Ojek! Wuzzzzzz!
BUALAN SEORANG PEMBONCENG.

Ojek adalah inisiatif warga dalam penyediaan transpotrasi di kota maupun desa. Tak perlu pelat kuning. Bahkan kadang tak perlu pelat nomor. Kalau hanya mengangkut seorang, ojek sudah menggeser delman dan becak. Keberadaan ojek adalah antara diakui dan diabaikan oleh negara.
Ojek motor bermula dari sepeda, kemudian mesin menggantikan kayuhan — sementara yang kereta angin masih bertahan.
Ojek adalah favorit saya untuk menembus kemacetan. Menjadi masalah ketika hujan tiba, tak merata pula, sehingga ketika tiba di tempat kering saya sudah basah kuyup.
Bagaimana dengan naik motor sendiri atau membonceng teman?
Beda. Di atas ojek kita adalah penumpang. Membayar. Sebisanya ikut mengatur pengemudi. Dengan instruksi, jawilan, dan bila perlu memukul pengendara jika lutut kita dibentur-benturkan ke mobil.

Menyangkut bayaran, saya pernah selalu kena pungut lebih mahal dari tarif normal setiap kali pulang ke rumah. Alasan para ojekers, “Situ kan kaya. Tuh, motornya cuma diparkir di teras, tapi naik ojek terus.” Percuma menjelaskan bahwa itu skuter rusak, yang bannya kempis, sehingga untuk didorong ke bengkel pun berat — bahkan ditawarkan pun tak ada yang sudi membeli.
Sama seperti naik taksi, menumpang ojek berarti menjadi navigator. Bedanya dengan sopir taksi, sebagian besar tukang ojek hanya mengenal wilayah mangkalnya dalam radius lima kilometer. Mereka hapal kelokan kesebelas dari gang sempit yang berawal di belakang masjid dan berujung di pinggir rel — sepanjang masih termasuk orbitnya.

Seorang nona, calon reporter asal Kupang, alumna universitas di Australia, yang tak kenal Jakarta, pernah naik ojek dari Plumpang di Utara ke Kebonjeruk di Barat. Pengendara dan pembonceng harus sering berhenti untuk menanyakan arah. Entahlah apakah si tukang ojek bisa kembali ke pangkalannya dengan lancar jaya.
Di Pondokgede, seorang tukang ojek sudah merasa menguasai ujung dunia karena dia tahu persis mana batas Ujungaspal dari masa ke masa. Tapi ketika saya menjawab barusan naik bus dari Slipi, dia menanggapi, “Slipi? Jauh juga, yak? Itu kan di Priok sono noh… Eh, apa di Kota, yak?”

Tahu atau tak tahu kawasan, tukang ojek akan semampunya menggeber tunggangannya. Tak soal rantai akan lepas. Tak peduli jari-jari roda sudah mengendur. Berlagak lupa bahwa rem sudah tipis. Potong sana-sini. Selap-selip. Melindas trotoar. Melompati polisi tidur. Mengabaikan polisi berdiri. Bila perlu melawan arus.

Menjadi penumpang dari kendaraan pelanggar hukum itu ada enaknya. Kesalahan bisa kita timpakan ke pengendara. Itu bukan sikap mendua, melainkan pragmatik dan realistik. :D
Hanya orang naif kebangetan yang mengandaikan bagaimana jika pengojek beroperasi dengan Ducati MTS 1100-08. Ini pasti sebangsa anak steril dari keluarga multimiliarder yang bercerita di depan kelas, “Si Budi anak kaya. Papanya kaya, mamanya kaya, opanya kaya, omanya kaya, sopirnya kaya, tukang kebunnya kaya. Semuanya kaya.”

Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
Cicitcuit!- Saya jadi ketawa ngeliat komentar @pakde Totot pada kolom komentar blogpost "Memahami FPI" punya @pamantyo baca saja -> http://t.co/RjtBfBdd May 19, 2012 sibair (Bair)
- :'( RT @dannytumbelaka: @TonnySukirno @PamanTyo bangaip @motulz RIP Donna Summer... May 18, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
January 2, 2012 by Antyo
MENGHARGAI KHAZANAH DALAM ERA DIGITAL.
»»» CARA HEMAT WAKTU: Bacalah judul, subjudul/intro, kemudian langsung ke paragraf penutup tulisan ini. :)
Judul di atas itu sebuah tanya. Anda, para penyuka musik Indonesia, yang mestinya tahu seberapa perlu, seberapa penting. Perlu berarti sebaiknya ada. Penting berarti harus ada — tidak boleh tidak, kata generasi tua.
Informasi digital
[...]
Recent Comments
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
jimmy» bagus sekali artikelnya, thx
jimmy» Nice Informasinya gan,, sangat membantu sekali.. :)
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





untuk lenje (#3):
sangat betoolll! dalam radius 5 km, yang jadi orbitnya, tukang ojek emang bisa jadi guide yang baik dan benar. saya pernah naik taksi dipandu tukang ojek. :D
Untuk Broer Rio (#8):
Memang begitu versi yang baik dan benar. Saya juga pernah menuliskannya di blog lama. Tapi ketika kesenjangan kian menganga lebar, anak multimiliarder tak tahu sama sekali apa itu kaya, apa itu miskin, bahkan mendengarnya pun belum pernah. Makanya saya “revisi”
“Hanya orang naif KEBANGETAN yang mengandaikan bagaimana jika pengojek beroperasi dengan Ducati MTS 1100-08″
**glek**
ngomongin sayah yah??? :|
tukang ojek semakin banyak saja, gak di kota dan kampung. semua ini karena kredit motor sangat gampang
Saya belum pernah naik ojek, kayaknya serem ya…atau mungkin belum terpaksa, karena masih ada angkot, bis kota atau bajay?
Paling enak naik ojek sepeda di Kota.
jebul orang kaya masih butuh ojek juga yo…
Kalo ga kepaksa, saya gak naik ojek. Itupun jarak dekat. Soalnya, saya sering naik ojek yang petakilan. Saya sampai mrinding samba dibonceng ojeker itu. Mana saya dikasih helem cetok yang butut dan bau lagi. Hmmmmppp….
BTW, sampeyan pasti motonya sambil petakilan juga ya? hehehehehe…..
paling sebel kalo naik ojek kalo jaket tukang ojeknya bau. rasanya kok mo muntah. dan kapan nih nyampenya? bikin pusiiiiiiiing…
saya biasa ngojek dari kost2an ke ambasador. dan tarifnya nggak pernah sama :D
tapi yg paling mantep tuh, kalau lagi ngejar travel dengan waktu yg mepet. taksi mah pasti kalah deh.
tapi ya itu syaratnya kita harus siap jadi penunjuk jalan yg baik. tukang ojek sering banget nyasarnya :D
Eh.. beneran lho..
Salut ama fotonya..
Dulu pernah mencoba memfoto jalan dari taksi.. yah.. hasilnya sih kayak gini aja.. Tapi memfoto dari belakang tukang ojek.. Saluuut!!
Btw, tukang ojek di Jogja sudah kalah sama jemputan pribadi yang nerima jemputan via SMS.
Kasian tuh abang ojek, omsetnya turun dampaknya tarip di naikkan. Fyuuh…
Ya saya paman. Saya masih belum kaya paman..
–budiw
woww ini alat transportasi yg slalu setia menemani hari2 kerjaku. tau ngga’ paman… slain kadang motor yg kurang nyaman sy jg kdg harus nahan napas, bkn cuma krn ngebutnya tp BB si abang trcintaH:(
tp klo ada yg ngojek make ducati aq pasti ga’ mau turun, diboncengin stoner gitu lohh;))
[...] Silahkan baca paragraf terakhir tulisan Paman Tyo yang berjudul Ojek! Wuzzzzzz!. [...]
Dulu waktu jamannya kerusuhan Mei’98. Banyak kendaraan umum yg matisuri. Ojek jadi andalan reporter yg nekat berangkat ke medan liputan. Bahkan ada reporter bule yg rela ngasih segepok duit 1 juta buat abang ojek yg rela nganterin dia menembus area kerusuhan.
Kalo uncle Tyo kasih brp juta ? :D
huahhahha…pernah denger yang #8 bilang…jadi biar miskin masih punya pembantu dan tukang kebon..indonesia banget dah
(semacam) cerita Budi yang saya baca adalah tentang Budi yang anak milyarder diwajibkan guru menulis tentang keluarga miskin. Ia menulis: Ada sebuah keluarga miskin, ayahnya miskin, ibunya miskin, anak-anaknya miskin, pembantunya miskin, supirnya miskin, satpamnya miskin, tukang kebunnya miskin, …..
tukang ojekke pakek baju pink yo om??jadi ingat pinkynya simbok..hehe
wah gak pernah naek ojek
ih… jadi pembonceng sempet2nya moto… hebat bisa akrobat :D
Dikarenakan kredit pit montor dengan Dit Panjer mungil, kemacetan merajarela, berangkat-pulang kerja dengan kantuk mendera, itulah yang membikin ojek ada di mana-mana.
Apalagi harga sepantasnya, asalkan saja Bang Ojek rajin mandi, pelanggan akan datang silih berganti…
mas mas, sakjane dalam kondisi tertentu ojek malah jadi navigator loh. kalo udah mubeng2 di daerah tertentu tapi rumah yang dicari gak ketemu2, cari aja tukang ojek, entar juga di”anterin” (maksudnya: kita ngikutin dia) ke lokasi yang dituju. dulu saya sering banget begitu.
Ojek bagus untuk keutuhan keluarga lho. Lha daripada dianter naik mobil sama rekan kerja wanita trus mampir di apartemen? Seandainya ndorokakung naik ojek, kita nggak dapet cerita episode Diajeng deh.
eh OOT, kali ini fotonya nggak cemet, tapi pake efek lain: motion blur :D
—
haha! ini asli kok. entar exif-nya aku kirim. tapi jangan dikonfirmasikan ke pakar multimedia lho ya. aku pakai speed rendah, supaya dapat kesan kayak kamera video yang handheld dan terus moving. untuk warna aku set ke tungsten supaya kayak day for night. :D
hasilnya? ya cuma gambar kabur dengan warna yang lebih mirip pagi, padahal itu sore. :D
kamera kuaci itu menyenangkan justru kalau kita kenal keterbatasannya. percayalah.
[tyo]