Titik Jumpa
KETIKA RUMAH BUKAN LAGI TEMPAT MENERIMA TAMU.

Inilah kota. Jarak antarrumah memakan waktu dan tempuhan. Maka tempat umum pun dijadikan meeting point, untuk urusan antara dua orang atau lebih. Bisa cuma dua orang, tapi masing-masing mewakili sejumlah orang lain.
Titik jumpa itu bisa di pasar, seperti dalam gambar. Bisa di kedai. Bisa di tempat lain yang tak ingin terlihat. Polanya sama. Berangkat dari rumah, sekolah, atau kantor masing-masing. Bisa tiba di tempat berbarengan. Bisa juga, atau sering juga, salah satu harus berposisi sebagai penanti. Pulangnya bisa bareng, boleh juga sendiri-sendiri.
Kota adalah ruang hunian. Tapi jika kita bicara kota besar maka urusan yang mestinya sederhana menjadi rumit: bertemu di mana?
Rumah, indekosan, kontrakan, asrama, mess, adalah ruang privat. Tidak bisa semua urusan dibawa ke sana. Mungkin atas nama pasal pekerjaan dan nafkah. Bisa juga untuk memisahkan ranah dalam pergaulan sosial: ada yang bisa di rumah, ada yang tidak, bahkan perjumpaan antarsaudara pun kadang di kedai.
Malah suami-istri pun kadang meluangkan makan siang bersama di sebuah kedai, terpisah dari kantor masing-masing. Mesra dan urban, kata seseorang. Seperti kurang tempat, kata yang lain. Apakah setiap malam tidur di ranjang yang sama itu masih kurang, tanya yang lainnya lagi.
Tentang suami-istri, seorang perempuan bernama Pertiwi sering tak tahu suaminya, yakni Bob, pengusaha besar, berkuasa pula pada zamannya, malam itu ada hotel yang mana. “Mana” yang dia maksud adalah kota — bisa juga di negeri lain. Kesibukan dan pengejaran nafkah membiasakan beberapa pasangan untuk menoleransi jika salah satu tak tidur di rumah.
Kemudian orang pun bertanya: di kota besar itu, apakah yang disebut sebagai silaturahmi?
Orang sok bijak akan menjawab: bukan soal kota besar atau kota eks-kawedanan, karena silaturahmi ada di hati dan benak, adapun hubungan bisa melalui jaringan telekomunikasi, dan kalaupun hendak bersua tinggal pilih titik.
Kota, yang besar atau kecil, adalah ruang hunian bersama yang mestinya memberikan kenyamanan bagi warganya, baik secara individual maupun komunal, untuk apa saja tanpa saling merugikan.
Karena rezeki, hunian, dan kebiasaan, maka kelas menengah bisa mensyukuri apa yang diyakininya sebagai berkah privasi. Dia beli mobil baru pun tetangga sebelah tak tahu dan tak mau peduli.
Menjadi masalah ketika kebutuhan akan privasi tak didukung oleh sekeliling, tapi nilai keguyuban lama masih membuai. Menjadi tanggung memang repot. Baru menyusuri gang sambil menenteng tas besar, untuk mencari taksi di jalan raya, semua tetangga langsung menyimpulkan, “Oh mau kabur ke luar kota, ya? Sampai kapan? Siapa yang akan urusi suami dan anak-anakmu?”
Orang mapan akan meledek, “Salah sendiri kenapa tinggal di sana?” Reserse dan reporter, yang memang digaji untuk menggali informasi, menyukainya karena akan mendapatkan bekal dari lingkungan yang saling kenal. Perkecualian berlaku untuk lingkungan yang isinya maling semua karena mereka akan tutup mulut.
Dulu, ketika orang hidup dalam puak di rumah besar, atau sekumpulan rumah kecil, sehingga setiap urusan adalah hajat hidup bersama, persoalan macam itu mungkin belum terasa. Perjumpaan dengan orang dari puak lain yang berasal dari balik bukit adalah urusan bersama.
Kota, besar atau kecil, adalah ruang huni yang mengajarkan banyak hal. Di Yogya, likuran tahun silam, seorang pemuda culun menjadi kikuk ketika tiba di rumah seorang tukang bangunan yang belum dikenalnya di sebuah kampung berjejal. Pembicaraan tentang rencana perbaikan rumah disaksikan seisi keluarga dan beberapa tetangga yang tiba-tiba duduk di teras.
“Bagaimana kalau kita bicarakan di lain tempat, di rumah saya besok?” adalah lontaran yang tak sesuai iklim saat itu.
“Njenengan sudah jauh-jauh sudi kemari, kenapa ndak dirembuk mateng sekalian sekarang?” adalah jawaban yang menjadi pagar.
Kota terus berubah. Pola interaksi warga juga bergeser. Kini tukang punya ponsel, bisa di-SMS untuk diajak bersua — tanpa rubungan keluarga dan intipan tetangga. Ada banyak, dan semakin banyak, titik jumpa. Dan orang pun semakin terkotak-kotakkan.
10 Responses to Titik Jumpa
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Cara Ratu Plaza Memperlakukan Pejalan Kaki February 9, 2012Akses masuk-keluar pejalan dipepetkan pada jalur mobil. Undak-undakan lebar di bagian tengah pelataran diisi pot-pot besar. Itulah salah satu mal awal di Jakarta: Ratu Plaza, milik Ratu Sayang International. Permalink | Leave a com... […]postyorous menerous »»»
- Cara Ratu Plaza Memperlakukan Pejalan Kaki February 9, 2012
Cicitcuit!- @Badutromantis @pamantyo -> huaaah mantaft.. intan udah liat link yg di email blom? dikirim ke gmail :)) February 9, 2012 UmarIniUmar (Ini Umar Ini)
- Contoh infografik interaktif yang keren via @pamantyo http://t.co/5FBzLJtE. cc: @UmarIniUmar February 9, 2012 Badutromantis (hai dut)
Recent Posts
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
Archives
Random Posts
Pahlawan Saya dari Pondokgede
March 15, 2009 by AntyoSUPERHERO PEMBERANTAS KORUPSI, PENGGEBAH KORUPTOR MANIS NAKAL.
Kalau Google tak dapat mengendus Rofili si Pahlawan Antikorupsi, itu tersebab oleh dua hal. Pertama: mesin Google bodoh. Kedua: kumpeni Google “sentimen” kepada Rofili.
Sebagai pahlawan, seperti halnya Superman dan Spider-Man, Rofili pastilah milik semua orang yang berkehendak baik. Apapun afiliasi kepartaiannya, semua orang butuh pahlawan, baik [...]
Recent Comments
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (87)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Kalo di militer ada istilahnya tuh.. Titik konsolidasi sebelum menggempur pertahanan lawan. Lupa aku sebutannya.
kota jakarta
…
pancen susah mung ketemu sedilut wae :)
siapa suruh idup di kota…!
gak enak bertamu ke rumah orang. banyak aturan dan sopan santun.
orang bertamu ke rumah kita juga gak enak. nanti bikin kotor dan repot.
mendingan ke resto, kafe, dsb. biar nanti urusan pegawai sana aja yang beres2.
makin banyak kotak, makin kita mudah terasing.
jadi inget johari window :)
Wahh saya tersindir nih. Karena suami kerja di Bandung, saya dan anak-anak di Jakarta. Udah mendingan akhirnya si bungsu kuliah di Bandung bisa menemani bapaknya. Kalau ada urusan ke Jakarta (Dikti dsb nya), dan pengin ketemu tapi waktu mepet (saya pulang malam, dan suami dibutuhkan segera balik ke Bdg), saya dan suami ketemu di Cafe dekat kantor pada jam makan siang. Begitulah, curi waktu setengah jam agak molor dari jam istirahat(pesen sekretaris kalau dicari bos bilang ke Bank), setelah ngobrol suami balik ke Bandung. Jadi anak-anak kalau liburan baru dikirim ke Bandung.
Lha, saya juga ketemu sama njenengan, man gombal, di sini ini.. blog gombal!
Trus piye jal??
“Kota terus berubah. Pola interaksi warga juga bergeser. Kini tukang punya ponsel, bisa di-SMS untuk diajak bersua — tanpa rubungan keluarga dan intipan tetangga. Ada banyak, dan semakin banyak, titik jumpa. Dan orang pun semakin terkotak-kotakkan.”
Titik-titik yang membentuk kotak-kotak. Muasalnya titik itu bulat atau kotak sih ?
kalo hubungan bisnis, meeting bisa teleconference, ya nanti silaturahmi keluarga besar juga bakal ketularan…
tapi tetep, yang klasik tetep punya tempatnya sendiri.