Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Layar Tayang

Jumat, 07 Desember 2007 @ 19:13 | Umum

SEKELEBAT, PENTING TAK PENTING, NYAMBUNG GAK NYAMBUNG. SEPERTI BLOG. :D

tayangan tinjuDunia visual adalah yang tampak di mata. Bisa apa adanya, seperti yang mengelilingi kita. Bisa juga sudah terkemas sebagai foto terbingkai maupun sebagai gambar hidup dalam kotak menyala.

Apa yang tertayang seringkali tak penting. Gambar-gambar hidup itu adalah makhluk yang dibiarkan bermain sendiri. Memang kadang cuma pemutaran video, bukan siaran langsung. Yang penting ada gerak. Suara kadang dimatikan.

Oh, gambar yang bergerak. Dalam sebuah pentas musik di E-X Plaza, Jakarta, layar besar memampangkan siaran tinju, sementara penyanyinya meratapkan kerinduan dalam keriangan.

Di depan jejeran treadmill, di banyak tempat, layar TV juga berderet. Masing-masing menayangkan saluran yang berbeda. Dari “infotainment” tv lokal, Fashion TV, sampai CNN. Suaranya ditindas musik dari pengelola pusat kebugaran.

Jadi untuk apakah tayangan gambar hidup itu kalau TV LCD akhirnya tak beda dengan bingkai foto berisi salaman dengan pejabat?

Saya tak tahu. Mungkin memang tak perlu dipikirkan. Masalahnya bukan di ruang publik atau privat. Tapi lebih kepada kotak media yang sebaiknya menyala. Bisa berupa radio, bisa berwujud TV. Khusus untuk TV dalam kamar hotel maupun ruang keluarga, kalau sudah menyala tak mau mati.

Semuanya berkelebat. Bahkan jika durasinya panjang, mata kitalah yang menatapnya sekelebat. Hanya orang kuno dari zaman sedikit stasiun dan tanpa wireless remote controller yang menonton televisi sebagai ritus seperti di bioskop: dipersiapkan benar, penuh konsentrasi.

Ada 11 komentar | trackback | Depan

#11

dhany | 12 12 2007 @ 7:26:59

ini kan pasar bebas…


#10

jalansutera | 10 12 2007 @ 10:02:25

di supermall karawaci juga gitu. tv-wall nayangin gambar, orang-2 gak ada yg perhatian. semua ngobrol dan makan seenaknya. untung tv-wall gak punya perasaan, ya..


#9

andra | 09 12 2007 @ 0:52:02

wakakka.. itu sih karena yg punya tempat (mungkin loh) orang yang suka bingung juga, (mungkin juga loh) kamar yang ditempatinya pun seperti kapal pecah gitu..

kita pun mungkin akan jadi gila dan sedikit bingung melihat pergumulan tanpa harmoni seperti itu..

karena jadi gila, tertawalah saya..
hahahaha..


#8

mpokb | 08 12 2007 @ 15:12:58

yg penting bagi saya belum tentu penting bagi orang lain. begitu pula sebaliknya. yg susah, mengatur gimana supaya tidak ada benturan kepentingan. dunia semakin tua dan terlipat, pam. ruang semakin sempit dan individu semakin tidak mau ngalah. sayangnya, evolusi daya cerna otak sepertinya sudah mentok :D


#7

adis™ | 08 12 2007 @ 10:56:08

Itu group bandnya kan pe de karena dilihatin banyak orang, padahal orang2 pada lihat tinju hwehehe…


#6

Abi_ha_ha | 08 12 2007 @ 1:17:22

Ikut peribahasa pakdhe, ‘melihat sekali lebih baik daripada mendengar seribu kali’


#5

ichanx | 07 12 2007 @ 22:43:21

TV..mmhh gambar yang ditumpang tindih hingga menjadi seperti bergerak. mungkin hanya mata kita yang terlalu lambat tuk menatap gambar itu hingga bergerak.seperti lemahnya mata kita menatap tunas hingga bermunculan bunga.
semua hanya gambar pak….
dunia ini pun hanya gambar. namun gambar-gambar itu saling tumpang tindih hingga kita tanpa sadar menjadi bagian yang tumpang tindih itu. salam kenal pak. sekalian ajarin saya ngeblog.


#4

edratna | 07 12 2007 @ 21:48:38

Hmm jarang nonton TV…tapi kalau lagi tugas ke luar kota dan terpaksa tidur sendiri di hotel, TV dinyalakan tapi untuk mendengarkan lagu-lagu, biar tak terasa sepi.

Kalau di rumah sih, enakan baca buku sambil terkantuk-kantuk akhirnya tertidur dengan lampu masih menyala.


#3

Dee | 07 12 2007 @ 20:36:45

Nggak perlu ditonton kok Paman, sekedar dekorasi saja, biar kelihatan haitek


#2

mrbambang | 07 12 2007 @ 19:57:11

apakah aku termasuk orang kuno ya?kalau nonton bioskop kudu selalu konsen sampai sampai baca review di internet kalau perlu.


#1

Ahmad | 07 12 2007 @ 19:39:00

Hidup terus berjalan dengan hiruk pikuk. Setiap orang ingin hadir di dalamnya.

Kalau dilihat sebagai gambar besar, ia bisa jadi harmoni.