27 11 2007 @ 11:56:41

mohon maaf lho ini… pengalaman saya ya pakdhe, waktu mengelola tempat usaha dengan kira2 10an pegawai.
Tiap pagi saya tengok dan briefing kecil, siang dan sore ditengok lagi.
Herannya ketika dibuat rukun kok malah kompak ‘ngemplang’. Dibriefing ter’surat’ dan ter’sirat’ kalo ketahuan ya teteup aja.
Akhirnya daripada briefing kok metoda
‘ngampleng’ malah efektif.
Pokok’e carrot and stick (kampleng) itu.