JANGAN MASUK SENDIRIAN.

Mungkin inilah yang namanya seni merawat warisan. Di Salatiga, PLN mengubah warna semua gardu ANIEM warisan Belanda sesuai identitas korporat. Boleh jadi agar sosok si gardu, sebagai tetenger (landmark), tetap kentara seiring kesesakan kota.
Seperti halnya di kota lain, gardu-gardu itu juga sudah mengalami gonta-ganti warna sesuai selera penguasa setrum lokal dan mungkin birokrat kota. Pernah putih, pernah krem, pernah entah apa lagi, yang pasti sering menjadi tempat menempel poster tanpa izin dan zonder setor pajak.
Apanya lagi yang berubah? Tulisan peringatan berupa lempeng timah itu sudah tiada. Mungkin lempeng itu dicongkel orang sehingga akhirnya sampai ke kolektor barang antik. Jika benar, itu masih mendingan dibanding lempeng dicor ulang.
Yang saya maksud adalah lempeng yang ada tulisannya “Levens gevaar” dan aksara Jawa “sing ngemek mati” (yang menyentuh [akan] mati) itu. Kartunis G.M. Sudarta pernah memasukkan lempeng klasik itu dalam karyanya.
Apa pun bahasa yang dipakai intinya adalah memperingatkan publik. Nah, setelah lempeng raib digantilah dengan lempeng alumunium untuk kalangan internal.
Namanya juga untuk kalangan sendiri, maka keterbacaan pun tidak penting. Bukankah bekerja secara aman itu bagian dari prosedur? Maka di semua gardu setrum di Salatiga, lempeng itu dicat serupa warna tembok dan pintu.
Jika (tapi semoga tidak) suatu hari ada pekerja kesetrum, maka atasannya akan mencari berkas tes mata saat seleksi pegawai dulu. Setelah itu baru mengubungi rumah sakit dan kepala pengontrol gardu.
Setelah juragan mendengar, maka dia akan menanya desainer grafis soal tipografi, terutama readability dan legibility.







Lewi Tanjung | 19 01 2008 @ 18.42.09
Mas, lucu banget sih blognya, aduh sampai kepingkel-pingkel nih bacanya. apalagi commentnya mas Hadi soal yang ngecetnya borongan….
Wuaha..ha..ha… Lucu!
dhany | 11 01 2008 @ 9.37.57
boleh kesetrum asal ada temannya…
danie | 09 01 2008 @ 14.33.17
sepertinya tidak ada kata kata empiris “kesetrum” di plat itu, mungkin itu adalah anjuran perusahaan pada karyawannya kalau bekerja itu jangan sendirian. ndak enak. kalau kelamaan kerja sendirian di dalam gardu kan bisa gila pakdhe…
areta | 07 01 2008 @ 21.34.45
hahaha! gw kira itu kerjaan orang iseng! makanya disamarkan biar gak ketauan.
lexi | 06 01 2008 @ 10.24.41
Larangan itu boleh jadi lahir karena ada kasus petugas yang masuk sendirian ke gardu, lalu kesetrum, dan mati. jenazahnya kan ndak segera ketahuan. Tetapi, peringatan itu, seperti banyak peringatan yang dibuat BUMN/departemen, sangat multitafsir, paman. Bagi saudara kita orang Samin, misalnya, itu bisa diartikan masuk sendirian untuk tidur (tidak kerja) ya boleh aja. Atau, bahkan, indekos di situ…
evelynpy | 04 01 2008 @ 19.11.20
Wah kalau dari jarak deket keliatan, tapi apakah yakin jarak jauh keliatan?
Ntar yang masuk bukan tukang pln lagi…
tapi…..
sepasang sejoli :lol:
Hadi | 04 01 2008 @ 16.43.02
Kayanya yang nge-cet dibayar borongan, jadi sret..sret..sret, beres! Curiga ngecetnya pake rol. :)
atta | 04 01 2008 @ 16.02.30
ugh
tahun lalu tak sempat ke salatiga
mudah-mudahan tahun ini dapat ke sana dan memotret ;)
Rully | 04 01 2008 @ 15.59.26
aya-aya wae … :mrgreen:
ebeSS | 04 01 2008 @ 15.13.35
yang di jalan diponegoro, sebelah SMP Bibi itu, dipakai kerja jualan pecel, asal ga sendirian ya . . . :))
stey | 04 01 2008 @ 14.04.22
Mungkin lempeng itu dicongkel orang sehingga akhirnya sampai ke kolektor barang antik.->nglirik escoret..hehe..
eniwei uncle Tyo mampir salatiga tho?saya juga pas disalatiga lho om..ga bilang2,kan bisa saya ajak kopdar,hehe..*berharap mode on*
escoret | 04 01 2008 @ 13.17.25
itu kan kerjaan tukang cat aja..
hehhehe
mitra w | 04 01 2008 @ 12.53.49
warnanya biru pula… bikin sakit mata :P
koeaing! | 04 01 2008 @ 8.07.48
….Godverdomme zig ! “ndoelit modjar poen…”!
Toekang setroem
adis™ | 04 01 2008 @ 6.41.24
Kalo senirian ndak boleh…
Tapi kalo berdua juga ndak boleh..karena yang ketiga adalah setan..*OOT*
Hoek Soegirang | 04 01 2008 @ 3.42.44
hohoho…garduna sama kek difurwokerto. kek begidu juga. tafi untungnya belom ada fekerja yang levens gevaar.. :mrgreen:
Gombalan Masuk Angin Ringan « Blog of the DAy | 04 01 2008 @ 0.53.44
[...] Ulasannya tidak berniat membanyol. Setingkat lebih serius dibandingkan saat masih berjuluk si gemblung kemplu. Namun karena efek visual yang mumpuni dan jarang diperhatikan, membuat blog ini berbeda. Ulasannya ringan, namun berbobot. Pikirannya seakan-akan simpel, namun kompleksitas sudut pandangnya bukan perkara biasa. Inilah kekuatan sejati blog raja menggombal seantero jagat. [...]
arya | 03 01 2008 @ 23.48.12
keknya lempeng itu dicopot dan ditempel di kamar, apik juga ya Paman? :D
hehehehe…vandal bgt ya?
pakdhe endik | 03 01 2008 @ 23.07.59
mungkin dulu Yos Sudarso pernah mengencingi pojokan gardu. jadi ada nilai sejarahnya selain segi ketuaannya. setidaknya masih baguslah om dari pada didemolisasi.. atau menunggu lapuk seperti di pojokan gendingan kota semarang
STR | 03 01 2008 @ 21.36.18
yang ngecat cuma lagi males nyopot pelat itu aja, paman … makane dibablaske sisan.
Mbah Kemi | 03 01 2008 @ 21.20.43
Karena bila sendirian terlalu banyak celah kejahatan yang dapat dilakukan oknum. Nitip dispenser di dalam, kulkas telah tersedia, kompor listrik tinggal pencet, pasokanlistrik tak perlu mikir sehingga waskat alias pengawasan melekat perlu digalakkan.
Masa sih, sekadar lapar harus mengendap sendirian dan memasak indomie rebus di dalam..?
maeloruiz | 03 01 2008 @ 21.14.13
Heran… koq bisa-bisanya pak de selalu menangkap basah hal-hal kayak beginian??
pacul | 03 01 2008 @ 20.55.39
lah…kuwe anu nggo wong wuta ndean…dadi kaya huruf braile
sluman slumun slamet | 03 01 2008 @ 17.15.27
lho kalau masuk rame2 apa malah gak bahaya paman?
oh ya paman kenapa saya “tersesat” di blog njenengan ya?
http://agriwidodo.blogspot.com/2007/12/kenapa-mesti-mereka.html
adipati kademangan | 03 01 2008 @ 16.58.37
jadi intinya bagaimana ?
masak harus “dilarang mati seorang diri ?”
edratna | 03 01 2008 @ 16.03.31
Kayaknya lebih pas “sing ngemek mati”….cuma di bahasa Indonesia kan.
Lha kalau peringatan yang inii ga jelas…berarti kalau tidak sendiri boleh dong!
aditya | 03 01 2008 @ 15.39.06
ooh ngerti-ngerti, jd kalo masuknya berdua gak bakalan kesetrum yaak
*ngeloyor
oon | 03 01 2008 @ 15.36.07
wah pasti gardu peninggalan jaman penjajahan itu berhantu ya pak de? mangkanya gak boleh masuk sendirian?
mpokb | 03 01 2008 @ 14.14.39
ooh.. jadi dulu itu listrik punya maskapai yak..
ancilla | 03 01 2008 @ 13.02.38
oom, kok bisa-bisanya keliatan….
hebat!
handaru | 03 01 2008 @ 11.39.27
Yok opo yen sing dhemek GUNDALA PUTRA PETIR, Paman ?
annots | 03 01 2008 @ 10.34.24
tulisan bisa jadi ndak kebaca kalo lampunya remang-remang atau oglang (mati lampu)
Ajie | 03 01 2008 @ 9.49.09
Itu berarti mulai sekarang boleh masuk gardu sendirian Om…
okky | 03 01 2008 @ 9.20.00
safeway-rightway-everyday
:)
andrias ekoyuono | 03 01 2008 @ 9.05.53
paman udah coba baca pake lampu UltraViolet ? Tulisan itu memang diciptakan untuk dibaca dengan lamp UV, tidak cukup hanya dengan Dilihat, Diraba, dan Diterawang
nymcast | 03 01 2008 @ 8.33.51
tulisan itu bukan untuk dibaca … tapi untuk diraba … kalo perlu diterawang
Tresno | 03 01 2008 @ 8.12.53
itu sengaja biar mirip huruf braile
galih | 03 01 2008 @ 7.39.51
tukang cat-nya lagi kehabisan paman. dia hanya punya cat biru terakhir ….
Mbilung | 03 01 2008 @ 7.06.33
kan hurufnya sudah besar-besar, mosok tidak terbaca juga?! begitu katanya …
sapto | 03 01 2008 @ 7.05.22
biarpun satu warna,
tp kan udah dicetak emboss
jadi tetep bisa dibaca dengan cara diraba :P
*salam kenal paman